Juan Edward Harrison adalah seorang pria yang tak ingin terikat hubungan dengan wanita mana pun, namun ternyata dia memiliki sebuah cinta kepada wanita yang bernama Fanya Anastasia Janson.
Tetapi Fanya lebih memilih menikah dengan pria lain yang bernama Brian Janson Adkinson karena Fanya kecewa kepada Juan
Kekecewaan Fanny tak berhenti sampai disitu, karena dia mendapati suaminya telah berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri.
Bagaimana akhir kisah mereka? Akankah Franklin menerima kenyataan bahwa Fanny telah menikah, atau dia akan merebut Fanny dari Harry?
Lalu bagaimana dengan Fanny? akankah dia bertahan dengan Harry atau lebih memilih bercerai dan menanti sang Casanova.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Navizaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Love you
Happy Reading 😊
Sebulan kemudian.
Franklin membawa sebuket bunga mawar merah di tangannya, dia masuk ke dalam sebuah restoran yang telah dia sewa untuk melamar Fanny secara resmi.
Usia kandungan Fanny sudah memasuki bulan ke tiga, tidak ada rasa mual dan muntah lagi, memang kehamilan nya tidak terlalu merepotkan karena Fanny tidak terlalu mengalami morning Sickness yang akut.
Diapun sudah mulai bekerja di sebuah perusahaan terkenal bernama JV Grup karena Fanny sudah terlalu lama nganggur membuatnya ingin segera bekerja.
Selama menikah dia harus berhenti bekerja dan berdiam diri di rumah, tapi saat ini Fanny tidak ada yang dapat di gantungkan, meskipun dia tengah hamil muda tapi Fanny harus mencari uang untuk kebutuhan dan biaya hidupnya.
Fanny menatap Franklin yang datang ke dalam restoran itu dengan senyuman lebar. Binar di wajahnya menunjukkan aura kebahagiaan.
"Hadiah untukmu Honey, bunga mawar merah yang melambangkan cintaku," Fanny menerima bunga mawar merah itu dengan senyum cantik yang terpancar di wajahnya.
Tidak pernah dia sangka bahwa Franklin akan kembali bersamanya, menyatakan cinta yang dulu sering kali ingin dia dengan dengar dari mulut pria itu.
"Terima kasih," jawab Fanny.
Franklin duduk di depan Fanny sambil memasang wajah cemberut di buat-buat.
"Kenapa wajahmu seperti itu?" Fanny bertanya.
"Apa hanya itu jawaban untukku? tidak ada kata-kata sayang atau My honey, terima kasih sayang, begitu kan seharusnya," Fanny terkekeh mendengar ucapan Franklin.
"Kenapa sekarang jadi semakin manja begitu, dulu kamu itu pria cool dan sok angkuh tapi suka tebar pesona dengan para wanita cantik," jawab Fanny.
"Benarkah? dulu aku memang seperti itu, tapi sekarang aku janji hanya akan tebar pesona padamu saja Honey," ucap Franklin Serius.
Tangan nya menyentuh pipi Fanny yang semakin cubby itu, dulu memang Franklin belum menyadari bahwa dia memiliki cinta yang besar untuk Fanny, sampai tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan nya terhadap wanita itu.
Di saat Fanny sudah memutuskan untuk memilih pria lain barulah Franklin sadar kalau dia ternyata sangat mencintai wanita itu.
"Terima kasih My Bee," ucap Fanny tersenyum.
"Nah aku suka jawaban itu Honey, mulai saat ini kamu harus memanggil ku dengan sebutan My Bee," jawab Frankin membelai pipi Fanny lembut.
Kemudian tangan Franklin beralih menyentuh dan menggenggam kedua tangan Fanny lembut.
"My Honey, malam ini aku ingin mengatakan padamu, tak perlu sibuk mencari seseorang yang menurutmu sempurna, jika di dekatmu sudah ada orang yang bisa membuatmu bahagia. Begitulah bagaimana aku memandangmu dan berharap kau bisa menemaniku sampai akhir waktu. Apakah kamu mau?"
"Sayangku Fanny, cinta itu bukan berarti mencintai seseorang yang sempurna, tapi bagaimana mencintai seseorang yang tidak sempurna dengan cara sempurna. Dan kamu, adalah orang yang membuktikannya padaku. Fannyku Kamu mungkin memegang tanganku untuk sementara waktu, tetapi kamu memegang hatiku selamanya. Aku berjanji tidak akan pernah menyakiti mu, aku berjanji hanya kamulah wanita yang akan menjadi pendamping hidupku, aku berjanji akan menggantikan rasa sakit hatimu dengan segala hal-hal yang indah dalam hidupmu. My Honey Maukah kau mewujudkannya dengan menjadi istriku?"
Mata Fanny tampak berkaca-kaca mendengar semua ucapan Frankin, dia tidak pernah menyangka bahwa akan di lamar untuk yang ke sekian kalinya, tapi malam ini adalah malam yang sangat spesial di antara yang lainnya.
"Aku mau!" hanya itu jawaban Fanny karena dia sudah tidak bisa berkata-kata lagi, air matanya sudah jatuh membasahi wajah cantiknya.
Franklin tersenyum ketika mendengar jawaban dari Fanny, pria itu mengambil sebuah kotak kecil berwarna biru tua kemudian membukanya.
"Itu cincin?" Fanny speechless dan merasa sangat spesial. Franklin mengangguk dan tersenyum.
Pria itu mengambil cincin itu dan langsung memakaikan nya pada jari manis Fanny, jujur Fanny sekarang sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Dia benar-benar merasa terharu dan senang.
"Malam ini adalah malam yang spesial untuk ku, sebentar aku akan memanggil pelayan untuk menyajikan makan malamnya," Franklin menepuk tangan dua kali dan datanglah dua orang pelayan menyajikan beberapa makanan di atas meja.
Salah satu pelayan membawa sebotol colla yang tidak berkarbonasi untuk minuman pelengkapnya, Franklin tidak mau memberikan wine untuk Fanny karena sedang mengandung.
Franklin tampak menuangkan minuman colla itu ke dalam dua gelas dan menyerahkan satu gelas kepada Fanny.
"Untuk merayakan hari di mana aku resmi melamar mu Honey," Frankin mendekat kan gelasnya pada gelas Fanny.
Ting.
Bunyi dua gelas beradu dan mereka segera meminum sedikit minuman colla itu.
"Berjanjah padaku bahwa sayang, jangan pernah menduakan aku," ucap Fanny berusaha menetralkan detak jangtungnya.
"Pasti sayang, aku berjanji, Love you," Franklin mencium bibir merah merekah itu.
Bersambung