“Segera pulanglah,, Kita butuh kamu untuk menjadi saksi Kha!”
Mendapat kabar tentang pernikahan kedua sahabatnya, kini Arka yang memang menetap tinggal di Italia Kembali dengan Sangat mendadak, Bagaimana tidak Dua sahabat baiknya akan menikah dan Arka harus menghadirinya.
Namun beberapa langkah Arka tiba di tempat dimana janur kuning melengkung terdapat juga bendara kuning di sampingnya.
Bayu Putra!
Bagaimana bisa sahabatnya meninggal tepat di acara sakralnya?
“Aku hancur Kha, Kenapa Bayu harus meninggalkan aku?”
Arka tak mampu menahan tangisnya, di peluk Vina dengan penuh belas kasih.
“Bagaimana Acaranya? Penghulu sudah datang namun pernikahan tidak bisa di lanjutkan!”
Arka menatap Vina yang sudah berderai air mata, rasanya dia ingin menghapuskkan kesedihan sahabatnya itu, tapi bagaimana caranya?
Kesedihan menyelimuti kediaman mempelai, pernikahan sudah pasti batal.
Namun, Satu pucuk surat yang Bayu tinggalkan untuk Arka membuat suasana semakin mencekam, Bayu meminta Arka yang menggantikan dia menikahi Vina.
Dan menikahi SAHABATNYA sendiri tidak pernah terlintas di dalam benak seorang ARKANA.
“Lanjutkanlah,, Arka yang akan menjadi pengantin penggantinya!”
Satu pernnyataan Sang Ibu yang membuat seluruh mata mendelik.
“Mah!”
“Lanjutkan Nak, Hujudkan permintaan terakhir sahabatmu!”
Apa Akra akan mengabulkan permintaan terakhir sahabatnya? Dan bagaimana bisa dia menikahi sahabat perempuannya?
Tidak!!
Pria Tampan itu gelisah memandang Cincin tunangan di jemari kirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nufierose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18 HARI MENUJU HAPPY ENDING
BAB 31
18 hari menuju happy ending.
Kertas naskah itu terasa begitu berat di tangan Arka. Bau tinta yang masih segar terhirup oleh hidungnya, namun kata-kata yang tertera di sana terasa seperti racun yang merayap masuk ke matanya.
"ADEGAN 42 KAMAR UTAMA MALAM."
"Tindakan: Karakter Pria (Arka) dan Karakter Wanita (Sefa) berbagi keintiman di atas ranjang. Dialog tentang kesetiaan dan janji suci."
Mata Arka membola.
Jemarinya gemetar saat membalik halaman berikutnya. Deskripsi adegan itu jauh lebih berani dan intim daripada kontrak awal yang ia tandatangani.
Ini bukan sekadar acting, ini adalah replika dari apa yang ia lakukan dengan Vina di dunia nyata, sebuah sandiwara di atas ranjang yang kini dipaksakan untuk ia lakukan bersama tunangannya di depan kamera.
"Zidan! Apa-apaan ini?!" Arka menggebrak meja di ruang briefing. Nafasnya memburu, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
"Adegan ranjang ini... ini tidak ada di draf awal! Aku tidak setuju. Ini terlalu berlebihan!"
Zidan, yang duduk dengan tenang sambil memainkan pena, bahkan tidak berkedip. Ia melirik Arka dengan tatapan yang sangat datar, hampir merendahkan.
"Keputusan sutradara dan investor, Kha. Mereka ingin '21 Hari Menuju Happy Ending' memiliki chemistry yang meledak. Penonton ingin melihat gairah nyata dari pasangan yang akan segera menikah," jawab Zidan dingin.
"Naskah sudah dikunci. Tidak ada revisi. Kamu aktor papan atas, bukan? Tunjukkan profesionalismemu."
Arka menoleh ke arah Sefa yang duduk di sudut ruangan.
"Sefa, katakan sesuatu! Kamu pasti tidak nyaman dengan ini, kan?"
Sefa perlahan mengangkat wajahnya. Ia tidak terlihat terkejut.
Sebaliknya, ia melengkungkan bibirnya ke atas, sebuah senyum manis yang membuat bulu kuduk Arka meremang.
"Kenapa tidak nyaman, Kak?" suara Sefa terdengar merdu, namun ada nada logam yang tajam di sana.
"Ini hanya akting, kan? Bukankah kamu sering bilang kalau di depan kamera kita harus memberikan segalanya? Lagipula... ranjang adalah tempat di mana semua rahasia biasanya terungkap."
Arka membeku. Kata-kata Sefa seperti anak panah yang tepat sasaran.
Di dalam hatinya, Sefa merasakan perih yang luar biasa. Setiap kali ia menatap Arka, ia melihat pria yang dulu ia puja sebagai pelindungnya, namun kini ia hanya melihat seorang pengkhianat yang aroma tubuhnya telah tercemar oleh wanita lain.
“Sakit, Tuhan... sangat sakit,”batin Sefa sambil terus mempertahankan senyumnya.
Melihat Arka gelisah adalah hiburan kecil bagi lukanya yang menganga.
Sefa tahu, Arka takut. Arka takut jika dalam adegan intim nanti, ia tidak sengaja memanggil nama Vina. Arka takut jika sentuhannya akan terasa berbeda. Dan Sefa memang sengaja menginginkan itu.
Ia ingin menarik Arka ke dalam ‘medan perang’yang paling intim untuk melihat seberapa jauh pria itu bisa berbohong sambil menatap matanya di atas ranjang yang sama dengan yang ia gunakan di naskah film ini.
Vina, yang berdiri di luar pintu kaca, melihat seluruh perdebatan itu. Ia meremas naskah cadangan di tangannya hingga hancur. Ia tahu Sefa sedang merencanakan sesuatu.
Adegan ranjang itu... itu bukan permintaan sutradara. Itu adalah jebakan yang dirancang dengan sangat rapi.
"18 hari lagi, Vina," bisik Sefa dalam hati, matanya kini beralih menatap Vina dari balik kaca.
"Dan di atas ranjang itu nanti, aku akan memastikan seluruh dunia melihat betapa busuknya 'Happy Ending' yang kalian bangun di atas air mataku."
Arka jatuh terduduk kembali di kursinya. Ia terjebak. Ia harus beradegan mesra dengan tunangannya yang mulai terasa seperti orang asing, sementara istrinya yang sah hanya bisa menonton dari balik layar dengan hati yang tercabik-cabik.
"Baiklah," gumam Arka pasrah, suaranya nyaris hilang.
"Aku akan melakukannya secara profesional."
Lampu-lampu studio mulai meredup, menyisakan pencahayaan hangat yang seharusnya menciptakan suasana romantis di atas set kamar tidur mewah itu.
Namun bagi Arka, cahaya itu terasa seperti lampu interogasi yang menelanjangi setiap inci dosanya.
Vina berdiri di kegelapan di balik monitor sutradara. Ia menggenggam botol air mineral hingga plastiknya berderit, matanya nanar menatap ranjang di mana suaminya, pria yang baru beberapa malam lalu memeluknya kini harus berbaring bersama wanita lain.
"Action!" suara sutradara memecah kesunyian yang mencekik.
Arka bergerak ragu. Sesuai instruksi naskah, ia harus merangkul Sefa, menariknya mendekat, dan menatap matanya dengan damba.
Namun, setiap kali kulitnya bersentuhan dengan kulit Sefa, Arka merasa seolah tersengat listrik.
"Kenapa tanganmu gemetar, Kak?" bisik Sefa.
Suaranya masuk ke dalam mic, terdengar jernih di headphone sutradara dan tentu saja, di telinga Vina yang mematung di luar set.
"Aku... aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk adegan ini, Sefa," jawab Arka, mencoba mengikuti naskah.
Sefa tersenyum, namun jemarinya tidak sekadar mengusap rahang Arka. Ia menekan sedikit kuku-kukunya pada leher Arka, sebuah sentuhan yang terasa seperti ancaman halus.
"Di naskah tertulis kamu harus mencium keningku dan membisikkan bahwa tidak ada wanita lain di hatimu," Sefa berbisik, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Arka.
"Ayo, katakan. Katakan dengan meyakinkan agar seluruh dunia percaya bahwa kamu adalah pria paling setia."
Arka menelan ludah. Ia menarik napas panjang, lalu mengecup kening Sefa.
"Hanya kamu... hanya kamu wanita yang kucintai, Sefa. Tidak ada yang lain."
Di balik monitor, Vina memalingkan wajah. Air matanya jatuh tanpa permisi. Meskipun ia tahu itu hanya akting, namun mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Arka di depan Sefa terasa seperti belati yang menghujam jantungnya.
Ada apa ini?
kenapa kini Vina terlihat tidak suka dengan kebersamaan Akra dan Sefa?
Apa mungkin Vina sudah mulai membuka hati untuk Suaminya?
Tiba-tiba, Sefa melakukan sesuatu yang tidak ada di naskah. Ia menarik kerah kemeja Arka hingga wajah pria itu terbenam di ceruk lehernya.
"Wangi apa ini, Kak?" tanya Sefa dengan nada yang terdengar menggoda bagi kru, namun terdengar seperti vonis mati bagi Arka.
"Sepertinya aku mencium aroma parfum wanita lain di bajumu... wangi yang sangat familiar. Seperti wangi melati yang biasa dipakai Wanita lain. Apakah tadi kalian sempat... berdekatan?"
Arka membeku total.
Jantungnya berdegup kencang hingga ia yakin suara itu tertangkap oleh mic.
Sefa begitu aktif, dia hanya berbisik. Mungkin disana hanya Sefa, Vina, Arka dan juga Zidan yang mengerti kalimat itu.
"Cut! Cut!" teriak sutradara dengan antusias.
"Luar biasa! Sefa, improvisasi kecurigaan itu sangat cerdas! Itu menambah ketegangan karakternya! Arka, ekspresi kagetmu sangat natural! Kita ambil sekali lagi dari sudut berbeda!"
Arka segera melepaskan pelukannya, duduk di pinggir ranjang dengan napas terengah-engah. Ia tidak berani menatap Sefa, apalagi menatap ke arah Vina.
Saat kru sibuk memindahkan kamera, Sefa turun dari ranjang dengan tenang. Ia berjalan melewati Vina yang sedang sibuk mengelap air matanya secara sembunyi-sembunyi.
Sefa berhenti sejenak, tanpa menoleh.
"Vin, ambilkan aku tisu basah. Aku merasa... kotor setelah adegan tadi."
Vina dengan tangan gemetar memberikan tisu itu.
Sefa mengambilnya, lalu menatap Vina dengan sorot mata yang kini tak lagi menyimpan keramahan.
"Menonton suami orang beradegan mesra memang sakit ya, Vin?" tanya Sefa sangat lirih, hanya untuk telinga Vina.
"Tapi bayangkan betapa sakitnya menjadi tunangan yang harus menonton suaminya bermain di belakangnya setiap malam."
Vina ternganga, namun Sefa sudah melangkah pergi menuju Zidan yang sedang menunggunya dengan sebotol air dan senyum penuh arti.
Malam itu, sebuah pesan masuk ke ponsel Arka dan Vina secara bersamaan dari nomor tidak dikenal. Isinya hanya satu baris kalimat:
"Ranjang yang kalian gunakan untuk bersandiwara sudah disiapkan. Gemboknya akan terbuka di hari ke-21. Siapkah kalian kehilangan segalanya?"
Arka menatap Vina dari kejauhan di koridor hotel. Mereka berdiri di sana, saling menatap dengan ketakutan yang sama, sementara di kamar sebelah, Sefa sedang duduk di depan cermin, menghapus lipstik merahnya sambil menatap kalender yang sudah ia tandai dengan tanda silang besar.
like dan berikan ulasan.. agar authornya semangat UP setiap bab 🙏😍😍😍