Sejak menjalankan misi dari SKAK, kehidupan Fabian Bara Akalanka mulai membaik. Bahkan, dia bisa membalas dendam kepada mantan kekasihnya—Adara Sandria.
Namun, belum sempat Fabian menuntaskan semua misi, system tersebut mendadak rusak. Lantas, dia dihadapkan pada rahasia besar yang ada di balik SKAK.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gresya Salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pingsan
Tepat setelah jam makan siang, Fabian menerima tugas mengirim lima box makanan untuk satu alamat. Lokasinya lumayan jauh, bahkan sebelumnya Wendy's Resto tidak menerima pengiriman ke arah sana. Namun karena pesannya cukup banyak dan uang juga sudah ditransfer lengkap dengan tips, jadi Wendy menerima orderan itu. Karena kebetulan, pengiriman hari ini lumayan sepi.
"Kiriman ini cukup jauh, tapi kok kamu malah senyum-senyum sih, Bi?" Keyla tak tahan untuk tidak melayangkan pertanyaan, karena sejak tadi Fabian senyum-senyum tidak jelas.
Mendengar pertanyaan dari Keyla, Fabian makin melebarkan senyuman. Hatinya memang luar biasa bahagia, bagaimana tidak itu adalah misi yang berhadiah pulau pribadi. Siapa yang tidak tergiur untuk mengejarnya?
"Bi!" Keyla mengguncang lengan Fabian. Lantas melanjutkan ucapannya, "Aku tanya malah senyum doang, heran deh."
Fabian pun mengulurkan tangan dan mengusap lembut puncak kepala Keyra, "Bukannya berkerja memang harus bahagia, ya? Nggak salah dong aku senyum-senyum. Bener, kan?"
"Tapi ya nggak gitu konsepnya."
"Terus gimana dong?" goda Fabian.
Keyla berdecak kesal, "Tahu ah, kamu nggak jelas."
Fabian tertawa renyah, wajah Keyla tampak lebih menggemaskan jika kesal seperti itu, dan Fabian senang melihatnya. Dari sekian banyak orang yang Fabian kenal, memang Keyla yang paling dekat. Gadis itu tak pernah menjauh atau menghindar meski dirinya miskin atau sekarang sudah kaya, tapi tak jelas asal-usulnya.
"Jangan ngambek terus, jelek tahu kalau manyun gitu." Fabian mencubit gemas pipi Keyla. "Ya udah, aku berangkat dulu ya," sambungnya.
Keyla mengangguk, dan setelah Fabian naik ke atas motor barulah ia bicara.
"Bi," ucapnya sambil memegangi lengan Fabian.
"Kenapa, Key?" Fabian tak lagi tertawa karena raut wajah Keyla tampak serius.
"Hati-hati! Jangan meremehkan meski tanggung jawabmu hanya kirim makanan. Jalanan itu keras, kamu harus hati-hati agar selamat sampai tujuan."
"Hah?" Fabian mengernyit bingung. Ucapan Keyla sangat aneh, jauh berbeda dengan kebiasannya. Sampai-sampai Fabian tak bisa menangkap maksud ucapan itu.
"Jangan bengong lagi! Buruan berangkat sana, jangan lupa, hati-hati!" ucap Keyla menyudahi keterkejutan Fabian.
"Key___" Fabian gagal melanjutkan pembicaraannya karena Keyla sudah berbalik dan pergi meninggalkannya.
"Apa sih maksudnya Keyla?" Fabian bergumam sendiri, sembari menerka-nerka apa gerangan maksud sahabatnya.
Dalam rasa penasarannya, Fabian mengembuskan napas kasar. Lantas, terpaksa berangkat karena jarum jam terus berdetak. Dia tak ingin membuang waktu karena misi ini sangat penting baginya. Urusan Keyla masih bisa ditunda nanti, pikirnya.
Di bawah terik matahari yang mulai condong ke arah barat, Fabian melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, sudah tak sabar untuk mengklaim hadiah fantastis dari SKAK.
Sekitar satu jam kemudian, Fabian membelokkan motornya memasuki gang kecil yang cukup sepi. Di sanalah tempat tinggal sang pelanggan. Fabian makin semangat karena jarak kian dekat. Merasa beruntung karena tidak ada kendala dalam perjalanannya.
Akan tetapi, ada satu hal yang tidak Fabian sadari. Sejak beberapa saat yang lalu, ada dua motor yang mengikutinya dari belakang. Tatapan sang pengendara tak lepas dari diri Fabian, karena memang lelaki itulah target utamanya.
"Sedikit lagi, aku berhasil menyelesaikan misi. Udah nggak sabar mau lihat pulau pribadi yang penuh destinasi wisata. Duh, nggak kebayang kalau nanti bisa menggeser posisinya Morgan Smith. Keren banget aku, Adara pasti makin ngenes melihatnya," batin Fabian penuh percaya diri.
Saat ini jarak rumah pelanggan tinggal beberapa meter lagi. Hanya melewati lahan kosong yang tidak terlalu luas, dan setelah tiba di tempat tujuan.
Namun, bayangan-bayangan indah dalam pikiran Fabian hilang seketika dan berganti kekagetan yang tak terkira. Tiba-tiba ada dua motor yang menghadang jalannya, empat orang bermuka sangar turun dan melayangkan tatapan tajam padanya. Mau tidak mau, Fabian pun turun dan meladeni mereka.
"Ada perlu apa, Bang?" tanya Fabian, berusaha sopan meski perasaannya mulai tak nyaman.
"Banyak bac-ot!" Sambil berteriak kasar, salah seseorang dari mereka langsung melayangkan pukulan keras. Beruntung Fabian bisa menghindar.
"Aku nggak boleh gagal," batin Fabian. Semangatnya membara untuk melawan mereka dan menyelesaikan misi secara sempurna.
Namun, Fabian kurang andal dalam berkelahi, apalagi mereka berempat sedangkan dirinya sendirian. Alhasil, Fabian tersungkur ketika tendangan kaki mengenai perutnya.
"Ahh!"
Meski sambil meringis sakit, Fabian berusaha bangkit. Tetapi nahas, ia kembali ditendang dan kali ini tepat di dada. Fabian sampai sesak dibuatnya.
"Bawa dia!"
Bersamaan dengan suara itu, Fabian merasakan tangan kekar membekap mulut dan hidungnya. Lantas, aroma menyengat menyeruak ke dalam hidung, membuatnya pening sampai tak ingat apa-apa lagi. Dunianya seketika gelap, dan hal itu memancing gelak tawa empat orang yang menghadang.
"Bos pasti suka dengan hasil kerja kita." Senyuman licik tercetak di bibir mereka. Ketidakberdayaan Fabian menjadi sesuatu yang membanggakan bagi keempat pria itu.
Bersambung...