Ketika dua gadis kembar jatuh cinta pada pria yang sama. Andra yang jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Arni, ternyata pertemuan keduanya dengan Agni membuatnya semakin jauh pada Arni. Saat menjelang pernikahannya dengan Agni, Andra mendapat informasi bahwa Agni sedang hamil. Reno asisten pribadi sekaligus sahabat dekat Andra dituduh sebagai ayah dari anak yang di kandung Agni karena kepergok satu kamar bersama Agni dalam keadaan mabuk. Arni yang bercadar terjebak masuk ke dalam sebuah ruangan yang hanya ada Andra di dalamnya membuat Andra harus menikahinya. Kebencian demi kebencian muncul terhadap wanita bercadar yang tidak diketahui Andra bahwa dia adalah wanita yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Arni yang merasa sangat sakit hanya bisa menerimanya. Nasibnya berubah saat Andra mengetahui bahwa wanita di balik cadar itu adalah cinta pertamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Rusmiati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 31
Pagi sekali Nenti sudah membangunkan Arni karena ini hari pertamanya kerja. Arni segera membersihkan dirinya kemudian menggunakan kembali cadarnya. Dia melenggang menuju pintu keluar, tiba-tiba matanya melirik sebuah kaca besar yang dilaluinya. Arni mundur dan berputar memandang kaca. Ada senyum indah menghiasi bibir mungil yang tertutup cadarnya.
Nenti yang memandangnya tersenyum dan bertanya, "Apa non ga gerah?"
Arni tersenyum, "Aku malah sudah nyaman mba. Enak banget, adem. Kenapa ya? Padahal kemarin panas banget mba."
"Mungkin karena sudah mulai terbiasa kali ya Non." Ucap Nenti.
Arni mengangguk dan menatap kaca besar itu kembali. "Inilah aku, aku yang baru." Guman Arni dalam hatinya.
Mereka berdua mulai membagi tugas, Nenti yang bertugas membereskan rumah dan pekarangan sedangkan Arni bertugas memasak dan menemani Nyonya mudanya.
Karena belum sempat belanja, pagi ini Arni memasak alakadarnya memanfaatkan isi kulkas yang tersedia. Dengan telaten Arni memasak dan menatanya di meja makan. Cantik, seperti di restaurant mahal.
Tok.. Tok.. Tok..
"Nyonya, maaf sarapan sudah siap. Mau di antar ke kamar?" Ucap Nenti.
Pintu terbuka, namun yang muncul pria berbadan tegap dengan kaos polos dan celana pendek, "Kami makan di ruang makan aja bi."
Nenti menunduk memberi hormat dan berlalu pergi saat pintu kamar sudah tertutup kembali.
Selesai masak, Arni pergi ke taman belakang untuk merawat tanaman yang ada di sana. Tiba-tiba dirinya dipanggil oleh Nenti kalau Tuan muda ingin bertemu dengannya. Jantungnya berdebar, takut kalau ada yang tahu bahwa wanita dibalik cadar itu adalah dirinya.
Dengan ragu dan gemetar Arni masuk ke ruang makan, kemudian menunduk menberi hormat.
"Kamu yang masak?" Tanya Tuan muda.
Deggg... rasa takut itu semakin kuat.
Arni mengangguk, kemudian memberi isyarat bahwa dia memasak dengan bahan seadanya.
"Enak, mengingatkan ku pada masakan sahabat lama ku saat kuliah dulu." Ucapnya.
"Kak Wandii.. Masih ingat masakan pertama ku?" Batin Arni.
"Aku juga suka, sangat suka." Ucap Lia istri Wandi.
Arni mengangguk memberi tanda bahwa dia senang dengan pujian Tuan dan Nyonya mudanya itu.
"Ami (begitu Arni dipanggil di keluarga Wandi), tolong temani istri saya pergi ke salon, dan bi Nenti tolong ke pasar ya beli bahan masakan." Ucap Wandi.
Wandi pamit pergi ke kantor, pelukan dan ciuman hangat mendarat di kening istri tercintanya itu. Setibanya di kantor Wandi menutup mukanya dan mengusapnya dengan kasar, "Ahh kenapa masakan itu bikin gue inget sama Arni sih?"
Sementara di salon, Arni yang menunggu Lia di facial membuka handphonenya. Matanya terbelalak melihat kabar bahwa adik satu-satunya mengabarkan dia sudah ada di Indonesia. Raut senang tak bisa disembunyikan, matanya berbinar. Dipeluknya handphone itu dan segera membalas chat Agni.
"Kamu dimana? Kakak di Jakarta Dek. Kakak kangen banget, kapan bisa ketemu?" Chat Arni.
Sudah 15 menit belum ada balasan, sedangkan yang ditunggu balasan chatnya malah sedang asyik bermanja dengan Andra. Orang yang sangat dicintai oleh Arni. Agni sedang sibuk mengurus administrasi kepulangan Andra. Reno yang sudah lebih pagi berangkat ke kantor dan sedang meeting penting tidak bisa membantu Agni.
Sampai di rumah Andra, Noni membantu membawakan barang-barang milik Andra. Untuk kali ini, Andra mengijinkan Agni masuk ke dalam kamarnya bahkan menemaninya seharian di kamarnya. Andra sudah membuka hati untuk Agni bahkan sudah berpikir bahwa dia akan menikahinya dalam waktu dekat. Mengingat usianya yang sudah 30 tahun, Andra juga melihat Agni tulus mencintainya. Agni memang pintar membuat Andra percaya dan terbuai rayuannya.
Tapi hatinya sedikit terganjal saat ingat perhatian Agni pada Reno. Apa mungkin Agni menyukai Reno? Andra berpikir, Reno melarangnya bersama Agni karena Reno pun menyukai Agni.
"Apa mungkin kalian berkhianat? Gue gak bakal biarin elo jadi pengkhianat Ren." Batin Andra.
"Apa pendapatmu tentang Reno?" Tanya Andra saat melihat Agni tengah memainkan handphonenya.
"Baik dan setia." Jawab Agni dengan mengernyitkan dahinya karena merasa aneh dengan pertanyaan Andra.
"Sebaik dan sesetia apa?" Tanya Andra.
"Apa sih Kak? Udah deh kakak istirahat aja. Aku tuh sayangnya cuma sama kakak, gak ada yang lain." Agni mendekati dan mengecup kening Andra.
Andra yang luluh dengan perhatian Agni menjadi percaya lagi. Kini pikirannya tertuju pada Reno. Andra takut Reno mencintai wanita yang sama dengannya.
"Kamu istirahat di kamar mu, aku mau tidur." Pinta Andra.
Agni mengangguk dan keluar dari kamar Andra menuju kamar miliknya. Dia berdiri di balik daun pintu kemudian menguncinya. Jantungnya berdebar dengan sangat cepat. Takut kalau Andra mulai tidak mempercayainya dan akan meninggalkannya.
"Kenapa Kak Andra nanya gitu sih? Apa jangan-jangan dia sudah curiga? Aku harus melupakan Reno, dia bukan targetku." Bisiknya.
Segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang dirasa sudah lengket. Selesai mandi, ia meraih handphonenya dan melihat balasan chat dari Arni.
Rasanya biasa saja. Tidak seperti Arni yang sangat senang dengan chat dari adiknya, justru Agni hanya membuka dan membacanya tanpa membalasnya. Saat ini fokusnya bukan Arni, tapi Andra. Agni mati-matian membuat Andra percaya dan iba hingga tidak mungkin bisa meninggalkannya. Baginya Arni adalah target selanjutnya karena ia yakin Arni akan selalu menerimanya dalam keadaan apapun.