Di dunia bernama Archeon, sihir bukan sekadar kekuatan.
Sihir adalah hukum.
Langit dipenuhi lingkaran rune raksasa yang terus berputar di atas awan. Laut bercahaya biru di malam hari karena mana mengalir seperti darah di bumi. Dan setiap manusia lahir dengan “Sigil” — tanda sihir yang menentukan takdir mereka.
Ada yang lahir sebagai penyihir api.
Ada yang mengendalikan badai.
Ada yang mampu berbicara dengan roh.
Namun…
Ada satu Sigil yang dianggap kutukan.
Sigil tanpa elemen.
Sigil kosong.
Dan pemiliknya…
Biasanya mati muda
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenken77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Setahun telah berlalu sejak Kael Ravenhart terjun ke dalam kegelapan Shadowspire.
Di bawah bimbingan kejam Vorgas dan bisikan manipulatif Umbra, pemuda kurus dari Eldravale itu telah bertransformasi. Tubuhnya kini tegap dan keras bagai baja obsidian. Jubah coklat lusuhnya telah digantikan oleh Void Raiment—jubah yang ditenun dari serat bayangan yang terus bergerak, seolah-olah ia mengenakan potongan malam itu sendiri.
Namun, perubahan fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang terjadi di dalam jiwanya. Retakan pada Sigil Void di tangannya kini berjumlah empat. Empat garis merah yang berdenyut seperti pembuluh darah dewa yang marah.
"Sudah waktunya, Kael," suara Vorgas bergema di aula latihan yang hancur berantakan. "Katedral Cahaya telah menggerakkan pasukan mereka. Mereka mulai membakar desa-desa di perbatasan Utara yang dianggap menyimpan 'simpatisan kegelapan'. Tapi kita tahu tujuan sebenarnya."
Kael berdiri di tengah reruntuhan patung batu, tangannya memegang sebuah pedang yang tidak memiliki bilah fisik. Hanya sebuah gagang dari tulang naga hitam, dengan bilah yang terbentuk dari distorsi udara yang gelap.
"Mereka memancingku keluar," ucap Kael datar. Suaranya kini memiliki resonansi yang aneh, seolah-olah ada dua orang yang berbicara secara bersamaan.
"Dan kau akan memberi mereka apa yang mereka inginkan," Lady Malice muncul dari balik tirai bayangan, membawa sebuah gulungan perkamen kulit manusia. "Pasukan Solaria, yang dipimpin oleh salah satu komandan Holy Wardens muda, telah menduduki Fort Aethelgard. Mereka melakukan pembersihan besar-besaran."
Mendengar nama Aethelgard, mata merah Kael berkilat. Itu adalah benteng yang hanya berjarak satu hari perjalanan dari Eldravale.
"Siapa komandannya?" tanya Kael.
"Seorang ksatria wanita berbakat. Mereka memanggilnya 'Sang Pelopor Api Suci'. Liora Ashveil."
Suasana di ruangan itu mendadak mendingin. Embun beku berwarna hitam mulai menutupi dinding. Kael tidak mengatakan sepatah kata pun, namun tekanan mana yang keluar dari tubuhnya membuat lantai obsidian di bawah kakinya retak berkeping-keping.
"Jangan biarkan masa lalu menumpulkan pedangmu, Kael," peringat Vorgas. "Dia bukan lagi gadis yang memberimu roti saat kau lapar. Dia adalah pedang yang diasah khusus untuk menusuk jantungmu."
Kael berbalik, jubah bayangannya berkibar. "Aku tidak akan membunuhnya dengan cepat. Aku ingin dia melihat apa yang telah dunia ini ciptakan."
Benteng Aethelgard yang biasanya megah kini tampak seperti mercusuar cahaya di tengah lautan kegelapan. Ribuan obor suci dipasang di sekeliling tembok, memancarkan aura Anti-Abyssal yang kuat untuk mencegah agen-agen Shadowspire mendekat.
Di dalam benteng, Liora Ashveil berdiri di atas menara pengintai. Zirah peraknya memantulkan cahaya bulan, dihiasi dengan jubah putih bersih bersimbol matahari emas. Di pinggangnya, sebuah busur besar yang terbuat dari kristal cahaya berdenyut dengan energi murni.
"Komandan, seluruh penduduk desa yang dicurigai telah dikumpulkan di lapangan bawah," lapor seorang ksatria. "Apa perintah Anda?"
Liora memejamkan mata. Setahun di bawah pelatihan Katedral Cahaya telah mengubahnya. Matanya yang dulu penuh simpati kini tampak dingin dan teguh. Namun, di dalam hatinya, ia masih dihantui oleh bayangan seorang pemuda dengan mata merah yang menghilang di tengah hutan.
"Interogasi mereka. Jika mereka terbukti memberikan bantuan pada penyihir hitam, eksekusi di tempat," kata Liora pelan. "Kita tidak boleh membiarkan noda Void menyebar lebih jauh."
"Tapi Komandan, banyak dari mereka adalah wanita dan anak-anak dari Eldravale..."
"KEGELAPAN TIDAK MEMILIKI UMUR!" bentak Liora, api biru memercik dari tangannya, menghanguskan pagar kayu di sampingnya. "Kael Ravenhart adalah bukti bahwa kepolosan bisa berubah menjadi kiamat dalam semalam. Jangan buat aku mengulanginya."
Tiba-tiba, lonceng peringatan benteng berbunyi. Bukan suara dentang yang teratur, melainkan suara dentum yang pecah seolah-olah dipukul oleh kekuatan raksasa.
BUMMM!!
Langit di atas Aethelgard yang tadi cerah mendadak tertutup oleh awan hitam yang berputar seperti pusaran air. Kilat merah menyambar-nyambar, namun tidak ada suara guntur. Yang terdengar hanyalah jeritan ribuan jiwa yang seolah-olah diperas dari udara.
"Dia datang..." bisik Liora. Tangannya gemetar saat ia menarik busur kristalnya.
Di gerbang utama benteng, kabut hitam mulai merembes masuk dari celah-celah pintu besi yang kokoh. Para penjaga segera menghujani kabut itu dengan panah api suci, namun panah-panah itu lenyap ditelan kegelapan sebelum menyentuh tanah.
Lalu, sebuah sosok muncul dari dalam kabut.
Kael Ravenhart berjalan dengan tenang di antara hujan panah. Setiap kali sebuah serangan cahaya mendekat, Sigil Void di tangan kirinya berdenyut, menciptakan lubang mikro di ruang-waktu yang menghisap serangan tersebut.
"Hentikan dia!" teriak kapten penjaga. "Gunakan Holy Barrier!"
Dua belas pendeta cahaya membentuk lingkaran, merapal mantra perlindungan tingkat tinggi. Sebuah kubah emas raksasa menyelimuti pasukan ksatria, memancarkan radiasi panas yang mampu membakar kulit penyihir hitam mana pun.
Kael berhenti tepat di depan kubah tersebut. Ia mengangkat tangan kirinya, telapak tangannya menyentuh permukaan penghalang emas itu.
"Begitu banyak mana yang terbuang sia-sia," ucap Kael pelan.
"VOID FEEDING."
Seketika, cahaya emas yang menyilaukan itu mulai memudar. Bukan hancur, melainkan terhisap masuk ke dalam tubuh Kael. Warna kubah itu berubah dari emas menjadi abu-abu, lalu retak seperti kaca yang rapuh. Para pendeta di dalamnya memuntahkan darah, inti mana mereka hancur karena energi mereka ditarik paksa.
Kael melangkah masuk ke dalam benteng. Setiap langkahnya meninggalkan jejak kaki yang membara dengan api hitam.
"Kael!"
Liora melompat dari menara pengintai, mendarat dengan anggun di hadapan pemuda itu. Api biru celestial-nya meledak, menciptakan dinding api yang memisahkan Kael dari pasukan ksatria lainnya.
"Hentikan ini, Kael! Masih ada jalan kembali!" teriak Liora, air mata mulai menggenang di matanya meski suaranya terdengar tegas.
Kael menatap Liora melalui celah rambut hitamnya. "Jalan kembali? Ke mana? Ke gubuk yang kalian bakar? Ke desa yang mengutukku sejak aku lahir? Kau berdiri di sana dengan zirah indahmu, Liora, sementara tanganmu berlumuran darah orang-orang yang hanya ingin bertahan hidup."
"Kami melakukannya untuk melindungi dunia dari orang sepertimu!"
"Dunia ini tidak butuh perlindungan. Ia butuh pembersihan," balas Kael dingin.
Kael menggerakkan tangan kanannya. Pedang bayangannya, The Void Reaver, muncul seketika. Dengan satu ayunan horisontal, ia melepaskan gelombang energi hitam berbentuk sabit.
Liora dengan cepat menarik busurnya. "Panah Penegas Cahaya!"
Sebuah anak panah cahaya raksasa meluncur, bertabrakan dengan gelombang hitam Kael. Ledakan yang dihasilkan menghancurkan bangunan di sekitar mereka. Debu dan asap memenuhi lapangan, namun di tengah kekacauan itu, Kael sudah menghilang.
"Belakangmu, Gadis Suci," bisik suara Umbra di telinga Liora.
Liora berbalik dan menggunakan busurnya sebagai perisai.
TRANG!!
Pedang hitam Kael menghantam busur kristal Liora. Tekanan gravitasi di sekitar mereka meningkat begitu tajam hingga tanah di bawah kaki Liora amblas sedalam sepuluh sentimeter.
"Kau terlalu lambat, Liora," kata Kael. Wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Liora. "Cahayamu terang, tapi ia menciptakan bayangan yang sangat panjang. Dan di dalam bayangan itu, aku adalah raja."
Kael menendang perut Liora, melemparnya menabrak tumpukan tong kayu. Belum sempat Liora bangkit, Kael sudah mengangkat tangannya ke langit.
"VOID RAIN."
Ribuan jarum hitam pekat turun dari awan pusaran di langit. Jarum-jarum itu tidak melukai fisik, melainkan menembus zirah dan menyerang Inti Mana para ksatria. Dalam hitungan detik, ratusan ksatria cahaya tumbang, lumpuh karena mana mereka dikunci oleh energi Void.
"Jangan sentuh mereka!" Liora berteriak histeris. Ia membangkitkan seluruh sisa energinya. Sigil Api Celestial-nya bersinar begitu terang hingga jubah putihnya terbakar. Ia berubah menjadi sosok yang terbuat dari api biru murni.
"Sihir Terlarang: Phoenix Resurrection!"
Seekor burung phoenix api biru raksasa tercipta dari tubuh Liora, terbang menerjang Kael dengan kekuatan yang mampu melelehkan besi dalam sekejap. Ini adalah serangan bunuh diri yang menguras seluruh masa hidup penggunanya.
Kael menatap serangan itu dengan datar. Untuk sesaat, Umbra di dalam kepalanya tertawa kegirangan. "Makanlah, Kael! Ini adalah mana paling murni yang pernah ada! Makan dan jadilah tak terkalahkan!"
Namun, Kael terdiam sejenak. Ia melihat wajah Liora di tengah api itu—wajah yang penuh penderitaan dan tekad.
Kael tidak menghindar. Ia justru membuka kedua lengannya lebar-lebar.
"Apa yang kau lakukan?!" teriak Liora dari dalam api.
Saat phoenix itu menghantam tubuh Kael, seluruh lapangan benteng Aethelgard diselimuti oleh cahaya biru dan hitam yang bertabrakan. Ledakan itu begitu dahsyat hingga suara dentumannya terdengar sampai ke desa Eldravale yang berjarak puluhan mil.
Ketika asap mulai menipis, benteng Aethelgard telah berubah menjadi puing-puing. Ribuan ksatria tergeletak tak berdaya, namun anehnya, tidak ada dari mereka yang tewas. Mana mereka hanya dikuras habis, membuat mereka tidak bisa lagi berperang untuk waktu yang lama.
Di tengah kawah besar, Kael berdiri tegak. Zirah bayangannya hancur di bagian dada, memperlihatkan kulitnya yang kemerahan karena luka bakar, namun luka itu sembuh dengan kecepatan yang tidak masuk akal saat energi hitam menyelimutinya.
Di hadapannya, Liora terkapar lemas. Api birunya telah padam. Ia mencoba bernapas, namun setiap tarikan napas terasa seperti duri.
Kael berjalan mendekat, pedang hitamnya terseret di tanah, mengeluarkan percikan api ungu. Ia berdiri tepat di atas Liora, ujung pedangnya berada di tenggorokan gadis itu.
"Kenapa kau tidak membunuhku?" bisik Liora lemah. "Kau punya kesempatan untuk mengakhiri 'musuh' terbesarmu."
Kael menatap Liora dengan mata merahnya yang kini tampak sedikit meredup. "Membunuhmu adalah hal yang mudah, Liora. Tapi aku ingin kau hidup. Aku ingin kau melihat bagaimana Katedral yang kau puja itu akan membuangmu setelah kau kehilangan kekuatanmu."
Kael merogoh sesuatu dari balik jubahnya. Sebuah kalung perak kecil yang sudah berkarat—satu-satunya barang yang tersisa dari ibunya, yang dulu sering Liora bantu bersihkan saat mereka masih kecil. Ia menjatuhkan kalung itu di samping kepala Liora.
"Anggap ini sebagai pembayaran untuk roti-roti yang kau berikan dulu," ucap Kael dingin. "Mulai hari ini, kita impas. Pertemuan kita berikutnya... tidak akan ada lagi belas kasihan."
Kael berbalik dan berjalan menuju gerbang benteng yang hancur.
"Kenapa kau melepaskannya, Kael?" Umbra bertanya dengan nada kecewa di dalam kepalanya. "Energinya bisa saja membuat garis kelima muncul di tanganmu."
"Diamlah, Umbra," jawab Kael dalam hati. "Aku butuh saksi. Dunia butuh seseorang untuk menceritakan bagaimana rasanya berdiri di hadapan kehampaan."
Saat Kael melangkah keluar dari Aethelgard, pasukan Shadowspire yang dipimpin oleh Draken dan Xerxes muncul dari kegelapan hutan. Mereka bersujud saat melihat Kael keluar sebagai pemenang tunggal.
"Tuan Kael," Draken bicara dengan nada hormat yang murni, bukan lagi rasa takut. "Jenderal Vorgas telah menunggu di perbatasan Timur. Kerajaan Solaria telah menyatakan perang total. Mereka memanggil sisa enam Holy Wardens lainnya."
Kael menatap ke arah langit timur yang mulai menunjukkan semburat cahaya fajar—cahaya yang kini ia benci.
"Bagus," ucap Kael. "Biarkan mereka datang. Aku ingin melihat apakah cahaya tujuh matahari sanggup menerangi kegelapan yang akan aku bawa."
Di telapak tangan kiri Kael, garis keempat dari Sigil Void-nya bercahaya merah darah yang sangat pekat. Kekuatannya kini telah mencapai tingkat yang tidak bisa lagi diukur oleh standar manusia.
Kael Ravenhart bukan lagi sekadar pemuda yang melarikan diri. Ia adalah panglima kegelapan yang siap menelan seluruh Archeon.
Dan jauh di Katedral Pusat, sebuah ramalan baru tertulis di dinding suci oleh para Oracle yang ketakutan:
"Saat Sang Void berjalan di atas api suci, matahari akan jatuh, dan bintang-bintang akan menangis darah. Karena sang pembawa akhir telah menemukan jalannya."
Pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai.