NovelToon NovelToon
NGUNDUH MANTU

NGUNDUH MANTU

Status: tamat
Genre:Spiritual / Thriller / Mata Batin / Kumpulan Cerita Horror / Hantu / Roh Supernatural / Horor / Tamat
Popularitas:301.6k
Nilai: 5
Nama Author: skavivi selfish

Kematian sang ayah membuat Pandu Mahendra mendaki gunung untuk mencari ketenangan batin dalam bertapa. Alih-alih kesedihannya sirna, pendakian yang dilakukan saat malam Selasa Kliwon itu menelannya dalam entitas gaib yang menjadi momok menakutkan bagi para pendaki. Pandu mendatangi acara ngunduh mantu entitas bidadari sebagai mempelai pria!

Lantas bersama sahabatnya, mampukah Pandu keluar dari situasi pelik yang membuka rahasia keluarganya dan menggemparkan seisi rumahnya?

( Wajib baca Suamiku Seorang Ningrat terlebih dahulu untuk mengerti silsilah keluarga Pandu )

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skavivi selfish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pandu

Pandu menunggu reaksi dalam tubuh Dewi Laya Bajramaya setelah menelan putik bunga teratai emas.

Ya walaupun Dewi Laya Bajramaya hanya berpesan jika dia sakit berikan putik itu. Tapi tidak dengan kondisi seperti itu.

Tidak salah to aku berharap? Dia kemarin bilang kesaktiannya yang hilang, bukan ingatannya. Kalo gini jadinya aku momong Dewi jadinya, bukan dia momong aku.

Pandu mendaratkan pantatnya di tepi meja teve seraya bersedekap.

“Harusnya kamu jujur kalau pindahnya kamu ke sini juga menyurutkan ingatanmu. Kamu mirip bayi, tidak tahu apa-apa! Kamu bohong sama aku, katamu hanya kesaktianmu yang hilang, kenapa jadi begini...”

Dewi Laya Bajramaya mencengkeram rambutnya ketika badai ingatan di kepalanya berputar-putar seiring dengan ungkapan hati Pandu yang terus-menerus tiada jeda.

Dewi Laya Bajramaya mengerang frustasi lalu terjatuh pingsan.

Pandu berdecak. Ampun, ini lho gambarannya kenapa dia tidak mau punya pacar cepat-cepat dan memilih jadi pemburu hantu untuk menyibukkan hari-harinya.

Rasanya ribet harus menjaga hati seorang wanita karena dia tidak ahli melakukannya. Dia hanya ahli menaklukkan kuntilanak genit, hantu-hantu cilik dan roh-roh penasaran yang penasaran dengannya. Dengan wanita, ah sebel. Keistimewaan itu sudah hilang, Pandu merasa tidak bisa mengais-ngais kesibukan lain dengan berbincang-bincang dengan mahluk halus.

Pandu menghela napas seraya mendekati Dewi Laya Bajramaya. Sengaja dia mencubit hidungnya lalu menepuk-nepuk pipinya agar terbangun. Tapi si Dewi itu tidak kunjung melakukannya.

Pandu ganti yang menggeram frustasi. “Di kasih minyak saja, aku pasti masih memiliki minyak telon di tasku.”

Pandu merogoh seluruh slot di tas kerilnya lalu menuangkan semua isinya ke lantai. Seluruh perbekalan Dewi Laya Bajramaya di tasnya masih aman, apa karena tasnya berasal dari bumi jadi sortir antar dimensi itu meloloskannya? Ishhh... Pandu tak habis pikir sebelum mengambil minyak telonnya alih-alih membawa minyak urut dan pelumas otot.

Pandu menarik napas, Dewi Laya Bajramaya masih menggunakan pakaian turun gunung. Pakaian ibunya, Pandu hafal betul itu, slalu ada corak batik di setiap busana ibunya.

“Mungkin perutnya dulu yang diberi minyak, lalu lehernya, dan hidungnya. Atau kebalikannya?” Pandu mendesis. “Punya kakak ipar dokter ternyata tidak sepenuhnya membantuku lebih pintar.”

Pandu menuangkan minyak telon ke telapak tangannya seraya memejamkan mata ketika satu tangannya menyelinap ke dalam kaus Dewi Laya Bajramaya.

Pandu mengusapnya secepat mungkin yang penting merata di perut halusnya sebelum menghembuskan napas.

“Semangat, Ndu. Semangat. Kamu pasti bisa.”

Pandu kembali menuangkan minyak telon dan mengusapnya perlahan di lehernya.

Pandu merinding seketika dan menjauhi Dewi Laya Bajramaya.

“Buset... Main-main sama perempuan bikin nggak tenang. Wi, Dewi. Bangun.” Pandu menggoyangkan jemari kakinya.

Semakin lama, intensitas kesadaran Dewi Laya Bajramaya semakin besar. Dia menarik kakinya lalu meringkuk.

”Kamu jahat!”

“Nah... Kamu ingat siapa dirimu sekarang?” tanya Pandu dengan cengiran lebar.

“Satu putik bunga teratai emas akan menambah ingatanku.”

“Oh gitu, berati kamu makan saja semua putiknya.” bujuk Pandu

Dewi Laya Bajramaya langsung menatap Pandu. “Semakin banyak yang aku makan, aku bisa kembali seperti dulu.”

“Ribet kamu!” Pandu mendesis lalu menghela napas. “Setidaknya kamu paham dengan urusan pribadi. Makan, mandi, berkomunikasi, dan melakukan kegiatan lainnya tanpa kebingungan. Jangan seperti bayi. Kamu tidak menggemaskan seperti mereka!”

“Aku tidak menggemaskan seperti bayi. Aku tidak menggemaskan seperti bayi.” Dewi Laya Bajramaya mengulangnya beberapa kali sampai memahami maksudnya..

“Kamu tidak suka?”

Pandu menyerahkan kantong belanjanya tadi. “Yang penting sekarang kamu tidak bingung berkomunikasi, itu sudah bagus. Mandi dan makan. Sore nanti kita pulang ke Jogja.”

“Jogja?”

“Rumahku. Rumah kita.”

“Bapak Nanang? Ibu mertua?”

“Mereka pulang sendiri, Wi. Mereka sudah tua dan berani.”

“Ibu mertuaku berani turun gunung sambil berlari, menggendongku.”

Buset, ibu!

Pandu mengangguk. Lalu mengamati Dewi Laya Bajramaya memeriksa kantong belanjanya. Dewi mengeluarkan pembungkus area privatnya yang Pandu pilih dengan malu dan semua berwarna merah muda. Warna yang Pandu pikir cocok untuknya.

“Aku tidak tahu itu muat tidak, kamu coba sendiri di kamar mandi.” Pandu masuk ke kamar mandi, menyiapkan sampo, sikat gigi, odol, dan sabunnya lalu handuknya di meja.

“Ke sinilah, bawa pakaianmu semua.” seru Pandu dari ambang pintu.

Dewi Laya Bajramaya beranjak. Pandu membelikannya tunik selutut berwarna coklat tua. Dan ketika dia sudah di kamar mandi, dengan sabar Pandu menjelaskan cara membersihkan diri dan berpakaian.

“Ngerti gak?”

“Ngerti. Pandu tidak mandi?” Dewi Laya Bajramaya menatapnya.

Pandu menyunggingkan senyum jenakanya.

“Nanti.” Ia keluar dari kamar mandi. Tersenyum sekilas. Pandu tidak mandi? Pertanyaan apa itu? Perhatian? Ajakan?

My heart...

“Kalau ada apa-apa ngomong, jangan sampai ibu mertuamu marah gara-gara aku nggak baik ngurus kamu!” serunya seraya menutup pintu.

Dewi Laya Bajramaya memandangi kamar mandi, mengendus-endus sabun, mencoba mengeluarkan odol dan menaruhnya di sikat gigi. Dan selagi ia mencoba hal baru di kamar mandi, Pandu tidak tahan untuk tidak tanya-tanya.

“Gimana, bisa tidak?”

Hening. Dewi Laya Bajramaya asyik melihat cermin, matanya, serta barisan giginya yang putih dengan busa odol yang memenuhi mulutnya.

“Wi, Dewi, bisa tidak?” Pandu mendesis tidak sabar lantas membuka pintu kamar mandi.

Dewi Laya Bajramaya menoleh, Pandu mendengus.

“Itu yang ada di mulutmu di buang terus kumur-kumur pakai air. Di sini.” Pandu menghidupkan air wastafel dan mencontohkannya.

Dewi Laya Bajramaya meniru suaminya dengan menyemburkannya air kumuran dengan cepat.

Pandu tergelak. “Pelan-pelan, Dewi. Ini kumur-kumur mahasiswa telat absen. Jangan di tiru.”

“Lalu?”

“Yang pelan-pelan.” Pandu mencontohkan yang biasa di lakukan Dalilah, di akhiri dengan meringis lebar di depan cermin.

“Kalo sudah bersih baru mandi.” Pandu menghidupkan shower, gemericik air yang keluar dari alat yang tak Dewi duga membuat Dewi Laya Bajramaya tersenyum.

“Kamu sekalian mandi, Pandu.” Dewi Laya Bajramaya menariknya langsung ke bawah guyuran hujan lokal.

Oh tidak, Pandu mendengus dan memalingkan wajahnya. Kaos jersey lengan panjang yang membungkus tubuh Dewi Laya Bajramaya semakin menambah nyata lekukannya setelah terkena air.

Pandu menyingkir seraya mengusap wajahnya. “Kamu duluan, gak usah mandi bareng-bareng.”

“Hanya main saja tidak mau?” Dewi Laya Bajramaya bertanya dengan heran.

“Tidak!” Pandu keluar dari kamar mandi, dia melepas kaos entah milik siapa karena dia baru memahami kaos yang dia pakai bukan miliknya.

“Gak ada daftar mandi bareng hari ini walaupun cuma main-main dan pakai baju.”

Dewi Laya Bajramaya menutup pintu kamar mandi setelah melihat Pandu mengusap rambut dan tubuhnya dengan selimut.

“Pandu...”

...***...

1
Rasty Inarra
la pandu pisah sama Dewi tapi di Cerita Nanang sama Riri ,pandu nikah dan serumah di rumah utama sama Dewi...
apa Dewi balik LG kebumi trs hidup LG sama pandu begitu
Camera Gaming
mampir thor,,,aku tuh penakut mikirnya lama kalo mo baca yg horor tapi ya penasaran
Cicak Speed
balek wi wes to le petualangan Nang bumi ..
Cicak Speed
Nang gunung AE Ndu
Cicak Speed
hahaa ndue bojo angel nabung Ndu
Cicak Speed
🤣🤣🤣 ga bisa ber words2
Cicak Speed
huwaaaa🤣
Cicak Speed
wedyan 3.3 nya sung nikahhh
Cicak Speed
dikeroyok ya ndu
Cicak Speed
Walahh..
jadi Dewi ini to yg dilepas sama bapak nya pandu .njur Saiki jadi bojonya pandu Owalh jann..mantab ayah ku jadi istriku ya Ndu
Cicak Speed
wes Jan payah kamu Ndu
Cicak Speed
Halah Jan Menag banyak kamu Ndu
Cicak Speed
🤣🤣🤣🤣
Cicak Speed
kapok mu kapan Ndu
Cicak Speed
duh jan. y ampun
Cicak Speed
yongalah q ngakak too🤣
Cicak Speed
Jak mandi bareng ndu
Cicak Speed
yungalah Ndu pulang2 bawa istri
Cicak Speed
Aduuh Dewi mau diapakan sama Rinjani
Cicak Speed
kapok mu kapan Ndu kamu yg kudu nguber Dewi saiki
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!