NovelToon NovelToon
CASANOVA ARROGANT

CASANOVA ARROGANT

Status: tamat
Genre:Beda Usia / Dikelilingi wanita cantik / Tamat
Popularitas:56.7k
Nilai: 5
Nama Author: teteh lia

Patah hati karena cintanya harus kandas tanpa sempat bersemi membuat Agam Mahardika semakin tidak tersentuh. Meski kerap menghabiskan malam panas bersama banyak wanita cantik yang rela menyerahkan diri untuk menemani malam-malamnya, namun pria tampan dengan berjuta pesona itu tetap memilih menutup rapat pintu hatinya. Menguncinya bersama satu nama yang sudah sedari awal mendiami relung hatinya.

Namun, pertemuan tidak terduga dengan seorang gadis cantik yang terpaut usia jauh di bawahnya, perlahan mulai mengusik relung hati.

Akankah pintu hati yang telah lama tertutup itu kembali terbuka, atau akan tetap terkunci tanpa tersentuh, membiarkan hatinya tetap layu tanpa pernah bersemi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Viona menegang ketika lengan Agam melingkar terlalu erat di tubuhnya. Napasnya tersendat jemarinya menekan dada pria itu perlahan.

"Tu-tuan," suaranya bergetar tipis.

Agam bergumam pelan. "Mayra..." pelukannya semakin rapat hingga tubuh Viona nyaris tak punya ruang bergerak.

Telapak tangan Viona kembali mendorong bahu Agam, lebih tegas kali ini. "Tuan, tolong... jangan seperti ini."

Nada cemas itu membuat bahu Agam kaku. Perlahan, ia melonggarkan pelukannya, dan jarak di antara mereka pun kembali tercipta.

Agam menekan pelipisnya, rahangnya mengeras menahan denyut yang semakin menajam. Tatapannya menyapu singkat wajah di hadapannya sebelum ia berbalik, langkahnya terhuyung menjauh dari Viona yang terpaku di tempatnya. Ia sedikit tersadar, gadis di hadapannya bukanlah Mayra.

Melihat kondisi Agam yang tidak seperti biasanya, Viona merasa khawatir. Semua pergerakan Agam tidak luput dari pandangannya.

"Tuan... Anda baik-baik saja?" tanyanya, terdengar lirih, penuh kekhawatiran.

Agam tetap melangkah tanpa menoleh. Ia berpegangan pada pegangan tangga, berusaha menaiki anak demi anak tangga menuju lantai dua. Baru dua langkah, lututnya goyah, tubuhnya oleng ke depan sebelum ia buru-buru menahan diri pada dinding.

Melihat langkah Agam kian limbung, Viona buru-buru mendekat. Tangannya terulur, ragu sejenak, lalu mantap menopang lengan pria itu saat tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan.

Agam menggerakan bahu, menarik diri. Sebuah penolakan namun ia tidak benar-benar bisa melakukannya.

Tidak berniat mundur, Viona justru melingkarkan lengan kokoh Agam di bahunya, menyesuaikan langkah agar sejajar dengannya.

"Biarkan saya membantu Anda," ucapnya pelan.

Tanpa perlawan berarti dari Agam, Viona perlahan menuntunnya menaiki anak tangga. Langkah mereka berat dan tertatih, namun akhirnya mereka bisa sampai di lantai atas.

Viona berhenti sejenak di depan pintu kamar yang tertutup rapat. Selama bekerja sekaligus tinggal di tempat itu, ia tidak pernah berani menyentuh apalagi memasukinya. Jarinya melayang di udara sebelum memberanikan diri menggenggam gagang pintu, dadanya naik turun menahan napas. Sekelebat ingatan tentang perintah tegas dari seseorang yang memperkerjakannya agar tidak mendekati kamar di lantai atas, kembali membuatnya meragu.

Gumaman lirih Agam membuat Viona tersadar, ia menatap sejenak wajah lelah pria yang terlihat tidak memiliki banyak tenaga itu.

Ia menarik napas panjang dan membuka pintu, mengabaikan keraguan yang sempat menyelimuti. Situasinya berbeda, ia tidak mungkin membiarkan majikannya masuk seorang diri dalam kondisi seperti itu.

Daun pintu terbuka perlahan, berdecit nyaris tak terdengar. Sambil memapah tubuh Agam, Viona melangkah masuk, lalu kembali berhenti saat matanya melihat stop kontak lampu, ia menekannya.

Lampu menyala terang, menyinari seluruh sudut ruangan besar itu. Tanpa sadar, Viona menahan napas.

Dinding kamar dipenuhi foto seorang wanita cantik dalam berbagai pose. Tersenyum, tertawa, cemberut, bahkan saat wanita itu tampak sedang menunduk berlatar sebuah pemandangan indah. Bingkai-bingkai itu berjajar rapih, seolah sengaja disusun untuk mengabadikan setiap sudut wajah yang sama.

Tatapan Viona bergerak ke arah tengah ruangan.

Di sana, tepat di sebrang ranjang besar, tergantung sebuah lukisan berukuran besar, sosok wanita cantik itu terpampang jelas, nyaris hidup. Sapuan kuasnya lembut, tetapi matanya tajam, seolah menembus siapapun yang memandangnya.

Jari Viona tanpa sadar menggenggam lengan Agam lebih erat, Rasa kagum, heran, dan sebuah kegelisahan bercampur jadi satu, berputar di dadanya. Ada keindahan yang memikat, namun juga sesuatu yang membuat bulu kuduknya meremang. "Siapa sebenarnya wanita cantik itu?" gumamnya dalam hati.

Ia menoleh sekilas pada Agam. "Apakah wanita itu... seseorang dari masa lalu Tuan Agam?" Bathinnya kembali bergumam.

Kini, Viona sedikit mengerti alasan dirinya dilarang memasuki kamar ini. Ternyata di dalamnya bukan hanya sebuah ruangan untuk melepas kepenatan, tapi juga merupakan ingatan yang masih bernapas.

Dengan tenaga yang semakin menipis, Viona terus menopang tubuh Agam, ia kembali melangkah menuju ranjang besar. Langkahnya terseret, bahunya kembali tegang menahan beban yang kian terasa berat, napasnya naik turun tak beraturan.

Begitu sampai di tepi ranjang, tubuh tinggi Agam jatuh rebah dengan posisi menyamping.

Viona mundur setengah langkah, menunduk sambil menghela napas panjang. Dadanya berombak cepat. Untuk sejenak ia hanya berdiri di sana menenangkan diri setelah bergulat dengan bobot tubuh pria tinggi itu.

"Padahal makannya tidak terlalu banyak, tapi berat tubuhnya sungguh menguras seluruh energiku," keluhnya. Satu tangannya mengelap keringat di pelipis, ruangan sejuk ber-AC itu nyatanya tidak mampu menepis keringat Viona.

Tatapan Viona kembali pada Agam.

Ia mendekat lagi, perlahan menggeser tubuh Agam agar berbaring lurus dan nyaman di tengah ranjang. Setelah itu, ia berlutut di sisi tempat tidur, melepaskan satu persatu sepatu beserta kaus kaki yang masih melekat di kaki pria itu.

Selesai dengan sepatu, jarinya kemudia bergerak ke kerah kemeja. Dengan hati-hati ia meraih simpul dasi yang masih melekat ketat di leher Agam, mengendurkannya sedikit demi sedikit hingga akhirnya terlepas sepenuhnya.

Aroma alkohol kian tercium, menyergap begitu kuat saat Viona membungkuk lebih dekat. Hidungnya spontan mengerut, tenggorokannya terasa perih hingga ia harus menahan mual.

Ia memalingkan wajah sesaat, menarik napas pendek. "Ya Tuhan... bau apa ini?" gumamnya pelan. "Padahal dari tadi aku di dekatnya, kenapa baru tercium sekarang?"

Pandangan Viona beralih pada pinggang Agam. Sabuk kulit itu masih melingkar rapat, menekan perut pria tersebut bahkan saat ia terbaring tak berdaya.

Jarinya melayang ragu di udara.

"Haruskah aku...," bisiknya pada diri sendiri, ragu namun sadar bahwa benda itu mungkin membuat Agam merasa tidak nyaman.

Ia menahan napas sejenak.

"Aku hanya ingin membantu, Tuan... bukan bermaksud lancang," ucapnya lirih.

Dengan wajah yang sengaja ia palingkan, Viona meraih sabuk itu perlahan. Jarinya bergerak hati-hati melepaskan kaitannya satu persatu hingga ikatan yang menekan pinggang Agam akhirnya terurai.

Sabuk itu terlepas di tanganya.

Viona menghela napas panjang, bahunya turun lega. Sekilas ia menatap Agam, napas pria itu kini teratur, kedua matanya terpejam, wajahnya terlihat lebih tenang di atas seprai biru.

Ia beranjak perlahan, berniat meninggalkan sisi ranjang.

Namun baru satu langkah menjauh, pergelangan tangannya tiba-tiba digenggam erat. Tarikan itu kuat, refleks, nyaris membuat keseimbangannya goyah.

Tubuh Viona tersentak, berbalik.

Di balik kelopak mata yang masih terpejam, jemari Agam tetap mencengkram pergelangan tangannya, seolah enggan membiarkannya pergi.

"Tetaplah di sini," gumam Agam nyaris tanpa suara, bibirnya bergerak lemah.

Viona menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. Ia menunduk, menatap pergelangan tangannya yang masih tergenggam, lalu perlahan berusaha menarik diri.

Jemari Agam bukannya mengendur, justru mengerat, seolah refleks menahan sesuatu yang tak ingin ia lepaskan.

"Tuan... tolong lepaskan," ucap Viona akhirnya. Suara bergetar tipis.

Suara Viona membuat kelopak mata Agam bergerak perlahan, ia membuka matanya.

Tatapan mereka bertemu.

Untuk sejenak, tidak ada suara selain tarikan napas keduanya. Wajah Agam tampak lelah, bingung, namun ada sesuatu yang lebih dalam berpendar di matanya, sesuatu yang sulit dibaca.

Cengkraman masih tertahan di pergelangan Viona, tetapi kekuatannya mulai berkurang.

"Tuan... tolong lepaskan." Viona kembali berujar, kali ini lebih lembut, wajah sendunya menatap Agam. Berharap pria itu segera melepas cengkramannya.

Kabur yang semula samar tiba-tiba menajam, tetapi bukan Viona yang ia lihat. Di mata Agam, sosok lain seolah tumpang tindih di wajah Viona. Wajah sendu itu, cara Viona menatapnya, bahkan nada lembut yang gadis itu ucapkan, terlihat dan terdengar sama seperti wanita dari masa lalu Agam.

Semua itu membuat pelipis Agam semakin berdenyut, napasnya menjadi pendek dan tidak beraturan. Sebuah dorongan kuat tiba-tiba menyelimuti seluruh sudut tubuhnya.

Agam yang tidak menggubris permohonannya, membuat Viona berusaha melepaskan sendiri cengkraman tangan pria itu. Namun belum sempat ia bergerak lebih jauh, Agam justru bergerak lebih cepat, tangannya menyambar bahu Viona, menariknya tanpa kendali.

Keseimbangan Viona hilang.

Dengan suara teredam, ia jatuh ke atas dada Agam. Dalam satu gerakan kasar dan tidak terduga, tubuh pria itu berguling, membalik posisi mereka. Seketika Viona terbaring di atas kasur, terkurung di bawah bayang tubuh Agam.

Punggungnya menekan seprai, napasnya tercekat.

"Tuan...!" suaranya pecah di tenggorokan.

Lengan kokoh Agam bertumpu di kedua sisi tubuhnya, menciptakan ruang sempit yang tak bisa ia lewati. Wajahnya menunduk, begitu dekat, tetapi bukan hasrat yang terlihat, melainkan kebingungan, obsesi dan sesuatu yang sulit dijabarkan.

Matanya menatap Viona, namun jelas ia tidak benar-benar melihatnya.

"Mayra..." Nama itu meluncur pelan dari bibirnya, terdengar serak dan nyaris putus asa.

Jantung Viona berdetak keras. Tangannya terangkat refleks, bukan untuk memeluk, melainkan untuk menahan, menciptakan jarak tipis di antara mereka.

Di bawah kungkungan Agam, ia menyadari satu hal. Bukan ia yang sedang di lihat pria itu, melainkan sosok wanita dari masa lalu yang fotonya terpajang di seluruh dinding kamar.

Napas Viona semakin tersangkut di dada, ketika tubuh Agam semakin menghimpit tubuh kecilnya. Matanya melebar, refleks kedua telapak tangannya menekan dada pria itu, mendorong sekuat tenaga.

"Berhenti, Tuan... lepaskan saya!"

Tubuh Viona meliuk, berusaha melepaskan diri dari kungkungan lengan Agam. Kaki Viona bergerak liat mencari tumpuan, lututnya terangkat nyaris menghantam sisi tubuh pria itu, namun Agam lebih cepat. Tangannya menahan bahu, menekan kembali tubuh Viona ke kasur.

Detak jantung Viona berdegup di telinga, keras dan berisik.

Wajah Agam semakin dekat. Bukan keinginan yang terpancar di sana, melainkan keterpakuan yang menakutkan, seolah ia terperangkap di dunia lain. Di matanya, Viona bukan lagi Viona. Ia melihat Mayra, sosok yang tidak pernah benar-benar jadi miliknya, namun terus menghantuinya.

"Mayra...," bisiknya lagi, lebih jelas.

Cengkramannya menguat, bukan untuk menyakiti, tetapi didorong oleh obsesi yang tak terkendali, seakan jika ia melepaskan, bayangan itu akan lenyap untuk selamanya.

Air mata mulai menggenang di pelupuk Viona.

"Tuan, aku bukan dia!" suaranya pecah, tinggi dan bergetar. "Lihat aku... tolong lihat baik-baik, aku Viona!"

kata-kata putus asa Viona, menghantam Agam seperti tamparan.

Sesaat gerakannya terhenti.

Napasnya memburu, rahangnya mengeras. Wajahnya berkerut, seolah dua realitas bertabrakan di kepalanya. Ia berada di persimpangan, kenangan dan kenyataan, Mayra dan Viona.

Di bawahnya, Viona masih gemetar, dadanya naik turun cepat, tangannya tetap terangkat di antara mereka.

Kepala Agam kembali berdenyut nyeri, pandangannya semakin mengabur, namun bayangan sosok Mayra kembali menghantuinya.

Agam bergerak agresif. Ia semakin mencondongkan tubuhnya, menghimpit tubuh Viona hingga berjarak begitu tipis.

Sebuah kecupan mendarat di bibir tipis Viona, membuat mata indah gadis itu membola seketika.

"Tu-tuan Agam..." suara Viona tertahan saat bibir Agam kembali menempel di bibirnya. Bukan lagi sebuah kecupan, melainkan sebuah lumatan.

*****

Bersambung...

1
Three Flowers
ciee.. Viona ikutan baper. Memang enak kalo mempunyai seorang pelindung
Three Flowers
dia lagi marah, Viona
Three Flowers
kamu terlambat, Damar
Three Flowers
mulai timbul sifat posesif nya nih
Three Flowers
apakah damar naksir viona?😅
Three Flowers
apa yang terjadi semalam?😅
Three Flowers
jadi sedih, ternyata dibikin nyaman untuk viona seorang diri, bukan bersama Agam
Three Flowers
berarti secara tidak langsung, Agam ingin rumah itu terasa nyaman saat ia mudik ke rumah mertua, ya? ciee...berasa nikah beneran, bukan sekedar kontrak 😍
Three Flowers
takut ada yang ngintip, ya Gam?
Three Flowers
perhatian banget Viona sama Agam😍
Three Flowers
Veronica masih cinta Hyun ya?
Three Flowers
ternyata viona berprestasi ya
Three Flowers
enak banget, duit segitu banyak buat pasangan beracun ini
Three Flowers
kenapa pamannya kejam sekali nyebut vio jalang?😭
Three Flowers
mereka mau kemana sih?
Three Flowers
minta ditampol mulutnya si Agam
Three Flowers
enak saja ngomongnya... nggak ikut mengandung malah mau ambil anaknya
Three Flowers
ish ish... yang dipanggil calon suaminya.. wkwk 😂
Three Flowers
daddy siapa ini maksudnya?
Teteh Lia: Daddy Rayyan, ayah angkat Agam. mantan suami bunda alya
total 1 replies
Three Flowers
jangan main jodoh2an saja, bu... Agam udah mau nikah sama cewek lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!