Indra dan Tiwi, dua anak manusia itu bersatu karena perjodohan.
Keduanya sama-sama memiliki jawaban, kenapa mereka menerima perjodohan tersebut.
Awal pertemuan yang buruk dan tidak adanya rasa satu sama lain menjadi masalah besar dalam rumah tangga mereka.
Lantas, saat keduanya benar-benar jatuh cinta, masa lalu dari masing-masing pihak kembali muncul dan mampu meretakkan pondasi pernikahan mereka.
Lalu apakah yang akan Indra dan Tiwi lakukan agar pernikahan sekali dalam seumur hidup seperti yang mereka impikan itu bisa bertahan selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Yuniar Frida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meresahkan
Suami
•P
•Makan siang bareng, ya?
•Nggak ada penolakan.
•Aku nanti jemput.
Anda
•Ok.
____
Tiwi memperhatikan jam di layar atas ponselnya, menunjukkan pukul sepuluh. Artinya, masih dua jam lagi hingga Indra datang menjemput ke kantornya.
Memilih kembali fokus, Tiwi beralih ke laptopnya, melanjutkan pekerjaannya yang tersisa dua lagi. Menyusun laporan dan agenda pertemuan sang atasan.
Sampai sejam berlalu dan kerjaannya masih belum selesai. Hingga suara pesan masuk mengalihkan atensinya. Dengan gesit, menyambar ponsel tersebut dan melihat kiranya siapa yang mengirim, mungkin dari sang suami, mengingat kerapnya lelaki itu menghubungi dirinya.
Tiwi tersenyum geli pada dirinya sendiri. Dahulu sebelum kembali mengenal yang namanya cinta, ia tidak akan seantusias ini jika ponselnya bergetar. Abai dan cuek, lebih memilih fokus pada pekerjaannya.
Bahkan ketika dirinya menjalin hubungan dengan sang mantan dulu, sekedar bertukar pesan sangat jarang, apalagi sampai bertelponan.
Tertarik dengan lawan jenis sudah biasa dalam hidup Tiwi, tapi menaruh hati beda lagi. Hanya pernah berpacaran sekali selama masa gadisnya. Kala itu pertama kalinya ia dan sang mantan bertemu adalah tepat di hari wisudanya. Hari teristimewa bagi Tiwi sampai sekarang karena mampu membanggakan kedua orang tuanya, dan dengan tidak elitenya mereka bertabrakan di koridor hotel tempat berlangsungnya acara tersebut.
Lelaki itu berjas, tampak keren seraya menenteng buket, sedang Tiwi berpakaian khas orang wisuda.
Keduanya melempar senyum cangung. Lelaki itu meminta maaf dan berlalu begitu saja.
Entah bagaimana jalan takdirnya, mereka kembali dipertemukan dua minggu berikutnya di salah satu restoran di Jakarta. Hanya Tiwi dan Yura, karena Tiffany saat itu tengah menjalani koasnya.
Lelaki berperawakan tinggi dengan rahang tegas itu duduk bersama sepupunya--Fajar. Fajar yang pertama kali menyadari kedatangan Tiwi, dia melambaikan tangan, memanggil Tiwi dan bergabung dengan mereka saja. Hingga bentukan mereka sudah seperti double date. Obrolan berjalan lancar antara Tiwi, Yura dan Fajar. Lelaki itu hanya sesekali menyahut jika ditanyai.
Minggu berlalu, sang dan Tiwi semakin akrab, sesekali lelaki itu mengirimkan pesan untuk bertemu. Dan sampailah akhirnya, dibulan ketiga sejak pertama kali bertemu, lelaki itu dengan gagah dan senyum menawannya, mengutarakan perasaan.
Tiwi reflek menggeleng, mengapa ia harus mengingat kembali lelaki itu. Lelaki yang telah meninggalkannya, tidak kabar sampai sekarang. Entah dimana lelaki itu sekarang, Tiwi tidak ingin peduli.
Kembali ke realita di hadapannya.
Senyum geli Tiwi berubah menjadi senyum tulus. Bukan pesan dari suami rupanya, melainkan dari sahabat-sahabatnya.
Girls (3)
Anda, Yura, Tiffany.
Tiffany: Quality time kapan lagi nih?
Yura: Lo kayak orang free aje!
Tiffany: Kan bisa direncain ih.
Anda: Kita ngumpul pas Yura lamaran ajalah, kan enak ada makanannya.
Tiffany: Yura mau lamaran? Nih si calon janda ngadi-ngadi ya?!
Anda: Mulutmu itu loh...
Anda: Emang Yura mau lamaran kok, lo nggak tau? @Yura, si curut nggak tau?
Tiffany: Ih, gaje banget lo @Tiwi.
Yura: Hah? Apasih @Tiwi? Gue mau lamaran? Boong banget lo.
Anda: Lah? Si Resa ngasih tau suami gue, suami nyebar ke gue. 2 minggu lagi katanya. Gue serius.
Yura: Lo jangan prank-prank gue ya Wi!!!
Tiffany: Resa teh saha?
Anda: Seriuslah, dia bahkan pap cincinnya kok.
Yura: Pacar gue @Tiffany.
Anda: Nggak tau lo? Pacar si eneng, gue bahkan live streaming liat mereka kiss-kissan. Wkwkwk
Tiffany: Ya Allah, kagak tau gue. Semua udah pada taken ya, sisa gue doang belum.
Yura: Gue udah terbang ni, Wi.
Yura: Kasian temen gue @Tiffany. Lo mau gue cariin?
Anda: Selamat ya beib, nunggu aja kabar dari Resanya.
Tiffany: @Yura boleh dong.
Yura: Thanks beib, lo berdua jangan lupa datang nanti *itu kalau jadi ya.
Yura: Mantan gue ada yang jomblo.
Tiffany: -_-
Anda: Wkwkw
________________
Tiwi hendak kembali fokus setelah menyimpan ponselnya, namun suara ketukan pintu membatalkan niatnya.
“Masuk!”
Pintu berderit, dibuka dari luar. Menapakkan Dimas--asisten pribadi Pak Satya, yanf tidak lain dan tidak bukan adalah anak kandung beliau sendiri.
Dimas memilih berdiri di pintu jika informasi yang akan ia sampaikan pendek. Dan jika panjang, ia akan masuk ke dalam, tetap berdiri dengan pintu yang terbuka lebar.
“Ke ruangan Pak Satya sekarang. Permisi!”
Tiwi tersenyum tipis menanggapi ucapan Dimas. Lelaki itu pergi tanpa menutup pintu kembali, karena menganggap Tiwi akan segera bangkit menyusul.
Tiwi mematikan laptop sebelum keluar, takut-takut ada tangan nakal yang memporak-porandakan pekerjaannya. Tidak lupa membawa iPad yang menampilkan agenda Pak Satya.
Tiwi masuk ke ruangan Pak Satya setelah mendapatkan izin, di dalam sudah ada Dimas dan Pak Satya sendiri.
“Apa agenda saya hari ini?” Langsung to the point, ini yang Tiwi sukai dari atasannya.
“Rapat jam delapan tadi diundur ke jam dua.” Ujar Tiwi.
Pak Satya mengangguk. “Siang ini, saya ada acara makan bersama keluarga yang tidak bisa saya tinggalkan.”
“Iya, Pak.”
“Tapi saya sudah buat janji makan siang dengan Pak Steffen. Dan saya tidak bisa menghadirinya.” Ujar Pak Satya lagi.
Tiwi berkerut, lantas memeriksa kembali agenda yang sudah ia catat. “Pak Steffen dan Bapak tidak membuat perjanjian apapun, Pak.” Sergah Tiwi.
“Bukan formal. Hanya makan siang di luar pekerjaan, sebelum melakukan survey sana sini.” Ujar Pak Satya. “Jadi, saya mau kamu yang mewakili saya, tidak enak dengan beliau karena dia sudah mengosongkan jadwal.”
“Tapi saya sudah ada janji dengan sua—” Ucapan Tiwi terpotong kala ponsel di genggamannya berbunyi.
Ting
Suami
•Makan siangnya besok-besok aja!
_____
Intrupsi Pak Satya membuat Tiwi menoleh. “Kamu bilang apa tadi? Kamu tidak bisa mewakili saya?”
Dengan cepat Tiwi mematikan ponselnya, menetralkan wajah bingungnya. “Bisa, Pak.”
Pak Satya tersenyum. “Baik, nanti saya infokan tempat makannya.”
***
Indra melirik jam tangannya, sudah pukul sebelas. Ia akan berangkat sekarang, jarak kedua kantor tersebut lumayan jauh, mana lagi jalanan tidak akan mungkin tidak macet.
Rasanya ia senang sekali, tidak sabar akan kembali bertemu. Padahal terakhir ketemu tadi pagi, dan ini belum ada sehari sudah kangen. Benar-benar ini si Indra, boleh jadi tidak ketemu seminggu ia akan seperti orang yang seolah kehabisan stok oksigen.
Meski kerjaan belum ada yang beres, dokumen-dokumen menumpuk minta dibaca dan diparaf, ia tidak peduli. Ia adalah bos di sini, tidak ada yang bisa memarahinya. Biarlah sekali-kali ia memanfaatkan jabatannya itu dengan hal yang tidak berguna. Eh, tapi ini sangat berguna dan penting bagi Indra.
Berdiri dari kursi kebesaran, melepas jas karena ia hanya akan pergi dengan kemeja berwarna abu-abunya. Ingin tebar pesona, mempelihatkan kekekaran tubuhnya yang tercetak jelas di kemeja.
Hendak melangkah, namun ponsel barunya bergetar. Beberapa pesan masuk. Dilihatnya dari layar kunci. Nama Ferel tertera di sana.
Ferel
•Woi
•Fast respon
•Lo susul gue kesini
•CEPAT!!!
Anda
•Apa?
•Bicara langsung lo
Ferel
•Ini soal Jess
Anda
•Dia kenapa?
Ferel
•Tiba-tiba ambruk, lo kesini.
•RS. Mutiara, ruang 122
_____
Ingin membantah karena sudah ada janji, Ferel sudah offline, dihubungi pun ponselnya mati.
SIALAN!
Indra akan membatalkan makan siangnya kali ini, biarlah, sebentar malam di rumah pun masih bisa. Lantas mengetik pesan, agar Tiwi di sana tidak menunggu.
•Makan siangnya besok-besok aja!
_____
Pesannya dibaca dengan cepat. Tapi sampai lima menit selanjutnya, tidak kunjung ada balasan. Mungkin Tiwi masih sibuk, pikir Indra.
Delaan helaan napas, ia mengambil jasnya--hari ini tidak ada acara tebar-tebar pesona. Lalu meraih kunci mobil, dan bergegas memuju tempat Ferel berada sekarang.
***
“Tiwi.”
Tiwi terkesiap dengan panggilan bernada tinggi dari lelaki di depannya.
“Eh, iya Pak?”
Steffen menggeram dalam hati, tidak suka dengan panggilan bapak dari Tiwi. Tapi ia akan memendam semuanya, tidak perlu terburu-buru, nanti Tiwi menganggapnya kekangan. Tidak akan, ketidak sukaannya tidak akan keluar. Decihan atau apapun, sekuat tenanga akan Steffan tahan.
“Saya panggilin kamu dari tadi, kamu sama sekali nggak nyahut. Terus kenapa nggak makan, malah diaduk-aduk begitu?”
Tiwi mengerjap beberapa kali. Lantas tersenyum. “Maaf, ada yang lagi saya pikirin.”
Masalah pekerjaan? Steffen rasa bukan itu. Ia sudah menanyakannya lewat Pak Satya, dan beliau berkata Tiwi tidak begitu sibuk.
“Pacar?” Tebak Steffen, hatinya sudah was-was jika tebakannya malah benar.
Tiwi reflek menggeleng. “Saya tidak punya pacar.” Jawabnya sungguh-sungguh. Memang benar ia tidak punya pacar, melainkan suami.
Dalam hati Steffen lega, satu langkah ia bisa maju. Tapi tunggu, Tiwi belum menikah kan, apalagi di jari manisnya tersemat sebuah cincin? Steffen menggeleng. Tidak mungkin wanita di depannya sudah menikah, masih muda begitu. Apalagi ia juga sudah membaca berkas biodata Tiwi yang ia minta dari Pak Satya, dan di sana masih tertera belum kawin. Masih banyak kesempatan, kalaupun Tiwi sudah menikah ia akan mendoakan semoga cepat cerai dari sang suami.
Biarlah kalian mau beranggapan seperti apa ke Steffen. Steffen terlanjur tertarik, ia tidak akan melepaskan berlian yang sangat berharga begitu saja. Meski di luar sana banyak saingan, Steffen siap memperjuangkan seorang Pratiwi Khansa Aurellia.
Jam satu kurang, makannya Steffen sudah tandas, sedang Tiwi masih belum selesai. Takut Tiwi merasa risih karena diperhatikan, ia lantas mengedarkan pandangannya. Meniti setiap orang yang ada di restoran ini. Mana tahu ada yang ia kenal.
Dan benar saja, tiga sosok yang begitu familiar berjalan masuk.
“Indra?” Gumamnya seraya memicing mata, memfokuskan objek.
Tiwi menoleh ke arah Steffen. Telinganya begitu sensitif jika bersangkutan dengan orang tersebut.
“Indra?” Ulang Tiwi memastikan.
Steffen menoleh. “Teman saya, itu di sana.”
Tiwi mengikuti arah yang tunjukkan oleh Steffan. Matanya sedikit melebar, kala teman Steffen bernama Indra bukan lain adalah suaminya sendiri yang sedang bersama... Jessica. Tapi Tiwi sedikit lega, pasalnya sang suami tidak berduaan, ada seorang lagi, Tiwi lupa siapa namanya tapi mereka pernah bertemu.
Tiwi seketika panik saat Steffen akan melambaikan tangannya, mungkin memanggil teman-temannya.
“Kamu mau panggil mereka gabung kesini?”
Steffen menurunkan tangannya yang sudah setengah naik. “Iya, kenapa?”
“Kalau begitu saya permisi, saya merasa tidak ada perlu bergabung dengan kalian.” Ujar Tiwi seraya mengambil tissu, mengelap bibirnya.
Ekpresi Steffen berubah pias. Mungkin Tiwi risih atau nanti merasa tidak anggap, jadi ia mengurungkan niatnya. Masih banyak kesempatan bersama teman-temannya, sedangkan Tiwi cukup sulit untuk diajak, kalau tidak melibatkan Pak Satya.
“Oh, tidak jadi, lanjut makan aja.” Ujar Steffen.
Tiwi lega, lalu mengangguk.
***
tbc
so may i marry u?
kalimat yg bikin aku cekikikan😂
next kak
semangats
semoga bisa up tiap hari hehehe