Delina Azzahra Gustia, gadis 21 tahun yang paling anti dengan yang namanya duda, harus menghadapi kenyataan pahit... ancaman dari ayahnya.
"Kalau kamu masih bangun siang terus, Bapak nikahkan kamu sama duda!"
Ancaman itu selalu ia anggap angin lalu.
Sampai suatu hari... semuanya berubah.
Sebuah kejadian konyol yang tak pernah ia bayangkan-kepeleset, lalu jatuh tepat di atas seorang pria asing-membuat hidupnya jungkir balik.
Lebih parahnya lagi, warga memergoki mereka dalam posisi yang... tak bisa dijelaskan.
Pria itu adalah Muhammad Agam Alfariz. Seorang gus berusia 30 tahun.
Dan sialnya... dia adalah tipe pria yang paling Delina benci. Namun karena fitnah yang terlanjur melebar, satu keputusan harus diambil.
Menikah...
Dalam semalam, Delina yang anti duda... justru sah menjadi istri seorang gus mantan duda.
Hidupnya yang dulu bebas, kini berubah total.
ig: adelgustian_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Delina berdiri didepan rumah Aldo dengan senyuman lebar yang sulit disembunyikan, dengan piyama panjang dan rambut yang menjuntai indah serta kulitnya yang putih dan wajah yang pucat seperti bidadari. semangatnya menutupi rasa malas yang tadi masih membekas.
Ia melihat mobil yang terpakir dihalaman sudah tidak ada. membuat harpan Delina sedikit pupus ia berpikir Om agam lagi jalan.
TOK...
TOK...
TOK...
" Assalamualaikum, Tante Gita! OM Gio! " panggil Delina lagi.
TOK...
TOK...
TOK...
Didalam rumah, Agam yang sedang duduk diruang tengah keluarga sendirian langsung menoleh, alisnya mengerut. telinga nya seakan menangkap suara ketukan tadi namun ia berpkirmungkin salah dengar.
Tapi suara itu terdengar lagi, kali ini lebih keras dan berbarengan dengan suara cempreng seorang wanita.
Agam menghela nafas dan bangkit dari kursi, membuka sedikit jendela untuk mengintip siapa gerangan yang datang bertamu malam-malam begini.
Namun detik berikutnya, Agam hampir jantunngan ketika melihat seorang perempuan memakai piyama panjang terlihat kebesaran serta rambut yang menjuntai panjang kedepan dan kulit putih yang tersorot cahaya lampu remang-remang menambah adrenalin Agam semakin berpacu.
" Ya Allah..." gumam Agam cepat-cepat menutup gorden samping memundurkan tubuhnya perlahan dan mengucap istigfar berulang kali.
" Apa ini.... masa dijaman modern sekarang dikampung ini masih percaya sama cerita kuntilanak? masa iya baru beberapa jam tinggal disini langsung dikenalin penunggun nya." bisik Agam.
Diluar, Delina berdecak kesal ia mengeryitkan dahi hera. ia jelas melihat gerakan samar dari dalam krena gorden nya bergerak, tapi pintunya belum dibuka.
" Apa gak ada orang nya ya?" pikir Delina.
Tapi tidak mungkin, wong gorden nya bergerak.
TOK..
TOK...
TOK...
" ALDO! GUE TAHU LO DIDALAM, CEPET BUKA PINTUNYA. INI GUE DELINA YANG CANTIK, BOHAY, MANTEP, SEKSOY, MENGGODA DATANG." panggil Delina sedikit mengeraskan suaranya dan tetap menggedor pintu.
Delina tahu, Aldo tipe orang yang penakut jikalau ditinggal sendirian dimalam hari apalagi ada yang bertamu kerumahnya dengan tampilan Delina seperti ini pasti membuat Aldo jantungan setengah mati dan menganggpa dirinya indigo dadakan.
" Gue bukan hantu, Do. lo gak indihome dadakan." sambung Delina.
Agam yang masih berdiri dibalik pintu menelan saliva kasar. mendengar suara seorang gadis muda dan suaran itu sangar mirip persis seperti disiang hari tadi dengna cepat ia merapikan anak rambut dan pakaiannya. lalu membuka pintu perlahan.
KRETT...
Dibalik pintu berdirilah Delina, yang masih dengna penampilan yang sama dengan sandal jepit yang melekat serta senyuman yang lebar sambil mengangkat rantang nya seperti sekarang ini.
" Nah gitu dong Do... Eh? ternyata bukan..." ucap Delina tampak terkejut ia terkesiap melihat seseorang yang tak terduga menyambut kedatangan nya.
Agam, langsung mengalihkan pandagnan nya kerarah lain dalam hati mengucap istigfar. Delina mengerjapkan matanya beberapa kali dan berdecak dalam hati.
" Dih, Sok alim banget. Gak mau lihat cewk secantik gue, emang gue kuman apa." batin Delina kesal. " Tapi gapapa, beliau adalha pria tampan akan saya teirma." batin Delina mencoba tersenyum ramah.
" Waalaikumsalam, ada yang bisa saya bantu?" tanya Agam hati-hati.
Delina mengangguk cepat. " Om sudah tahu saya kan, anak Bu Nurelal dan Pak Roslan. Tuh... rumah saya persis diseberang sana." katanya sambil menunjukk kesebrang rumah membuat Agam mengikuti arah pandang tangan Delina.
" Mamak Nitip buat Tante Gita, karena Mamak gak jual jadi dikasih aja pecel nya." ucap Delina memberikan nya membuat Agam menerima rangan itu.
" Terimakasih, nanti akan saya sampaikan kepada TAnte Gita langsung. " ucap Agam yang tidak ada basa-basinya sama sekali.
" Siap, Oh iya. Dimana Aldo, Tante gita dan Om Gio?" tanya Delina.
" Mereka sedang pergi keluar."
" Oh pasti naik mobilnya Om kan? soalnya gak ada dihalaman. " tebak Delina.
" Iya. "
" Berarti Om sendirian dirumah?"tanya Delina lagi.
" Iya. "
" Lain kali jangan takut Om, OM miirp kayak Aldo. Hiihihi... saya pergi dulu Assalamualaikum." ucap Delina akhirnya berpamitan males juga dirinya kebanyakan basa basi keliatan capernya.
" Iya, Waalaikumsalam." sahut AGam lansung masuk kedalam rumah tanpa menunggu sang tmu pergi menjauh.
BRAK...
" Eh buset, tuh lakik. dingin banget kayak kulkas 4 pintu, ngomong aja irit bangett." dengus Delina langsung pulang.
" Setidaknya aku bisa ajak dia ngobrol hihihi... ya walaupun dia gak lihat muka si tidak masalah." gumam Delina kegirangan.
---
PUKUL 05.00
Delina membuka matanya lebar saat mendengar suara Adzan subuh berkumandang dari masjid di ujung perumahan nya. Suara itu begitu merdu, jauh berbeda dari biasanya yang ada serak serak batuk nya. tapi, ini berbeda.
Delina mencoba menerka-nerka lebih jelas. Siapa kah gerangan yang mengumandangkan Adzan semerdu itu hingga menggetarkan hati lembuh namun dalam.
" Siapa yang Adzan ya? suara Mang Galih atau Mang Gegep bukan, atau jangan-jagnan....." gumam Delina pelan.
Tanpa pikir panjang, Delina langsung bangkit dari kasurnya menyibak selimut dan melompat turun dari kasur. Langkahnya terdengar butu-buru menuju almari gantungan mengambil mukena putih kesayangan nya.
Disaat yang bersamaan, Mak Nurlela bersiap akan mengetuk pintu kamar anak bungsunya. seperti rutinitas pagi biasanya yang selalu ia lakukan. Namun baru saja tangan nya hendak mengetuk pintu, dari dalam intu sudah terbuka lebar.
" Eh!! " Mak Nurlela terperangah lalu melangkah mundur sedikit.
DElina muncul dengan senyuman tak bersalah dan atasan mukena yang melekat dikepalanya dan tangan kirinya memegan sajadah serta rok dalam pelukkan nya.
" Huh, kamu kagetin Mamak aja! " ucap Mak Nurlela menggeplak lengan anaknya pelan.
" Hehehe... maaf Mak."
" Tumben-tumbenan, kamu bangun duluan sebelum Mamak bangunkan? " tanya Mak Nurlela dengan nada curiga alisnya terangkat sebelha.
" Aku lagi semangat Mak, kan aku sudah bilang bakalan merubah pola kehidupan ku mulai sekarang." ucap Delina semangat.
Mak Nurlela seakan tak yakin dengan ucapan anaknya barusan, ia menyipitkan mata menatap anaknya dari atas sampai bawah menganalisis sesuatu yang masih tampak mencurigakan.
" Mamak gak yakin, pasti ada maunya kan? biasanya kamu tuh kalau dibangunin paling susah kalau gak merengek dan ada maunya baru bisa bangun subuh."
Delina tertawa kecil, lalu mengibaskan jemarinya didepan wajah. " Gak ada apa-apa Mak, ini murni aku mau mberubah kebiasaan kecil ku aja, agar gak diancam disuruh nikah sama duda terus."
" Halah..." ucap Mak Nurlela mendengus tak yakin.
" Udah sana, ambil air Wuhu, kita sholat berjamaah diruangan."
Tapi Delina menggelengkan cepat. berlau cepat kearah piontu dan membukanya tergesa-gesa.
" Enggak Mak, hari ini aku mau sholat shubuh di masjid tiap hari." ucap Delina penuh tekad.
" Hah? Masjid?" Mak Nurlela mngerjapkan matanya berkali-kali menggorek telinga nya sepertinya ia salah dengar perkataan putrinya barusan.
"Kau mau ke masjid? subuh-subuh? Deli, kamu semalam gak kesambet dari rumah, kerumah nya Aldo kan?"
" Mak..." rengek Delina kesal.
" Aku cuman pengen cari suasan baru aja, siapa tahu bisa dapat calon jodohnya juga jika bangun subuh terus."
Mak Nurlela menggeleng tak percaya, matanya makin menyipit.
" Mamak makin yakin, ada yang kamu incar ini. apa jangan-jangan guru baru yang datang dari pesantren itu Deli?" tebak Mak Nurlela tepat sasaran.
Delina buru-buru berbalik saat suara komat mulai terdengar samar-samar. " Waduh Mak! sudah mau komat, aku berangkat dulu. INitnya ucapan Mamak salah..."
" Aku pergi dulu Assalamualaikum." ucap delina berlari memakai sandal bulu-bulu nya.
" Deli! astaga... itu sandal rumah kok masih dipakainya.masa ke masjid juga masih pakai daster motif kartun apa gak malu. Dasar anak ituu semberono. " ucap Mak Nurlela tak habis pikir dengna anaknya.
Bertepatan dengan Bapak yang baru saja selesai mandi dan sudah bersiap dengan pakaian sholat lengkap.
" Loh Mamak ngapain depan pintu? Nungguin Bapak kemasjid? tumben." tanya Bapak Roslan beruntun mengambil sandal di rak sandal.
" Bukan Pak, sudah sana kemasjid nanti telat. "
" Kamu sudah bangunin Deli? suruh sholat shubuh."
" Nanti dia telat subuhan." sambung Bapak Roslan.
" Bapak Yang telat, dia sudah kemasjdi duluan."
" hah? anak itu kemasjid? Mamak serius? gak salah lihat orang kan?" tanya Bapak lagi.
" Beneran Pak, sana pergi. Nanti juga ketemu sama anaknya di masjid depan. "
" Dapat hidayah apa anak mu Mak, sampai mau kemasjid?"
" Hidayah biar ketemu jodohnya, anak mu itu pak ngincar lakik makanya mau ke masjid."
" Hahaha... biarlah, yang penting dia sudah berniat, gak masalah. ya sudah Bapak ke masjid dulu kunci pintunya Mak." ucap Bapak Roslan terkekeh pelan.
" IYa Pak. " jawab Mak Nurlela.