Tara seorang wanita yang sudah dewasa tapi tidak percaya cinta. Bahkan dia kerap menyalahkan takdir atas apa yang menimpa dirinya. Kasih sayang menurutnya hanyalah kebohongan belaka.
"Orang bilang kasih sayang yang tulus dari orang tua, tapi kenapa aku di buang oleh mereka?"
Menjalani hidup seorang diri dan hanya mengandalkan diri sendiri itulah Tara dia kuat karena rasa sakit bukan karena rasa sayang.
Tapi semua berubah saat ia bertemu dengan pria bernama Awan.
Awan adalah pria dewasa yang baik dan taat agama. Memperlakukan semua orang dengan baik termasuk Tara. Sering terlibat pekerjaan yang sama dan melewati hari bersama menimbulkan perasaan yang lebih dari teman di hati Tara. Namun mereka berbeda keyakinan. Awan sudah di jodohkan orang tuanya dengan seorang wanita bernama Aini yang sholehah anak dari sahabatnya.
Apakah Tara dan Awan bisa bersatu?
Akankah Awan menerima perjodohan tersebut?
Antara cinta dan cinta
Saat rasa itu datang dan tak bisa di cegah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indri Diandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apakah kamu tahu arti ketulusan itu apa?
Awan segera pulang ke Jakarta, setelah ia tahu dari Aini kalau Tara tidak bisa di hubungi. Setelah pertemuan mereka beberapa hari lalu Aini dengan tegas menolak perjodohan itu. Karena ia tahu kalau Awan mencintai Tara. Kedua orang tua Aini pun tidak masalah akan hal itu. Tentu saja Awan sangat berterima kasih pada wanita itu.
Beberapa hari yang lalu...
"Umi, maafkan Aini. Sepertinya Aini tidak bisa menerima perjodohan ini. Dia mencintai wanita lain dan wanita itu adalah teman baik Aini saat di Surabaya," ucap Aini dengan menundukkan wajahnya.
Saat ia menyiapkan minum untuk Awan dan keluarganya, ia memberanikan diri menyampaikan penolakannya atas perjodohan tersebut. Bagaimana mungkin ia bisa menyakiti hati Tara.
" Seorang wanita yatim piatu yang kamu ceritakan itu kah, dia? Lalu, kamu bisa tahu dari mana kalau mereka saling mencintai?" tanya Umi memastikan cerita Aini.
"Aku pernah bertemu dengan mereka di festival food. Tara tidak bilang kalau mereka pasangan karena keduanya tidak pacaran dan Tara juga belum menerima cinta Awan. Tapi, Awan dengan tegas bilang mereka pasangan. Pandangannya ke Tara itu cinta bu. Dan Aini juga sangat senang melihat hal itu. Tara adalah wanita yang baik, dia layak untuk bahagia dan dicintai Awan. Bagaimana mungkin aku bisa merusak hubungan mereka bu? Dan lagi apakah aku bisa menikah dengan orang yang jelas di hatinya sudah ada wanita lain? Apakah aku bisa bahagia dengan pernikahan ku umi?" tanya Aini dan juga menjelaskan panjang lebar tentang Awan.
" Baiklah lalu itu keputusan mu, umi akan sampaikan ini kepada abah. Keputusanmu sudah benar nak. " Jawab Umi.
" Makasih, dan maaf Aini membuat malu keluarga." Sesal Aini.
" Ngga ada yang malu akan hal ini. Justru bagus kamu bilang dari awal. Abah dan Umi ingin anak-anak kami bahagia. Di jodohkan tidak salah asal keduanya saling menerima tapi, kamu salah satu pihak tidak bisa kenapa harus di paksakan? Ini kan bukan zaman Siti Nurbaya yang harus mau dan tidak bisa menolak. Hidupmu adalah kamu yang tentukan, nak." Ujar umi yang memberi nasihat pada Aini.
" Tapi apakah persahabatan abah dan temannya akan rusak karena hal ini? Bisa juga temannya tidak terima lalu marah karena dia malu." Aini menebak- nebak apa yang akan terjadi nanti tentang hubungan orang tuanya dan orang tua Awan.
"Kamu tahu arti ketulusan bukan? Kami bersahabat sudah lama dan kami semua tulus. Tidak akan rusak hubungan kita hanya karena ini. Percayalah, semua akan baik-baik saja. Bukankah, abah juga bilang dari awal kau berhak menolak jika ingin. Dan abah juga sudah menunjukkan wajah laki-laki itu dan kau diberi waktu untuk berpikir tapi, sekarang kau menolak pun umi tak masalah. "
" Tapi waktu itu yang aku lihat bukan dia umi. Aku lihat laki-laki yang ada di sampingnya tadi. Makanya Aini mau menerima ini," jawab Aini yang beberapa menit kemudian ia menutup mulutnya dengan telapak tangan kanan.
Umi tersenyum, sepertinya di sini ada kesalahpahaman. Mungkin yang di tunjukkan suami nya waktu itu adalah Hafis bukan Awan. Mungkin Hafis lah yang akan menjadi menantu mereka nanti.
" Oh, jadi bukan dia ya? Baiklah umi sudah paham kok. Sudah ayo, kita bawa minuman nya ke depan!" Ajak Umi.
😊😊😊