Elara Vienne menyadari dirinya masuk ke dalam novel yang baru-baru ini ia baca. Tapi kenapa justru menjadi tokoh antagonis sampingan? Tokoh yang bahkan tidak bertahan lebih dari lima bab dalam cerita.
Tokoh antagonis ini benar-benar menyedihkan—tidak diakui oleh keluarga aslinya, dibenci oleh netizen, dan bahkan pacarnya direbut oleh sang putri asli.
Ketika bangun dia bahkan sudah kehilangan kesuciannya, sungguh Elara sangat terkejut. tapi kenapa laki-laki ini begitu mencintainya?
Let’s start the story.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ly-Ra?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Kelompok nomor tiga sedang berada di toko sewa kostum, Alira sedang berdebat harga dengan pemilik toko, Ayla hanya melihat dari samping dengan raut wajah lesu, dia lelah menunggu.
"Pemilik toko kurangin harga sewanya. 120 ribu untuk satu kostum, kami hanya menginginkan satu." ucap Alira dengan nada tawar-menawar. Gadis ini cukup pandai dalam hal ini, karena pernah tawar-menawar harga dengan rekan bisnis. Yang akan bekerjasama dengan perusahaan keluarganya.
Pemilik toko menggelengkan kepalanya, dan menghela nafas, "Tidak bisa harga sewa kostum 150 ribu untuk sehari, kamu menawar 120 ribu? gadis. Kamu sangat kejam."
"Pemilik toko bagaimana aku bisa jadi kejam? Lihat kami sedang melakukan siaran langsung, kamu mendapatkan promosi gratis ada banyak jutaan penonton yang menonton, aku juga artis, ada banyak penggemar di akun ku, toko mu pasti akan ramai sebentar lagi," ucap Alira tidak mau kalah.
Ayla mencoba menahan diri untuk memutar matanya, dia merasa Alira tidak sepopuler dirinya sekarang. Kenapa dia begitu percaya diri?
Perkataan Alira tidaklah salah, bahkan penonton pun setuju dengan perkataannya.
"Ukh, pemilik toko sangat keras kepala tidak memberikan diskon."
"Mungkin karena keuntungan yang didapatkan tidak seberapa, tapi aku setuju dengan perkataan Alira."
"Aku tidak tahu, ternyata idolaku pandai melakukan tawar-menawar."
"Seperti melihat ibuku yang sedang tawar-menawar, dia akan mengatakan apa saja untuk melakukan diskon!"
"Ayla terlihat bosan ... Dia tidak membantu sama sekali."
Mendengar alasan yang begitu masuk akal, pemilik toko dengan enggan menyetujui permintaan Alira, setelah berdebat begitu lama. Kelompok dua mendapati kostum beruang yang diinginkan.
"Cepat pakai kostum ini, kita akan pergi ke tempat yang ramai," Alira menyodorkan kostum tersebut kepada Ayla. Membuat gadis itu mengerutkan keningnya.
"Tapi cuaca cukup panas, ini baik-baik saja kan?" Ayla terlihat ragu-ragu melihat kostum itu, ini sebenarnya ide Alira.
Melihatnya begitu lambat, Alira merasa emosinya tersulut, "Kalau merasa panas tahan saja! Aku sudah begitu lama berdebat dengan pemilik toko, kamu ingin menyia-nyiakan kerja kerasku? Bukankah kita sudah berdiskusi untuk melakukan ini? Jika kamu tidak setuju katakan saja!"
Ditanyakan begitu banyak tanpa adanya jeda, Ayla terdiam dan dengan murung mengambil kostum tersebut. Gadis itu berjalan ke ruang ganti dengan perasaan kesal! Sial padahal dia ingin Alira yang memakainya! Kenapa harus dia.
Penonton dibuat tercengang dengan amarah Alira, biasanya dia hanya mengatakan beberapa kata angkuh dan sombong. tidak pernah terlihat marah seperti ini.
"Aku merasa kasihan dengan dewiku, di cuaca begitu panas dia memakai kostum itu."
"Itu akibatnya bukan? Alira sudah lama berdebat dengan pemilik toko, tapi Ayla hanya diam berdiri tidak membantu sama sekali!"
"Kenapa kamu menyalahkan Ayla-ku? Tidak semua orang bisa tawar-menawar oke!"
"Sepertinya Alira masih tersinggung dengan kejadian semalam, gadis ini terlalu emosional bukan?"
"Hei, apa masalahnya menjadi emosional? lagipula yang menyinggung terlebih dahulu adalah Ayla!"
Ayla hampir meleleh di kostum beruang itu, suhu di dalam seperti oven berjalan begitu panas, pengap dan bau. Ayla ingin muntah memakai kostum rendahan seperti ini.
Dibalik kostum kepala beruang, Ayla menatap tajam kearah Alira yang tersenyum puas, rasa panas itu membuat keringatnya keluar banyak. Tapi yang lebih menyakitkan adalah harga dirinya yang merasa terinjak.
Sial! Dia bahkan tidak bisa berbuat apa-apa, untuk membantah apa yang diperintahkan Alira!
Mereka berdua sudah mengambil keputusan untuk salah satu memakai kostum dan menari, yang lain bernyanyi, menghibur para warga dikota A untuk mengumpulkan uang. Juga jika ada yang ingin berfoto, itu akan dikenakan biaya! Walaupun akan sedikit melelahkan tapi perasaan puas Alira tersalurkan. Tidak masalah!
Setelah mengganti kostum, Alira pergi ke toko alat musik dan membeli harmonika kecil. Uang mereka tinggal 30 ribu sekarang. mereka harus menghasilkan uang untuk mendapatkan makan siang dari kru!
Mereka akhirnya sampai di taman kota, banyak masyarakat berlalu-lalang membuat Alira merasa puas. Setelah mengatur tempat, mereka akhirnya memulai pertunjukkan.
Alira melepas topi yang dikenakannya, lalu mulai menaruhnya didepan guna untuk mengumpulkan uang, dia duduk dan memainkan harmonika kecil sembari bernyanyi. Sedangkan Ayla dengan kaku mulai menari.
Perlahan-lahan mulai menarik perhatian, dan membentuk kerumunan lingkaran kecil. Mereka melihat dengan senang bagaimana canggungnya Ayla menari tapi terlihat lucu, dan Alira yang memainkan musik dan bernyanyi begitu indah, sedikit demi sedikit uang itu terkumpul.
**
"Kakak, apakah ide ini bagus?" tanya Daffa merasa ragu melihat banyaknya aksesoris kecil ditangan Keenan.
Mereka telah kehabisan ide, hanya menjual aksesoris kecil seperti kalung dan gelang yang dibeli toko grosiran, lalu jual kembali dengan sedikit keuntungan. Daffa merasa ragu kalau ini terjual.
Mulut Keenan berkedut, dia menatap adiknya kesal, "Kamu meragukan ideku? Tenang saja ini bakal habis, juga kalau ada yang minta foto harus dikenakan biaya untuk menambah uang."
Setelah mengalami pengejaran fans kemarin, Keenan tentu saja percaya diri dengan apa yang dijual dan tampangnya. Lagipula dia aktor populer populer. Tidak ada yang bisa mengalahkan pesonanya.
Melihat rasa percaya dirinya, Daffa menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas, "Semoga apa yang kamu katakan itu benar."
Keenan diam tidak mau membalas, dia sibuk berjalan dan tidak sabar untuk menjual apa yang berada ditangannya. Penonton yang melihat itu merasa lucu.
"Di musim ini panas ini menjual aksesoris kecil, siapa yang mau membelinya?"
"Hei jangan salah, aku akan pergi! Kapan lagi aku bisa berfoto dengan dewa Ken."
"Aku ikut! Kebetulan aku tahu dimana mereka berada."
"Sial! kalian gila? bagikan lokasi mereka kepadaku!"
"Komentar diatas, kamu kasihan sekali."
"Cih, Daffa tidak tahu saja kekuatan penggemar Keenan."
"Woohooo! Aku menyedihkan, aku tidak bisa berfoto dengan idolaku."
" 1+"
".... 1829+"
Sesuai kepopuleran Keenan, setibanya di keramaian banyak orang yang membeli aksesoris kecil mereka, apalagi banyak orang yang meminta foto dengan Keenan. Daffa melihat hal itu hanya terdiam tercengang, dia merasa tertampar karena masih meremehkan pengaruh kakaknya di industri hiburan.
Apalagi melihat Keenan yang terlihat menikmati, dia melayani para penggemarnya dengan sepenuh hati. Daffa menunduk menatap tanah dengan perasaan getir, sepertinya mau dimanapun kakaknya selalu bersinar.
Keseluruhan tim melakukan tugas mereka dengan baik, sutradara Bayu yang melihat siaran langsung mereka menghela nafas lega.
"Segera tingkatkan keamanan semua tamu, jika dirasa banyak orang segera bawa mereka untuk kembali ke Villa," ucap Sutradara Bayu menginstruksikan kepada para kru keamanan.
Betapapun senangnya dia karena siaran langsungnya populer di internet, keamanan para tamu adalah hal penting. Jika ada yang terluka, dia tidak akan bisa melanjutkan program ini.
...----------------...