Bismillah karya baru FB Tupar Nasir
WA 089520229628
Sekuel dari Ya, Aku Akan Pergi Mas Kapten
Kapten Excel belum move on dari mantan istrinya. Dia ingin mencari sosok seperti Elyana. Namun, pertemuan dengan seorang perempuan muda yang menyebabkan anaknya celaka mengubah segalanya. Akankah Kapten Excel Damara akan jatuh cinta kembali pada seorang perempuan?
Jangan lupa ikuti kisahnya, ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Mau Dinikahi
Detak jam dinding terus berdetak, dan waktu semakin merambah ke angka 19.30 Wib. Mobil Excel baru saja tiba di batas terminal kota. Kini baru akan menuju kampung Sami Mawon. Sebuah kampung yang bersebrangan dengan kampung halaman Excel di Sumuhun Dawuh.
Sepanjang perjalanan, Excel tetap berkomunikasi dengan para adik leting. Bukan dua puluh personil ternyata, diperkirakan ada 30 yang ikut, dengan alasan solidaritas pada abang leting.
"Ya ampun, sedang apa saat ini Si Zinni? Semoga dia tidak diapa-apakan oleh orang keparat itu." Excel merasa khawatir dengan keadaan Zinni saat ini.
Excel segera memacu mobilnya secepat mungkin menuju kampung Sami Mawon. Dalam perjalanan menuju kampung, mobilnya sudah disamai lajunya oleh motor adik-adik leting.
Excel segera memerintahkan adik-adik leting menuju villa Rosta. Mereka segera melaju cepat dengan salah seorang komando di depannya. Acuan mereka GPS, jadi dipastikan mereka akan menemukan sendiri alamat villa itu.
Sementara itu di dalam villa Rosta, Zinni yang masih dikurung di dalam sebuah kamar, terlihat lemas dan lapar. Karena sejak pagi, dia memang belum makan berat seperti nasi. Makan roti untuk ganjal perut saja hanya dua bungkus, dan itu tidak cukup membuat perutnya kenyang.
"Ya Allah, Pak Excel, apa bapak tidak jadi menyusul saya? Saya tahu, saya bukan siapa-siapa buat bapak. Tapi harapan saya hanya bapak. Saya takut diapa-apain orang-orang juragan Awan," bisik Zinni penuh harap.
Untung saja orang-orang juragan Awan tidak merampas tas sampirnya. Untuk itu Zinni masih bisa menghubungi Ecxel. Sambungan telpon yang tadi sempat terhubung, putus begitu saja entah pada saat Zinni dalam perjalanan ke villa atau pada saat dirinya sudah di villa. Dengan penuh harap, Zinni meraih Hp nya, dan mencoba menghubungi kembali nomer Excel.
Tapi malang, sepertinya sinyal di Hp nya tidak sedang mendukung untuk menghubungi. Zinni sedih, dia hanya bisa berdoa semoga Excel tadi bisa mendengar percakapan antara dirinya dan orang-orang suruhan juragan Awan.
"Datanglah, Pak Excel. Tolong saya. Saya sudah dikurung di sini. Bagaimana saya bisa melarikan diri?" gumamnya sudah pasrah dengan tubuh lemas hampir tidak berdaya.
"Kotrakkk."
Zinni dibuat terkejut, saat pintu kamar tempat penyekapan itu tiba-tiba dibuka dengan kasar. Zinni segera memasukkan kembali Hp nya ke dalam tas. Dia sangat ketakutan.
"Bawa dia, dan ganti bajunya dengan kebaya," perintah seorang pria kepada seorang perempuan paruh baya. Perempuan paruh baya itu meraih tangan Zinni lalu menariknya. Zinni dibawa ke sebuah tempat untuk diganti bajunya.
"Bu, mau dibawa ke mana saya?" tanya Zinni resah.
"Diamlah Nona, jangan banyak bicara. Nona harus patuh demi keselamatan diri Nona," ujar perempuan paruh baya itu seraya membuka sebuah pintu. Zinni dibawa ke ruangan itu.
Di dalam ruangan itu, Zinni dipaksa mengganti pakaiannya dengan sebuah kebaya.
"Tolong jelaskan, kenapa saya harus ganti baju dengan kebaya ini?" Zinni bertanya penuh kebingungan.
"Sebentar lagi pihak penghulu akan menikahkan Nona dengan juragan kami," ungkap perempuan paruh baya itu.
"Apa? Menikah? Tidak. Saya mohon jangan dandani saya dengan kebaya itu. Saya sudah menikah, saya sudah bersuami," ujar Zinni, teguh dengan pengakuannya bahwa dia sudah menikah.
Wanita paruh baya itu tidak peduli dengan pengakuan Zinni. Dengan tangan yang kuat dan gesit, dia mempreteli pakaian yang melekat di tubuh Zinni dengan kasar.
"Tolong, jangan kasar-kasat. Ibu nanti akan menyesal kalau suami saya sudah sampai di villa ini," protes Zinni. Tangannya sedikit kesakitan karena dipuntir wanita itu.
Meskipun berontak, akhirnya Zinni berhasil diganti pakaiannya dengan kebaya. Wajah Zinni tidak bergairah, dia mencucurkan air mata. Jika Excel tidak segera datang, maka dia akan dinikahi paksa oleh juragan Awan.
"Pak Excel, kenapa bapak belum datang. Saya akan dinikahkan dengan juragan Awan, saya tidak mau," jerit hati Zinni merana.
Wanita paruh baya itu segera membawa Zinni keluar dari ruangan itu, lalu membawa Zinni pada sebuah tempat.
Zinni sudah tidak karuan, tubuhnya yang lemas karena lapar, semakin tidak berdaya saat wanita paruh baya itu memaksanya berjalan.
"Ya ampun, jangan pura-pura lemas dan pingsan, Nona. Sebentar lagi Nona akan bertemu juragan Awan dan Pak Penghulu yang akan menikahkan Nona," sentak wanita paruh baya ituu.
"Saya tidak berpura-pura, tubuh saya lemas. Saya lapar," ujar Zinni.
"Lapar? Apa kamu belum makan?"
"Belum."
Wanita paruh baya itu terlihat termenung, dia berpikir sejenak. Kemudian membawa Zinni ke sebuah ruangan, yang ternyata ruang makan.
"Ayo makanlah beberapa suap saja untuk mengisi perutmu," titah wanita paruh baya itu seraya memberikan nasi dengan lauk sayur sop daging.
"Cepat, juragan Awan sudah menunggu," bentak wanita paruh baya itu. Zinni segera menghabiskan makanannya, karena wanita itu sudah tidak sabar dan menarik lengan Zinni.
"Ya ampun, seandainya ada jalan untuk aku kabur, aku akan kabur," batinnya.
Sementara itu di luar halaman villa, dua penjaga villa dibuat bingung dengan kedatangan orang-orang bertubuh kekar dan bertubuh atletis. Mereka memaksa ingin masuk pintu gerbang, dengan memainkan suara motornya.
Kurang lebih 30 orang berada di depan pintu gerbang besi yang mustahil bisa ditembus oleh mereka meskipun mereka menggunakan motor besar sekalipun.
Bel sudah berulang kali ditekan, akan tetapi penjaga di dalam villa enggan membukanya.
Sersan Panji yang mengomandoi pergerakan pasukan memerintahkan letingnya untuk memanjat dinding besi pada dua orang rekannya.
Dengan keahlian panjat tebing yang dikuasainya, serta dilengkapi tambang yang ujungnya memiliki pengait, rekan Sersan Panji segera melaksanakan tugasnya.
Mobil Excel tiba di depan gerbang tepat dua adik letingnya memanjat dinding besi pintu gerbang. Tidak berapa lama setelah mereka berhasil memasuki villa dengan menaiki pagar besi, pintu gerbang itu terbuka lebar, dibuka oleh dua adik leting Excel yang tadi sudah merangsek masuk dengan cara memanjat.
Mobil Excel dan motor adik-adik letingnya masuk serentak tanpa mampu dihentikan penjaga villa. Mereka justru kewalahan dan sudah diringkus oleh orang-orang Excel.
Juragan Awan yang sudah sedang mempersiapkan pernikahannya dengan Zinni, terkejut mendengar berita bahwa di luar villa sedang terjadi kerusuhan.
"Ada apa pengawal?" Kening juragan Awan mengkerut dalam.
Di luar ada pasukan merangsek masuk dan sudah memasuki gerbang villa. Mereka seperti pasukan tentara. Mereka juga banyak, jumlahnya lebih dari 20 orang," lapor pengawal/
"Apa?" kejut juragan Awan. Dia mengingat kembali ucapan Zinni tadi, bahwa dia sudah menikah dengan seorang tentara berpangkat Kapten, yang saat ini sedang dalam perjalanan ke kampung ini.
"Berarti yang dikatakan gadis itu benar. Dia sudah menikah dengan seorang tentara?" gumamnya.
"Mana gadis itu, lepaskan dia!" teriak Sersan Panji seraya mengangkat pistolnya ke atas. Juragan Awan ketakutan, sementara Zinni yang tadi sudah dibawa ke dalam sebuah ruangan khusus, terperanjat mendengar di luar ada keributan.
"Apakah Pak Excel datang?" tanyanya dengan penasaran.
semoga saja benar ya Thor ☺️🤩