Halo semuanya...
Ini karya novel pertamaku.
Isekai biasanya tertabrak mobil atau truk sedangkan aku cuma ketiduran. Aku Lisa Aspasa harus mengalami isekai. Aku terbangun dalam sebuah novel dimana tubuh inilah tokoh villiannya. Seorang villian dipastikan akan berakhir kematian. Kematian yang mengerikan bagi siapapun yang melihatnya.
Akankah aku bisa menghindari takdir kematian?
Akankah aku mendapatkan kebahagiaan?
Pada pertengahan perjalan jiwa pemilik asli tubuh ini datang.. apa yang ia inginkan? akankah dia mau membantuku atau sebaliknya?
Berlahan tapi pasti sesuatu yang tidak terungkap dalam novel mulai muncul kepermukaan...
Apakah itu?
Penasaran... langsung baca saja
27 Oktober 2020
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Miring Petagon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
WARNING TYPO BERTEBARAN
***
Rayhan POV
Seorang pemuda sedang memarkirkan motornya didepan sebuah rumah besar. Pemuda yang sangat tampan berlahan berjalan memasukki rumah berlantai dua. Pemuda itu mengeluarkan ponsel untuk melihat pesan yang masuk. Bibir pemuda itu terangkat tersenyum merekah.
“ Melisa akan segera datang aku harus bersiap” kata pemuda itu dengan semangat.
Pemuda itu segera ke kamar untuk bersiap. Pemuda itu memakai kaos putih dengan celana pendek. Pemuda itu sedikit membuat rambutnya berantakkan. Pemuda itu bernama Rayhan yang bermaksud membuat Melisa terpesona. Rayhan ingin Melisa melihat dirinya apa adanya supaya nanti Melisa menerimanya dengan lapang dada. Seperti Rayhan yang mulai menerima Melisa apa adanya didalam hati kecilnya.
Bunyi bel pintu terdengar merdu ditelingaku. Aku segera turun kebawah untuk menemui Melisa. Aku mengendalikan rasa gerogi saat akan bertemu pujaan hati.
Aku membuka pintu dengan berlahan menampilkan seorang bidadari dengan senyum cerah menghiasi wajahnya. Melisa tampak cantik dengan balutan dress berwarna abu-abu light.
“ Hai kak Rayhan” sapa Melisa.
“ Hai Melisa.. tumben pakai dress” kataku memuji.
Melisa melihat baju yang dikenakan kemudian menatapku. Aku mengamati tingkahnya yang mengemaskan.
“ Ini bukan bajuku” kata Melisa polos.
“ Lalu baju itu milik siapa?” tanyaku
“ Milik perusaan yang produknya aku iklankan... salah satu pegawainya memintaku untuk memakai produknya seharian” kata Melisa menjelaskan.
“ Kamu jadi ambasador” kataku terkejut.
“ Bisa dibilang iya” kata Melisa malu-malu.
“ Kau hebat baru beberapa hari jadi model sudah menjadi ambasador” kataku memuji Melisa yang berkembang begitu pesat.
“ Terimakasih pujiannya” kata Melisa.
“ Memangnya aku memujimu... aku ini sedang iri denganmu” kataku mengoda Melisa.
Melisa menekuk wajahnya dengan bibir yang sedikit maju. Melisa terlihat imut dengan pose anak kecil. Tanganku gemas sehingga mengacak-acak rambut panjangnya untuk membuatnya semakin cemberut.
“ Apa aku harus berdiri disini” kata Melisa menyindirirku. Aku terkekeh mendengar sindiran yang biasa dilemparkan Melisa.
“ Masuklah” kataku mempersilahkan Melisa.
Melisa masuk kedalam rumahku. Aku meminta Melisa untuk duduk diruang tamu. Aku pergi kedapur untuk membuatkan minuman untuknya. Aku membuat teh untuk Melisa. Aku menaruh minuman yang kubuat didepan Melisa.
“ Terimakasih” kata Melisa lirih yang kubalas anggukan. Melisa meminum teh buatanku. Melisa meletakkan cangkir teh yang kubuat diatas meja. Melisa menatapku membuat detak jatungku meningkat.
“ Kak kita mulai dari mana untuk menyiapkan kejutan untuk nenek” tanya Melisa.
“ Kita menghias rumah ini tapi tidak seluruhnya.. kita hias ruang tamu, ruang keluarga dan dapur” kataku
berpikir.
“ Kakak sudah memiliki konsepnya?” tanya Melisa tenang.
Aku membuka mataku terkejut mendengar pertanyaan yang dilontarkan Melisa. Sudut bibirku ttersenyum mengetahui bahwa Melisa adalah orang yang cerdas ‘kalau begini aku makin suka’.
“ Sudah.. tunggu sebentar” kataku berdiri menuju kekamar.
Aku mengambil leptop yang berada dimeja belajarku. Aku membawa leptop turun kebawah. Aku melihat Melisa sedang memperhatikan suatu foto yang dipajang dipojokkan.
“ Melisa lihat apa?” tanyaku mendekatinya.
Melisa mengambil foto yang dibingkai berwarna silver. Melisa memperlihatkan foto seorang perempuan cantik yang sedang tersenyum cerah. Matanya seindah bulan yang menyinari malam.
Aku mengambil foto yang berada ditangan Melisa. melihat foto itu dengan sorot mata kerinduan. Aku membelai foto yang berharga bagi hidupku.
“ Kak dia siapa?” tanya Melisa penasaran.
“ Dia... “ kataku yang akan menjawab tapi terpotong bunyi bel pintu. Aku meletakkan foto ketempatnya.
“ Aku lihat dulu siapa tamunya” kataku kepada Melisa.
Aku segera membuka menampilkan seorang pria membawa paket. Petugas kurir memberikanku sebuah paket yang kubawa. Aku membawa masuk kotak kedalam rumah.
Aku menurunkan kotak yang berisi hiasan ulang tahun nenek. Selain itu ada hadiah yang aku beli untuk nenek.
“ Kotak apa itu kak?” tanya Melisa.
“ Kotak hiasan” kataku sambil membuka kotak. Kotak yang berisi berbagai jenis pernak-pernik untuk mendekorasi ruangan.
“ Kak ayo mulai menghias” kata Melisa mengambil salah satu pernak-pernik. Mata Melisa terlihat berbinar menatap bola kristas kecil berwarna silver. Aku tersenyum melihat Melisa yang bahagia.
“ Ayo” kataku kepada Melisa.
Kami menghias tempat yang aku katakan dimuklai dari ruang tamu kemudian ruang keluarga terakhir dapur. Kami saling membantu satu sama lain. Setelah sekitar 2 jam lebih akhirnya semua terpasang sesuai yang aku inginkan.
Aku melihat Melisa mengusap keringatnya. Aku salut dengan tingkah Melisa yang mau melakukan apa yang tidak biasa dia lakukan. Aku tahu Melisa tidak akan pernah membuat acara ulangtahun yang dilakukan sendirian ‘pasti memakai jasa’.
“ Sekarang kita buat kue ulang tahun” kataku.
Aku melihat Melisa yang berubah ekspresi yang semula semangat menjadi murung. Melisa bermain jari-jarinya secara acak. Berlahan mulut kecilnya terbuka mengeluarkan suara.
“ Aku tidak pandai membuat kue” kata Melisa lirih.
“ Tidak apa kita buat bersama” kataku mengelus rambut Melisa.
Aku senang melihat senyum Melisa yang kembali terpasang. Kami pergi kedapur kemudian menyiapkan bahan-bahan. Kami mulai menyampurkan bahan kedalam adonan.
Aku melihat Melisa begitu bersemangat hingga tidak menyadari ada tepung diwajahnya. Aku membersihkan tepung diwajahnya dengan tangan kananku. Mataku fokus membersihkan sampai mata kami bertemu.
Mata Melisa hitam legam dengan sorot tajam. Aku melihat ada begitu banyak rahasia didalam mata indahnya. Aku berasa ingin menyelami kedasar mata hitamnya. Aku terhipnotis masuk kedalam mata tajam seorang Melisa.
“ Kak” kata Melisa lirih.
Aku berhenti setelah mendengar panggilan Melisa. Aku baru menyadari wajahku dan wajah Melisa sekitar 3 cm. Aku tidak menyangka bibirku dan bibir Melisa hampir bersentuhan. Aku segera mundur dengan wajah semerah tomat. Aku bergerak salah tingkah menyadari perbuatanku.
“ Kak selanjutnya kita melakukan apa?” tanya Melisa mencoba memecah kecanggungan.
Aku menatap Melisa yang mulai membuka pembicaraan. Melisa mencoba untuk mengembalikan suasana seperti semula. Aku mengikuti alur yang dibuat Melisa. akhirnya satu kue loyang kue telah siap. Kami menghias kue sesuai dengan keinginan.
Bel berbunyi menandakan kawan-kawan nenek telah datang. Aku mempersilahkan masuk kedalam. Kami siap diposisi untuk mengejutkan nenek. Sekitar 5 menit nenek pulang dengan marah-marah karena aku tidak menjemputnya. Kami keluar dari tempat sembunyi untuk mengejutkan nenek.
“ Selamat ulang tahun” kata kami serempak.
Nenek terkejut kemudian senyum bahagia muncul diwajahnya. Nenek sampai menagis haru mendapatkan kejutan dari kami. Aku memeluk nenek dengan erat membuat nenek semakin terisak. Aku memberikan kecupan ringan dikeningnya sebagai ungkapan rasa sayang.
Acara nenek berjalan dengan sangat lancar dan meriah. Waktu tidak terasa Melisa harus pulang kerumah. Aku harus melepaskan gadis pujaanku untuk pulang. Aku mengantar Melisa kedepan.
“ Terimakasih karena mau membantuku” kataku senang.
“ Sama-sama” kata Melisa.
“ Hari minggu apa kau ada acara?” tanyaku malu. Satu tanganku mengusap belakang leherku.
“ Aku tidak tahu” kata Melisa binggung sepertinya dia lupa jadwalnya.
“ Tapi aku akan menghubungi kakak sesegera mungkin kalau aku tidak memiliki acara” kata Melisa membuatku senang.
“ Aku tunggu kabar baiknya” kataku malu.
“ Memangnya ada acara apa?” tanya Melisa penasaran.
“ Aku hanya ingin mengajakmu jalan” kataku malu-malu.
“ Kalau jalan ada syaratnya” kata Melisa yang membuatku penasaran.
“ Syaratnya?” kataku penasaran
“ Aku yang menaktir kakak” kata Melisa semangat
“ Mengapa? Aku yang mengajakmu jalan” protesku kepada Melisa.
“ Eits.. kalau kak Rayhan gak mau maka gak jadi” kata Melisa santai.
Perkataan Melisa membuatku bungkam. Aku benar-benar tidak tahu apa yang berada diotak Melisa. Aku terpaksa menganggukkan kepalaku tanda setuju. Melisa tersenyum penuh kemenangan.
“ Kalau begitu aku pulang” kata Melisa berpamitan.
“ Hati-hati” kataku.
Aku melihat Melisa memasukki mobil hitamnya. Melisa sedikit berbincang dengan supirnya. Terlihat Melisa dan supirnya begitu dekat ‘itu wajar’. Mobil Melisa mulai bergerak Melisa menatapku dengan melampaikan tangan yang kubalas lambaian.
Aku melihat mobil Melisa mulai melaju menjauh.
“ Sudah ayo masuk besok bisa ketemu lagi sama pujaan hati” kata nenek mengoda yang kubalas senyuman malu.
Aku masuk membantu nenek membersihkan acara pesta. Aku melihat foto gadis berbaju hitam dengan senyum secerah matahari. Foto mantanku yang berharga dalam hidupku. Aku membawa foto mantanku kedalam kamar.
Aku membaringkan tubuhku dikasur sambil memandang foto mantanku. Aku menatap foto itu dengan sorot mata kerindunan yang begitu dalam. Memori lama yang terkubur berputar kembali berputar. Kenanganku bersama bersama Lia Rahmawati kembali muncul bersamaan dengan tragedi kepergiannya.
Flashback 5 tahun lalu.
Anak anak pada pulang dengan tas yang digendong pada pundak mereka. Aku berdiri didekat gerbang menunggu seseorang yang spesial. Aku melihat banyak akan sudah pulang namun Lia belum menampakkan batang hidungnya.
Aku merasakan banyak pasang yang memperhatikanku. Aku menghelan nafas mengamati bajuku yang berbeda dari mereka. Aku dan Lia tidak berada disekolah yang sama namun tidak melunturkan rasa cinta kita.
Sebuah tangan yang lembut menutupi kedua mataku. Kegelapan menghampiri penglihatan namun tidak hatiku yang berbunga. Aku menarik bibirku membentuk senyuman”
“ Sayangku Lia” panggilku.
Tangannya yang lembut berlahan terlepas seketika aku merasa kehilangan. Aku segera meraih tangan Lia supaya kehangatannya tidak menghilang.
“ Kenapa kau bisa tahu” kata Lia cemberut.
Aku tersenyum cerah melihatnya cemberut yang begitu mengemaskan. Aku menyentuh hidung kecilnya dengan jari telunjuk.
“ Karena aku bisa merasakan tulusnya cintamu untukku” kataku jujur.
“ Gombal” kata Lia cemberut dengan senyum malu-malu. Wajahnya yang putih menampilkan semburat merah.
“ Sudah.. ayo pulang” kataku menariknya pelan.
Aku dan Lia berjalan menyusuri jalan yang disediakan pemerintah. Kami menghabiskan waktu dengan bercanda gurau. Aku merasakan pada saat ini hidupku berada digengaman Lia. Aku tidak pernah berpikir bahwa akan hidup saat kehilangan dia.
Aku mendengar suaranya tanpak serak. Aku juga merasakan udara panas yang menyengat kulit.
“ Apa kamu haus?” tanyaku yang dibalas anggukan dari Lia
Kami memutuskan untuk membeli minuman dimesin minuman. aku memasukkan dua koin kedalam mesin minuman. dua kaleng minuman keluar dari mesin. Aku mengambil dua kaleng tersebut. Aku memberikan satu kaleng kepada Lia.
Lia menerimanya dengan senang hati. Lia meminumnya dengan rakus membuatku terkekeh. Lia memandangku kesal karena tertawa. Aku melihat ada bekas air dibibirnya.
Aku mengelap bibirnya dengan ibu jari tanganku. Lia terdiam dengan wajah terkejut sekaligus memerah. Aku mendekatkan wajah kewajah Lia. Satu kecupan mendarat dibibirnya membuat wajanya memerah. Berlahan matanya terpejam menikmati ciuman yang kuberikan.
Aku menarik wajahku ketika Lia mulai kehabisan oksigen. Seketika wajahnya sangat merah semakin membuatku gemas.
Aku menariknya berjalan pulang kerumah. Tiba-tiba Lia berhenti berjalan membuatku menoleh. Dia menunjuk kearah sebuah toko yang berada disebrang jalan.
“ Aku ingin baju itu” kata Lia manja.
Aku terkekeh melihat tingkahnya yang seperti anak kecil kalau meminta. Aku melihat sebuah baju Lia yang terpajang ditoko. Aku tidak tahu harganya namun aku akan membelikannya berapapun harganya. Aku tidak ingin membuat ^^ bersedih.
“ Ayo” kataku membuat Lia tersenyum cerah.
Lia menarikku dengan semangat sampai kami berhenti pada lampu lalu lintas. Sinyal lampu masih menunjukan merah untuk pejalan. Hal itu berarti kami harus menunggu sampai kendaraan yang melintas berhenti bergerak. Lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau.
Aku akan melangkah tapi tali sepatuku terlepas. Aku melepaskan gangamanku pada Lia. Tanganku menali simpul pada sepatuku. Aku mendongkrak untuk melihat keberadaan Lia. Aku melihat Lia berada ditengah jalan disisi lain ada sebuah mobil melaju dengan cepat.
“LIIAAAAAAA” teriakku yang membuatnya menolehku. Aku berlari sepeat kilat menuju kearahnya.
Mobil hitam yang melaju dengan cepat menabrak Lia. Lia terpental keatas mobil yang ,melaju. Mobil itu tidaklah berhenti melainkan terus melaju sampai menabrak tiga mobil yang melaju didepannya.
Aku berlari menangkap Lia yang bersimbah darah. Kepalanya yang remuk membuatku seluruh nafasku berhenti. Aku memeluk erat dengan air mata keluar bagaikan sungai.
Aku memeluk mayat kekasihku yang sudah tak bernyawa. BOOM bunyi ledakan dari arah mobil yang ditabrak mobil hitam itu. Api membumbung tinggi dengan cepat melahap bangunan sekitar. Banyak korban berjatuhan yang tidak terhitung jumlahnya.
Bunyi sirine polisi dan ambulan berdatangan kemari. Seorang petugas medis mendekatiku. Mereka meminta jenazah Lia untuk dibawa rumah sakit. Aku tidak membiarkan jenazah Lia diambil dari tanganku. Aku mengendong jenazah Lia didekapanku menuju rumah sakit. Aku tidak memperdulikan seragamku berlumuran darah untuk saat ini aku hanya ingin berada didekat Lia.
Jenazah Lia sudah dibersikan oleh pihak rumah sakit. Orang tua Lia datang dengan tangis piluh. Air mataku sudah kering bersama hasrat hidupku yang lenyap. Nenek memangilku yang kuabaikan. Mulutku terasa terkunci hanya untuk sekedar menjawab.
Telingaku kehilanganan pendengaran. Suaraku musnah bayang-bayang kejadian beberapa detik menghancurkan seluruh kehidupanku.
Polisi datang dengan berita yang sama sekali tidak berguna. Polisi mengatakan kecelakaan beruntun akibat pengemudi yang mengatuk. Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar. Aku yakin dengan mataku bahwa pengemudi itu mengalami rem blong.
Aku mengetahuinya sekilas saat pengemudi itu mencoba menghentikan laju kendaraan. Dia terlihat kehilangan kemampuan menyetirnya. Selain itu tidak mungkin ada kebakaran yang begitu cepat kecuali ada kebocoran.
Aku medatangi tempat kejadian tidak menemukan bukti apapun. Aku merasa ada seseorang yang sudah menutup kejadian ini dengan sangat rapi. Aku pulang kerumah dengan tangan kosong seperti hatiku.
Aku diminta nenek untuk berganti pakaian. Aku datang kemakam Lia dengan tatapan kehilangan yang tidak bisa diungkapkan kata-kata. Ada banyak penyesalan dalam diriku ‘mengapa aku melepas gengamanku? Sampai seharunya aku melarangnya membeli baju itu’. Namun aku tahu hal itu tidaklah berguna karena penyesalan hanya sebuah penyesalan yang tidak bisa mengembalikan Lia kepelukanku.
Satu persatu orang meninggalkan makan Lia. Aku menatap makam Lia dengan air mata yang mengering. Aku merjongkok memandang makamnya seakan memandang Lia.
“ Ada banyak kata dan air mata yang tidak bisa keluar” kataku parau. Aku memandang makam dengan sedih.
“ Selamat jalan Lia walau aku tidak ingin mengatakannya namun kamu pasti bahagia disana” kataku tersenyum. Hatiku remuk hancur berkeping-keping. Suaraku hilang seketika mulutku membisu saat mengucapkan salam perpisahan terakhir. Sorot mataku menunjukkan betapa aku kehilangan Lia dan begitu mencintainya.
Flashback off
Waktu terus berjalan hari silih berganti tahun berlalu namun perasaanku tetap sama ‘kosong’. Aku memendam kesedihan dalam senyuman yang terlukis diwajahku. Sampai aku bertemu seseorang yang mampu membuatku benar-benar tersenyum.
Seseorang yang berbeda dari Lia. Dia orang yang mandiri, cerdas dan angkuh serta memiliki segalanya sehingga sulit ditaklukan. Dia adalah Melisa Abbriana Clavianaseorang anak yang memiliki segudang rumor buruk yang meliputinya. Rumur buruk yang tidak bisa menghapus keberadaanya. Namun malah membuat Melisa semakin bersinar.
Aku merasa Melisa tidak pernah meminta sesuatu. Dia melakukan apapun sesuai dengan keinginannya. Aku terpana akan senyuman Melisa yang indah. Senyuman yang sulit didapatkan. Aku bersyukur mendapatkan senyuman manisnya yang mampu membuatku merasa hidup lagi.
Hatiku yang kosong berlahan terisi oleh Melisa. hatiku yang membeku setelah kejadian itu berlahan mencair. Aku seperti bisa merasakan kehangatan dalam kehidupan bukan kesunyian yang membelenggu.
Aku menatap foto Lia untuk kesekian kalinya dalam seharian ini. Aku membelai fotonya.
“ Aku belum sanggup untuk mencerita kisah masa lalu kita namun suatu saat aku akan menceritan semua pada Melisa” gumanku lirih.
Berlahan air mata yang kering mengalir. Hatiku yang rapuh kembali lagi. aku berdoa kepada Tuhan semoga kebenaran. Pelakunya segera tertangkap hati kecilku merasa sedih atas peristiwa yang merengut puluhan jiwa orang meninggalkan duka mendalam bagi yang terkasih.
***