TAMAT
Karna ayah yang sedang sakit-sakitan membuat Putri Mentari harus menikahi seorang duda beranak satu yang merupakan dosen mata kuliah umum di fakultasnya.
"Kamu jangan berharap lebih dengan pernikahan ini! Aku pastikan pernikahan ini tidak bertahan lama!" - TAMA BATARA
"Ya ampun Pak... Jangan galak-galak napa. Entar makin nambah loh keriputannya." - PUTRI MENTARI.
Tama yang masih mencintai mendiang istrinya membuat pernikahan yang dijalani wanita yang akrab dipanggil Tari itu terasa berat.
Tari yang ceria terus berusaha mendapatkan cinta sang suami.
Akankah pernikahan yang berat ini berubah menjadi pernikahan bahagia?
fb : Kacan
=> Mari follow akun Noveltoon Othor Kacan🤗🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Basah Berdua
Begitu masuk, mata Tama tertuju pada lengan istrinya yang berwarna merah keunguan. Pria itu baru bisa melihat bekas kekasarannya sekarang, karena saat pulang tadi, Tari menggunakan sweater panjang berwarna coklat tua. Tampak seperti sweater milik laki-laki, namun Tama tidak perduli soal itu.
Tatapan Tama masih terfokus pada tangan Tari yang menyilang untuk menutupi asetnya. Hal itu membuat Tari berpikir yang tidak-tidak.
"Pak Tama ngapain ngikutin Tari ke sini? Mau ngintip ya!!!" Tari menunjuk wajah Sang Suami dengan Jari telunjuknya. "Eh...." gadis itu menarik jarinya kembali ketika dirinya sadar asetnya hanya tertutup oleh kain berbentuk kaca mata.
Atmosfer di antara pasutri (Pasangan Suami Istri) itu berubah menjadi menegangkan saat langkah kaki Tama semakin mendekat pada Tari.
"Pak Tama mau *****-grepein Tari?!!!" tuduh Tari sambil berjalan mundur, jantung gadis itu memompa lebih cepat, ia merasakan jantungnya yang berirama tak karuan.
"Cih!!! Aku tidak sudi menyentuhmu, lihat! dad4mu saja rata." Tama berdecih.
Tari tidak terima asetnya dikatai seperti itu. Ya... walaupun faktanya, bukit yang ia miliki memang mini malis. Tapi, kata-kata yang keluar dari mulut suaminya saat mengucapkan 'tidak sudi' langsung menyulut emosi gadis itu . Ia langsung menyahuti ucapan suaminya dengan tatapan nyalang.
"Kalau tidak sudi ngapain ke sini? Pakai acara lihat-lihat aset Tari segala." Tari mencebik kesal.
Tama yang sudah berada di hadapan istrinya, langsung menyambar ucapan gadis itu.
"Asal kau tahu! Aku ke sini hanya ingin menegaskan agar kau tidak berlaku sesuka hati! Lihat anakku sampai menangis karna bocah sableng sepertimu." dengan entengnya Tama mengatakan hal itu tanpa memikirkan perasaan perempuan di depannya.
Emosi Tari tersulut ketika Tama malah menyalahkan dirinya. Ia maju selangkah sambil bertolak pinggang.
"Enak bener ya ngomongnya, Pak. Ini semua juga karna Pak Tama! Masa istri ditekan sama sund-- Mami Sun bukannya dibela, eh... malah ikut menyudutkan. Tega bener jadi suami, ckckck.... Pak Tama mau masuk neraka?" Tari menggerakkan kepalanya. Gadis itu menjelma menjadi gadis yang super cerewet. Ia bahkan tidak sadar ketika dirinya bertolak pinggang-- membuat dad4nya membusung ke depan.
"Tidak usah bawa-bawa neraka!" Murka Tama.
"Kenapa? Pak Tama sadar ya kalau bapak itu suami durjana, Alias D-U-R-H-A-K-A!" Tantang Tari.
Air muka pria itu berubah merah, "Kau--"
"Apa? Pak Tama tidak terima?" sergah gadis itu.
"Kau juga istri durhaka!" Balas Tama.
Tari tidak terima dikatakan durhaka. Karna ia merasa, selalu berusaha menjalankan tugasnya sebagai istri. Tapi, dengan gampangnya pria yang menjadi suaminya itu mengatakan ia istri durhaka. Tari mendorong tubuh Tama sangking kesalnya. "Pak Tama yang durhaka!"
Tama yang tak siap, membuat tubuhnya terhuyung ke belakang. Pria itu balik mendorong istrinya.
"Kau yang durhaka!"
"Pak Tama!" Tari kembali mendorong suaminya.
Entah kenapa pria yang sudah berumur 35 tahun itu kembali membalas perbuatan Tari, sudah seperti bocah saja.
"Kau--" Tama tergugu ketika mendorong tubuh Tari, tapi salah sasaran. Tangannya malah mendorong benda kenyal milik Tari.
"Awww... Kalau mau bilang dong! Jangan gini caranya! Sok ngajak ribut."
Tidak ada yang mau mengalah di antara keduanya, mereka sudah persis seperti pemeran di serial kartun tikus dan kucing.
Tama yang terkejut, langsung membalik tubuhnya berniat untuk kabur.
"Enak aja mau kabur!" Tari menarik kaus belakang suaminya.
Mau tak mau Tama membalik tubuhnya kembali, ia memasang wajah galaknya agar Sang istri takut. Namun, bukannya takut. Tari malah menyerang balik dengan cara yang tidak di sangka-sangka.
Pluk...
"Rasain!!! Hahaha...." Tari meremas pusat kehidupan Tama.
Mata pria itu mendelik, seakan mau keluar. Geraman terdengar dari mulut Tama.
"Beraninya kau!" Geram pria itu.
Pluk...
Telapak tangan besar milik Tama mendarat tepat di bukit Tari. Kedua insan itu tidak puas untuk saling membalas, mereka benar-benar kekanakkan. Tangan mereka saling menyentuh aset berharga itu secara bergantian.
Sedangkan di kamar, Aruna si bocah gembil menunggu kedua orang tuanya yang tak kunjung keluar. Anak baik itu memilih untuk tetap menunggu di atas ranjang dengan bermain bersama boneka Maruko serta boneka beruang.
Kembali pada pasutri yang masih melakukan aksi balas membalas. Makin lama keduanya tidak terkontrol. Tari mundur beberapa langkah, lalu kepalanya sedikit dicondongkan ke depan, ia bergerak seolah ingin menyeruduk.
Tama yang melihat gelagat aneh Tari, segera menahan kepala istrinya. Namun, tenaga pria itu sudah habis karna perbuatan Tari yang membangkitkan gejolak aneh pada dirinya, hingga ketika kepala itu menubruk perutnya. Ia tersungkur ke belakang.
Bugh....
Tubuh Tari terjatuh di atas tubuh Tama. Pria itu lemas seketika, saat bukit Tari malah mendarat empuk tepat di wajahnya.
Aroma aneh pun masuk ke indera penciumannya. Namun, untuk hal ini bukan Masalah. Yang menjadi masalah adalah tubuhnya menegang, jantungnya berdetak tak karuan.
Sedangkan Tari terdiam, ia tak dapat melakukan apa-apa. Kakinya terasa lemas, tubuhnya juga merinding ketika napas Tama terasa menerpa bukit yang dikatai rata oleh suaminya.
Mereka sudah persis seperti roti selai yang saling menimpa dalam balutan selai manis.
Keduanya cukup lama terdiam. Entah karna nyaman atau hanya karna terkejut.
Seperti yang sudah-sudah, Tari lah yang sadar lebih utama. Gadis itu berdiri, ia menutupi wajahnya karna malu. Sedangkan Tama langsung bangkit dan segera keluar untuk mengganti bajunya yang basah, pria itu memilih untuk pergi ke kamar mandi yang ada di kamar Una untuk meredakan sesuatu yang sedang dalam mode aktif.
"Papa kenapa mukanya melah?" tanya bocab gembil itu ketika melihat Sang Papa yang baru keluar dari kamar mandi.
"Tidak apa sayang, Papa pergi bentar ya. Kamu tunggu di sini saja, oke?!" Ujar Tama dengan napas tersendat-sendat.
"Hum...." Una mengangguk tanpa mengerti apa yang sedang terjadi pada Papanya.
Di dalam kamar mandi, Tari melanjutkan aktifitas bebersih tubuhnya. Ia merasa malu karna insiden tadi, namun tak ada rasa penyesalan. Anggap saja itu sebagai balasan dan juga umpan untuk membuat sebuah rasa yang dinantikan Tari tumbuh.
Di tempat lain, Tama sedang menjalankan aksinya. Yang ada dibayangan pria itu adalah wajah istrinya. Benar-benar duda gamon.
***
"Mama, Papa...." Panggil Una, ketika melihat Tari dan Tama yang muncul di saat yang bersamaan.
Pasangan suami istri itu tidak ada yang berani saling tatap. Tapi, karna panggilan dari sosok anak perempuan kesayangan keluarga Batara, membuat keduanya bergabung dengan Una di atas ranjang.
"Papa tidulnya di kili, Mama tidulnya di kanan. Una di tengah." Bocah gembil itu memberi intruksi dengam gaya menggemaskan.
Tari serta Tama mengikuti arahan tuan putri mereka. Ketiganya membaringkan diri, namun sebelum Tama memejamkan matanya, ia lebih dahulu mengecup kening sang anak.
"Papa cium Mama juga." Titah bocah berusia lima tahun itu.
Tama menarik napasnya. Dan lagi, ia kembali menuruti permintaan sang anak.
Ketika Tama hendak mengecup kening Tari, mata mereka terpaku satu sama lain. Buru-buru pria itu mengecup kening Sang Istri, lalu menarik diri dan membaringkan tubuhnya dengan setitik rasa tak biasa. Ingat! Hanya setitik!
`
`
`
Hai readers😍
Bab kali ini gak begitu buat emosi kan😂 sekali-sekali manis sikit yak. Biar gak asyem kayak keteknya Tari.
Oh iya, untuk 3 orang terpilih tadi. paling lama besok siang sudah terkirim😉
Jangan lupa jempolnya ya sayang"nya akohh😍
mantap kaka pantun nyaaa 👍👍😄