Mengisahkan seorang celebrity chef terkenal bernama Devina Maharani yang harus menerima kenyataan bahwa pertunangannya dengan Aris Wicaksana harus kandas karena Aris ketahuan masih belum bercerai dengan istri sahnya. Devina begitu shock dan terpukul setelah acara pertunangan itu batal. Di saat terendah dalam hidupnya ia bertemu dengan Gavin Wirya Aryaga seorang pengusaha muda di bidang pembuatan alat memasak. Perlahan kedekatan intens dan cinta pun datang membuat Devina ragu bisakah Gavin menjadi pelabuhan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama Di Hari Pernikahan
Lampu gantung kristal di Grand Ballroom hotel bintang lima itu memancarkan cahaya keemasan yang syahdu, memantul pada ribuan kelopak bunga lili putih dan mawar pastel yang menghiasi setiap sudut ruangan. Wangi semerbak bunga segar bercampur dengan aroma gaharu yang lembut, menciptakan atmosfer yang begitu khidmat sekaligus magis. Hari ini, tempat yang biasanya menjadi saksi kemewahan ibu kota telah disulap menjadi sebuah benteng cinta yang dijaga dengan sangat ketat.
Di luar area hotel, ratusan personel keamanan bersenjata lengkap dan anjing pelacak berpatroli tanpa henti. Setiap tamu undangan yang hadir harus melewati tiga lapis pemeriksaan biometrik dan pemindaian wajah. Gavin Wirya Aryaga tidak main-main dengan janjinya; ia telah menciptakan sebuah benteng pertahanan yang nyaris mustahil ditembus oleh siapa pun.
Di tengah ruangan, di depan sebuah meja kayu jati yang diukir indah, Gavin duduk berhadapan dengan Pak Pamuji dan seorang penghulu dari Kantor Urusan Agama. Gavin nampak sangat gagah dalam balutan beskap pernikahan adat Jawa berwarna putih tulang dengan sulaman benang emas yang elegan. Wajahnya yang biasa dingin kini memancarkan ketenangan yang luar biasa, meskipun guratan lelah di bawah matanya tidak bisa sepenuhnya disembunyikan.
Devina sendiri belum dihadirkan di ruangan tersebut, sesuai dengan adat yang mereka sepakati. Ia sedang menunggu di sebuah kamar transit khusus, mendengarkan prosesi yang paling sakral dalam hidupnya melalui pengeras suara.
"Saudara Gavin Wirya Aryaga bin Iskandar Aryaga." suara Pak Pamuji bergetar hebat saat menjabat tangan Gavin. Air mata seorang ayah mulai menggenang di pelupuk matanya. "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak kandung saya, Devina Maharani binti Pamuji, dengan mas kawin berupa logam mulia seberat 100 gram dan seperangkat alat salat dibayar tunai!"
Gavin menarik napas dalam-dalam. Dengan satu tarikan napas yang mantap, tanpa keraguan sedikit pun, ia mengucapkan kalimat yang mengikat jiwanya selamanya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Devina Maharani binti Pamuji dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
Hening sejenak menyergap ruangan yang luas itu.
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya penghulu.
"SAH!" seru para saksi dan keluarga inti yang hadir secara serempak.
****
Di dalam kamar transit, air mata Devina Maharani tumpah ruah membasahi pipinya yang telah dirias dengan sangat cantik. Dadanya bergemuruh oleh rasa haru yang teramat sangat. Penantian panjangnya, ketakutannya yang mencekam selama setahun terakhir, dan semua tetesan air mata darah yang pernah ia tumpahkan seolah terbayar lunas dalam satu detik tarikan napas Gavin tadi.
Pintu kamar transit dibuka perlahan. Bu Ines masuk dengan mata yang juga sembap karena menangis. Ia memeluk putrinya dengan sangat erat. "Ayo, Nak... suamimu sudah menunggumu di luar."
Devina dipapah keluar menuju pelataran akad nikah. Gaun kebaya putih panjang dengan ekor menjuntai melambai anggun mengikuti langkah kakinya yang pelan. Di ujung karpet merah bertabur kelopak bunga, Gavin berdiri menantinya. Untuk pertama kalinya, mata elang Gavin yang biasanya tajam dan waspada kini nampak berkaca-kaca menatap sosok wanita yang kini resmi menjadi pelabuhan terakhir hatinya.
Devina berjalan mendekat. Ketika mereka berhadapan, Devina membungkuk dalam dan mencium punggung tangan kanan Gavin. Air matanya kembali mengalir deras, membasahi jemari suaminya. Gavin meletakkan tangan kirinya di atas kepala Devina, memejamkan mata, dan merapalkan doa keberkahan untuk rumah tangga mereka.
Gavin kemudian mengangkat dagu Devina secara perlahan, menghapus air mata di pipi istrinya dengan ibu jari. Mereka bertatapan dalam diam, sebuah komunikasi batin tanpa kata yang menyiratkan janji: Kita telah melewati neraka bersama, dan mulai hari ini, kita akan membangun surga kita sendiri.
Di barisan kursi keluarga, Bu Ines dan Pak Pamuji tak kuasa membendung keharuan mereka. Mereka saling berpegangan tangan, menangis bahagia melihat putri tunggal mereka akhirnya menemukan kebahagiaan sejati di tengah kepungan badai teror.
****
Beberapa jam kemudian, suasana berubah menjadi lebih megah. Acara resepsi pernikahan dimulai di ruangan yang sama. Ratusan tamu dari kalangan pejabat, pengusaha, hingga selebritas mulai memenuhi ballroom. Sebuah panggung kecil di sudut ruangan diisi oleh sebuah grup orkestra mini yang memainkan musik-musik klasik romantis untuk mengiringi jalannya acara.
Di barisan pemain biola, duduk seorang pria dengan setelan tuksedo hitam yang sangat pas di tubuhnya. Ia memakai kacamata berbingkai tebal dan masker medis hitam yang menutupi sebagian besar wajahnya—pemandangan yang lumrah di kalangan musisi orkestra yang menjaga kesehatan tenggorokan mereka.
Pria itu adalah Aris Wicaksana.
Ia menatap panggung pelaminan tempat Gavin dan Devina berdiri menyalami para tamu dengan senyuman bahagia. Rahang Aris mengeras hingga otot-otot di pelipisnya menonjol. Darahnya mendidih melihat senyuman yang merekah di bibir Devina—senyuman yang seharusnya hanya menjadi miliknya.
Aris adalah seorang psikopat yang sangat cerdas. Ia berhasil melewati tiga lapis pemeriksaan biometrik yang ketat dengan cara yang sangat ekstrem. Ia menyandera salah satu pemain biola asli di rumahnya tadi malam, lalu menggunakan silikon medis tipis yang ditempelkan di ibu jarinya untuk menduplikasi sidik jari korban yang telah ia sayat kulitnya. Untuk pemindaian wajah, kacamata khusus yang ia kenakan memiliki lensa pemantul cahaya infra merah yang mengaburkan titik-titik fokus kamera pemindai.
Aris menaruh biolanya di pangkuan. Alih-alih menggesek senar, tangannya meraba ke dalam kotak biola yang tergeletak di samping kakinya. Di dalam kotak yang telah dimodifikasi itu, tidak ada alat musik kedua, melainkan sebuah tabung gas air mata rakitan dan sebuah pisau lipat otomatis yang dilapisi racun mematikan.
Saat lagu klasik berganti menjadi tempo yang lebih lambat, Aris menekan tombol pada tabung gas yang telah ia hubungkan dengan pengatur waktu.
PSSSSSHHHH! BLUARRR!
Sebuah letupan kecil terdengar dari arah panggung musik, diikuti dengan semburan asap putih pekat yang sangat pedih di mata dan menyesakkan dada. Dalam hitungan detik, asap itu menyebar ke seluruh ruangan.
"GAS! ADA GAS BERACUN!" teriak salah seorang tamu.
Kepanikan massal pecah seketika. Ratusan tamu undangan berhamburan lari menyelamatkan diri, saling dorong menuju pintu keluar darurat. Suasana megah yang tadinya penuh tawa kini berubah menjadi horor yang memekakkan telinga oleh jeritan ketakutan.
Aris melompat dari kursinya. Di tengah kepulan asap dan kekacauan manusia yang berlarian, ia bergerak dengan sangat cepat menuju panggung pelaminan. Matanya yang liar hanya tertuju pada satu target: gaun putih Devina.
****
Namun, Gavin bukan pria sembarangan. Begitu asap pertama kali menyembur, ia langsung menarik Devina ke pelukannya dan berteriak kepada tim keamanannya. "PROTOKOL HITAM! SEKARANG!"
Puluhan agen keamanan bersenjata lengkap yang menyamar sebagai tamu undangan langsung membentuk barikade melingkar di sekeliling pengantin. Di saat yang sama, tim kepolisian yang bersiaga di luar langsung mendobrak pintu masuk utama untuk mengendalikan situasi.