Siham tahu suaminya tidak pernah mencintainya. Dia tahu ada nama wanita lain yang masih bertahta di hati Dewangga. Namun, menemukan kotak berisi sajak-sajak cinta Dewangga untuk masa lalunya adalah luka yang tak bisa lagi ia toleransi. Siham memutuskan untuk pergi, tapi tidak dengan tangan kosong. Dia meninggalkan satu sajak luka setiap harinya sebagai 'hadiah' perpisahan. Saat Dewangga akhirnya mulai merasa kehilangan, Siham sudah menjadi puisi yang tak sanggup lagi ia baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA
Setelah ketegangan di meja makan pagi itu, suasana rumah kembali pada setelan pabriknya: sunyi, dingin, dan mencekik. Dewangga, sang CEO yang selalu memegang kendali penuh atas segala situasi, pergi meninggalkan rumah tanpa sepatah kata pun. Ia bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arah Siham, seolah istrinya hanyalah bagian dari furnitur rumah yang tidak perlu diberi salam pamit. Suara deru mesin mobil mewahnya yang menjauh menjadi penanda bahwa peran Siham sebagai "pelayan pagi" telah usai untuk sementara.
Siham menghela napas panjang, sebuah embusan napas yang terasa berat dan panas. Ia menyandarkan punggungnya pada lemari dapur yang dingin, membiarkan suhu porselen itu meresap ke kulitnya, mencoba mendinginkan emosi yang baru saja meledak di meja makan. Pagi ini, ia tidak langsung berangkat ke kantor penerbitan. Sebagai editor senior, ia memiliki kemewahan untuk bekerja dari rumah jika ada naskah yang memerlukan konsentrasi tinggi. Namun, pikirannya sama sekali tidak tertuju pada draf penulis mana pun.
Pikirannya tersangkut pada satu referensi buku sastra klasik yang ia butuhkan untuk mematangkan karya rahasianya karya yang ia tulis dengan darah dan air mata di bawah nama pena Aksara Renjana.
Buku itu adalah sebuah esai mendalam tentang filosofi penderitaan dan seni mencintai. Siham yakin, buku referensi seberat dan selangka itu hanya ada di satu tempat di rumah ini: perpustakaan pribadi Dewangga.
Selama lima tahun pernikahan, ruangan itu adalah zona terlarang bagi Siham. Dewangga telah memberikan instruksi tegas, hampir seperti sebuah dekrit, sejak hari pertama mereka menginjakkan kaki di rumah ini: "Jangan pernah masuk ke ruang kerjaku tanpa izin, apalagi menyentuh rak bukuku. Ada hal-hal yang tidak perlu kau ketahui di sana." Dulu, Siham berpikir itu karena Dewangga ingin menjaga kerahasiaan dokumen perusahaan atau data-data korporat yang sensitif. Namun hari ini, rasa haus akan kata-kata dan kebutuhan akan referensi untuk sajak lukanya mengalahkan rasa takutnya pada aturan sang suami.
Dengan langkah ragu dan jantung yang berdegup seperti dentuman genderang perang, Siham menaiki tangga menuju lantai dua. Ia berdiri di depan pintu kayu mahoni yang berat itu. Tangannya gemetar saat memutar knop pintu. Klik. Pintu terbuka tanpa suara, seolah menyambut pengkhianatan kecil yang sedang dilakukan Siham.
Begitu melangkah masuk, Siham tertegun. Ia kaget luar biasa. Perpustakaan mini itu dirancang sangat estetik dengan pencahayaan warm white yang lembut, memberikan kesan magis pada setiap butiran debu yang menari di bawah cahaya matahari yang menerobos jendela kecil di sudut atas. Rak buku kayu jati menjulang tinggi hingga ke langit-langit, dipenuhi ribuan jilid buku yang tertata sangat rapi berdasarkan kategori persis seperti cara kerja otak Dewangga yang terorganisir. Di sudut ruangan, ada sofa kulit berwarna cokelat tua dengan lampu baca yang melengkung indah. Aroma di ruangan ini adalah campuran antara kertas lama, kayu jati, dan sedikit wangi maskulin Dewangga yang selalu tertinggal di sana.
"Pantas saja Mas Dewangga selalu betah di sini," bisik Siham pedih, suaranya menggantung di udara yang sunyi. "Dia melarangku masuk mungkin karena ia takut aku akan merasa nyaman. Takut jika aku merasa memiliki tempat untuk berbagi keheningan bersamanya di ruangan ini."
Siham mulai menelusuri deretan buku dengan jemari yang masih gemetar. Matanya yang jeli sebagai editor segera menemukan buku yang ia cari di rak bagian tengah. Ia mengambilnya, lalu dengan sedikit keberanian yang tersisa, ia duduk di kursi kerja Dewangga kursi besar yang biasanya terlihat sangat berwibawa dan tak tersentuh.
Selama satu jam, Siham tenggelam dalam bacaan itu. Ia mencatat beberapa poin penting di tabletnya, mematangkan diksi untuk sajak-sajak lukanya. Ia merasa seolah sedang mencuri sedikit kecerdasan suaminya dari ruangan ini. Namun, ketenangan itu terusik saat ponselnya bergetar di saku blazer-nya. Sebuah telepon dari kantor.
"Halo, Bu Siham? Tim kreatif ingin membahas revisi naskah utama sore ini sebelum kita kirim ke percetakan. Bisa ke kantor sekarang? Ada beberapa bagian yang dianggap terlalu 'gelap' oleh tim pemasaran," suara asistennya terdengar mendesak.
"Iya, saya segera ke sana. Beri saya waktu tiga puluh menit," jawab Siham tenang, mencoba mengembalikan wibawa editor senior dalam suaranya.
Ia segera bangkit dan menutup bukunya. Dengan tergesa, ia mencoba mengembalikan buku itu ke tempat asalnya di rak yang cukup tinggi. Namun, saat ia mencoba menyelipkan buku itu ke sela-sela yang sempit, ada sesuatu yang mengganjal di bagian belakang rak. Buku itu tidak bisa masuk dengan sempurna.
Siham mengerutkan kening. Bukan karena rasa penasaran yang berlebihan, tapi lebih karena instingnya sebagai editor yang sangat tidak suka melihat sesuatu yang tidak rapi atau tidak simetris. Ia memutuskan untuk mengambil dua buku tebal di samping buku tersebut untuk melihat apa yang sebenarnya mengganjal di balik rak itu.
Tiba-tiba, sebuah kotak bludru berwarna merah marun yang cukup besar terjatuh sedikit ke depan. Siham menangkapnya dengan refleks yang cepat, meski tangannya kini gemetar lebih hebat dari sebelumnya. Kotak itu tampak sangat premium, permukaannya terasa lembut dan mewah di bawah jemarinya, sangat kontras dengan tumpukan buku sastra yang sedikit berdebu di sekelilingnya.
Jantung Siham seolah berhenti berdetak saat matanya menangkap sebuah inisial yang terukir indah dengan benang emas di sudut kotak tersebut: D & A.
Darah di tubuh Siham seolah membeku. Pikirannya langsung melesat ke satu nama yang pernah ia dengar dalam bisik-bisik rahasia di keluarga besar Dewangga dulu. Nama wanita yang konon adalah satu-satunya orang yang pernah membuat Dewangga benar-benar hidup, sekaligus wanita yang akhirnya menghancurkan hati pria itu hingga menjadi sedingin es: Agata.
"Agata..." lirih Siham, namanya terasa pahit di lidah.
Siham menoleh ke sekeliling dengan panik, memastikan posisinya masih aman. Ia tahu ruangan ini tidak memiliki CCTV karena Dewangga sangat menjunjung tinggi privasi pribadinya. Dengan tangan yang semakin dingin dan gemetar, Siham membuka kotak bludru itu. Ia tidak bermaksud lancang, ia hanya ingin membuktikan bahwa kecurigaannya selama lima tahun ini salah. Ia ingin membuktikan bahwa tidak ada wanita lain yang masih menghuni kepala suaminya.
Deg.
Begitu tutup kotak itu terbuka, dunia Siham seolah runtuh seketika. Hancur berkeping-keping.
Di dalam kotak itu, bukan perhiasan mahal atau emas permata yang ia temukan, melainkan tumpukan kertas yang sudah sedikit menguning namun dirawat dengan sangat baik, seolah-olah kertas-kertas itu adalah benda paling berharga di dunia ini. Di bagian paling atas, ada sebuah tulisan tangan yang sangat ia kenal tulisan tangan Dewangga yang tegas, namun kali ini terlihat jauh lebih lembut dan penuh perasaan.
Di sana tertulis sebuah judul: "Sajak Cinta untuk Agata".
Air mata yang sejak pagi tadi ia tahan sekuat tenaga di meja makan, akhirnya luruh tanpa bisa dicegah. Siham menyentuh kertas itu dengan ujung jarinya.
Setiap baris kalimat di dalamnya adalah pujian yang luar biasa puitis, kerinduan yang membakar, dan pernyataan cinta yang begitu dalam.
"Agata, kamu adalah rima dalam setiap napasku, satu-satunya alasan mengapa aku ingin pulang. Tanpamu, dunia hanyalah angka-angka yang mati..."
Siham membaca baris itu dan merasa jantungnya diremas kuat. Ini adalah jenis kata-kata yang tidak pernah sekali pun Dewangga ucapkan padanya selama lima tahun pernikahan mereka. Selama ini, Dewangga hanya memberinya perintah, kritik, dan instruksi dingin. Namun untuk wanita ini, Dewangga bertransformasi menjadi seorang penyair yang begitu hangat.
Siham baru saja menemukan bukti nyata bahwa suaminya memang tidak pernah benar-benar hadir dalam pernikahan mereka. Ia tahu ada nama wanita lain yang bertahta di hati Dewangga, tapi melihat sajak-sajak ini... ini adalah luka yang tak bisa lagi ia toleransi. Semua pengabdiannya selama lima tahun, semua nasi goreng yang ia siapkan setiap pagi, semua kebohongannya di depan Ayahnya agar suaminya terlihat hebat, semuanya terasa sia-sia dan hina di hadapan kotak bludru ini.
Laki-laki yang setiap pagi ia suapi dengan pelayanan terbaik, ternyata adalah seorang penyair cinta untuk wanita lain. Sementara itu, karya Siham sendiri sebagai Aksara Renjana justru dihina sebagai buku sampah oleh bibir yang sama yang menuliskan sajak cinta untuk Agata.
Siham menutup kotak itu dengan kasar. Dadanya sesak, napasnya tersengal seolah oksigen di ruangan itu baru saja habis. Luka ini sudah sampai ke sumsum tulang. Ia menyadari satu hal yang paling menyakitkan: dia tidak akan pernah bisa menang melawan sebuah kenangan yang dirawat dengan begitu rapi di dalam kotak bludru.
"Cukup, Mas. Cukup," bisik Siham di tengah isak tangisnya yang tertahan. Ia merasa seperti seorang editor yang baru saja menemukan plot twist paling buruk dalam naskah hidupnya sendiri.
Siham memutuskan untuk pergi. Bukan sekarang, tapi segera. Ia tidak akan lagi menjadi editor untuk hidup Dewangga yang palsu. Ia tidak akan lagi memoles citra pernikahan mereka. Namun, seperti yang ia tulis di draf novelnya, ia tidak akan pergi dengan tangan kosong. Ia akan membalas setiap bait sajak cinta Dewangga untuk Agata dengan satu sajak luka darinya setiap hari, diselipkan di tempat-tempat yang tak terduga, sampai Dewangga sadar bahwa dia telah kehilangan satu-satunya wanita yang mau bertahan di sisinya saat ia sedang hancur.
Siham mengembalikan kotak itu ke tempatnya semula dengan hati yang sudah mati rasa. Ia merapikan kembali buku-buku di rak itu seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Ia menyeka air matanya, memoles kembali wajahnya dengan bedak tipis agar tampak normal.
Saat ia melangkah keluar dari ruangan itu dan menutup pintunya perlahan, Siham bukan lagi istri penurut yang bisa diancam untuk ke psikiater. Ia telah berubah menjadi seorang penulis yang siap memberikan ending paling tragis untuk pernikahannya sendiri. Ia teringat instruksi Dewangga pagi tadi tentang makan malam dengan mertuanya sore ini.
"Lihat saja nanti sore, Mas," batin Siham dengan tatapan kosong yang tajam. "Aku akan menjadi editor paling berbakat untuk peran menantu idaman terakhirku, sebelum seluruh sajak lukaku menghancurkan dunia yang kamu banggakan."
gk bhgia gk samawa lah.
ortu dewangga kl mau nikah in anak biar move on dulu biar gk ngrusak orang lain.
yg laki blm move on yg wanita kecintaan dah Wes.
2th sdh cukup lah. kcuali pingin jd orang kaya walau sakit ttp bertahan. enak ortumu sdh mati semua, km sendiri an sakit tinggal nunggu Hari mati.
hidup sekali di sia sia kan. kl wanita Pinter mah ogah lah, pasti milih cepat cerai Dan berobat biar hidup lbih berguna. gk bucinin suami yg jelas jelas mncintai wanita lain.
kalaupun gk bisa ninggalin warisan hrse gk ninggalin penderitaan. ortu siham ki ortu gagal. demi mantu kaya Raya dng Alasan balas budi.
kenapa di buat semenderita itu thor