NovelToon NovelToon
Jagoan Sengklek Tahta Di Balik Debu Jakarta

Jagoan Sengklek Tahta Di Balik Debu Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Guntur, pemuda Sidoarjo dengan rambut gondrong dan jurus silat warisan kakek, harus menerima kenyataan pahit saat cintanya dikandas oleh Amanda. Dengan bekal uang saku hasil menjual mesin pompa air dan sekeranjang perbekalan sederhana, Guntur berangkat ke Jakarta untuk mengubah nasib.
​Di hari pertamanya, Guntur hampir ditabrak oleh Vaneshaseorang CEO galak yang ia juluki "Mak Lampir"yang ternyata adalah sepupu mantan kekasihnya! Takdir kemudian membawanya menyelamatkan Bang Soni, bos penguasa dunia malam yang anti-narkoba namun gemar minum keras, dari serangan preman.
​Kini, Guntur terjebak di antara tugas menjaga Sekar putri Bang Soni yang tak kalah galak dan intrik keluarga kaya yang dulu meremehkannya. Dengan sifatnya yang sulit ditebak dan jurus silat yang mematikan, Guntur siap menggoncang Jakarta dan membuktikan bahwa jagoan sejati tidak butuh jas mewah untuk berkuasa!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Pengadilan Aspal Sang Naga

Guntur tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Meskipun Bagas sudah aman di rumah sakit, amarah di dadanya masih mendidih seperti lava. Di kepalanya hanya ada satu kata: ratakan. Dia tahu, menghajar anak buah saja tidak cukup, dia harus menghancurkan sumber logistik dan uang yang digunakan Rian untuk menyewa preman-preman bajingan itu.

​Malam itu, Guntur memacu motor matic bututnya menuju kawasan pergudangan di pinggiran kota. Di belakangnya, ratusan jaket ojek berbaris rapi seperti pasukan perang yang siap tempur. Aura di sekitar Guntur begitu dingin, membuat siapa pun yang berpapasan dengannya langsung membuang muka karena takut.

​"Mas Guntur, gudang di depan itu pusatnya. Isinya barang-barang selundupan dan tempat kumpulnya algojo-algojo Rian," lapor Adit melalui sambungan telepon di helm. Guntur hanya mengangguk kecil, matanya menatap tajam ke arah gerbang besi tinggi yang dijaga ketat oleh pria-pria berbadan raksasa.

​Guntur turun dari motor, melepaskan helmnya, dan berjalan santai menuju gerbang. Dua orang penjaga langsung menghadang dengan tongkat pemukul kasti di tangan mereka. "Woy, gembel! Mau apa lu ke sini? Cari mati?" bentak salah satu penjaga yang giginya kuning penuh karat.

​Guntur tidak membalas dengan kata-kata. Dia hanya bergerak satu langkah ke depan, sangat cepat sampai penjaga itu tidak sempat berkedip. Tangan kanan Guntur menghujam ulu hati lawan, sementara sikut kirinya menghantam rahang penjaga satunya lagi.

​TEK! YEK!

​Suara rahang yang bergeser dan napas yang terputus terdengar sangat nyata. Penjaga pertama langsung tumbang sambil memegangi perutnya yang mulas luar biasa, sedangkan penjaga kedua jatuh dengan rahang yang sudah miring ke samping. Guntur menendang gerbang besi itu sampai jebol dari engselnya dengan sekali hantam.

​"Keluar semua kalian, pengecut Jakarta! Hari ini aku tidak datang untuk bicara, aku datang untuk mematahkan setiap tulang yang kalian punya!" teriak Guntur yang suaranya menggema di seluruh area pergudangan. Seketika, puluhan preman keluar dari dalam gudang dengan membawa berbagai senjata tajam.

​Guntur mencopot jaketnya, menyisakan kaos dalam hitam yang memperlihatkan otot-otot lengannya yang kencang. Dia mengambil sebatang besi panjang yang tergeletak di dekat gerbang, lalu memutarnya dengan gerakan silat yang sangat luwes namun mematikan. "Ayo maju! Satu-satu atau sekaligus, semuanya akan berakhir sama: rumah sakit atau liang lahat!"

​Seorang preman bertato macan di dadanya menyerbu paling depan dengan parang. Guntur menangkis parang itu dengan besi di tangannya, lalu memutar tubuhnya dan mengirimkan tendangan tumit tepat ke arah lutut musuh.

​KREKK! TEK!

​Tempurung lutut preman itu hancur berantakan. Dia melolong kesakitan sebelum Guntur menghantamkan ujung besinya ke pelipis pria itu sampai dia diam tak bergerak. Empat orang lainnya menyergap dari belakang, tapi Guntur melakukan gerakan salto rendah, lalu menyapu kaki mereka semua sampai terjatuh di atas aspal yang keras.

​.

​Guntur tidak memberi mereka kesempatan untuk berdiri. Dia menginjak pergelangan tangan salah satu musuh sampai bunyi YEK terdengar jelas, menandakan tulang pergelangan itu sudah remuk jadi bubur. Amarah Guntur benar-benar sudah di luar batas. Baginya, setiap luka di tubuh adiknya adalah hutang nyawa yang harus dibayar lunas malam ini juga.

Guntur benar-benar jadi monster di tengah gudang. Setelah merobohkan penjaga di depan, dia menerjang masuk ke dalam ruangan yang isinya algojo-algojo bayaran Rian. Suasana jadi gelap karena lampu sengaja dimatikan musuh, tapi indra pendengaran Guntur sudah setajam silet.

​WUTTT!

​Sebuah rantai besi melesat mencoba menggulung leher Guntur. Tanpa menoleh, Guntur menangkap rantai itu menggunakan tangan kosongnya, lalu ditarik sekuat tenaga sampai preman yang memegang rantai itu terseret maju. Guntur menyongsong dada musuh itu dengan lutut yang ditekuk kuat.

​TEK! TEK!

​Suara tulang dada yang ambles terdengar sangat garing di tengah kesunyian. Preman itu langsung megap-megap, paru-parunya seperti ditindas truk. Guntur tidak berhenti, dia mengambil rantai tadi lalu digunakan untuk menggulung tangan musuh lainnya yang mencoba menusuk menggunakan pisau komando.

​KREKK... TEK!

​Guntur menyentak rantai itu sampai tangan musuhnya terpuntir balik 180 derajat. Suara sendi yang lepas dari tempatnya membuat siapa pun yang mendengar bakal merasa ngilu luar biasa. Guntur lantas mengirim tendangan side kick tepat ke arah leher musuhnya sampai bunyi braak... yang menandakan pita suaranya sudah rusak total.

​"Apa lagi? Mana yang katanya algojo paling sangar dari Jakarta? Sini, tak jadikan ganjal ban motor ojekku!" tantang Guntur dengan mata yang menyorot tajam seperti harimau di kegelapan. Dia berjalan mendekat ke arah meja kantor yang jadi tempat sembunyi bos kacung gudang itu.

​Satu preman nekat menyabetkan parang dari belakang Guntur. Guntur cuma miring sedikit, parang itu menancap di tembok kayu. Guntur meninju sikut musuhnya dari arah bawah, membuat tangan musuh itu patah jadi dua seketika.

​KRAAAKK! TEK!

​Guntur menyambar kepala preman itu, lalu membenturkannya ke pinggiran meja besi yang tajam. Dhuarr! Darah segar langsung menyemprot memenuhi meja. Guntur benar-benar tidak memberi ampun, setiap gerakan tujuannya cuma satu: merusak fungsi tubuh musuh secara permanen.

​"Adit! Bakar semua tumpukan ban di belakang! Jangan kasih napas buat tikus-tikus ini!" perintah Guntur sambil menginjak tangan musuh yang masih bergerak-gerak di lantai. KREKK! Suara tulang jari yang remuk jadi satu membuat suasana gudang jadi lebih mencekam daripada kuburan.

​Guntur berjalan menaiki tangga kantor, setiap langkah kakinya meninggalkan bekas darah yang kental. Dia melihat pintu ruangan utama yang tertutup rapat. Guntur mengambil tabung pemadam kebakaran yang tergantung di tembok, lalu menghantamkannya ke kunci pintu itu menggunakan tenaga dalam.

​BRAAAKK!

​Pintu itu jebol, dan Guntur menemukan orang yang paling dicari: tangan kanan Rian yang sedang pucat pasi memegang pistol dengan tangan gemetaran. Guntur cuma tersenyum dingin, matanya fokus ke arah pistol itu. "Satu peluru nggak akan cukup buat membunuh Naga, tapi satu kepalanku cukup buat bikin kamu lupa namamu sendiri!"

Pria di depan Guntur itu mencoba menarik pelatuknya, tapi Guntur lebih dulu melempar tabung pemadam kebakaran di tangannya.

​DHUARR! .

​Tabung besi itu menghantam tangan si pria sampai pistolnya terlepas. Belum sempat pria itu berteriak, Guntur sudah berada di depannya, mencengkeram lehernya dan mengangkat tubuhnya sampai kakinya menggantung di udara. "Kamu pikir pistol mainan itu bisa menyelamatkanmu setelah apa yang kalian lakukan pada Bagas?!"

​Guntur menghantamkan tubuh pria itu ke dinding. Tanpa menunggu, Guntur melayangkan pukulan bertubi-tubi ke arah rusuk dan perut lawan.

​TEK! YEK! KRAAAK!

​Suara tulang rusuk yang patah satu per satu terdengar seperti kayu kering yang dibakar. Pria itu muntah darah, matanya membelalak karena paru-parunya tertusuk patahan tulangnya sendiri. Guntur belum puas, dia memelintir tangan kanan pria itu sampai posisi jempolnya menghadap ke bawah secara paksa.

​KREEEEKKK! .

​Suara sendi bahu yang hancur total membuat pria itu pingsan karena menahan rasa sakit yang luar biasa. Guntur melemparkannya ke tengah ruangan seperti membuang tumpukan sampah. Dia mengambil korek api dari saku jas pria itu, lalu menyulut dokumen-dokumen yang berserakan di lantai.

​"Ini peringatan terakhir buat Rian dan Amanda. Aku nggak akan berhenti sampai kalian berdua merangkak di kakiku!" geram Guntur. Dia berjalan keluar ruangan, menuruni tangga sambil membawa aura kematian yang sangat pekat. Di lantai bawah, gudang sudah mulai dipenuhi asap hitam pekat dari tumpukan ban yang dibakar Adit dan massa ojek.

​Guntur berjalan keluar dari pintu gudang yang sudah hancur. Di belakangnya, api mulai menjilat atap, menciptakan siluet raksasa Sang Naga di tengah kobaran merah. Ratusan driver ojek yang menunggu di luar langsung menyambutnya dengan teriakan kemenangan. Mereka melihat pahlawan mereka keluar tanpa luka berarti, hanya bercak darah musuh yang menghiasi kaos dalamnya.

​"Semuanya, balik kanan! Biarkan tempat ini jadi saksi kalau Surabaya bukan tempat sampah buat preman Jakarta!" perintah Guntur sambil naik ke motor matic-nya. Dia memacu motornya dengan kecepatan tinggi, membelah malam yang penuh asap. Di spionnya, dia bisa melihat gudang besar itu perlahan runtuh dimakan api, persis seperti bisnis musuhnya yang akan dia hancurkan perlahan-lahan.

​Sesampainya di halaman rumah sakit, Guntur mengatur napasnya. Dia membasuh wajahnya dengan air keran di taman, mencoba menghilangkan jejak monster yang baru saja dia lepaskan. Dia masuk ke kamar Bagas, melihat adiknya masih tidur dengan tenang. Guntur duduk di samping tempat tidur, memegang tangan adiknya yang terbalut perban.

​"Istirahatlah, Le. Mas sudah bayar hutang mereka. Sekarang, nggak akan ada lagi yang berani menyentuhmu," bisik Guntur lembut. Sang Naga sudah menyelesaikan pengadilan malam ini, tapi dia tahu, perang yang sebenarnya baru saja dimulai. Dan dia tidak akan pernah berhenti sampai semua orang yang pernah meremehkannya sujud minta ampun di hadapannya.

1
Mairah Cileles
guntur ini kayanya sangat mirip ceritanyany sama si Gan... di tetangga sebelah
FARIZARJUNANURHIDAYAT: Wah, ketahuan ya? Memang tipe jagoan yang 'sengklek' tapi sakti itu sudah jadi ciri khas tulisan saya. Guntur hadir dengan petualangan yang beda kok, meskipun jiwanya sama-sama nggak bisa diem. Terima kasih dukungannya ya! 🙌✨
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!