Adinda Ayu Gadis cantik, cerewet dan ceria, banyak teman dan wanuta paling slow dan cuek sedunia
Hidupnya yang penuh warna mendadak menjadi suram dan abu abu tanpa warna, semenjak di Jodohkan dengan sosok laki laki yang tidak memiliki perasaan padanya,
Tapi Dinda bukan wanita yang terlihat sama dengan wanita yang lain, dia berbeda, Dia gak menyerah begitu aja, Dinda tetap Dinda gak mau berubah
Mungkin hatinya jadi abu abu, tapi lahirnya dia seperti Dinda yang semua orang kenal, ceria ramah dan sopan,
sikap bodoh amat selalu dia terapkan pada hal hal yang gak penting seperti Suaminya, Dimas !
Dan Hidup berumah tangga Tanpa Rasa Cinta cukup membuatnya merasa tertantang menjadi wanita kuat..
Bagai mana kisahnya? Selamat membaca 🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulfatun khasanah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panik abal abal
" Ya Allah... Dinda" Ucap pak Rahmat kaget dengan Dinda yang tiba tiba pingsan di bawahnya
" Ya Allah nak... Kamu kenapa?" kaget Bu Tri langsung memapaknya
" Kenapa Mak?" kaget Nizam langsung loncar dari panjatannya
" Telfon Abangmu" Ucap Pak Rahmat panik
" Angkat Pak" Ucap Bu Tri pada suaminya
Pak Rahmat langsung mengangkatnya dan membawanya ke kamar Dimas
Nizam segera menghubungi Dimas yang sedang asyik kencan dengan Eka
Di kafe Eka dan Dimas masih membahas masalah tempat tinggalnya, Eka masih ngotot minta tinggal bersama Dimas, cuman Dimas juga bingung karena di sana Ada Dinda, kalau sampai Dinda keluar dari rumahnya hem.. Bisa bisa dia di habisi sama orang tuanya
" Bentar bentar ini Nizam telfon sayang" Ucap Dimas saat ponselnya berdering dan ada nama Nizam di sana
" Bang... Cepet pulang, Dinda jatuh pingsan" Ucap Nizam terdengar sangat panik
Dimas sebenarnya gak peduli dengan keadaan Dinda, cuman dia harus berakting sok panik saat mendengar kabar tersebut
" Gue pulang sekarang" jawab Dimas lalu memutuskan panggilannya
"Kenapa ada apa, kok mau pulang?" tanya Eka ikut panik
" Mamak Pingsan" jawab Dimas berbohong
Gak mungkin dia bilang kalau Dinda yang pingsan , Eka pasti langsung ngamuk nanti
" Gue ikut" ucap Eka cepat
" Gak usah cari masalah sayang, nanti yang ada Mamak makin ngamuk" jawab Dimas lembut
" Ya kan seperti saat ini malah pendekatan sayang" jawab Rka gak mau nyerah
" Lain kali aja ya, ini udah genting masalahnya" jawab Dimas masih lembut
" Okey" jawab Eka pasrah
Setelah itu Eka langsung di antar pulang sama Dimas ke kos kosannya
Di rumah Dinda masih belum sadarkan Diri, badannya begitu panas dan sangat panas
" Ya Allah pak, panas badannya pak" Ucap Bu Tri makin panik
" Coba di kompres mak" jawab Pak Rahmat ikut panik
" Gak di bawa kerumah sakit aja pak mak?" tanya Dimas juga ikut khawatir
Sebelum mereka menjawab Dimas pulang dan langsung ke kamarnya
" Kenapa kok bisa pingsan?" tanya Dimas mendekat pada Dinda
Ibu Tri membuka hijab Dinda dan mencoba memberi minyak angin pada Dinda
" Kenapa Mak? Dinda bisa pingsan?" ucap Dimas lagi karena belum ada yang menjawab
" Entah gak tau, kami tadi juga merasa dia baik baik aja, soalnya pulang tadi bawa banyak penghargaan, dan masih berserakan juga tuh di depan, masih ikut bantuin kami masang juga, tapi tiba tiba langsung jatuh ambruk kami gak tau apa, dari tadi kami rasa juga baik baik saja" jawab Ibu Tri dengan perlahan melabur minyak angin ke seluruh badan Dinda
Ibu Tri sangat panik dan takut sendiri khawatir dan segera memberi yang terbaik untuk putri kesayangannya itu
Hingga gak peduli kemulusan kaki dan tangam serta leher Dinda di lihat oleh Nizam dan Dimas serta suaminya
Dia hanya beranggapan kalau mereka semua saudara, apa lagi Dimas suaminya kan pasti sudah melihatnya setiap hari
" Bawa aja kerumah sakit bang" ucap Nizam pada Dimas
" Udah lama pingsannya?" tanya Dimas tanpa menjawab
" Ya lama, udah setengah jam lebih" jawab Nizam mencoba tenang
" Ayo bawa aja" jawab pak Rahmat dan Dimas hanya mengangguk
" Angkat Dim" Ucap Bapaknya dan Dimas mendekat
Dalam hatinya Dimas agak ragu, cuman ini dei hadapan kedua orang tuanya jadi mau bagaimana lagi
Setelah Dimas mau menggendong Dinda terbangun dari pingsannya
" Mau kemana bang?" tanya Dinda lirih
" Udah bangun sayang" ucap Bu Tri mendekat
Dinda masih sanggup tersenyum dan mengangguk lirih
" Dinda kenapa Mak?" tanya Dinda lirih dan masih bisa senyum
" Kamu tadi jatuh pingsan nak, mamak sampe panik, ini mau di bawa kerumah sakit, " jawab Bu Tri masih pengen tau
" Udah gak usah Dinda di rumah aja Mak, Dinda gak apa apa kok, " jawab Dinda lirih
" Enggak sayang.. Kita harus tau kamu kenapa sebenarnya" jawab Bu Tri masih sangat haratir
" Dinda baik mak, " jawab Dinda masih tersenyum
" Ya Udah nanti panggil dokter aja ya" Ucap Pak Rahmat gam mau memaksa putrinya di bawa ke rumah sakit
Dinda gak menjawab hanya tersenyum, lalu Dinda mengangguk
" Panggil dokter Dim" ucap bu Tri masih sangat panik
Tak lama Dinda tersadar kalau dia tidak memakai hijab, dengan rambut pendeknya bak potongan seorang polwan
" Bang hijab Dinda mana Bang?" Kaget Dinda
" ini ini... Tadi mamak lepas, karena kasih minyak angin tadi" jawab Bu Tri memberikan hijab Dinda
" Makasih mak" jawab Dinda menerima dan segera memakainya walaupun Dinda masoh dalam keadaan lemas
Dimas terus memandangi Dinda, tapi entah apa yang ada di dalam pikirannya, Dia gak ada rasa empati atau kasian sama sekali pada Dinda, dan justru sebaliknya dia justru merasa terpaksa kalau haru menggil dokyer dan melakukan sesuatu untuk Dinda
" Dim.... Dia itu tanggung jawabmu, dia rela melakukan apapun demi kamu, tapi kamu kenapa seperti itu?" ucap hawa positif kembali menghantui telinganya
" Gak apa apa Dim, biarin aja, dia tuh pengrusak hubungan mu dengan Eka, biar dia sakit gak usah panggil dokter, kalau mati kan sekalian dia gak ada yang ganggu kamu" jawab setan iblis pembujuk
Dan Benar Dimas belum bisa melawan hawa negatifnya sama sekali, dia hanya bisa menuruti egonya bahkan sifat kemanusiaannya saja gak ada untuk Dinda
Dimas berdiam diri di bagian garasi cukup lama lalu segera masuk kembali dan hanya untuk bersandiwara saja
" Mak.. Pak, dokternya gak ada di rumah, tadi Dimas telfon gak ada, dan Dimas jemput juga tutupan semua rumahnya, paling lagi pergi keluar kota" Ucap Dimas pada semuanya
" Ya udah bawa kerumah sakit aja" jawab Pak Rahmat cepat
" Gak usah bapak, Dinda baik baik aja kok, paling masuk angin dan capek doang, Dinda butuh istirahat nanti sehat kembali" jawab Dinda masih dengan senyuman yang mempesona
Nizam yang melihat senyuman di wajah pucet tapi masih terlihat manis dan cantik, Nizam langsung mengalihkan pandangannya
Karena takut nanti kalau sampai dia terklepek klepek sama senyuman manis dari kakak iparnya itu
Dinda masih di temani ibu mertuanya, untung halangannya sudah gak begitu deras jadi dia gak perlu repot repot bolak balik kamar mandi
Di tambah dia yang seolah kurang cairan dari pagi gak minum jadi gak pengan buang air kecil
Ibu mertuanya menemani bahkan saat sholat juga di kamar Dimas, jadi selalu di samping Dinda dari sore hingga malam tiba
" Buk... Ayo biar Dinda istriahat, kita pindah ke kamar" ucap Pak Rahmat dan bu Tri memgangguk
Bu Tri gak bisa menolah tentang hal itu, dan langsung ikut hingga akhirnya tinggal Dinda dan Dimas saja di kamar mereka
" Maaf ya Bang... Tadi Dinda tidur di atas, tapi Dinda akan ganti kok seprainya, silahkan Abang kalau mau di atas Dinda pindah dulu ke bawah" Ucap Dinda yang menahan rasa sakit di hatinya, cuman kondisinya yang lemah gak sanggup untuk debat dan marah, dia hanya bisa mengalah sadar diri sadar rai sadar posisi
Kira kira Reaksi Dimas gimana? Komen di bawah
Dan jangan lupa mampir ke PF Oranye ya.. Misteri Jodohku
padahal cerita nya Bagus lhoo👍👍✌️
jijik gue sama Eka.. amit² dech