Dara terbuai dengan bujuk rayuan dan janji Bastian, perempuan muda itu dengan mudah menyerahkan kesuciannya. Dua bulan kemudian, Dara datang dan meminta pertanggung jawaban Bastian. Bastian serta kedua orangtuanya mengelak dan mengusir serta menghina Dara. Sebelum keluar dari rumah Bastian, Dara mengutuk Bastian. Bastian tidak akan pernah merasakan kenikmatan dunia lagi. Namun hal tersebut tidak membuat hati Bastian tergerak, dia hanya memandang remeh Dara.
Lima tahun kemudian, Bastian menikah dengan Safira dan pada saat akan melakukan malam pertama terjadi suatu hal yang mencengangkan. Saat itulah, kutukan Dara menjadi kenyataan, Bastian tidak dapat melakukan kewajibannya sebagai suami alias suaminya impoten.
Bagaimanakah nasib Bastian yang menderita impoten? Apakah masa lalunya dengan Dara akhirnya terkuak? Lalu, bagaimana dengan pernikahan antara Bastian dan Safira? Mari baca kelanjutan kisah mereka.
IG : miss_yuneee
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Yune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Safira Pergi
"Ayo, Bastian! Cepat kamu talak saja isterimu, mama tidak ingin mempunyai menantu yang kurang ajar seperti Safira. Dia hanya akan menjadi bumerang karena telah mengatakan aibmu. Siapa yang berani menjamin kalau Safira tidak memberitahukan tentang kelemahanmu pada orang lain" Mama Rissa masih tidak berhenti untuk memengaruhi pikiran Bastian. Menurutnya, bila putranya sudah mendengarkan perkataan isterinya dan dapat disetir oleh isterinya berarti itu merupakan ancaman baginya. Dia takut, Bastian tidak lagi menuruti perkataannya dan malah menuruti perkataan isterinya.
"Apa yang Mama katakan? Bahkan hingga detik ini aku hanya memberitahukan Mama karena Mama terus mendesakku. Aku juga mempunyai perasaan , wanita mana yang diam saja bila dikatai mandul. Padahal, disentuh oleh suamiku saja tidak pernah, bagaimana bisa menyimpulkan kalau aku mandul." Safira mengeluarkan semua yang ada dalam pikirannya. Sepertinya memang dia sudah tidak cocok dengan Mama Rissa yang menjadi mertuanya. Dia tidak tahan dengan segala persangka mertuanya yang terus saja menyalahkan Safira. Saat ini, Mama Rissa malah mengatakan Safira mengumbar aib dari suaminya.
Safira menatap Bastian yang tidak mengatakan apa pun. Dia seperti sedikit terpengaruh oleh kata-kata Mama Rissa. Safira sudah menduga hal ini akan terjadi tetapi dia tetap tidak menyangka suaminya tidak memiliki pendirian seperti ini. Menghela napasnya sebentar, Safira memutuskan sesuatu hal yang dapat memengaruhi nasib rumah tangganya.
"Baiklah, kalau kamu belum bisa memutuskan lebih baik aku saja yang memutuskan. Aku akan memberikan waktu untukmu berpikir, malam ini aku akan pergi dari rumah ini. Kamu dapat berpikir sesukamu, memilih untuk mempertahankan rumah tangga kita atau mengakhirinya. Aku sudah lelah bila terus ada yang ikut campur dalam rumah tangga kita." Safira memandang ke arah Bastian yang saat ini tersentak.
Safira memandang sendu ke arah suami yang tidak mempunyai pendirian. Bahkan, tidak bisa memutuskan nasibnya sendiri. Dia adalah kepala rumah tangga, seharusnya dia bisa memutuskan mana yang baik dan yang buruk. Bukan hanya diam tidak mengatakan apa pun.
Safira melangkah menuju kamar mereka. Dia mengambil koper yang ada di atas lemari dan memasukkan baju-bajunya. Beberapa barang miliknya juga dimasukkan. Bastian yang melihat Safira pergi ke kamar mereka, berlari dan ingin mencegah kepergian Safira.
"Kamu mau ke mana? Jangan pergi, kita bisa bicarakan ini dengan baik dan kepala dingin," ucap Bastian mencegah kepergian isterinya. Memang terlambat, tetapi Bastian tidak ingin kehilangan orang yang dicintainya saat ini. Cukup dulu dia kehilangan mantan kekasihnya, Dara karena tindakannya yang bisa dikatakan pecundang. Dia tidak ingin lagi hal ini terjadi untuk kedua kalinya. Dia harus mempertahankan rumah tangganya dengan Safira.
"Sebelum kamu bisa lepas dari bayang-bayang dan tidak terpengaruh dengan ucapan Mama Rissa, jangan menemuiku dulu. Aku tidak ingin rumah tangga kita dihiasi dengan ikut campur dari pihak lain walaupun Mama adalah mertuaku." Dengan suara parau Safira mengatakan hal itu, Bastian menatap wajah isterinya. Dia mengerti yang dikatakan isterinya sangat benar. Bahkan, pernikahan mereka sebenarnya diatur oleh Mama Rissa. Perjodohan yang diatur oleh mamanya yang membuat mereka akhirnya akhirnya bersatu dalam ikatan pernikahan.
"Tidak dengan cara keluar dari rumah ini, Safira. Aku ingin kita tetap mempertahankan rumah tangga kita. Aku minta maaf tadi tidak langsung mengatakan untuk mempertahankan pernikahan kita," ucap Bastian yang memegang tangan Safira untuk mencegah kepergian isterinya. Safira menatap Bastian, kali ini matanya sudah memerah. Dia juga ingin mempertahankan pernikahan mereka, namun berat sekali harus terus bersebrangan dengan mertuanya sendiri.
Safira merupakan anak yang sangat penurut. Baginya, menaati orang tua merupakan kewajiban. Safira mengerti kebimbangan yang Bastian alami, tetapi mau sampai kapan mereka terus dibayangi oleh orang tua mereka sendiri. Belum selesai permasalahan tentang impoten yang dimiliki oleh Bastian, mertuanya malah menambah masalah dengan menginginkan Safira ditalak. Sebenarnya Safira berharap dengan mengetahui keadaan Bastian sesungguhnya, dirinya tidak lagi diberikan tekanan untuk bisa hamil. Dia berharap untuk mencari solusi bersama entah dengan cara medis atau tradisional. Bahkan, Safira yang merasa masalah yang ada dalam diri Bastian merupakan hasil perbuatannya pada mantan kekasihnya.
"Selama kamu belum dapat bersikap tegas dengan dirimu sendiri. Aku ingin menjernihkan pikiranku dahulu. Aku tidak akan pergi jauh, aku hanya ingin pergi ke rumah orang tuaku untuk sejenak. Aku tidak akan membuka aibmu dengan siapapun, walaupun dengan orang tuaku sendiri. Seperti yang kamu ketahui, aku bahkan telah menutupi keadaanmu sejak awal pernikahan kita. Tadinya Aku berharap dengan memberitahukan Mama Rissa kita bisa bersama untuk mencari solusi dari masalah rumah tangga kita. Akan tetapi, setelah mengetahuinya Mama malah ingin pernikahan kita berakhir. Aku sangat kecewa, Mas. Sangat kecewa denganmu dan dengan Mama Rissa." Safira mengungkapkan semua yang ada dalam benaknya sebelum melangkah pergi. Bastian masih memegang tangan Safira dengan erat, dia sungguh tidak ingin kehilangan isterinya. Dia merasa kepergian isterinya sekarang ini akan mengalami dampak yang sangat besar bagi rumah tangga mereka.
Mama Rissa yang menyaksikan menantunya sudah ingin pergi menyunggingkan senyumnya, baginya hubungan Bastian dan Safira sudah berakhir. Dia tidak perlu repot mempengaruhi anaknya lagi karena Safira sepertinya ingin pergi dari rumah ini. Mama Rissa merasa sudah menang melawan menantunya yang dia pikir sangat kurang ajar dengan mengatakan bagaimana jika dia dimadu? Tentu saja itu tidak akan pernah terjadi padanya. Papa Edrick sangat mencintainya, walaupun mereka disatukan karena perjodohan selama ini Mama Rosa sangat mendominasi dalam pernikahan mereka. Dia tidak menemukan celah yang membuat Papa Edrick dapat mempunyai wanita lain.
"Biarkan saja dia pergi, Bastian. Kamu tidak perlu mengemis cinta padanya. Kalau dia ingin mengakhiri hubungan kalian biarkan saja hubungan kalian berakhir. Lagipula, banyak yang mengantre untuk menjadi isterimu. Siapa yang tidak ingin menjadi Nyonya Anggara? Pasti semua berebut untuk berada diposisi itu." Dengan penuh kepercayaan diri, Mama Rissa masih tetap congkak. Seolah lupa bahwa putra satu-satunya mempunyai penyakit impoten.
"Sudahlah mas, mungkin Mama benar. Banyak yang akan mengantre untuk mendapatkan posisiku sebagai isterimu. Akan tetapi kamu harus ingat, belum tentu setiap wanita akan sesabar aku," ucap Safira sambil ingin melepaskan tangan yang mencegah kepergiannya. Safira sudah lelah ditekan untuk mempunyai anak dan sekarang dia tidak lagi dapat bertahan kalau mertuanya saja ingin mereka berpisah.
"Tidak, aku tidak ingin isteri yang lain. Aku akan tetap bersamamu. Kamu adalah isteriku satu-satunya." Bastian tetap mencegah kepergian isterinya, dia mengikuti isterinya yang saat ini menggeret kopernya dan memasukkan ke dalam mobilnya.
"Untuk saat ini, kita perlu untuk memikirkan dengan baik tentang masa depan rumah tangga kita. Aku berharap kamu dapat berpendirian dan tidak terpengaruh oleh siapa pun meskipun mama kandungmu sendiri." Safira menaiki mobilnya dan menutup pintu mobil.
"Safira, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku. Aku mohon." Bastian memukulkan tangannya ke kaca mobil dan terus berusaha mencegah kepergian Safira. Safira yang saat ini sudah menangis tetap menancap gas dan melajukan mobilnya menuju rumah orang tuanya.
"Safiraaa... Safiraaa....." Bastian yang tidak dapat berpikir dengan jernih malah mengejar mobil itu dengan berlari dan akhirnya terjatuh karena tidak dapat mengejar laju mobil. Safira melihat semua perbuatan Bastian dari kaca spion mobilnya. Dia hanya ingin menjernihkan pikirannya sejenak dan pergi menjauh dulu dari suaminya.
"Maaf Mas, kamu memang harus ditinggalkan terlebih dahulu, agar kamu menyadari semua yang diajarkan oleh Mamamu belum tentu benar," batin Safira yang masih menitikkan air matanya.
...🥀🥀🥀...