NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Berondong Tampan

Terjebak Cinta Berondong Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:22.2k
Nilai: 5
Nama Author: teteh lia

Naraya Pramaswari Dhanubrata, seorang CEO muda yang dikenal dingin dan perfeksionis, terbiasa hidup dalam kemewahan. Di usianya yang terbilang matang, ia tidak lagi benar-benar percaya pada cinta, apalagi hubungan rumit.

Segalanya berubah ketika ia bertemu Sagara, pemuda tampan berusia 24 tahun yang sederhana. Namun, penuh semangat hidup. Berbeda jauh dari dunia Naraya, Sagara menjalani berbagai pekerjaan demi bertahan hidup. Mulai dari montir, ojek online, hingga pekerja paruh waktu. Meski hidupnya keras, Sagara tetap hangat, tulus, dan pantang menyerah.

Pertemuan tak terduga mereka perlahan menyeret Naraya ke dalam dunia yang tak pernah ia bayangkan. Sagara yang gigih, tanpa sadar meruntuhkan dinding hati Naraya yang selama ini terkunci rapat.

Namun, perbedaan status, usia, dan prinsip hidup menjadi tantangan besar bagi keduanya. Belum lagi seseorang dari masa lalu Naraya yang kembali hadir.
Akankah cinta mereka mampu bertahan, atau justru menjadi luka yang tak terhindarkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Nara dan Sagara berjalan perlahan dengan tangan Nara yang masih melingkar di lengan Sagara. Sepanjang perjalanan, beberapa orang menghampiri mereka. Sebagian besar mengenal Nara dan menyapanya dengan ramah. Sebagiannya lagi terlihat penasaran pada sosok pria tampan yang berdiri di samping Nara.

Yang mengejutkan Nara, Sagara mampu menyesuaikan diri dengan sangat baik. Pria itu tidak banyak bicara, tetapi setiap kali diajak berbincang, ia menjawab dengan tenang, sopan, dan tepat. Tidak berlebihan, namun juga tidak canggung.

Bahkan beberapa tamu yang awalnya memandangnya dengan tatapan meremehkan perlahan mengubah ekspresi mereka setelah berbicara langsung dengannya.

Sagara memang tidak pernah memamerkan gelar mentereng. Namun, cara bicaranya menunjukkan bahwa ia adalah pria yang cerdas. Nara tentu saja memperhatikan itu. Entah sudah berapa kali ia melihat beberapa orang mengangguk kagum setelah mengobrol singkat dengan Sagara.

"Kekasihmu menyenangkan juga diajak bicara."

"Kalian terlihat sangat serasi."

"Pantas saja kau menolak banyak pria."

Kalimat-kalimat seperti itu terus berdatangan. Dan setiap kali mendengarnya, Sagara hanya tersenyum tipis seolah sudah terbiasa.

Setelah lebih dari tiga puluh menit berkeliling dan memenuhi basa-basi yang melelahkan, keduanya akhirnya berhenti di sudut ballroom yang lebih sepi.

Dari tempat itu kedua bisa melihat keseluruhan ruangan tanpa harus terus menerus disapa orang.

Nara menghembuskan napas panjang. "Akhirnya."

Sagara meliriknya. "Capek?"

"Capek sekali."

Sagara terkekeh kecil. "Padahal belum ada satu jam."

"Karena kau tidak tahu rasanya harus tersenyum pada puluhan orang dalam satu malam."

"Itu bagian dari pekerjaanmu, bukan?" ujar Sagara santai.

Nara mengerucutkan bibirnya. "Dan aku tidak menyukainya."

Sagara menggeleng pelan sambil mengambil segelas air dari meja pelayan yang lewat.

"Aku harus mengakui sesuatu," ucap Nara kemudian.

"Hm?"

"Aku tidak menyangka kau bisa berakting sesempurna ini."

Sagara mengangkat sebelah alis. "Kenapa Anda bisa bicara seperti itu?"

"Kau lihat sendiri tadi. Bahkan kakek pun sepertinya tidak curiga."

Sagara tersenyum tipis, ia lalu meneguk isi gelas ditangannya. "Anda jangan senang dulu," ucapnya tenang. "Kakek Anda tentu bukan pria tua biasa. Beliau hanya sedang berhati-hati."

Alis Nara sedikit terangkat. "Maksudmu?"

"Selama acara belum selesai dan kita masih berada di sini. Sebaiknya kita tetap berhati-hati."

Nara mengangguk membenarkan. Namun, sebelum sempat mengatakan sesuatu lagi, sebuah suara berat tiba-tiba terdengar dari belakang mereka.

"Jadi kalian bersembunyi di sini?"

Senyum Nara langsung memudar. Ia mengenali suara itu bahkan tanpa perlu menoleh.

Perlahan Nara dan Sagara membalikkan badan. Dan benar saja.

Han Seokjin berdiri beberapa langkah dari mereka sambil membawa segelas minuman di tangannya. Pria itu memasang senyum ramah yang sama. Namun, Nara tahu senyum itu tidak pernah membawa sesuatu yang baik.

Seokjin sendiri mengalihkan pandangannya dari Nara menuju Sagara. Tatapannya tajam, seolah baru saja mendapatkan kesempatan yang sejak tadi ia tunggu-tunggu.

Nara yang sejak tadi berdiri di samping Sagara sebenarnya tidak pernah lengah. Dari sudut matanya, ia beberapa kali menangkap Seokjin yang terus memperhatikan mereka dari kejauhan.

Pria itu memang sedang berbicara dengan beberapa tamu penting, tetapi tatapannya sesekali selalu mengarah padanya maupun Sagara. Dan Nara tidak menyukainya.

Ia mengenal sepupunya itu terlalu baik. Jika Seokjin sudah mulai penasaran pada seseorang, maka pria itu tidak akan berhenti sampai ia merasa puas.

"Kenapa kau membiarkan kekasihmu berdiri di sini?" tanya Seokjin tenang.

"Kami baru saja berkeliling," jawab Nara ketus.

"Benarkah?" jawab Seokjin cepat. "Lalu kenapa kau tidak mengenalkannya juga pada Paman Wirahadi dan Bibi Marsella?"

Nara tidak menjawab. Ia justru mengabaikan tatapan penuh selidik Seokjin dengan mengambil segelas minuman yang ditawarkan seorang pelayan padanya.

"Kami akan menyapa beliau nanti," sahut Sagara tenang.

Tatapan Seokjin kembali beralih pada Sagara. Senyum di bibirnya masih terpasang, tetapi sorot matanya jelas sedang menilai. "Menarik," gumamnya pelan. "Biasanya orang-orang di sini berlomba-lomba mencari perhatian keluarga Dhanubrata. Tapi kau justru terlihat santai."

Sagara hanya tersenyum tipis. "Kebetulan saya datang hanya untuk menemani Nara."

Jawaban itu membuat senyum Seokjin sedikit melebar. Ia melangkah mendekat pada Sagara. "Tentu saja," ucapnya dengan suara pelan. "Karena setelah malam ini, kau akan langsung dibuang oleh adikku."

"Oppa," ucap Nara tegas.

Seokjin menoleh ke arah Nara. Menatap wajah sepupunya yang tampak menahan kesal. "Kenapa?" tanyanya santai. "Bukankah aku benar?"

Nara yang baru saja meneguk sedikit minuman di tangannya langsung meletakkan gelas itu di atas meja terdekat. Rahangnya mengeras. Kesabarannya terhadap Seokjin semakin menipis. "Aku ingin bicara denganmu."

"Nara ...."

"Ikutlah denganku."

Seokjin hanya mengangkat alis. Meski terkejut dengan sikap sepupunya, ia tetap mengikuti langkah Nara yang membawanya menjauh dari kerumunan tamu.

Mereka berhenti di salah satu sudut ballroom yang lebih sepi.

Nara langsung melepaskan lengan Seokjin. "Apa maumu sebenarnya?" tanyanya tanpa basa-basi.

Seokjin memasukkan kedua tangan ke saku celana sambil tersenyum tipis. "Aku hanya mengatakan yang sebenarnya."

Kedua tangan Nara mengepal erat di sisi tubuhnya. "Bukankah aku sudah sering bilang untuk tidak mencampuri urusanku."

Senyum Seokjin memudar sedikit. "Dan aku tidak pernah berjanji untuk itu," jawabnya tenang.

"Oppa ... untuk kali ini saja, tolong mengertilah."

"Aku sudah terlalu sering mengertimu, Nara." Tatapan Seokjin melembut sesaat. "Aku bahkan membantumu setiap kali Kakek mencoba menjodohkanmu dengan rekan bisnis kita."

Nara terdiam sesaat. Ucapan Seokjin memang benar. Pria itu kerap membelanya. Berkali-kali ia menjadi tameng ketika kakek dan pamannya mulai membicarakan pernikahan dan calon pasangan yang dianggap cocok untuknya.

"Kali ini aku tidak akan mengalah lagi," lanjut Seokjin. Nadanya berubah tegas. "Aku tidak lagi menuruti keinginanmu."

"Oppa ...."

"Aku akan akan mengatakan yang sebenarnya pada kakek tentang pria itu," ancam Seokjin.

Pria itu berusaha menekan Nara, padahal ia jelas tahu jika Kakek Dhanubrata sudah lebih dulu mencari informasi tentang Sagara.

Sementara di depannya, tubuh Nara seketika menegang.

******

Di Sisi lain.

Sagara yang sejak tadi berdiri tenang di sudut ruangan ballroom mendadak membeku. Tatapannya lurus mengarah ke pintu masuk.

Seorang wanita paruh baya baru saja memasuki ruangan dengan gaun elegan berwarna hitam. Di sampingnya berjalan seorang wanita muda yang usianya kurang lebih sama dengan Nara. Cantik, anggun, dan terlihat berasal dari salah satu keluarga konglomerat. Namun, bukan penampilan mereka yang membuat Sagara terkejut. Melainkan wajah mereka.

Rahang Sagara perlahan mengeras. Tangannya yang semula santai memegang gelas kini mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Tatapannya berubah dingin. Sangat dingin, seolah seluruh suara musik dan percakapan di sekelilingnya menghilang begitu saja.

"Bukankah itu Jeng Ratna?" ucap seorang wanita yang berdiri tidak jauh dari Sagara.

"Yang sebelahnya itu pasti putrinya," jawab Wanita di sebelah.

"Benar. Wanita muda itu adalah putrinya. Calon penerus kerajaan bisnis keluarganya." Pria di sebelah ikut menimpali.

Sagara yang mendengar itu sama sekali tidak bergerak. Matanya masih terpaku pada wanita paruh baya bernama Ratna itu.

Wanita itu sedang tersenyum ramah kepada beberapa tamu sambil sesekali menganggukkan kepala. Seolah hidupnya baik-baik saja. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Napas Sagara mulai teras berat. Ingatan yang selama ini berusaha ia kubur perlahan muncul kembali satu per satu. Suara, wajah, dan kejadian bertahun-tahun lalu.

"Sagara?"

Naraya Pramaswari Dhanubrata

***** bersambung.

1
nuraeinieni
lagi2 sagara di kecewakan dgn isi surat almarhum ayahnya.
nuraeinieni
sagara datang karna rindu sama nara kakek.
SecretivePlotter
mencengkram. ya tinggal serahin aja, banyak babibu, bilang aja ada maunya
SecretivePlotter
ingin dimengerti tapi gak mau mengerti, bangke ah
Teteh Lia: Kebanyakan kan begono. Mau na dimengerti, tapi syulit buat mengerti balik.
total 1 replies
SecretivePlotter
oalah rek, ibunya udah gak tahan ngejanda🥵🥵
SecretivePlotter
taik, ngomong ama silid, lu kira maafin orang macem lu semudah itu
SecretivePlotter: /CoolGuy//Grin//Hammer/
total 2 replies
SecretivePlotter
untuk diperas bijina🤭
Teteh Lia: ikut-ikutan pake na /Smug/
total 1 replies
SecretivePlotter
pasti dikira selingkuh🤭
SecretivePlotter
kek kerang disiram aer garem, ada gosip langsung pada nongol🤭
Teteh Lia: Kerang bambu tah... yang di siram air garem telus pada nelojoll🤭
total 1 replies
SecretivePlotter
udah kuduga, dia ama emaknya emang ngincer buwung sagara🤣
SecretivePlotter
udah telat woi
SecretivePlotter
wkwk ... mana belum pake baju pula🤭
〈⎳ FT. Zira
kondisikan matamu Vio/Facepalm//Facepalm//Facepalm/ gak bisa liat yg seger seger yak🤣
〈⎳ FT. Zira
hanya author yg tahu😭😭
Hajime Nagumo
seru ngeliat ibu2nya, mau boikot sagara kalo dia milih viola, padahal viola itu sumber masalah keluarga sagara.

kira2 surat epa ya yg pengen dikasih ibunya viola? surat tentang kebenaran kekuarga sagara atau apa?
Hajime Nagumo
wah ternyata! bener kan tebakan saya, sagara itu orang berada! nice kak untuk cerita chapter ini. andi sampe bingung sagara ngelamunin apaan.

akhirnya sudah lebih jauh sagara masuk ke konflik para eksekutif, padahal dia cuma ingin menikmati hidupnya yg sederhana
nuraeinieni
ambil saja surat wasiat terakhir dari ayahmu sagara,siapa tau aja penting,tapi kamu tetap harus waspada dgn ibu tirimu.
sitanggang
bertele-tele Kalilaah 🙄
Teteh Lia: 😅😅😅😅😅
total 1 replies
mama Al
oh sudah kacau ya, Gara.
udah nyampe ke relung yang paling dalam dong 😁
mama Al
nih mereka sampai ujung dunia kagak berhenti debat ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!