Sebuah kasus pembunuhan berantai terus saja terjadi di tempat yang selalu sama. Menelan banyak nyawa juga membuat banyak hati terluka kehilangan sosok terkasih. Kasus tersebut menarik perhatian untuk diselidiki. Namun si pelaku lenyap tanpa sebab yang jelas dan justru menambah kekhawatiran penyelidik. Kasus ini menjadi semakin rumit dan harus segera dipecahkan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherry_15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pencarian Tertemui
[Aron/Julian]
Ku tatap tembok penuh foto para kriminal yang tertempel di dekat kasurku, terutama tiga foto yang belum kuberi tanda silang dengan spidol warna merahku.
Isi kepalaku menjalar pada setiap teka-teki yang belum terpecahkan— bahkan kian bertambah, dalam kasus pembunuhan berantai ini.
Tiga bulan lalu kasus pembunuhan berantai dimulai.
Di satu bulan pertama, si detektif tak becus ini menyelidiki kasus tersebut namun tak kunjung menemukan hasil.
Bulan berikutnya pembunuh berantai itu menghilang, dan detektif cantik ini dicurigai telah bersekongkol dengan pembunuh berantai untuk memalsukan data.
Akupun mulai beraksi dibulan hilangnya pembunuh berantai, mencari pria kejam serta data tentang detektif yang diduga penghianat, namun hingga kini aku belum menemukan data yang masuk akal.
Topeng rubah putih dengan kemampuan aneh yang mengerikan, Taira yang wujudnya hanya tak bisa dilihat olehku, juga detektif penghianat yang tak pernah terlihat batang hidungnya.
Dan setelah topeng rubah putih itu kuamankan, kasus pembunuhan kembali terjadi di lingkungan kepolisian.
Kasus ini sudah berlangsung lama, bagaimana aku harus menjelaskan pada pimpinan polisi jika ditanya tentang perkembangan kasus yang tak pernah berhenti ini?
Satu-satunya data yang bisa kusampaikan, hanyalah data akan kasus pelanggan yang keracunan makanan itu hanyalah salah paham dan faktor keteledoran koki.
Kepalaku jadi semakin penat saat memikirkannya! Mungkin aku butuh rehat sejenak?
Tanpa sadar tanganku meraih gawai pada meja dekat kasur, membuka aplikasi game berinisial MLBB, lalu mulai memilih hero andalanku dan tinggal menunggu saatnya pertarungan.
Namun saat game baru dimulai, gawaiku berbunyi dan membuatku terkejut hingga hampir terjatuh dari genggaman.
Sontak senyuman kecut terlukis pada wajahku, ketika melihat nama yang tertera pada layar gawai.
...***...
Bragh!
Aku membanting pintu dengan kasar, hingga menimbulkan suara yang mungkin akan terdengar ke penjuru gedung.
Amarahku menggebu dan mendidihkan sel darah pada otak, tak lupa juga dengan napasku yang berderu tak stabil.
Atensiku terbelalak ke arah pria tua yang duduk di bangku kebangsatannya.
“Mengapa kau selalu mengganggu jadwal main game-ku!? Aku jadi terpaksa main AFK, karena kau memanggilku saat baru saja akan masuk pada area pertandingan!”
Aku duduk pada sofa empuk dihadapan pria menyebalkan itu, mengangkat kaki, menatapnya garang.
Namun pria itu menatapku dengan lebih garang.
“Jadi kau menghabiskan waktu satu bulan bekerjamu, hanya untuk bermain game!?”
“Ya enggak lah, gila! Aku penat memikirkan kasus rumit ini! makanya aku main game sebagai caraku menghibur dan menenangkan diri!” sergahku, tak mau kalah garang darinya.
“Sudahlah, nih minuman kesukaanmu! Mungkin dengan minum ini isi kepalamu bisa lebih jernih!”
Pak pimpinan meletakkan botol hijau yang berisi air bersoda pada meja dihadapanku, dengan hentakkan yang cukup keras.
Tak biasanya ia sekasar ini padaku! Biasanya dia selalu berusaha santun. Apa kali ini dia sedang teramat marah?
“Tak perlu! Aku tahu permasalahannya dimana, namun aku belum bisa mengungkap kasus pembunuhan berantai itu." tolakku tegas.
"Juga masalah pelanggan keracunan, itu ulah pola makan pelanggan sendiri yang tak sehat dan bukan salah para koki." lanjutku, menjelaskan.
"Aku memiliki hasil autopsi lambung korban, dan data dari dokter yang memperkuat pernyataan tersebut.” tambahku, memberikan berkas data yang kubawa.
Pimpinan polisi membuka dan membaca data yang kuberikan, dengan atensi penuh dan alisnya yang hampir menyatu.
“Dan soal detektifku yang sebelumnya?”
“Aku belum bisa menemukan wanita yang fotonya kau berikan padaku dua bulan lalu, mungkin jika aku tahu namanya aku bisa mencarinya dengan mudah,” jujurku, santai.
“Bulan lalu pembunuhnya beraksi lagi, apa kau tak menemukan bukti apapun tentang pria kejam itu?”
“Dia sudah kutangkap dan sedang dalam masa pengawasanku. Mengapa kau hanya memberi pertanyaan tanpa menjawab pertanyaanku?”
Aku mulai geram denganya yang terlalu banyak bertanya dan menyudutkan ku, seolah aku tak mengerjakan apapun baginya.
“Memang apa yang kau tanyakan?”
“Siapa nama wanita yang fotonya kau beri padaku dua bulan lalu? Setidaknya berilah aku data yang jelas agar mudah menyelidikinya!”
“Nama aslinya Rubby, tapi aku tak tahu nama samarannya sebagai detektif. Tempat tinggalnya pun tidak diketahui,” jawabnya mulai serius dalam percakapan.
“Apa kendala yang membuatmu bekerja selambat ini? Apa kau tak tahu sudah berapa banyak korban nyawa yang tercatat dalam waktu tiga bulan ini!?" cercanya.
"Tak biasanya Julian yang ku kenal, mengungkap kasus dalam waktu lebih dari satu pekan,” lanjutnya, menyinggung proses kerjaku yang lambat.
Aku menatapnya geram.
“Kasus ini jauh lebih rumit dari kasus-kasus yang sebelumnya mampu ku selesaikan!" sentakku.
"Pelaku pembunuhan kali ini sepertinya pandai mengatur strategi dengan mulus, atau memiliki koneksi dengan orang yang jauh lebih hebat dari dugaan akal manusia." analisisku.
"Aku tak bisa bekerja dengan buru-buru dan gegabah, untuk menemukan jawaban yang adil!” tegasku kemudian.
“Saya sudah lelah menanti, oleh sebab itu dengan berat hati saya harus memberi anda target waktu. Selesaikan kasus ini dalam tiga hari, atau—,”
“Atau apa!?” tantangku menyela ancamannya.
“Atau bayaranmu akan saya potong!” ancamnya.
“Potong saja! Aku sudah tak peduli dengan bayaran. Aku tetap akan bekerja secara perlahan, demi menemukan keadilan!” tegasku.
...***...
Klang!
Aku menendang kaleng kosong yang tergeletak di jalanan untuk melampiaskan emosiku, setelah keluar dari kantor kepolisian tanpa berpamitan.
Apa-apan pria tua sok berwibawa itu!? Seenaknya saja mengatur cara kerjaku dan mengancam!
Aku menjadi detektif untuk menegakkan keadilan, dan aku tak peduli dengan keuangan!
Seberapa lama pun aku bekerja, walau harus memakan banyak korban jiwa, akan ku selidiki kasus ini dengan teliti dan adil, agar tak ada orang tak bersalah yang disalahkan atas kejahatan makhluk bumi!
“Aduh!” rintih seorang perempuan, memegangi kepala.
Rupanya kaleng yang kutendang tadi mengenai kepalanya.
“A- a- a- aaaa…. Maafkan saya! Sa— saya tidak bermaksud menendangnya ke arah kepala anda!” seruku, meminta maaf walau gelagapan.
Aku membungkuk sopan dihadapannya.
“Tak apa. Lain kali kendalikan lah emosimu agar tidak menyakiti orang lain,” sahutnya ramah, sedikit membuatku lega.
Aku akhirnya beralih dari posisi bungkuk, menjadi berdiri santai di depannya.
Ku perhatikan perempuan yang cukup tinggi namun kecil mungil ini, dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Rambutnya yang terikat rapi, bajunya yang serba hitam namun tipis, dan wajah mungilnya yang terasa tak asing bagiku.
Dia mirip sekali dengan…. Rubby!? Kalau tak salah, tadi pak pimpinan menyebut nama perempuan pada foto yang ia berikan padaku itu Rubby, kan?
Aku sering melihat wajah cantik dan manis sepertinya! Aku selalu melihat wajah ini pada foto di dinding kamarku.
Tak salah lagi, dia pasti Rubby yang harus ku selidiki!
“Maaf, apa kepalamu sakit, nona? Perlu duduk dan bersantai sejenak?” tawarku.
Sebagai bentuk permintaan maaf, juga cara agar bisa menyelidikinya lebih dalam lagi.
“Tak perlu! Aku harus segera pergi dari sini, banyak hal yang harus dikerjakan!” tolaknya tegas.
“Setidaknya biarkan aku mengantarmu sebagai bentuk permintaan maafku!”
Aku membujuknya agar masuk dalam permainanku.
“Aku sudah memaafkanmu, jadi kau tak perlu repot-repot melakukan apapun untuk meminta maaf.”
“Boleh ku tahu namamu?”
“Sagira.” jawabnya singkat, sebelum pergi dari hadapanku.
Aku sempat terdiam sesaat menelaah jawabannya.
‘Sagira’ dia bilang? Jelas wajahnya teramat mirip dengan Rubby! Apa itu adalah nama samarannya sebagai detektif?
Menarik! Sepertinya aku akan sangat menikmati misi penyelesaian kasus ini?
Ditengah kerumitan, tak ku sangka bisa menemukan target yang selama ini ku cari dengan mudahnya!
Senyuman seringaiku pun menghiasi wajah, aku mulai melangkah.
...
...
.
.
.
.
.
*ilang ke Isekai*