NovelToon NovelToon
Perjodohan Berbalut Dendam

Perjodohan Berbalut Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ana L.

Demi melunasi hutang ayahnya, Naura Aulia Zafira terpaksa menikah dengan Dewa Angkasa Buwana, penguasa mafia yang kejam dan berkuasa. Pernikahan ini bukan atas dasar cinta, melainkan balas dendam masa lalu yang dipendam Dewa pada keluarga Naura.

Di balik kemewahan dan kekuasaan, Naura harus bertahan hidup di tengah kebencian, bahaya, dan sikap dingin suaminya. Namun, ketegaran dan kelembutan Naura perlahan mengguncang hati Dewa, membuatnya terjebak antara dendam kesumat atau cinta yang tumbuh diam-diam.

Saat kebencian mulai memudar dan cinta bersemi, masa lalu kelam kembali mengancam nyawa mereka. Akankah dendam mengakhiri segalanya, atau cinta mampu mengubah takdir dan membawa mereka pada kebahagiaan abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Darah di Bawah Langit Gelap

Malam turun membawa hujan lebat yang membasahi seluruh kawasan pelabuhan internasional. Suara guruh bergemuruh bersahutan dengan suara ombak yang menghantam dinding pantai dengan ganas, seolah alam pun ikut merasakan ketegangan yang menggantung di udara. Sesuai prediksi Rian, Kelompok Arkan tidak datang untuk bernegosiasi. Mereka datang dengan kekuatan penuh, ratusan pasukan bersenjata lengkap yang menyusup diam-diam lewat kapal kargo asing, membawa senjata canggih yang bahkan jarang dimiliki oleh pasukan militer sekalipun. Mereka tidak hanya ingin merebut kembali pelabuhan ini, mereka ingin menghancurkan nama Buwana hingga ke akar-akarnya, membuktikan bahwa tidak ada yang boleh berani melawan kekuasaan mereka.

Di dalam gudang penyimpanan utama yang luas dan remang-remang, suasana berubah menjadi medan pertempuran yang mencekam. Suara tembakan berdentang memekakkan telinga, bercampur dengan teriakan, benturan benda keras, dan aroma mesiu yang tajam menusuk hidung. Pasukan elit pimpinan Rian bertarung mati-matian, namun kekuatan musuh terlalu besar dan persenjataan mereka jauh lebih unggul. Perlahan namun pasti, pertahanan pasukan Buwana mulai terdesak, mundur selangkah demi selangkah, terpojok menuju tepi gudang yang berbahaya.

Di tengah kekacauan itu, Dewa Angkasa Buwana berdiri di garis paling depan. Wajahnya yang biasanya dingin dan penuh kendali kini berubah menjadi topeng kemarahan yang mengerikan. Di tangannya, dua buah pistol berpeluru berat meledak berulang kali, setiap tembakannya tak pernah meleset satu inci pun. Ia bergerak cepat, lincah namun mematikan, menembak, menendang, dan merobohkan siapa saja yang berani mendekat. Aura kejam dan haus darahnya meluap habis malam itu. Bagi musuh, Dewa bukan lagi manusia, melainkan iblis penjelmaan yang menebas nyawa dengan tangan kosong jika perlu.

"Jangan beri mereka celah! Pertahankan posisi!" teriak Dewa dengan suara menggelegar di tengah bisingnya pertempuran, namun suaranya tetap terdengar jelas oleh anak buahnya. Darah musuh sudah membasahi seragam hitamnya, membasahi wajah dan tangannya, namun ia tak peduli. Matanya terus mengawasi satu titik saja: Naura.

Naura berada beberapa meter di belakangnya, berusaha mengamankan data penting dan dokumen kepemilikan yang tidak boleh jatuh ke tangan musuh. Ia tidak diam saja. Dengan ketenangan yang luar biasa di tengah bahaya, wanita itu bekerja cepat, mengatur pasukan cadangan, dan mengarahkan perlindungan ke titik-titik lemah, persis seperti strategi yang ia susun. Namun, Naura lupa satu hal: musuh mereka tidak bermain adil. Mereka tahu siapa kelemahan terbesar Dewa.

Seorang pemimpin pasukan Arkan, pria berotot besar dengan bekas luka melintang di wajahnya bernama Karim, melihat celah itu. Sambil terus menembak ke arah Dewa untuk mengalihkan perhatian, ia memberi kode pada dua anak buahnya yang bergerak mengitari gudang lewat jalan rahasia jalan yang seharusnya sudah terkunci, namun ternyata musuh sudah mengetahui segalanya.

"Naura! Pergi dari sana! Sekarang!" teriak Dewa tiba-tiba, nalurinya yang tajam menangkap gerakan berbahaya itu. Matanya membelalak ngeri saat melihat dua sosok itu mengacungkan senjata panjang tepat ke arah istrinya. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia ingin berlari, ingin melompat menghadang peluru itu, namun ia terhalang belasan musuh yang menyerang bertubi-tubi.

"Dewa! Dokumennya hampir selesai!" jawab Naura, yang baru menyadari bahaya itu saat terlambat.

Dua letusan keras terdengar hampir bersamaan. Naura tersentak hebat, tubuhnya terangkat sedikit oleh kekuatan hantaman peluru itu sebelum terhempas keras ke lantai beton yang dingin dan basah. Teriakan panjang dan menyayat hati meluncur dari mulutnya saat rasa sakit yang luar biasa menyeruak di bahu kiri dan perut bagian bawahnya. Darah segar seketika membasahi pakaiannya, menyebar cepat bercampur dengan genangan air hujan yang masuk lewat celah atap.

"NAURA!!!"

Terakan Dewa mengguncang seluruh ruangan, penuh keputusasaan, ketakutan, dan amarah yang meledak tak terkendali. Suaranya bukan lagi suara manusia, melainkan raungan seekor binatang buas yang baru saja terluka parah di bagian paling vital tubuhnya. Pandangannya seketika memerah. Segala strategi, pertahanan, dan akal sehatnya lenyap seketika, digantikan oleh satu tujuan saja: membunuh semua yang ada di depannya.

Dewa bergerak secepat kilat, menerobos tembakan musuh seolah peluru-peluru itu hanyalah butiran debu. Ia menabrak, menendang, dan menembak siapa saja yang menghalangi jalannya dengan kekuatan yang jauh di luar batas manusia biasa. Wajahnya mengerikan, matanya melotot penuh dendam yang tak terukur, dan rahangnya mengerat hingga giginya bergemeretak. Ia sampai di sisi Naura dalam hitungan detik, berlutut kasar di samping tubuh istrinya yang mulai pucat dan menggigil hebat.

"Tidak... Tidak... Naura, lihat aku! Lihat aku, Sayang!" Dewa bergetar hebat saat tangannya menyentuh luka yang menganga itu, darah hangat membasahi telapak tangannya. Rasa takut kehilangan yang selama ini selalu ia pendam, yang selalu ia lawan dengan kekuasaan dan kekuatan, kini meledak habis dan membuatnya hampir gila. "Siapa yang berani melakukan ini? Siapa yang berani menyakiti istriku?! Aku akan membunuh mereka! Aku akan merobek tubuh mereka satu per satu! Aku akan pastikan mereka mati meratapi kematian yang paling mengerikan!"

Naura menatap suaminya dengan pandangan yang mulai kabur, napasnya pendek dan berat. Ia merasakan nyawanya perlahan menyusut, namun ia masih berusaha tersenyum lemah saat melihat Dewa yang tampak begitu hancur dan marah.

"Dewa... aku... aku baik-baik saja..." bisik Naura serak, berusaha mengangkat tangannya yang gemetar menyentuh pipi suaminya yang penuh percikan darah musuh. "Jangan... jangan marah... selesaikan... dokumennya..."

"Persetan dengan dokumen! Persetan dengan pelabuhan! Persetan dengan segalanya!" raung Dewa, memeluk tubuh Naura yang mulai dingin itu erat sekali, berusaha menahan darah yang terus mengalir keluar dengan jas hitamnya sendiri. Matanya kini menatap tajam ke arah Karim dan pasukannya yang kini maju perlahan, tersenyum menang melihat kehancuran pemimpin Buwana itu. "Kalian dengar aku?! Kalian baru saja membangunkan iblis yang sudah tidur! Kalian baru saja menyentuh satu-satunya hal yang paling kusayang di dunia ini! Aku bersumpah demi nyawaku... aku akan jadikan hidup kalian neraka yang jauh lebih buruk daripada kematian!"

Karim tertawa keras, tidak gentar sedikit pun melihat ancaman itu. Ia mengangkat tangannya, memberi isyarat agar pasukannya semakin maju dan mengepung mereka.

"Kau hebat sekali, Tuan Buwana. Kau kuat, kau kejam, kau ditakuti semua orang... tapi kau punya satu kelemahan besar: wanita ini. Dan malam ini, kelemahan itulah yang akan menjadi penyebab kehancuranmu. Arkan mengirim pesan: wilayah ini milik kami. Dan kau... kau dan segala kebanggaanmu, akan terkubur di sini bersama mayat istrimu."

Rian yang terluka di lengan dan kakinya berusaha mendekat membawa sisa pasukannya, namun tembakan bertubi-tubi membuatnya terpojok tak bisa bergerak. Sera yang baru tiba dengan bantuan terhenti saat melihat jumlah musuh yang ternyata tiga kali lipat lebih banyak dari perkiraan awal. Mereka kalah jumlah, kalah senjata, dan kini pemimpin mereka terhancur karena wanita yang dicintainya terluka parah.

Dewa mengerti situasinya. Ia melihat sekeliling, melihat anak buahnya yang jatuh satu per satu, melihat musuh yang mendekat dengan senjata siap tembak, dan melihat Naura yang di pelukannya semakin lemah dan hampir tak sadarkan diri. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Dewa Angkasa Buwana merasa kalah. Bukan karena kekuatannya habis, tapi karena harga kekalahan ini terlalu mahal: nyawa wanita yang menjadi seluruh hidupnya.

"Rian! Sera! Mundur!" teriak Dewa dengan suara parau, matanya masih memerah namun kini penuh keputusasaan dan amarah yang tertahan. Ia mengangkat Naura ke dalam gendongannya dengan hati-hati namun secepat kilat, berbalik membelakangi musuh dan bergerak mundur menuju jalan keluar darurat yang sempit. "Bawa semua yang bisa diselamatkan! Kita pergi dari sini sekarang juga!"

"Tuan Dewa! Tapi pelabuhannya... kita menyerah?" tanya Rian tak percaya, darah mengalir dari luka di dahinya.

"BIARKAN SAJA! BIARKAN MEREKA AMBIL SEMUANYA!" teriak Dewa sambil berlari di tengah hujan deras, tubuhnya gemetar menahan berat badan Naura dan rasa sakit hatinya yang tak terlukiskan. "Jika dia mati... jika Naura meninggal... aku akan bakar seluruh kota ini sampai rata dengan tanah, termasuk pelabuhan sialan itu! Kalian belum tahu apa itu kemarahan Dewa Buwana! Malam ini mereka menang... tapi ingat kata-kataku. Setetes darah yang tumpah dari tubuh istriku akan kubalas dengan lautan darah mereka! Ini belum selesai! Baru saja dimulai!"

Di belakang mereka, sorak sorai kemenangan pasukan Arkan bergema di seluruh gudang. Bendera Buwana diturunkan dengan kasar dan dibakar, diganti dengan lambang kelompok Arkan. Musuh menang telak malam itu. Mereka merebut aset, dokumen, wilayah, dan membiarkan pasukan Buwana lari membawa luka yang dalam, baik fisik maupun hati.

Di dalam mobil yang melaju kencang menuju rumah sakit pribadi dengan sirene menyala nyaring, Dewa memeluk Naura yang sudah tidak sadarkan diri, darah terus merembes membasahi kursi dan tangannya. Wajahnya kaku, matanya kosong namun berkilat dingin dan mematikan. Tak ada lagi ekspresi, tak ada lagi kata-kata. Hanya ada amarah yang membara perlahan, api dendam yang akan menjadi jauh lebih besar dan menghancurkan daripada apa pun yang pernah ada sebelumnya.

"Bertahanlah, Naura... Kumohon bertahanlah..." bisik Dewa pelan di telinga istrinya, suaranya bergetar namun matanya menatap lurus ke depan penuh tekad mengerikan.

1
Rara M.
wow 💗🎈👻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!