NovelToon NovelToon
Simpul Mati Amora Gayana

Simpul Mati Amora Gayana

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Salma.Z

"Kau hanya beban yang menghancurkan reputasiku, Amora!"

Kalimat itu menghujam jantung Amora lebih dalam daripada fitnah sedarah yang sedang mengepung mereka. Hamdan Tarkan—pria yang dulu berjanji melindunginya dengan gelang rumput sederhana—kini berubah menjadi dinding es yang tak tertembus.

Dipaksa tinggal di dalam penjara emas Mansion Tarkan, Amora harus menghadapi skandal yang menyebut dirinya adalah saudara tiri pria yang ia cintai. Di tengah intrik kasta tertinggi dan kemunculan musuh dari masa lalu, Amora menyadari satu hal: Hamdan menyembunyikan kebenaran yang jauh lebih gelap.

Apakah Hamdan benar-benar ingin melindunginya, atau Amora hanyalah kunci untuk menguasai aset terakhir Dinasti Klan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Pecahnya Topeng Keadilan

Ruangan bawah tanah itu terasa pengap oleh debu dan rahasia yang membusuk selama tujuh belas tahun. Amora bersimpuh di depan wanita yang ia panggil "Mama," sementara Hamdan berdiri mematung di ambang pintu, terjebak dalam badai emosi yang menghancurkan logikanya.

POV HAMDAN

Aku melihat Amora menangis tersedu-sedu, memeluk kaki wanita yang selama ini aku tahu ada di sini, tapi aku pilih untuk diam. Setiap isak tangisnya adalah hunjaman pisau ke jantungku.

Selama ini, aku meyakinkan diriku bahwa menyembunyikan Saphira Elara adalah cara terbaik untuk melindunginya—dan melindungi Amora. Ibu selalu bilang, "Jika dunia tahu Saphira hidup, musuh Klan akan datang dan menghabisi kalian semua." Aku mempercayai kebohongan itu karena aku terlalu takut kehilangan Amora lagi.

Tapi sekarang, melihat mata Amora yang penuh kebencian menatapku, aku sadar: aku bukan pelindungnya. Aku adalah sipirnya.

"Hamdan... kau tahu?" suara Amora terdengar hampa, jauh lebih menyakitkan daripada teriakannya tadi.

Aku tidak bisa menjawab. Lidahku kelu. Aku ingin berlutut dan memohon maaf, tapi bayangan Ibu (Layla Tarkan) yang berdiri di belakangku dengan tatapan mengancam membuatku tetap kaku. Aku mencintai Amora lebih dari nyawaku sendiri, tapi aku juga anak yang berhutang budi pada seorang ibu yang telah menyelamatkan kita semua dari api.

-------------

Layla Tarkan masuk ke ruangan dengan langkah yang tenang namun mematikan. Ia mengabaikan tangisan Amora dan menatap Saphira dengan kebencian yang murni.

"Kau seharusnya tetap diam di kegelapan, Saphira. Kehadiranmu hanya akan membawa kehancuran bagi putraku," desis Layla.

Amora berdiri, menghalangi pandangan Layla terhadap ibunya. "Kehancuran? Anda yang menghancurkan kami! Anda menculik ibuku dan membiarkanku hidup seperti yatim piatu di pasar desa!"

Hamdan akhirnya bergerak. Ia melangkah maju dan berdiri di antara Amora dan Layla.

"Cukup, Ibu," suara Hamdan rendah namun bergetar. "Rahasia ini sudah berakhir malam ini. Saphira Elara tidak akan kembali ke sel ini."

Layla terbelalak. "Hamdan! Kau akan menghancurkan Tarkan Group jika berita ini bocor!"

"Biarkan hancur!" raung Hamdan, emosinya meledak karena ia pendam selama bertahun-tahun. Ia menjatuhkan busur panah yang sejak tadi ia bawa ke lantai marmer dengan dentingan keras. "Aku tidak peduli pada perusahaan jika harga yang harus kubayar adalah air mata wanita yang kucintai."

Layla Tarkan keluar dengan amarah yang membara, mengancam akan mencoret Hamdan dari silsilah keluarga. Namun, Hamdan tidak peduli. Ia berlutut di samping Amora, mencoba menyentuh bahunya.

"Jangan sentuh aku, Hamdan," bisik Amora dingin. Ia memeluk ibunya erat-erat. "Kau tahu dia ada di sini, dan kau membiarkannya membusuk sementara kau berpura-pura menjadi pahlawanku di atas sana. Kau tidak ada bedanya dengan ibumu."

----

Malam itu, setelah Amora menolak bicara dengannya dan mengunci diri di kamar tamu bersama ibunya, Hamdan pergi ke ruang latihan bela diri. Tanpa sarung tinju, ia menghantam sandsack berkali-kali hingga buku jarinya pecah dan berdarah.

Setiap pukulan adalah bentuk hukuman bagi dirinya sendiri. Ia merasa tidak pantas memiliki Amora. Ia merasa kotor karena telah menjadi bagian dari kebohongan Layla Tarkan.

-----

Amora teringat kejadian di dalam ruang bawah tanah, suasana tadi mendadak hening setelah ledakan amarah Hamdan. Saphira Elara, wanita yang nampak ringkih namun memiliki sisa-sisa keanggunan seorang bangsawan, mengusap pipi Amora dengan tangan yang gemetar.

"Sudahlah, Amora... Tuan muda Hamdan hanya melakukan apa yang dia pikir benar untuk menjagamu," suara Saphira parau, nyaris seperti bisikan angin.

"Menjagaku dengan cara membohongiku, Ma?" Amora menoleh ke arah Hamdan dengan tatapan yang bisa menghancurkan hati pria manapun. "Kau membiarkan aku merindukan orang tua setiap malam, Hamdan. Kau melihatku menangis saat kita makan jagung bakar itu, padahal kau tahu Mama ada di bawah kaki kita! Bagaimana kau bisa sedingin itu?"

Hamdan hanya bisa menunduk. Buku jarinya yang sudah memerah karena mencengkeram busur panah yang ia pungut kembali di lantai. Ia ingin menjelaskan bahwa selama ini ia menyuplai obat-obatan dan memastikan Saphira makan dengan layak secara diam-diam dari ibunya, tapi ia tahu itu tidak akan cukup.

"Farid," panggil Hamdan dengan suara serak.

"Ya, Tuan?" Farid muncul dari bayang-bayang pintu, wajahnya penuh penyesalan.

"Siapkan kamar terbaik di sayap utama untuk Nyonya Saphira. Bawa tim medis pribadi sekarang juga. Dan pastikan tidak ada satu pun orang suruhan Ibuku yang mendekati area itu," perintah Hamdan mutlak. Ia lalu menatap Amora. "Aku akan pergi. Kau tidak perlu melihat wajahku malam ini."

Amora tersentak dari lamunannya. Ia kecewa dengan perlakuan Hamdan.

Ruang Latihan – Pukul 03.00 Pagi

Hamdan tidak kembali ke kamarnya. Ia melanjutkan aktivitasnya. Kini ia berada di ruang gym pribadi yang tertutup. Tanpa mengenakan atasan, keringat membanjiri tubuhnya yang penuh dengan urat-urat otot yang menegang karena emosi.

Ia tidak menggunakan samsak. Kali ini, ia berdiri di depan sasaran panah. Dengan napas yang memburu, ia menarik tali busur dengan kekuatan penuh.

WUSH!

Anak panah itu melesat dan menancap tepat di tengah sasaran, bahkan menembus papan kayu di belakangnya. Hamdan menarik anak panah berikutnya. Pikirannya melayang pada kata-kata Amora: "Kau tidak ada bedanya dengan ibumu."

"Sialan!" Hamdan berteriak, melepaskan anak panah itu dengan serampangan hingga menghantam dinding kaca, menciptakan retakan besar.

Ia jatuh terduduk di lantai marmer yang dingin, menyandarkan kepalanya pada dinding. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, pria yang dijuluki "Kulkas Dua Pintu" itu membiarkan satu tetes air mata jatuh. Ia terjepit di antara dua kesetiaan yang mustahil untuk disatukan: ibunya yang telah membesarkannya dengan tangan besi, dan wanita yang menjadi satu-satunya alasannya untuk tetap menjadi manusia.

Sementara itu, Amora membantu ibunya berbaring di tempat tidur yang jauh lebih layak. Saphira menatap Amora dengan sedih.

"Amora, jangan terlalu membenci Hamdan. Dia adalah alasan kenapa Mama masih bisa bertahan di ruang bawah tanah itu. Dia sering datang tengah malam, membawakan buku-buku dan menceritakan tentangmu... betapa ia bangga melihatmu tumbuh menjadi gadis yang kuat."

Amora tertegun. "Dia... dia sering datang menemuimu?"

"Dia melakukan perlawanan diam-diam terhadap ibunya demi kita, Nak," lanjut Saphira. "Hanya saja, dia terlalu takut jika dia membangkang secara terang-terangan, Layla akan memindahkan Mama ke tempat yang tidak bisa dia jangkau lagi."

Amora terdiam, menatap jarinya yang masih melingkar cincin pemberian Hamdan. Kebenciannya sedikit goyah, namun luka akibat kebohongan itu masih terlalu baru untuk sembuh.

To be continued...

1
Wawan
Salam kenal buat Amora 😍
Yu
Semangat!
Yu
Luarbiasa
Rabi Salim
Semangat author nulisnya!!!!
Iki Riat
Lanjut kak. Semangat nulisnya!!
Tisa
Asyiknya... 🤩🤩
Naura
Hamdan 😍
Andy Rajasa
kelanjutannya mana?
Salma.Z: ditunggu aja kak
total 1 replies
Guntur
Cinta yang posesif
Reni
Semangat kak!! lanjutkan ceritanya...
Nayla
Berdebar-debar saat membaca. Cerita yang menggebu-gebu.
Hana Unil
Next...lanjut
Hana Unil
Hmmm...
Hana Unil
Lanjut kak..lanjut🙏
Rara Lani
Ceritanya bagus hanya saja masih sedikit peminatnya. Tetap semangat author. Lanjutkan!
Salma.Z: Terima kasih
total 1 replies
Sari
Semangat!! Lanjutkan!
Ika Yani
Cinta yang dramatis...
Cantika
Alurnya bikin gemes🤭
Andy Rajasa
Amora dan Hamdan punya chemistry yang bisa buat diriku meleleh 😍
udin sini
Cintanya mewah, tapi lukanya lebih mahal. Semoga saja happy ending.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!