Tak kusangka takdir hidupku akan jadi serumit ini
Kisah percintaan seorang gadis cantik idola SMA Nusa Bangsa, bernama Ariana Kamilla dengan seorang cowok cool bernama Eza. menjadi awal mula dilema panjang cinta segi tiga dimasa yang akan datang
Pelecehan, penghianatan dan dendam membawa Ariana pada kehidupan kelam yang menyedihkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon morieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bunda
Hari ini hari terakhir Ujian kenaikan kelas, rasa lelah bercampur lega di rasakan Arin. dari semenjak persiapan dan pelaksanaan ujian kenaikan ini, hampir siang dan malam Arin habiskan hanya berkutat dengan buku buku pelajaran, bahkan tak jarang di waktu kencannya ia malah mengajak Eza ke perpustakaan untuk sekedar membaca buku atau mengerjakan soal soal, Eza sama sekali tak pernah mengeluhkan masalah itu, karna baginya bukan suatu masalah, dimanapun tempatnya asal bersama Arin itu adalah kencan istimewa baginya, dasar bucin...hee..
Sepulang sekolah kali ini Amel, Arin, Sisi dan Alfon sengaja makan bersama di sebuh cafe, merayakan usainya ujin kenaikan kelas, seolah melepas penat dari segala stres dan ketegangan otak dan saraf. kali ini mereka tengah membahas acara liburan yg sudah lama sekali mereka rencanakan.
"lo kan dah janji Rin, mau ikutan liburan kali ini?" Sisi merengek pada Arin yg tiba tiba saja membatalkan rencan liburannya.
"bukanya gue nggak mau Si...tapi beneran, buat saat ini gue nggak bisa ninggalin bunda sendiri" dalam hati sesungguhnya Arin begitu ingin ikut liburan bersama sahabatnya kali ini, karena liburan ini adalah kesempatan terakhir bisa liburan bersama, karena tahun depan pasti mereka sudah akan sibuk dengan persiapan masuk kuliah.
Arin juga harus lebih hemat untuk saat ini, karena kondisi keuangan keluarganya yg sedang tidak baik, sudah beberapa bulan ini Ayah tak lagi memberikan jatah bulanan untuk kebutuhan rumah, jadi untuk keperluan sehari hari selama ini Kak Fikrilah yg menanggungnya. sampai Kak Riopun yg tengah sibuk menggarap tesisnya juga terpaksa harus mencari pekerjaan sampingan.
"ya udah kalau emang lo nggak bisa, gue tahu kok kalau bunda emang lagi butuh lo banget untuk selalu di ada sampingnya" rasanya hati Arin begitu lega mendengar perkataan Amel yg terdengar sangat bijaksana dan memahami keadaannya saat ini
"apa kita batalin aja liburannya, nggak seru kali kalau liburan tapi nggak lengkap gini" celetukan Alfon membuat Arin sedikit tak enak hati pada yg lain
"jangan..., kalian tetap harus berangkat, nggak masalah gue nggak ikut, nikmati liburan kalian, nanti nanti kitakan masih bisa liburan bareng lagi, ok.." Arin mengakhiri kalimatnya sambil tersenyum mengiklaskan, berharap sahabat sahabatnya tak lagi meragu
Arin baru saja membuka pintu pagar rumahnya setelah beberapa saat lalu Amel mengantarnya pulang. saat langkah kakinya baru saja sampai di pintu ruang tamu terlihat dari dalam mbak Asih berjalan terburu buru
"mbak Arin coba liat ibu mbak"
"ibu kenapa mbak Asih, ada apa..?" Arin segera berlari menuju kamar bunda. di dalam kamar tampak bunda terkulai lemas di atas ranjang, matanya terpejam, sekujur badanya terasa dingin
"sejak kapan bunda begini mbak Asih?" dengan nada panik sambil menggosok godok telapak tangan bundanya Arin bertanya pada asisten rumah tangganya itu,
"sejak mbak Arin berangkat sekolah tadi ibu bilang badanya lemas, tapi tadi ibu masih mau ngomong dan membuka mata, tapi tiba tiba barusan ibu pingsan mbak"
"bunda...bunda dengar Arin bunda...bunda.." Air mata Arin berhambur, kepanikan menyelimutinya. sedang saat itu dirumah cuma ada dirinya dan asisten rumah tangganya itu, sedang kak Rio harus menemani bos barunya pergi ke luar kota
tanpa pikir panjang Arin meminta asisten rumah tangganya itu untuk memanggil taxi, dan segera membawa bunda ke Rumah Sakit. ia meminta mbak Asih untuk tetap tinggal di rumah, karena meninggalkan rumah sebesar itu kosong membuat Arin sedikit khawatir.
Selama perjalanan tak henti henti Arin memanggil manggil bunda yg masih saja mengatupkan kelopak matanya, di dalam hati Arin terus memohon pada Tuhan agar tak ada hal buruk yg akan menimpa bundanya. berbagai pikiran buruk tiba tiba saja menyeruak dalam benak Arin, kalau sampai hal itu terjadi pada bunda, apa lagi yg bisa ia harapkan dalam hidup ini. karena bundalah satu satunya alasannya untuk terus bertahan.
"mbak bisa tunggu di luar saja ya, kami akan memeriksa pasien terlebih dulu" seorang suster di ruang IGD meminta Arin untuk menunggu di luar agar mereka dapat lebih fokus memeriksa bunda.
Sudah hampir 15 menit berlalu Arin masih mondar mandir di depan pintu ruang masuk IGD, perasaanya sangat kacau saat itu. berulang kali ia menghubungi kak Rio tapi tak juga tersambung, rasanya tidak mungkinkan ia akan menghubungi Ayah saat ini. lagian apa Ayah akan perduli dengan keadaan bunda, segera Arin menepis keinginanya menghubungi pria itu.
"Zaa..a..a..." baru saja sepenggal kata terucap tiba tiba dada Arin terasa begitu sesak, air matanya mulai banjir lagi, iapun kembali terisak
"hallo..hallo...Arin sayang...Arin ada apa.., apa yg terjadi Rin..pliis jawab aku Rin, jangan buat aku cemas" suara dari seberang itu terdengar sangat panik, berulang kali memanggi manggil Arin
"bunda..Za..bunda..pingsan, sekarang ada di rumah sakit"
"di rumah sakit apa, aku segera menyusulmu sayang, tunggu ya...tenang..kamu harus tenang" setelah berulang kali meminta Arin untuk lebih tenang pria itu segera memutus panggilan telepon.
Arin masih sendiri berjongkok lemas sambil menyandarkan tubuhnya di depan ruang IGD, tampilannya lusuh dengan masih mengenakan seragam putih abu abunya. karena tadi bahkan ia tak sempat berfikir untuk berganti pakaian. kedua bola matanya memandang nanar kearah pintu ruang IGD tempat bunda di periksa. berharap dokter atau perawat segera keluar untuk memberikan kabar
"Ariiinn...." suara panggilan itu membuat Arin terperanjat kaget. dilihatnya sosok Eza tengah berlari ke arahnya
"Zaa....bunda..za.., aku pulang sekolah tadi bunda pingsan di rumah" Arin memeluk tubuh Eza erat erat, isakannya terdengar lebih kencang, seolah kecemasan dan kepanikanya meluap, saat sosok itu hadir di depannya.
"tenang sayang tenang..bunda pasti baik baik saja, kita berdo'a saja semoga bunda segera membaik" Eza mengecup pucuk rambut kekasihnya dan terus berusaha membuatnya tenang.
tak lama berselang tampak seorang perawat yg tadi ikut memeriksa bunda keluar
"keluarga pasien Irma"
"iya sust.." Arin berlari mendekati perawat itu
"silahkan ikut ke ruang dokter ya dek"
Arin menggandeng tangan Eza dan mengikuti langakah perawat itu dari belakang
di dalam sebuah ruangan yg di tunjukkan perawat tadi tampak seorang dokter telah duduk menunggu dan mempersilahkan Arin dan Eza untuk duduk
"hubungan adik berdua dengan pasien?" dokter itu tampak menatap kearah Eza dan Arin untuk memastikan
"saya putri ibu Irma dok"
dokter itupun mengangguk dan mulai menjelaskan kondisi bunda saat ini.
"ketika pemeriksaan awal tadi ibu Irma mengalami dehidrasi makanya kami segera memberikan bantuan infus, tekanan darahnya juga sangat rendah. di tambah lagi ibu Irma sepertinya punya riwayat penyakit lambung, bisa di picu oleh stres dan pola makan yg tidak teratur sehingga penyakit lambungnya kambuh. kondisinya menjadi sangat lemah karena ibu Irma mengalami kekurangan nutrisi yg lumayan akut bisa di lihat dari penurunan berat badanya"
"selanjutnya apa tindakan yg terbaik buat Bunda saya dok"
"sebaiknya Ibu Irma di rawat dalam beberapa hari ini, kita akan terus memantau kondisinya dan berusaha memberikan asupan nutrisi yg di butuhkan sehingga keadaanya bisa kembali stabil, dan saya berpesan untuk keluarga agar menjaga kondisi psikis Ibu Irma agar tidak stres"
"baik dok, terima kasih"
Arin meninggalkan ruangan itu dengan langkah gontai. rasa memyesal dan bersalah berkecamuk dalam benaknya, mungkin perhatianya kurang dalam beberapa hari ini pada bunda karena ia harus di sibukan dengan Ujian kenaikan kelas. meskipun Arin sudah berusaha dengan sangat untuk selalu memberikan perhatian lebih pada bunda. ia tahu Akhir akhir ini bunda memang susah sekali makan, meski Arin terus memintanya untuk selalu menjaga kesehatan tapi himpitan masalah yg kini tengah mendera batin bunda mau tidak mau sangat mengganggu fikiranya
masih sering Arin melihat diam diam bunda menangis di kamar, termenung sambil menatap foto foto di album lama keluarga. meskipun saat di hadapan anak anaknya ia memperlihatkan ketegaranya, tapi tetap saja penghianatan Ayah telah mengoyak batinnya terlalu dalam.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
**akan ada kisah paling memilukan yg terjadi dalam hidup Arin di beberapa episode mendatang, jangan lewatkan ya Readers...
jangan lupa juga klik like dan tinggalkan komen, siapa tau bisa menjadi referensi bagi penulis untuk membuat ceritanya jadi makin menarik
jangan lupa juga bagi tipnya ya reader supaya penulis makin semangat
terimakasih.....🙏🙏🙏😘😘**
udh bosan kali erza..si arin ukur 17 thn kaya umur 25 thn keliatan tua,,peyot,suram wajahnya tubuhnya langsung melar, pantatnya langsung turunnnn, buah dada nya langsung kendor kaya udh netein anak.
si arza nanti nikahnya sama yg msh perawan, yg msh suci,tertutup dan tdk liar lagj murahan.