NovelToon NovelToon
Bukan Rahim Bayaran

Bukan Rahim Bayaran

Status: tamat
Genre:CEO / Poligami / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:355.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Linda manik

Mendapatkan kasih sayang yang cukup dari kedua orang tua angkatnya tidak lantas membuat Marissa tidak lepas dari beban pikiran. Wanita itu terlihat bahagia hidup bersama dengan kedua orang tua angkatnya.

Baru saja dirinya. Duduk di bangku Kelas XII di sebuah sekolah swasta ternama di kotanya. Marissa menemukan dirinya sedang hamil satu bulan. Dia tidak mengetahui siapa yang menjadi Ayah dari janin yang dikandung bahkan dirinya merasa tidak pernah melakukan perbuatan dosa hina itu.

Jadi siapakah yang tega menghamili Marissa yang terkenal baik dan murah hati di sekolahnya itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda manik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pindah

Suara burung berkicau menyambut pagi itu. Aroma dari berbagai jenis bunga dari taman tercium hingga ke dalam paviliun membuat Marissa menggerakkan matanya. Marissa yang tidur menghadap tembok masih betah dengan posisi seperti itu. Tidak ada alasan bagi dirinya untuk cepat cepat bangkit dari tempat tidur itu. Hari harinya akan dihabiskan di paviliun itu tanpa melakukan pekerjaan yang berarti. Hanya ada majalah usang yang hampir semuanya dia baca. Dan sepertinya, hari ini Marissa harus mengulang membaca salah satu majalah itu untuk membunuh rasa bosan.

Marissa menggerakkan jari jarinya. Dia menghitung berapa lama lagi dirinya terperangkap di paviliun itu hanya karena kehamilan itu. Menyadari waktu yang masih tergolong lama menunggu persalinan. Marissa terlihat menarik nafas panjang kemudian menghembuskan secara perlahan.

"Tujuh bulan lagi. Apa aku bisa?" kata Marissa. Hampir tiga minggu dirinya terkurung, sungguh Marissa ingin melihat dunia luar selain taman bunga itu. Dia merindukan sekolah, merindukan dewi dan Luna teman temannya. Merindukan belajar di sekolah. Mengingat itu semua, Marissa tidak dapat menahan kesedihannya lagi. Dia terisak. Sungguh dirinya harus mengorbankan banyak hal untuk membalas kebaikan mama angkatnya.

Kesedihan itu ternyata tidak menghilang apa yang harus dia rasakan setiap hari. Seperti pagi pagi sebelumnya. Marissa kembali merasakan mual. Dia hendak duduk tapi matanya menangkap pemandangan yang tidak biasa ada di paviliun itu. Tepat di sebelahnya. Dia melihat Arjuna tertidur di bangku kayu dengan badan bersandar tapi kepala mendongak ke atas. Melihat pemandangan itu, Marissa menduga jika Arjuna tidur di paviliun itu sejak tadi malam.

Marissa mengurungkan niatnya untuk membangunkan Arjuna. Dia melangkah ke kamar Mandi untuk menuntaskan rasa mual itu. Beruntung pagi ini rasa mual itu tidak begitu parah.

Marissa kembali menatap Arjuna. Ada perasaan tidak tega di hatinya melihat pria itu tidur dengan posisi yang tidak nyaman.

"Papa," panggil Marissa dari tempat duduknya. Dia membangunkan Arjuna supaya pindah tidur ke kamar di rumah utama. Arjuna bergerak dan mengumpulkan kesadarannya.

"Sudah ga mual lagi Sa?" tanya Arjuna. Dia bisa melihat jika Marissa jauh lebih baik pagi ini dibandingkan sebelumnya.

"Masih mual. Tapi tidak seperti sebelumnya," jawab Marissa.

"Syukurlah kalau begitu," kata Arjuna. Dia menatap ke arah perut Marissa sebentar. Marissa dapat menangkap arah pandangan Arjuna. Marissa pun spontan menarik selimut menutupi perutnya meskipun dirinya sedang duduk. Dia risih diperhatikan Arjuna seperti itu.

"Sa, papa mau tanya. Boleh?"

"Tanya apa pa."

"Masih ada keinginan melanjutkan pendidikan?"

Marissa memalingkan wajahnya. Arjuna mengungkit apa yang menjadi impiannya selama ini dalam keadaan yang tidak memungkinkan.

"Kamu masih bisa mengikuti pelajaran seperti biasanya Sa."

Marissa beranjak dari duduknya. Dia berjalan ke arah dinding kaca dan nenyibakkan tirai itu. Dia sengaja melakukan itu karena hal itu tidak mungkin. Kehamilannya sudah mendekati dua bulan. Dan dia sudah bisa merasakan perubahan perutnya meskipun sedikit. Seiring waktu perut itu akan membesar. Kembali ke sekolah hanya untuk mempermalukan dirinya sendiri.

"Apa papa berpikir jika seorang siswa ke sekolah dengan perut yang membuncit adalah sesuatu yang wajar?"

"Tentu saja tidak wajar Sa. Papa sudah berbicara dengan pihak sekolah. Kamu bisa belajar secara online. Kamu belajar seperti siswa lainnya hanya saja kamu tidak duduk di ruangan yang sama dengan mereka."

"Apa bisa seperti itu pa?" tanya Marissa. Ada rasa senang yang terpancar di sorot matanya.

"Bisa. Duduk lah sini. Nanti papa akan menjelaskan lebih lanjut tentang cara kamu belajar dari rumah."

Arjuna menunjuk tempat tidur itu. Karena senang. Marissa juga menurut. Melihat wajah Marissa, Arjuna tersenyum.

"Papa sangat tulus menyayangi kamu selama ini Sa, jika kenyataannya seperti ini. Ini bukan keinginan Papa. Papa minta maaf. Papa minta maaf atas semua perkataan papa yang menyakiti hatimu," kata Arjuna. Rasa bersalah itu jelas terlihat di wajah Arjuna.

Marissa terdiam. Arjuna juga tidak menuntaskan Marissa langsung memaafkan dirinya saat ini. Dia paham perasaan Marissa pasti masih sakit sampai saat ini.

"Kamu tidak merindukan teman teman mu?"

"Rindu pa. Sangat," jawab Marissa jujur. Dia sangat yakin jika teman temannya pasti berusaha menghubungi nomornya.

"Papa sudah menyediakan tempat tinggal untuk kamu. Di sana, kamu bisa mengundang teman teman kamu untuk bermain ke rumah."

"Tempat tinggal?" tanya Marissa bingung.

Arjuna menganggukkan kepalanya. Tadi malam setelah dirinya tiba di paviliun itu. Arjuna terpikir untuk memisahkan tempat tinggal Marissa dari Nisa. Dia pun mengutarakan niatnya itu kepada dokter Marsel lewat pesan. Dan sahabatnya itu juga setuju. Bahkan rumah tinggal yang akan ditempati oleh Marissa nantinya bersebelahan dengan rumah dokter Marsel di sebuah komplek perumahan yang mewah. Rumah itu adalah rumah dari kerabat dokter Marsel yang sedang dijual. Hari ini, rencananya Arjuna akan menyelesaikan pembayaran rumah itu.

"Kamu berkemas ya. Hari ini juga. Kamu akan tinggal di sana. Kamu tidak perlu khawatir. Akan ada pekerja yang melayani kamu disana sehingga kamu hanya fokus untuk belajar dan memperhatikan kehamilan mu ini."

Marissa menganggukkan kepalanya. Dia pun sebenarnya ingin terbebas dari paviliun ini.

"Papa ke rumah dulu."

Marissa menganggukkan kepalanya. Harapannya untuk meraih cita cita kini kembali muncul seperti perkataan Arjuna. Marissa pun berkemas.

Sementara di rumah utama, Arjuna langsung menuju kamar dan mengabaikan Nisa yang sedang terlihat sibuk di meja makan. Wanita itu pun menghentikan kegiatannya dan mengikuti langkah Arjuna ke kamar.

"Pa, apa yang kamu lakukan?" tanya Nisa. Niatnya untuk meminta maaf kepada Arjuna urung karena melihat Arjuna sedang memasukkan pakaian ke dalam koper.

"Kamu tidak bisa melihat apa yang aku lakukan?" tanya pria itu sinis. Tangannya tidak berhenti memilih pakaian yang hendak dia masukkan ke dalam koper.

"Bisa sayang. Kamu mau ke luar Kota?. Aku tidak diajak?" tanya Nisa. Setiap suaminya bekerja atau ada urusan ke luar kota. Dirinya selalu diajak dan dia yang menyiapkan segala sesuatunya termasuk pakaian Arjuna.

"Bukan ke luar kota. Masih di dalam kota ini. Dan tidak mengajak kamu."

Nisa memegang dadanya mendengar perkataan Arjuna.

"Membawa pakaian sebanyak itu?"

"Iya. Karena mulai hari ini. Aku harus membagi waktuku untuk dua orang istri. Dan hari ini, Hari Kamis bukan?. Aku sudah memutuskan Kamis sampai minggu waktu ku untuk Marissa dan selebihnya untuk kamu. Marissa harus mendapatkan waktu yang lebih banyak karena dia sedang hamil."

"Pa, Kita belum membicarakan ini. Bahkan waktu untuk Marissa itu adalah jatahku," kata Nisa panik dan mendekati Arjuna.

"Apa rencana membuat Marissa hamil kamu membicarakannya kepada ku. Aku melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang suami. Sekarang tanya hatimu. Apa rencana membuat Marissa hamil adalah sesuatu yang baik. Jadi sekarang nikmati buah dari rencana mu itu."

"Itu aku lakukan karena aku tahu kamu juga menginginkan anak kandung pa. Aku melakukan ini semata mata untuk kamu. Untuk rumah tangga kita."

Arjuna tertawa sinis mendengar jawaban Nisa. Kemudian dia menggelengkan kepalanya. Sungguh alasan yang tidak masuk akal. Sangat benar, jika dirinya merindukan sosok anak kandung. Tapi dia tidak pernah berpikir untuk mencari wanita lain apalagi mengorbankan Marissa yang sangat dia sayangi selama ini.

"Dan sekarang aku ingin melakukan yang terbaik untuk calon anakku. Hari ini, Marissa akan pindah dari rumah ini. Membiarkan dia dekat dekat dengan kamu. Aku takut kamu membuat rencana baru."

Nisa terkejut. Apa yang dia dengar seperti pisau yang menusuk hatinya. Dia tadi berpikir jika Arjuna akan membawa koper itu ke paviliun. Ternyata Arjuna dan Marissa akan tinggal terpisah dengan dirinya sesuai dengan jatah waktu yang sudah diubah oleh Arjuna.

"Pa,. tidak boleh seperti itu. Kita akan tetap bersama sama. Bila penting. Marissa kembali menempati kamarnya semula."

Nisa berusaha mencegah. Hidup pisah rumah dengan Marissa dan Arjuna membuat Nisa semakin panik. Dia tidak bisa lagi mengawasi suaminya dan Marissa.

"Terlambat Nisa. Dulu kamu yang menginginkan tidak bersedia tinggal satu atap dengan Marissa bukan?. Sekarang aku mengabulkannya. Meskipun terlambat setidaknya itu akan membuat Marissa nyaman menjalani kehamilannya."

"Pa, jangan pa. Aku mohon."

"Jangan menghalangi rencana ku Nisa. Atau apa sebaiknya waktu ku semuanya untuk Marissa saja. Kamu bebas menentukan pilihan. Tenang, kamu tetap akan mendapatkan jaminan keuangan dari aku."

"Tidak pa. Tidak," kata Nisa. Wanita itu sudah mulai menangis. Perkataan Arjuna menyiratkan perceraian Dan Dia tidak ingin bercerai dari Arjuna. Arjuna melihat istrinya itu menangis tapi tidak ada rasa iba di hatinya.

"Dan satu lagi Nisa. Setelah anak itu lahir. Kamu tidak boleh memaksakan kehendak kamu. Selamanya anak itu adalah anak Marissa dan Arjuna."

Nisa semakin tidak dapat membendung air matanya yang semakin deras. Arjuna jelas sangat menyinggung perasaannya. Menyinggung takdirnya yang tidak bisa mengandung. Dan yang lebih menyakitkan lagi. Arjuna tidak lagi berusaha menenangkan dirinya seperti dulu jika dirinya sedang menangis. Nisa benar benar merasakan perubahan sikap Arjuna. Melihat suaminya itu keluar dari kamar, Nisa juga keluar dari kamar. Dia melihat Arjuna meletakkan koper miliknya di ruang tamu dan kemudian melangkah ke arah dapur. Bisa dipastikan jika Arjuna ke paviliun.

"Sudah siap Sa?" tanya Arjuna begitu sampai di paviliun.

"Sudah pa. Tapi sepertinya aku harus membawa buku buku pelajaran ku. Dan buku itu masih di kamar di rumah utama pa."

"Ayo keluar. Nanti biar Bibi Nilam saja yang mengambil buku itu dari kamar," ajak Arjuna. Dia menyeret koper kecil milik Marissa.

"Kamu di depan Sa."

"Papa saja," jawab Marissa. Mereka berjalan beriringan menuju rumah utama.

"Sa, benar kamu mau pindah?" tanya Nisa. Dia sudah menunggu suaminya dan Marissa di ruang tamu.

"Iya ma."

"Sa, tinggal lah kembali di kamar kamu," kata Nisa. Dia sungguh berharap Marissa menuruti permintaannya.

"Tidak ma. Aku tidak bisa. Sepertinya aku butuh ketenangan untuk menjalani kehamilan ini."

"Sa, mama mohon." Marissa menggelengkan kepalanya.

"Ayo Sa," ajak Arjuna. Bibi Nilam sudah membawa buku buku Marissa dan langsung menuju ke Mobil Arjuna. Marissa menganggukkan kepalanya dan menatap Nisa sebentar kemudian melangkah.

"Itu koper siapa pa?" tanya Marissa heran. Setelah dirinya berbalik dia melihat Arjuna menarik dua koper.

"Ini perlengkapan untuk rumah tempat tinggal mu," jawab Arjuna berbohong. Dia tidak mengatakan yang sebenarnya karena Arjuna takut, Marissa membatalkan niatnya jika mengetahui jika dirinya juga akan tinggal di sana dengan jatah waktu yang sudah dia diubah.

1
Siti Yatimatin
sungguh kejam
Desi Eka s
Luar biasa
Nurlaila Hasan
keren lah...
mom's Azril
udah 1 tahun gak ada sambungan ceritanya y thor
Arni
y ini gmn ceritanya kak, jd penasaran
Yayi Maryati
klo aku ko geli yah bacanya ,,,anak adopsi mengandung benih papah angkat,,,kesannya gimana gitu ,,waloupn ini cmn novel ,, tpi yg d BCA BKN cmn kisah cintanya aja ,,tpi alur dari kehidupn sebuah Kel ,,klo seorang ayah yg baik mungkin ga bkln tega menggauli anaknya sendri Yach
Arni: y, emang pasti g tega kan saat menggauli nya lg pd g sadar akibat terobsesi pengen punya keturunan jd otaknya O
total 1 replies
Nunik Juliastuti
Kaka author ini ada lanjutannya ngkk Kaka aq masih penasaran ceritanya 🤗
Mami Al
nungguin nih...., tumben lama bgt up nya Thor....
mom's Azril
Thor knpa GK lanjut LG ceritanya
Arni: da lama nungguin gmn kelanjutannya, da g dilanjut apa
total 1 replies
Hanizar Nana
😂😂😂😂
aku dewe
lanjut
sriefah muliani
mana janji mu thorrrr yang katanya diusahakan selalu up..dah mau sebulan ini belum ada up nya
Sͨυͪɦͣυᷡ ǪḺǝͷḡ✨𝒜⃟ᴺᴮE𝆯⃟🚀HIAT
lama gak up ya Thor 😐
.
lama gak up
Mesra Jenahara
aassyyiikk .cinta mmng terasa indah..😍😍❤️❤️
m. adibai bai
cieee, Arjun berasa muda lagi punya istri abg
Nurbaiti Nurbaiti
bagus
Dewita
koq udH end ya Thor kan blm slsai crita ny
Linda ma: Tetap lanjut kok kak.
total 1 replies
❀∂я🤎Anita🅟M⃟3💋 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
☺seyum2 sendiri bc y
Arjun dah berasa seperti ABG lg krn menikah dengan yg msh ABG
Beruntung km Arjun dpt Marissa yg msh ori😆
Nana Conley loehat
q jd ikutan kasmaran ahaiii😆😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!