Follow Ig me :@Thalindalena
"Jangan sok suci. Kamu sama halnya dengan wanita murahan di luaran sana !" Hina Doni.
Citra tidak menanggapinya,ia memilih bangkit dari tempat dan berjalan ke kamar mandi dengan keadaan tertatih dengan melilitkan selimut di tubuhnya. Tidak lupa sebelum itu ia mengambil pakaiannya yang berserak dilantai.
Apa yang terjadi ? Diantara mereka berdua ?
Penasaran ? Yuk simak terus kisah nya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lena linol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ana
"Karena—"
Ceklek
Belum selesai bicara ada seseorang yang memasuki Apartemen Leon.
"Leon! Kau harus seger—" Ucapan Pria itu terhenti ketika melihat wanita yang duduk berhadapan dengan Leon di meja makan.
"Dokter Ana?"
"Tuan Ferdi?" Ucap Ana, terkejut.
Sedangkan Leon sudah mengusap wajahnya dengan kasar.
"Tuan bagaimana anda bisa masuk kedalam sini?" Tanya Ana kepada Ferdi.
"Tentu saja bisa karena aku mempunyai kunci cadangannya." Ucap Tuan Ferdi apa adanya.
"What! Jadi pintu apartement ini tidak rusak?" Tanya Ana sambil menatap tajam Leon.
"Rusak? Ha ha ha haa. Anda ini ada-ada saja, mana ada Apartement semewah ini pintunya rusak." Ucap Ferdi sambil tergelak.
Sudah ku duga. Batin Ana kesal.
Kemudian tanpa mengatakan apa pun, Ana beranjak dari tempat duduknya dan mengambil Jasnya yang ada di dalam kamar Leon.
"Ana!!! Aku bisa menjelaskannya." Leon mengejar Ana yang sudah akan membuka pintu Apartemant.
"Jelaskan apa! Hah!" Bentak Ana.
"Kau sangat brengsek!" Bentak Ana lagi, kemudian ia segera keluar dari Apartemen tersebut tanpa mendengarkan terikan Leon yang mengejarnya.
"Arghhhhh." Kesal Leon sambil menarik rambutnya Frustasi.
"Sepertinya aku datang tidak tepat waktu." Ucap Ferdi sambil menepuk pundak Leon.
"Sekarang apa yang ingin kau katakan!" Kesal Leon
"Wow! Kau marah kepada Ayahmu?" Tanya Ferdi.
"Sorry." Ucap Leon dengan sesal.
"Kita bicarakan di dalam." Ucap Ferdi. Kemudian kedua pria itu memasuki Aparteman lagi untuk membicarakan sesuatu yang penting.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sedangkan Ana yang sudah di dalam taxi terus mengumpati Leon.
"Dasar brengsek!!" Umpat Ana entah sudah berapa kali.
Tak berselang lama Taxi yang ia naiki sampai di depan rumah megah.
Kemudian Ana turun dari Taxi tersebut dan menyuruh supir Taxi menunggunya sebentar karena ia harus mengambil uang dulu untuk membayar ongkosnya.
"Wah! Hebat ya! Tiga hari tidak pulang kerumah." Ucap Saudari tiri Ana, yang berdiri di ambang pintu sambil melipat kedua tangannya di dada dan menatap Ana dengan sinis.
Ana tidak memperdulikan ucapan Saudari tirinya itu, kemudian ia menuju paviliun dimana ia tinggal selama ini.
Ya! ia di asingkan oleh keluarganya sendiri, karena ia terlahir dari istri kedua sang Ayah.
Dia dianggap pembawa sial!.
Setelah mengambil uang dan menyerahkannya ke Supir Taxi. Ana kembali ke dalam Paviliun yang ada di belakang rumah tersebut.
Paviliun kecil yang menjadi saksi kesendiriannya selama ini.
"Huh." Ana menghembuskan nafas lelahnya, kemudian ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah ia selesai membersihkan diri, ia keluar dari kamar mandi dan di kejutkan dengan kehadiran sang ayah dan ibu tirinya yang tengah menatapnya sinis.
"Ayah, ibu." Lirih Ana.
"Dari mana saja kau!!" Bentak Ibu dan menatap tajam Ana.
"Bu, tanya baik-baik." Tegur sang ayah.
Tapi, istrinya sepertinya tidak mendengarkan perkataannya.
"Aku—"
Plak
"Memalukan!!" Bentak Ibu tirinya sambil menampar pipi Ana.
"Apa salahku?!" Lirih Ana, sambil memegang pipinya yang terasa panas.
Sang Ayah hanya bisa menatap anaknya dengan merasa iba tanpa melalukan apa-apa.
"Karena kau anak ******! Oh. Aku tahu, kau tidak pulang kerumah karena menjual tubuhmu bukan! Sama seperti ibu. ******!" Tuduh Ibu tirinya.
Ana mengepalkan tangannya dengan erat. Ingin rasanya ia merobek mulut ibu tirinya itu.
"Anda boleh menghinaku tapi, jika jangan pernah menghina ibuku!" Sentak Ana tidak terima sambil menunjuk wajah Ibu tirinya .
"Ana!!" Bentak sang ayah.
Dukung terus karya othor ini ya teman-teman😘😘
tuh pRT tar mupeng denger desahan kalian berdua /Facepalm//Facepalm/