Karena kesalahpahaman, membuat seorang gadis bernama Ghina harus terseret ke sebuah hubungan yang rumit dengan seorang pria yang berusia 25 tahun lebih tua darinya.
Hanya karena wajah yang mirip, Ghina pun harus menerima dijadikan tersangka dibalik kematian seorang pemuda bernama Erfin Darmawan.
Hal itu membuat Erwin Darmawan, yang tidak lain adalah ayah dari Erfin pun akhirnya kembali ke tanah air untuk membalas dendam pada gadis yang sudah membuat putranya meninggal.
Hingga akhirnya Erwin pun dipertemukan dengan Ghina. Gadis yang di duga sebagai alasan di balik kematian putranya. Lalu, mereka pun akhirnya terlibat sebuah hubungan yang cukup rumit.
Lalu, setelah semuanya terbongkar. Mampukah Ghina bertahan dalam penjara cinta dari si pria tua itu??
Dan apa yang akan Erwin lakukan setelah tahu jika ternyata bukan Ghina yang sudah membuat putranya meninggal??
Akan kah Erwin melepaskan Ghina atau malah semakin mengikat gadis itu dalam jerat cinta nya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.30
Dion menatap lekat wajah cantik yang baru saja menjadi partner nya di ranjang. Meski kerap keluar masuk club malam, nyatanya Dion sama sekali tidak pernah sembarangan bermain dengan wanita penghibur.
Pria itu hanya akan menghabiskan waktu dengan minuman beralkohol lalu pulang setelah merasa cukup sedikit mabuk, lalu pria itu akan tidur agar bisa melupakan sejenak berbagai permasalahan yang ada di hidupnya.
Tangan kekar pria itu terulur untuk menyentuh wajah cantik yang sepertinya akan menjadi teman ranjangnya, setelah apa yang terjadi pada keduanya beberapa jam yang lalu.
Dimana Miya berhasil membuat Dion kembali merasakan nikmatnya sebuah pelepasan yang sudah lama tidak lagi pria itu dapatkan dari istrinya.
Dan tanpa mereka sadari, saat pelepasan tadi Dion menumpahkan benih benih kecebong nya di rahim Miya karena pria itu sama sekali tidak menggunakan pengaman.
Merasakan ada pergerakan di wajahnya. Miya pun merasa terusik, lalu wanita itu pun menggerakkan tubuhnya, berbalik dan kini membelakangi Dion yang sedang menatapnya dengan gemas.
Dion yang merasa gemas dengan tingkah Miya pun akhirnya memeluk tubuh polos wanita itu dari belakang. Mendekap erat tubuh yang entah kenapa, membuatnya merasa nyaman hingga membuat pria itu bisa melupakan semua beban yang ada dan tidur dengan sangat lelap.
*
*
Keesokan pagi nya.
Miya tersentak kaget saat terbangun dari tidurnya dia mendapatkan dirinya berada di dalam pelukan Dion yang masih terlelap di samping nya.
Miya terdiam sejenak, mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Sambil berusaha mengingat, tanpa sadar Miya menatap lekat wajah yang masih terlihat begitu tampan di usia nya yang sudah tidak lagi muda itu.
Iya, saat ini Dion memang sudah berusia 45 tahun. Namun, wajah pria tua itu tidak menunjukan jika usia nya sudah memasuki kepala empat.
Terbangun dari lamunan nya, Miya pun segera bergerak melepaskan belitan tangan Dion di tubuhnya. Miya ingin sekali beranjak dari sana untuk membersihkan diri setelah mengingat kejadian panas antara dirinya dan juga Dion, malam tadi.
Akan tetapi, bukan nya terlepas tangan Dion malah semakin membelit tubuh Miya dengan sangat erat seolah pria itu enggan melepaskan wanita itu dari dekapan nya.
“Tu_Tuan, to_tolong lepaskan saya. Saya mau bangun,” lirih Miya yang akhirnya membuka suara karena Dion tak kunjung melepaskan pelukan nya.
“Mau kemana sih, hhmm? Ini masih terlalu pagi untuk bangun,” jawab Dion yang kembali mengeratkan pelukan nya di tubuh Miya yang terus bergerak, mencoba melepaskan diri dari dekapan Dion.
“Tapi aku sudah tidak tahan ingin buang air kecil Tuan,” jawab Miya yang akhirnya berhasil membuat Dion membuka matanya lalu melepaskan pelukan nya.
“Ah, maaf. Sana, pergilah.” lanjut Dion yang merasa tidak enak hati karena menahan Miya yang sudah kebelet untuk buang air kecil.
Setelah Dion melepaskan pelukan nya. Miya pun langsung saja bangun dan berlari ke arah kamar mandi tanpa memperdulikan kondisi tubuhnya yang masih polos karena sudah tidak tahan lagi ingin segera mengeluarkan air urine yang sejak tadi mendesaknya untuk keluar.
Melihat Miya yang langsung berlari ke kamar mandi dengan keadaan polos, tentu saja hal itu membuat Dion kembali merasa bersalah karena menghalangi Miya untuk ke kamar mandi.
"Cantik dan juga menggemaskan. Kenapa, aku merasa sangat nyaman saat bersama dengan nya, ya? Aku bahkan sampai melakukan hal yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya." gumam Dion, menatap lekat pintu kamar mandi dari tempat berbaring.
Dengan menopang kepalanya dengan satu tangan. Pria itu terus menatap pintu kamar mandi yang baru saja di masuki oleh Miya.
Satu satu wanita yang akhirnya Dion sentuh selain istrinya. Wanita penghibur pertama yang Dion pakai di sepanjang hidupnya dan wanita pertama yang Dion gauli tanpa adanya ikatan pernikahan di antara mereka.
*
*
Sementara itu, Erwin yang baru saja tiba di kantor sudah disuguhkan dengan sebuah berkas yang baru saja dikirim oleh Dion kepadanya.
Sesuatu yang sudah lama Erwin tunggu tunggu kedatangan hasilnya. Hasil laporan dari penyelidikan tentang kematian putranya Erfin.
“Brengsek, dasar wanita tidak tahu diri.” umpat Erwin saat tahu jika di balik kepergian putranya adalah Sandra dan bukan lah mantan kekasih pemuda itu.
Wanita yang selama ini menyandang status kekasih untuknya itu dan wanita yang Erwin kenalkan pada Erfin sebagai calon ibu sambung pemuda itu lah yang ternyata menjadi dalang di balik kecelakaan yang terjadi pada Erfin.
Erwin tidak menyangka jika wanita yang dulu dia pilih untuk jadi calon istrinya itu tega melakukan hal keji yang membuat Erfin kehilangan nyawanya.
Menyadari hal itu, kembali membuat Erwin semakin merasa bersalah pada Ghina. Wanita yang menjadi sasaran aksi balas dendam nya atas kepergian putranya, Erfin.
Yang ternyata Ghina sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kematian sang putra. Jangankan ada hubungan nya dengan kematian Erfin, bahkan wanita muda itu sama sekali tidak mengenal putranya.
“Lalu, apa yang akan kita lakukan, Tuan?” tanya asisten sekaligus sekretaris Erwin yang berhasil membangunkan Erwin dari lamunan nya tentang istrinya, Ghina.
“Beri hukum pada wanita brengsek itu. Hukuman yang setimpal dengan perbuatan nya. Namun ingat, jangan sampai kamu meninggalkan jejak sedikitpun, mengerti?” jawab Erwin dengan tatapan penuh dengan kebencian dan juga dendam.
“Baik, Tuan. Akan segera saya laksanakan.” jawab sang asisten, yang langsung saja beranjak meninggalkan ruangan kerja Erwin untuk melaksanakan tugasnya.
Setelah asisten nya pergi, Erwin pun kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan nya. Hingga sebuah bunyi dering ponsel berhasil mengalihkan perhatian Erwin.
Sebuah senyuman pun akhirnya muncul di wajah tegas Erwin saat melihat sebuah nama terpampang di layar ponselnya.
"My Love."
Nama yang Erwin sematkan untuk nomor ponsel yang di miliki oleh istrinya, Ghina. Tanpa menunggu lama, Erwin pun segera menekan tombol warna hijau untuk menerima panggilan itu.
Klik
“Halo Mas,”
“Iya sayang, ada apa?”
“Pulang jam berapa hari ini, Mas?”
“Eemm, entahlah. Belum pasti, kerjaan hari ini lumayan banyak. Kenapa memangnya?”
“Nggak, cuma mau tanya saja. Hari ini mau dimasakin apa?”
“Apa saja sayang, selama itu buatan kamu, akan selalu Mas makan dan Mas habiskan,”
“Baiklah. Kalau begitu, bagaimana kalau aku masak sup buntut?”
“Boleh sayangku,”
“Ya sudah kalau begitu. Aku tutup teleponnya ya Mas. Semangat kerjanya suamiku, muuaaahhh,”
“Eh, apa itu tadi?"
"Apa memangnya?"
"Ya ampun, sudah mulai nakal kamu ya. Awas loh kalau Mas sudah di rumah, habis kamu Mas kurung,”
“Hahahaha, iya maaf, maaf. Ya sudah, aku masak dulu deh kalau gitu. Selamat bekerja kembali Masku, dadah,”
“Iya sayang, sampai ketemu di rumah nanti malam,”
“Iya Mas.”
Erwin masih belum menghilangkan senyuman di wajahnya padahal sambungan telepon itu sudah berakhir beberapa menit yang lalu.
Kehadiran Ghina benar benar kembali menghidupkan hidupnya yang selama bertahun tahun serasa mati rasa dan terkesan membosankan.
Kini, bahkan Erwin selalu ingin segera pulang karena ingin selalu bersama dengan Ghina. Wanita muda yang membuat hidup Erwin kembali menyenangkan.
Merasa tidak bisa lagi fokus bekerja setelah menerima telepon dari istrinya. Erwin pun akhirnya memutuskan untuk segera pulang untuk bertemu dengan istri kecilnya, karena sudah tidak bisa lagi menahan rindu pada wanitanya itu.
5 like buatmu kak. semangat
Saran sedikit parents ghiya/ghina siapa mereka di jelasin lbh mwantap lagi..
Terus & tetap berkarya thor..