WARNING!!
Cerita ini akan ada season 3 nya ya, yang sudah baca selesai season 2 yuk balik lagi baca season ke 3 nya. Semoga suka.
Ayu, gadis manis berkulit kuning Langsat, hidup sebatangkara di sebuah desa. Setiap harinya dia selalu berusaha untuk bisa bertahan hidup.
Hingga hal tak terduga tak pernah di bayangkan oleh Ayu sebelumnya, dia bertemu dan mencintai seorang pria yang ternyata berasal dari sebangsa jin.
Lalu, bagaimana kelanjutan kisahnya?
ikuti terus ceritanya ya😊
Jangan lupa follow akun penulis, beri vote serta like nya ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena_Viraa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31 SEASON 3
" Assalamualaikum!" Putri melepas sepatunya dan berlari menuju Raihan yang duduk di sofa depan tv.
"Hey, anak ayah. Kenapa telat pulangnya?" tanya Raihan, kemudian matanya beralih menatap Layla.
Layla gelagapan.
"Ibu bilang, ada masalah di jalanan tadi. Makanya telat jemput nya, tapi nggak apa-apa kok yah." jawab Putri.
Kemudian Putri pergi menuju kamarnya.
"Memangnya ada masalah apa di jalan tadi?" tanya Raihan pada Layla.
"Em, itu tadi ban motor nya bocor mas. Aku kebelakang dulu ya." jawab Layla, kemudian bergegas meninggalkan Raihan, takut jika Raihan akan memberikan banyak pertanyaan lainnya.
Layla menuju dapur dan mulai melakukan kegiatannya seperti biasanya, memasak untuk makan malam dan rutinitas lainnya.
Aku harus mengatur waktu untuk bertemu dengannya, aku harus berbicara dengannya empat mata. Agar aku tau siapa dia sebenarnya, apa dia benar Arjun ku atau dia adalah Arjun nya mbak Tasya. Aku tidak akan tenang jika terus dilanda kegelisahan, karena nama dan orang yang sama itu. Layla membatin di sela pekerjaannya.
Selesai pekerjaan, Layla mengumpulkan semua macam sampah dan menyimpannya ke dalam tempatnya. Setelah terkumpul semuanya, Layla biasanya akan membawanya keluar dan menggantung nya di tempat khusus untuk meletakkan sampah. Baru setelah itu, petugas kebersihan datang mengambil.
Dua kantong plastik hitam yang berukuran besar telah berada di tangan Layla, dia segera membawanya keluar. Khawatir jika petugas kebersihan akan melewati rumahnya karena terlambat.
Setelah menggantung sampah-sampah tersebut, Layla berniat masuk kembali. Namun, entah kenapa Layla kembali menoleh ke belakang. Dia merasa bahwa ada yang sedang mengawasi dan memperhatikannya.
Setelah menelisik, mata Layla menyipit melihat jauh di depan sana ada seorang pria yang berdiri di balik pohon sambil menatap dirinya, pria tersebut hanya terlihat separuh wajah dan badannya saja karena sebagiannya lagi terhalang oleh pohon tersebut.
Lama Layla berdiri memperhatikan siapa pria tersebut, akhirnya pria itu berbalik dan berlalu setelah hampir beberapa menit saling tatap.
Siapa dia? Layla membatin.
Layla menatap punggung pria itu yang berjalan semakin jauh, karena tak ingin memikirkan hal apapun, Layla pun kembali masuk ke dalam.
.
.
"Mas, aku pergi arisan ya sama teman." ujar Tasya pada Arjun yang menikmati makan malamnya di meja makan.
Arjun melirik sekilas, lalu kembali melanjutkan makannya.
"Kenapa harus malam? masih banyak waktu kan?" jawab Arjun.
"Sesekali mas, sekalian aku makan malam bareng mereka di cafe biasanya."
"Layla juga?" Arjun tiba-tiba tertegun, tanpa komando dia menyebut nama Layla.
"Mbak Layla nggak ikut arisan mas, memangnya kenapa dengan mbak Layla?"
"Nggak, dia kan teman baru yang kamu bilang baik itu. Ya.. siapa tau dia juga ikut." alasan Arjun agar Tasya tak curiga, meski pun tak saling cinta, namun Arjun tak ingin Tasya mengetahui masa lalunya.
"Hmm, apa aku ajak mbak Layla juga ya?"
Arjun diam dan masih menikmati makanannya.
"Ya sudah, aku pergi dulu ya mas?" Tasya berdiri dan mencium sekilas pipi kiri Arjun, sudah menjadi kebiasaan Tasya seperti itu, Arjun pun tak mengerti.
Ting!
Suara notifikasi tanda pesan masuk baru saja berbunyi di ponsel milik Layla, dia yang baru saja selesai makan malam dan membersihkan alat makan yang kotor pun memeriksa nya.
[Mbak, lagi sibuk nggak?]
Isi pesan dari Tasya.
Kemudian jari Layla mulai mengetik balasan pesan tersebut.
[Tidak mbak, ada apa mbak?]
Send.
Dalam hitungan menit pesan itu masuk dan langsung di baca oleh Tasya.
Ting!
Pesan balasan pun kembali masuk.
[Kita jalan yuk mbak, main di cafe. Aku lagi ada arisan sama teman-teman ku yang lain]
Layla terdiam sejenak, bukan kebiasaannya untuk keluar malam.
[Mbak, kok diam? ayolah, sesekali tak masalah]
Pesan baru dari Tasya pun kembali masuk, Layla pun membacanya.
"Kenapa? dari siapa?" tiba-tiba Raihan datang dan menghampiri Layla yang duduk di meja makan.
"Oh, ini dari mbak Tasya. Dia ngajak aku makan di cafe."
"Tasya teman baru mu itu? lalu, apa masalahnya?" tanya Raihan sembari membuka kulkas dan mengeluarkan sekaleng minuman.
"Aku tak biasa keluar malam mas."
"Tak apa lah sesekali, pergi saja."
Setelah berkata seperti itu, Raihan berlalu kembali menuju ruang tv.
Layla kemudian mengangguk dan berdiri, dia berjalan menuju kamarnya dan bersiap.
Gamis adalah pakaian favoritnya, malam ini dia memakai gamis berwarna maroon dan jilbab yang senada. Memoleskan sedikit riasan di wajah dan di bibirnya, setelah siap Layla pun keluar.
"Mas, aku pergi. Tapi cuma sebentar kok." Layla meraih tangan Raihan dan menciumnya.
"Ya sudah, hati-hati." jawab Raihan.
Kali ini Layla tak menggunakan motor nya, karena malam dan tak biasa maka dari itu Layla memutuskan untuk naik taxi.
Alamat yang sebelum nya di kirim melalui pesan oleh Tasya pun Layla tunjukkan pada sang driver taxi tersebut, tak butuh waktu lama, taxi tersebut berhenti di sebuah cafe yang lumayan ramai pengunjungnya.
Setelah membayar dan turun, ternyata Tasya sudah menunggu nya di parkiran cafe tersebut. Tasya melambaikan tangannya dari jauh, agar Layla dapat melihatnya. Layla tersenyum kemudian melangkah mendekati Tasya.
"Maaf ya, lama." ujar Layla.
"Nggak lama kok, yuk masuk!" mereka berdua berjalan beriringan masuk menuju ke dalam cafe.
Di dalam ternyata ada beberapa teman Tasya yang lainnya, namun karena meja cafe yang hanya cukup untuk empat orang, maka Tasya memilih meja kosong yang tak jauh.
"Kita duduk di meja itu aja mbak." ajak Tasya.
"Loh, kenapa nggak gabung aja mbak sama teman mbak yang lain?"
"Meja nya penuh mbak, lagian juga acara arisan nya udah selesai. Paling cuma ngobrol dan makan-makan." jawab Tasya sambil menarik kursi, kemudian duduk.
Layla hanya mengangguk, Layla perhatikan Tasya tak begitu dekat dengan teman arisan nya yang lain. Sangat jelas terlihat bahwa Tasya hanya ingin berbicara banyak pada nya, walau pun teman arisannya yang lain juga mengajaknya mengobrol namun Tasya hanya menanggapinya sekadarnya, meskipun meja mereka tak begitu jauh.
Tasya tersenyum ketika menyadari bahwa Layla terlihat kebingungan.
"Nggak usah bingung gitu mbak, aku dan mereka hanya sebatas teman arisan saja. Aku bersikap begini, karena tau bahwa mereka mau berteman denganku karena mas Arjun adalah seorang CEO di perusahaan ternama di kota ini." tanpa ditanya, Tasya menjelaskan semuanya pada Layla.
"Begitu kah mbak? wah, jadi mereka terlihat begitu baik itu ternyata tidak tulus?"
"Ya... begitulah." jawab Tasya.
Tak lama, seorang pelayan datang memberikan buku menu. Tasya dan layla memilih makanan dan minuman yang ingin mereka pesan.
Jauh di sebrang jalan, seorang pria menatap pergerakan Layla. Sesekali dia tersenyum dan sesekali menangis, perasaan yang di rasa oleh nya antara bahagia dan sedih.
Bahagia karena bisa melihat Layla kembali setelah belasan tahun dan sedih, karena takdir masih saja mengeliling nya. Ternyata, meskipun sudah belasan tahun berlalu pun takdir masih ingin bermain dengan mereka.
.
.
"Daaah, hati-hati di jalan!!" ujar Layla sedikit teriak pada Tasya yang mengantar nya pulang dari cafe tersebut.
Jam di ponsel nya sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat tiga puluh menit, untuk pertama kali nya Layla keluar malam dan pulang sedikit larut.
Layla berjalan dan membuka pagar rumahnya yang tak terkunci, memasukkan kunci cadangan pada lubang pintu karena tentu pintu utama rumahnya sudah terkunci. Saat masuk, ternyata sebagian lampu di beberapa sudut ruangan telah di padamkan.
Dia berjalan menuju ke kamar Putri untuk memastikan apakah anak nya tersebut tidur dengan baik, begitu pintu terbuka Layla mendapati Putri yang duduk di pinggiran ranjang nya sambil menatap kearah jendela.
"Loh, sayang? kenapa belum tidur? ini sudah larut dan besok harus sekolah." Layla berjalan mendekati Putri.
"Ibu? ibu juga belum tidur?" jawab Putri.
"Jawab ibu, kenapa kamu belum tidur?"
"Tadi, Putri terbangun karena merasa haus. Setelah dari dapur untuk minum, Putri kembali ke kamar dan melihat ada om-om yang berdiri di depan jendela itu menatap Putri sambil tersenyum." penjelasan dari anak nya itu membuat Layla terkejut.
Layla melangkah cepat menuju jendela tersebut dan mendekatkan wajahnya, memang benar terlihat seorang pria namun Layla hanya bisa melihat punggungnya saja yang berjalan semakin menjauh kemudian keluar lewat pagar rumahnya.
"Kamu kenal siapa om itu nak?" tanya Layla berbalik.
Putri hanya menggeleng dan mengendikkan bahu nya tanda tidak tahu.
"Ya sudah, sekarang kamu tidur dan segera pejamkan mata." Layla dengan cepat menyelimuti Putri dan segera keluar dari kamar itu.
Dia begitu penasaran siapa pria tersebut, setelah keluar dari rumahnya Layla sedikit berlari menuju pagar. Beruntung pria itu masih terlihat meski sudah sangat jauh, pria itu seperti berjalan dengan santai.
Tanpa pikir panjang, Layla berlari sambil berteriak memanggil pria tersebut. Layla tak perduli bahwa suara teriakkan nya itu akan terdengar oleh tetangga sekomplek nya. Dan Layla tak merasakan ketakutan apapun, yang dia rasakan hanya rasa penasaran pada pria tersebut.
"Heiii, tunggu!!" Layla berteriak.
Pria tersebut mendengar teriakkan itu dan menoleh, dia terkejut karena tak menyangka bahwa Layla akan mengejarnya.
Siapa pria itu? mengapa satpam komplek disini membiarkan pria misterius seperti itu bisa masuk, bahkan dengan lancangnya dia masuk ke dalam perkarangan rumahku. Batin Layla sambil masih berlari-lari kecil.
Sementara pria tersebut masih menunggunya sambil tersenyum.
Saat posisi nya sudah sedikit dekat dengan pria tersebut, Layla begitu terkejut. Namun dia belum bisa berkata, karena nafas yang tersengal akibat berlari.
"Tenang, tenang. Aku tidak akan lari, atur nafas dengan baik." pria tersebut khawatir dengan Layla, dan melangkah mendekati nya.
Namun, Layla memundurkan langkahnya kebelakang demi menjaga jarak dari pria tersebut.
"Kamu? kamu pria tadi siang yang memperhatikan ku di balik pohon yang ada persis di sebrang rumah ku itu bukan? siapa kamu sebenarnya? mengapa tadi kamu juga datang dan menggangu anakku?" ujar Layla saat nafasnya sudah kembali normal.
Pria itu melangkah mendekat lagi, dan dengan cepat meraih tangan Layla kemudian mencium nya dengan lembut. Tapi, karena terkejut Layla reflek menarik tangannya.
"Apa-apaan kamu? lancang sekali! jawab saya! siapa kamu? atau saya akan berteriak nanti, agar semua penghuni komplek ini akan menghajarmu!" Layla marah, dada nya naik turun.
Namun pria tersebut masih tetap tersenyum.
"Aku datang kemari karena merindukanmu, Bu. Setelah belasan tahun lamanya, firasatku mengatakan bahwa takdir kembali datang untuk bermain. Aku hanya ingin lihat, kali ini apa yang akan takdir itu inginkan." ucap pria tersebut.
Layla tertegun, air matanya tiba-tiba menganak sungai dan tanpa komando mengalir begitu saja membasahi wajahnya. Perkataan "Bu" membuat Layla tersadar, siapa yang berdiri di depannya itu.
"B-braspathi? kau kah itu?" bibir Layla bergetar mengucapkan nama itu, perlahan dia melangkah mendekati pria yang ternyata adalah jelmaan dari Braspathi tersebut.
Tangan Layla perlahan terangkat dan menyentuh pipi Braspathi, dia pun menangis tersedu-sedu. Meskipun hanya reinkarnasi dari ayu, namun perasaan yang di miliki Layla sama. Dia begitu merindukan Braspathi, anaknya.
"Hey, Bu. Jangan menangis, aku datang bukan untuk melihatmu menangis." Braspathi mengusap lembut pipi Layla yang sudah basah oleh air mata.
"Sudah begitu lama sekali, nak. Ibu merindukan mu."
"Sekarang aku disini, Bu. Aku sengaja berubah wujud ku menjadi sosok manusia, agar aku bisa mengawasi mu." jawab Arjun.
Karena tinggi nya melebihi tinggi dari Layla, membuat Layla harus mengangkat wajahnya agar bisa menatap mata Braspathi.
"Benarkah? dimana kamu tinggal sekarang? apa kamu memiliki pekerjaan?" tanya Layla.
Braspathi tersenyum. "Tenang Bu, aku punya tempat tinggal. Jangan lupa bahwa anakmu ini bukanlah makhluk biasa, aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan. Aku tak butuh pekerjaan untuk menghasilkan sesuatu yang terbuat dari kertas itu."
Layla tertawa pelan, dia membernarkan bahwa dia melupakan siapa Braspathi itu.
"Sekarang, ibu pulanglah. Sudah sangat larut." pinta Braspathi.
"Tapi.. kita masih bisa bertemu lagi?"
Arjun lagi-lagi tersenyum. "Aku akan selalu ada mulai hari ini, Bu."
Braspathi kembali meraih tangan Layla dan menciumnya, Layla kemudian berbalik dan perlahan melangkah menjauhi Braspathi. Hingga Layla masuk kedalam pagar rumahnya, Braspathi masih berdiri di tempat awalnya.
Bukan keinginannya untuk Layla mengetahui keberadaannya, dia ingin mengawasi Layla dari jauh saja. Namun memang bukan hanya Arjun dan Layla, atau Ayu dan Raja saja, tapi dia juga termasuk dalam permainan takdir.
D M H
jangan lupa like, vote dan koment nya ya.
dan jika suka dengan cerita ini, silahkan follow juga akun author.
Semoga suka dan happy reading 😊
Dedi Thor dengan kisah nya ayu
reyhan jadi terabaikan