6 tahun mendapat perhatian lebih dari orang yang disukai membuat Kaila Mahya Kharisma menganggap jika Devan Aryana memiliki rasa yang sama dengannya. Namun, kenyataannya berbeda. Lelaki itu malah mencintai adiknya, yakni Lea.
Tak ingin mengulang kejadian ibu juga tantenya, Lala memilih untuk mundur dengan rasa sakit juga sedih yang dia simpan sendirian. Ketika kejujurannya ditolak, Lala tak bisa memaksa juga tak ingin egois. Melepaskan adalah jalan paling benar.
Akankah di masa transisi hati Lala akan menemukan orang baru? Atau malah orang lama yang tetap menjadi pemenangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieThaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. One Month
Brian meraih tangan Lala. Dikeluarkannya tisu basah dan mengelap kedua telapak tangan Lala dengan begitu serius. Lala yang tak mengerti pun mulai mengerutkan dahi.
"Tangan aku gak kotor."
"Kata siapa?"
Jawaban Brian membuat kedua alis Lala menukik sangat tajam. Namun, sang kekasih masih terus membersihkan telapak tangan seperti ada bekas noda yang sulit untuk dihilangkan.
"Ada jejak crush kamu di telapak tangan ini. Dan aku gak suka itu."
Lala malah tertawa. Semakin ke sini pak dosen kekasihnya semakin posesif. Ada rasa bahagia di hati. Ternyata dicintai oleh orang yang tepat itu begitu menyenangkan.
Mobil sudah melaju bukan menuju kafe. Melainkan ke apartment yang dihuni oleh Brian. Lala mulai menatap sang kekasih yang tengah fokus pada jalanan.
"Aku mau peluk kamu sampe puas buat hilangin rasa cemburu yang masih ada."
Kejujuran Brian membuat Lala tertawa. Wajahnya memang datar, tapi kalimat yang keluar dari bibirnya begitu manis. Sama seperti bibir tipis milik Brian yang begitu manis ketika disesap.
Tibanya di apart, bukan Lala yang Brian peluk. Melainkan macbook. Sungguh Lala ingin membanting benda segiempat tersebut. Namun, sekuat tenaga dia tahan.
"Ten minutes."
Mencoba untuk sabar karena hampir seluruh saudara perempuan Lala memiliki pasangan yang gila kerja. Sekarang dirinya pun merasakan.
Memilih berselancar di media sosial. Kedua alisnya beradu ketika ada yang menyebut akun miliknya. Ternyata sebuah permintaan maaf karena sudah berkomentar jahat di postingan terakhir Lala.
"Emangnya dia komen apa?"
Lala penasaran karena tidak semua komentar dia baca. Tubuhnya menegang ketika sudah menemukan komentar si akun tersebut. Hembusan napas kasar keluar. Sakit, tapi Lala tak menyangka jika ada yang melaporkan akun tersebut ke jalur hukum jika tidak meminta maaf.
"Siapa yang--"
Matanya segera tertuju pada sosok pria yang tengah fokus pada layar segiempat. Dia mulai mendekat dan menunjukkan layar ponselnya kepada Brian.
"Apa?" tanya Brian tanpa menoleh sedikit pun.
"Baca dulu, Mas," pinta Lala.
Pandangan Brian pun beralih untuk beberapa detik. Lalu, kembali fokus pada macbook-nya.
"Orang-orang boleh menghujatku sesuka hati mereka. Tapi, tidak kepada orang yang aku sayang."
Mulut Lala mendadak kelu mendengar ucapan Brian. Matanya mulai merah hanya karena kalimat sederhana, tapi banyak memiliki makna.
Atensi Brian kembali tertuju pada Lala. Telapak tangan lebarnya mulai menggenggam tangan mungil perempuan yang dia sayang.
"I love you."
Lala segera berhambur meluk tubuh Brian karena terharu sehingga tercipta lengkungan senyum yang begitu indah di wajah sang kekasih.
Macbook sudah Brian tutup. Lala yang masih memeluknya dari samping mulai menegakkan kepala. Seulas senyum Brian ukirkan. Dan sebuah kecupan di kening Brian bubuhkan.
Dicintai dengan begitu besar oleh lelaki yang tak pernah dia sangkakan membawa kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan. Lala tersenyum dan kembali memeluk tubuh sang kekasih. Saling berpelukan dengan rasa sama-sama nyaman.
"Mau aku masakin gak?"
Lala segera menjauhkan tubuhnya. Menatap Brian dengan mimik tak percaya jika Brian bisa masak. Tak banyak bicara pria itupun. segera menuju dapur dan diikuti oleh Lala.
"Kamu duduk manis aja. Biar aku yang masakin buat kamu."
Lala menuruti saja. Senyumnya terus terukir ketika punggung kekar yang membelakanginya seperti tengah menggodanya. Aroma yang familiar dapat Lala cium. Tak menunggu lama, nasi goreng buatan Brian sudah siap untuk Lala nikmati. Lala terdiam ketika mencium aroma nasi goreng favoritnya.
"Kaya di King kafe," katanya dengan mata yang tertuju pada Brian.
Lelaki yang masih memakai apron itupun mulai duduk tepat di hadapannya. Menatap Lala dengan begitu lekat.
"Cobain deh."
Lala mengikuti perkataan Brian. Seketika tubuhnya terdiam.
"Kok sama?"
Brian tersenyum dan berkata, "setiap makanan atau minuman yang kamu pesan di king kafe. Aku sendiri yang buatkan langsung.
"Serius?"
Brian pun mengangguk.
"Bahkan aku rela belajar masak demi untuk mendapatkan rasa yang benar-benar cocok di lidah kamu."
Sebuah fakta yang baru Brian ungkap sampai membuat Lala terdiam seribu bahasa.
"King kafe itu Masbri bangun dengan penuh cinta juga penuh effort yang gak main-main."
Sekarang Lala baru mengerti maksud dari yang dikatakan Alfa pada saat itu.
Ponsel Brian yang ada di atas meja makan. Bergetar. Nama sang ayah tertera di sana. Lala pikir Brian akan menjawab panggilan itu jauh dari dirinya. Kebiasaan para lelaki seperti itu. Namun, dugaannya salah. Brian malah menjawab panggilan itu tepat di hadapannya.
"Iya, Dad."
...
Brian terdiam dengan mimik wajah yang sudah berubah.
"Two weeks."
...
"No, Dad. Itu juga udah lama."
...
"Hem."
Lala sebenarnya tak ingin bertanya, tapi mimik wajah Brian terus membuatnya penasaran.
"Ada apa?"
Brian meraih tangan Lala. Menatapnya dengan begitu dalam.
"Ada tugas yang tak bisa ditawar," jelasnya.
"Apa?"
"I must go to Canada."
Lala sedikit terkejut. Tapi, dia sedang mencoba untuk mengerti pekerjaan sang kekasih.
"Berapa hari?"
"One month."
Lala pun terdiam. Wajah penuh ketidakrelaan tak bisa berdusta. Brian menghampiri Lala, dan memeluknya.
"Baru juga jadian harus LDR-an," ucap Lala pelan.
"I'm so sorry," balas Brian.
"Ini bukan kemauan aku. Tapi, aku juga gak bisa menolak karena menyangkut kehidupan orang banyak."
Lala masih diam. Tak ada satupun kata yang keluar. Pelukan Brian semakin erat dan membuat Lala membuang napas begitu kasar. Perlahan dia memutar tubuh. Menatap wajah Brian di mana terdapat siluet kesedihan.
"Jika, aku melarang. Apa Mas akan tetap pergi."
Dengan penuh keyakinan Brian menganggukkan kepala. Lala pun tersenyum kecil.
"Lebih penting aku atau ke Canada."
"Dengar ya, Sayang," ucap Brian ketika Lala memberikan pertanyaan jebakan.
"Kamu akan menjadi yang terpenting untuk aku. Ke manapun aku pergi, kamu akan menjadi prioritas aku."
"Kalau kamu takut jika aku bermain di belakang kamu. Video call 24/7. Aku tidak mau ketika kita saling berjauhan, kamu malah overthinking terhadapku. Begitu juga sebaliknya."
Brian memaparkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dalam menjalani hubungan jarak jauh. Apalagi Lala umur Lala enam tahun di bawahnya. Pasti lebih banyak takutnya.
"Walaupun kita LDR-an, aku akan berusaha membuat hubungan kita layaknya seperti hubungan yang tak terhalang jarak."
Brian semakin mendekatkan tubuh Lala kepada tubuhnya. Tatapannya begitu dalam dari biasanya.
"Ingat satu hal ketika overthinking datang. Sejauh apapun jarak kita, kalau hati kita saling terikat satu sama lain. Tak akan menggoyahkan cinta kita."
Tangan Brian sudah berada di pipi Lala. Ibu jarinya mulai mengusap pipi putih mulus tersebut.
"Hanya satu bulan kan?" Akhirnya, Lala membuka suara. Brian pun mengangguk.
"Aku janji, hanya kali ini saja aku ke luar negeri sendiri. Setelah aku kembali, kamu akan aku bawa ke manapun aku pergi."
...*** BERSAMBUNG ***...
Udah double nih, masa belum juga komen 🤧
tak banyu jawab ya La😂