NovelToon NovelToon
Perjuangan Cinta

Perjuangan Cinta

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Patahhati / Tamat
Popularitas:46.8k
Nilai: 5
Nama Author: dheselsa

Indah Della Safitri, wanita yang kini tak muda lagi harus melewati hari-harinya bersama penyakit yang baru saja ia ketahui.
Sklerosis Ganda adalah penyakit yang divoniskan oleh Syadam pada Della. Penyakit sklerosis ganda atau multiple sclerosis adalah gangguan saraf pada otak, mata, dan tulang belakang. Multiple sclerosis akan menimbulkan gangguan pada penglihatan dan gerakan tubuh.
Penyakit itu mulai menyapa Della, hingga membuat Della sangat menderita. Perjuangan Della untuk tetap hidup melawan rasa sakit itu juga menjadi poin utama pada cerita ini.
Yang lebih menyakitkan lagi bagi Della panggilan akrabnya yakni dokter yang menangani kondisi tubuhnya adalah mantan kekasih yang selama ini pergi meninggalkan Della. Dan apesnya, Della tak berdaya menghadapi dokter Syadam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dheselsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Jodoh

Aku menatap nanar pada layar ponsel yang kini berada dalam genggaman tanganku. Nama yang tertera pada bagian depan benda pintar itu tak pernah kubayangkan sebelumnya. Sempat kupikir Tuhan telah memberiku jawaban, ternyata belum! mungkin doa yang kupanjatkan belum mempu meyakinkan Junjunganku.

"Kak Della, rindu aku nggak?" suara adikku Nadine dari seberang telepon.

Iya, Nadine lah yang menghubungi aku sepertiga malam ini. Bukan kedua pria bodoh yang sejak tadi kuhaturkan doa untuk keduanya dalam sujudku. Andai secepat itu aku mendapatkan jawaban dari doaku, mungkin hatiku tak kan serumit seperti saat ini.

"Ada apa Nad? Kamu tak tidur?" tanyaku pada si bungsu yang selalu menjadi adikku meski kutahu kami bukan saudara kandung.

"Aku punya berita bagus untukku, aku akan bekerja di sana! ayah serta ibu telah mengijinkan aku untuk tinggal bersamamu Kak."

Kukira ada berita apa, hanya karena hal seperti ini Nadine menghubungiku malam-malam? Gadis yang selalu tampak kecil di mataku itu memang terdengar cukup antusias kala memberitahukan kabar itu padaku.

Nadine mengatakan bahwa dirinya telah diterima kerja oleh perusahaan yang ia lamar beberapa waktu yang lalu. Aku juga enggan membahas mengenai kepindahannya kali ini. Yah ... setidaknya aku memiliki tempat untuk berbagi suka dan duka nantinya. Sejujurnya ada atau tidak adanya Nadine tak merubah apapun pada kehidupanku.

"Baiklah Kakak tunggu kedatanganmu."

"Apa Kakak tak ingin tahu siapa yang membantuku?" tanya Nadine si bungsu dengan tawa renyah dari ujung panggilan ini.

Tentu saja aku tak ingin tahu apa alasan serta siapa orang di balik keputusan Nadine ini. Bagiku, dengan tidak menjamah area pribadi orang lain adalah hal terbaik yang selalu ku lakukan. Tak ingin ikut campur dalam urusan orang memang sifatku. Meski Nadine adalah adikku sendiri, aku cukup tahu diri saja.

"Tidak."

Mungkin karena kesal, Nadine dengan sengaja memutuskan sambungan telepon di antara kami berdua. Toh bocah kecil itu sudah lama mengenal sosok kakak perempuannya. Biarkan saja Nadine merajuk atau tak ingin bicara sekalipun padaku, karena pada kenyataannya inilah aslinya diriku.

Sang malam kini menyisakan sajak kerisauan. Pendar kehidupan yang ingin sekali ku raih masih enggan untuk menunjukkan kehadirannya padaku. Lelah dan gelisah pada jiwa raga ini kian menjamah, hingga merongrong masuk ke dalam sanubari. Aku ini tak ubahnya hanya sebatas penunggu waktu, waktu yang tepat untuk pulang pada Penciptaku.

***

Kabar mengenai kepindahan Nadine telah membuat keributan pada pagi hari di dalam rumahku. Meski bukan tempat tinggal milikku sendiri, namun dengan hasil keringatku lah aku mampu menyewanya dari Budhe Retno.

Pagi ini, Aini Rahman ibu angkatku telah ribut mempermasalah si bungsu Nadine. Segala macam ceramah serta petuah telah diujarkan ayah dan ibuku pada diri ini. Seperti jangan pernah berkelahi dengan Nadine, dan kami juga harus saling menjaga satu sama lain.

"Ayah, kami berdua sudah besar. Dan kami juga tidak berada dalam medan perang Yah!" ucapku sedikit kesal karena kedua orang tua angkatku masih saja membahas hal yang sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan.

Demi menghindari perdebatan yang semakin berlarut, kuputuskan untuk meninggalkan tepat konferensi kami bertiga yakni di meja makan. Aku beranjak dari tempat itu meski sarapan yang telah disediakan oleh ibuku belum habis.

Kedua orang tuaku pasti beranggapan bahwa putri mereka ngambek, biarkan saja. Sejujurnya aku berniat menghubungi Andrian, karena ia belum menghubungi aku sejak kemarin.

Untuk Syadam? Ah jangan tanya manusia jadi-jadian itu. Tidak menghubungi aku adalah hal yang tepat untukku. Karena aku juga malas bila harus berurusan dengannya. Buruknya sifat yang ia miliki membuatku semakin kesulitan menghadapi dokter berkaca mata itu.

Baru saja ku ingin menelepon Andrian, lebih dahulu nama iblis itu tertera dalam layar gawaiku. Atau ia merasa sedang ku bicarakan meski itu dalam hati. Syadam ... kumohon sedikit saja jangan ganggu ketenangan ini!

"Dari mana saja? Kenapa mengabaikan panggilan dariku?"

"Aku baru saja selesai sarapan Dok, apa ada sesuatu yang ingin dibicarakan?" Tentu saja aku berlagak seolah tak pernah ada yang terjadi di antara kami berdua. Aku memang sengaja ingin menjauhi pria ini.

"Sebentar lagi aku sampai! sebelum aku berangkat kerja, aku akan memeriksa tingkat kebodohan dalam otakmu Dell."

Sialan memang! begitu ia mengatakan hal tersebut, Syadam langsung mematikan telepon darinya. Mungkin saja ia takut bila aku akan memaki habis dia. Segala macam sumpah serapah telah siap ku tembakan padanya. Sialnya pria brengsek itu telah kabur dari sasaranku.

"Alah bilang saja kau ingin bertemu dengan aku! dasar serigala berbulu domba," rutukku pada telepon yang kini berada tepat di depan wajahku. Meski kutahu ia tak mungkin mampu mendengar umpatan dariku itu.

Andrian! ah aku lupa padanya. Aku tak ingat pada sosok pria hangat itu. Sudah kuputuskan untuk bertemu dengannya dan membahas arah hubungan kita nantinya. Aku tak ingin menunggu waktu lama lagi, sebelum semuanya berakhir seperti dulu. Kandasnya cintaku waktu itu membuat luka dan trauma untuk memulai kisah baru, namun aku berharap Andrian adalah orang yang tepat untukku.

Semua telah 'ku pasrahkan pada Yang di atas. Atas hidup dan matiku, atas ijin dari-Nya lah aku mampu melangkah dengan kedua kaki ini.

Andrian akan tiba pada sore nanti, dan kesempatan itu tak 'kan kusiasiakan begitu saja. Apalagi ia juga mengatakan di telepon bahwa ada kabar baik yang harus dokter gigi itu sampaikan padaku. Mungkinkah Andrian akan memintaku menjadi makmum cintanya?

Senangnya hati ini! tak lama lagi akan ada titik terang pada hidupku. Saat-saat seperti ini lah yang selalu kutunggu hingga kini. Aku berharap Andrian akan menjadi kisah terakhir dalam takdir ini. Aku juga mendambakan sebuah ketenangan batin yang hingga kini belum mampu kudapatkan.

Aku pernah mendengar tentang jodoh yang sudah disiapkan untuk masing-masing insan oleh Tuhan, salahkah wanita dewasa seperti 'ku ini mendambakan sosok pendamping yang tepat untukku? Berhasilkah ikhtiar yang telah kulakukan ini? Semoga saja Tuhan meridhoi jalan yang kupilih ini.

Pasangan kekasih mana yang tidak menginginkan pernikahan sebagai pelabuhan akhir cintanya? Tentu semua pasangan kekasih menginginkan hal tersebut. Termasuk aku, salah satu wanita yang menunggu datangnya musim semi. Musim semi hangat yang mampu mencairkan dinginnya suasana hati.

Aku begitu larut dalam perjalanan ini, hingga tanpa sadar melewatkan sebuah sosok yang selalu ada untukku. Padamu, wahai pemuja cinta, bila ku pernah sedikit saja menorehkan luka mohon berikan sedikit belas kasih anda padaku. Karena aku sadar telah melewatkan bahu yang selalu ada untukku.

Padamu, wahai tempat pulangku! sosokmu selalu menjadi penyangga atas semua harapan serta impian terbesarku. Dalam derai tetap saja

Kamu menjadi sasaran penyudahnya. Pada bahu kokoh yang selalu menampung isakku dahulu, sungguh ku ungkap bukan sekadar hasrat. Sungguh yang 'ku inginkan adalah kamu.

...****...

Pada detik-detik akhir episode ini aku semakin takut. Takut kehilangan kalian 🤭

Dua paragraf terakhir bahkan tanpa sadar kutujukan pada siapa 🤣

1
Ersa
Luar biasa
Ридван Касид 💞
bagus akak ceritanya
Nurhartiningsih
sukaaaa sm yg melow2
Tio
b
Ivanka Anata
puitis bgt, cukup berat kalau tidak suka mapel bahasa jaman sekolah dulu, untungnya sy suja bahasa 😁😁😁😁
dheselsa: Kamsia, Kak.
Ikuti semua novel saya ya
total 1 replies
Hasni Jaya Almahdaly
kuu menangis membayangkan betapa sakitnya hati ku padamuu
Hasni Jaya Almahdaly
masih menerawang jauh dii ujung timur 🤔🙄😅😅

akuuu datang TOOR 🥰
semangat 💪🏻
Amin Tohari
tuh kan sultan syahdam🤣
Amin Tohari
muke gile si syadam
Amin Tohari
wih dokter opo sultan ...
Amin Tohari
tersentuh oleh bang syat,🤣
Amin Tohari
thor apa itu anaknya shadam??
Amin Tohari
aih si shadam😈
Jess ♛⃝꙰𓆊
next
𝕸𝖆𝖘𝖎𝖙𝖆𝖍 𝕬𝖟𝖟𝖆𝖍𝖗𝖆
semangat Della, g usah ragu2 lanjutkan aja, toh selama ini terbukti syadam masih terus menunggu kamu
Risfa
mangat Della 💪
🏡⃟ªʸNOLAN👀༄⃞⃟⚡¢ᖱ'D⃤ ̐Kᵝ⃟ᴸ
baper akut😎😎😎😎
𝕸𝖆𝖘𝖎𝖙𝖆𝖍 𝕬𝖟𝖟𝖆𝖍𝖗𝖆
emang bajunya kamu taruh dimana Della 😂😂😂 apa jatuh dan basah 😂😂😂
𝕸𝖆𝖘𝖎𝖙𝖆𝖍 𝕬𝖟𝖟𝖆𝖍𝖗𝖆
jatuh cinta untuk ke 2 kali dengan pria yg sama tp dalam rentang waktu yg berbeda 🥰🥰🥰
Risfa
lahh, bajunya ketinggalan dimanaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!