NovelToon NovelToon
Dua Wajah Cinta

Dua Wajah Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Poligami / Pelakor
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Lima tahun menikah, Stella merasa hidupnya sempurna bersama Abbas, suami yang penyayang. Kehadiran Annisa—yang diperkenalkan Abbas sebagai adik sepupu yatim piatu—bahkan disambut Stella dengan tangan terbuka layaknya adik kandung sendiri.
​Namun, fatamorgana itu hancur saat Stella menemukan slip reservasi hotel di saku jas Abbas. Bukan sekadar perjalanan bisnis, slip itu mencantumkan paket Honeymoon Suite untuk Mr. Abbas & Mrs. Annisa.
​Kebenaran pahit terungkap: adik sepupu yang datang ternyata adalah istri siri suaminya selama setahun terakhir. Terjebak dalam pengkhianatan di bawah atap yang sama, Stella harus memilih: bertahan demi janji suci yang telah ternoda, atau pergi demi harga diri saat Annisa mulai menuntut pengakuan sah sebagai istri kedua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

...Jam menunjukkan pukul lima sore. Seluruh karyawan mulai berkemas, namun bagi Annisa, ini adalah akhir dari hari yang paling menghinakan dalam hidupnya....

...Punggungnya terasa pegal, dan jemarinya yang halus kini berbau cairan pembersih lantai....

...Dengan wajah kuyu, Annisa segera mengganti seragam biru kusamnya di ruang ganti sempit dekat pantry....

...Begitu ia melangkah keluar sambil menyampirkan tas ranselnya, langkahnya terhenti....

...Di depannya, berdiri Abbas yang sudah mengenakan jas rapi, tampak sangat kontras dengan kondisi Annisa yang berantakan....

...Annisa langsung mengerucutkan bibirnya, matanya berkaca-kaca menahan tangis sekaligus amarah....

..."Tega kamu, Mas! Kamu lihat tanganku? Kasar semua karena harus memegang kain pel seharian!" ucap Annisa dengan nada merajuk yang kental....

..."Kamu CEO di sini, tapi istri kamu sendiri diperlakukan seperti pelayan!"...

...Abbas menatap sekeliling dengan waspada. Ia tak ingin ada karyawan yang masih tertinggal melihat adegan ini....

...Tanpa membuang waktu, Abbas menggenggam erat tangan Annisa, mencoba meredam amarah istri mudanya itu....

..."Sabar, Nisa. Sebenarnya, Aku juga tidak tega, tapi Stella tadi menelepon Vira terus-menerus untuk mengecekmu. Aku tidak punya pilihan lain," bisik Abbas dengan nada menyesal....

...Kemudian Abbas membawanya lewat jalan belakang, pintu darurat yang langsung menuju area parkir khusus pimpinan agar tidak berpapasan dengan karyawan lain yang sedang mengantre di lift....

..."Aku akan menebusnya malam ini, janji," lanjut Abbas sambil membukakan pintu mobil untuk Annisa....

..."Tapi ingat, begitu sampai di rumah, kita kembali jadi 'kakak dan adik sepupu'. Jangan sampai Stella curiga sedikit pun karena Papa-nya tadi juga menelepon dari London."...

...Annisa hanya mendengus, masuk ke dalam mobil dengan perasaan dongkol....

...Meski Abbas mencoba merayu, rasa benci Annisa pada Stella semakin mengakar kuat....

...Ia tahu, di rumah nanti, ia harus kembali berakting di depan wanita yang sudah membuatnya menjadi OB seharian penuh....

...Mobil melaju membelah kemacetan sore Jakarta yang mulai padat....

...Di dalam kabin yang sejuk, Abbas berusaha meredam ketegangan dengan menggenggam tangan Annisa sangat lembut, seolah ingin menyalurkan kekuatan agar istri mudanya itu bisa sedikit lebih bersabar....

...Namun, Annisa tidak bisa lagi menahan sesak di dadanya. Ia menoleh ke arah Abbas dengan mata yang mulai berkaca-kaca....

..."Mas, sampai kapan kita harus bersembunyi seperti ini?" tanya Annisa, suaranya parau....

..."Kapan kamu menceraikan Stella? Bukankah selama lima tahun ini dia tidak bisa memberimu keturunan? Dia mandul, Mas. Dia tidak bisa memberikan apa yang aku bisa berikan untukmu nanti."...

...Mendengar kata "mandul" dan "cerai", rahang Abbas mengeras....

...Dengan gerakan tiba-tiba, Abbas menghentikan mobilnya di bahu jalan yang agak sepi, membuat tubuh Annisa sedikit terhentak ke depan....

...Abbas menatap lurus ke depan, napasnya terdengar berat....

...Ia menoleh ke arah Annisa dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara ambisi dan ketakutan....

..."Jangan bahas itu sekarang!" sentak Abbas, suaranya rendah namun penuh penekanan....

...Ia melepaskan genggaman tangannya dan memijat pangkal hidungnya yang terasa pening....

..."Nisa, dengarkan aku baik-baik. Stella masih belum mengalihkan seluruh sahamnya ke aku. Kalau aku menceraikannya sekarang, Papa-nya akan langsung mendepakku dari kursi CEO dan kita tidak akan punya apa-apa. Aku tidak mau gegabah dan kehilangan segalanya hanya karena emosi sesaat."...

...Abbas kembali menyalakan mesin mobil, matanya menatap tajam ke jalanan....

..."Kita butuh waktu. Kamu harus tetap jadi 'adik sepupu' yang manis sampai semua aset itu jatuh ke tanganku. Mengerti?"...

...Annisa terdiam, menyandarkan punggungnya ke kursi mobil sambil melipat tangan di dada....

...Meski hatinya panas mendengarnya, ia tahu bahwa Abbas benar. Uang dan kekuasaan adalah kunci untuk menyingkirkan Stella secara permanen....

...Ia pun terpaksa menelan kembali ego besarnya, bersiap untuk kembali ke rumah mewah yang terasa seperti medan perang baginya....

...Abbas kembali melajukan mobilnya menyusuri jalanan komplek perumahan elit yang asri....

...Keheningan di dalam mobil terasa mencekam setelah perdebatan soal saham dan perceraian tadi....

...Abbas berusaha menetralkan ekspresi wajahnya, memasang topeng suami idaman yang lelah bekerja, sementara Annisa membenahi riasannya yang sedikit luntur karena peluh seharian menjadi OB....

...Beberapa menit kemudian, suara deru mesin mobil mewah itu terdengar memasuki halaman rumah....

...Stella, yang sedari tadi sudah menunggu di ruang tengah dengan buku di tangannya, segera bangkit....

...Wajahnya cerah saat mendengar suara pintu mobil tertutup....

...Stella membuka pintu utama dengan senyum hangat, menyambut kedatangan suaminya....

..."Sudah pulang, Mas?" sapanya lembut sambil meraih tangan Abbas untuk menciumnya....

...Pandangan Stella kemudian beralih ke belakang bahu Abbas....

...Ia melihat Annisa yang tampak sangat kelelahan. Rambut gadis itu sedikit berantakan, dan wajahnya kuyu, kontras dengan penampilannya yang segar tadi pagi....

..."Wah, sepertinya hari pertama kerja sangat berkesan ya, Nisa?" ucap Stella dengan nada yang terdengar perhatian, namun terselip ketegasan di dalamnya....

..."Lekas mandi dan bersihkan diri. Setelah itu kita makan bersama. Aku sudah siapkan menu spesial untuk menyambutmu."...

...Annisa hanya bisa menganggukkan kepalanya lemah. Rasa pegal di pinggangnya membuat ia tak sanggup berdebat atau bahkan sekadar bersikap manis....

...Tanpa sepatah kata pun, ia melangkah gontai melewati ruang tamu yang mewah, menuju ke kamar belakang yang sempit dan pengap....

...Di dalam kamar itu, Annisa membanting tasnya ke lantai. Ia menatap dinding kamar yang polos, telinganya masih bisa mendengar tawa kecil...

...Stella dan Abbas di ruang tengah....

..."Nikmati saja waktumu sekarang, Stella," desis Annisa sambil membuka kancing bajunya dengan kasar....

..."Makan malam ini mungkin terasa manis bagimu, tapi aku akan memastikan setiap suapannya menjadi racun bagi kebahagiaanmu segera."...

...Sementara itu di ruang tamu, Abbas merangkul pinggang Stella, berpura-pura sangat merindukan istrinya itu, padahal pikirannya masih tertuju pada amarah Annisa yang sewaktu-waktu bisa meledak dan menghancurkan skenario besarnya....

...Stella memijat bahu Abbas dengan lembut, merasakan ketegangan di otot suaminya yang sebenarnya bukan hanya karena pekerjaan, melainkan beban rahasia yang ia pikul....

..."Kamu pasti capek ya, Mas. Seharian di kantor, apalagi sekarang harus mengawasi Annisa juga," ucap Stella tulus, suaranya mengalun lembut di telinga Abbas....

...Abbas memejamkan mata sejenak, menikmati sentuhan tangan istrinya yang selama ini selalu menjadi rumah baginya, meski kini hatinya sudah terbagi....

...Ia menarik napas panjang, berusaha menyingkirkan bayangan Annisa yang sedang merajuk di kamar belakang....

..."Iya, Sayang. Lumayan melelahkan hari ini," jawab Abbas sambil meraih tangan Stella dari bahunya dan mengecup punggung tangan itu dengan hangat....

..."Tapi melihat kamu di rumah seperti ini, rasanya capekku sedikit berkurang."...

...Stella tersenyum, pipinya merona mendengar rayuan suaminya yang masih sama seperti lima tahun lalu....

..."Ya sudah, kamu mandi dulu ya. Aku sudah siapkan air hangat. Setelah itu kita makan malam. Kasihan Annisa pasti juga sudah lapar, pekerjaan OB kan berat."...

...Abbas hanya mengangguk pelan. Ada rasa bersalah yang mencubit hatinya saat melihat ketulusan Stella, namun ambisinya akan harta dan gairahnya pada Annisa jauh lebih besar....

...Ia pun beranjak menuju kamar mandi, meninggalkan Stella yang masih tersenyum tanpa tahu bahwa "saudara sepupu" yang ia kasihani sedang menyusun rencana untuk merebut posisi yang kini ia duduki....

...Aroma sedap ikan bakar bumbu rempah menyeruak di seluruh penjuru ruang makan saat Abbas melangkah turun dengan kaus santai yang segar....

...Di atas meja kayu jati itu, Stella telah menata segalanya dengan sempurna....

...Nasi putih yang masih mengepul, sambal kecap pedas manis, dan ikan gurame bakar yang kulitnya kecokelatan mengkilap—semuanya adalah hidangan favorit Abbas yang selalu Stella siapkan sendiri....

..."Ayo, kita makan malam dulu. Keburu dingin nanti ikannya," ajak Stella sambil menarik kursi untuk suaminya....

...Annisa sudah duduk di sana lebih dulu. Rambutnya yang basah sehabis mandi dibiarkan tergerai, memberikan kesan polos yang sangat berbeda dengan wajah kesalnya di mobil tadi....

...Ia menatap hidangan di depannya dengan lapar, namun tetap menjaga sikap di depan Stella....

...Dengan perlahan, Annisa menyendok nasi dan sepotong kecil ikan, lalu mulai mencoba masakan Stella....

...Begitu bumbu bakarannya menyentuh lidah, Annisa sempat tertegun....

...Ia harus mengakui dalam hati bahwa kemampuan memasak Stella jauh di atasnya....

..."Masakan Kak Stella enak sekali," puji Annisa sambil tersenyum kecil, mencoba bersikap manis sesopan mungkin....

..."Bumbunya meresap sampai ke dalam. Pantas saja Mas Abbas betah makan di rumah."...

...Stella tersenyum tulus mendengar pujian itu. "Terima kasih, Nisa. Kalau kamu suka, makan yang banyak ya. Anggap saja ini penawar lelah setelah seharian bekerja di kantor."...

...Abbas yang duduk di antara kedua istrinya itu hanya bisa mengunyah dalam diam....

...Suasana meja makan itu tampak sangat harmonis dari luar—seorang istri yang berbakti, seorang suami yang tenang, dan seorang adik sepupu yang sopan....

...Namun, di bawah meja, kaki Annisa dengan sengaja menyentuh kaki Abbas, sebuah godaan tersembunyi di tengah obrolan hangat mereka....

...Abbas tersedak kecil, segera meraih gelas air putihnya untuk menutupi kegugupannya, sementara Stella sibuk mengambilkan piring tambahan untuk Annisa tanpa menyadari sandiwara panas yang sedang berlangsung tepat di hadapannya....

...Stella menikmati makannya dengan tenang, jemarinya cekatan menyendokkan nasi tambahan ke piring Abbas sesuai permintaan suaminya....

...Suasana ruang makan itu terasa begitu damai, hingga Abbas berdeham kecil, memecah keheningan dengan nada bicara yang dibuat sealami mungkin....

..."Sayang, besok aku ada rapat di luar kota. Sekalian aku mau antar Annisa mengambil ijazahnya yang ketinggalan di kampung," ucap Abbas sambil melirik sekilas ke arah Annisa....

...Stella menghentikan kunyahannya sejenak. Dahinya berkerut tipis, matanya beralih menatap Annisa lalu kembali ke Abbas. "...

..."Annisa, juga ikut ke luar kota juga, Mas?" tanya Stella, nada suaranya terdengar menyelidik meski tetap tenang....

...Degup jantung Abbas seakan berhenti sesaat. Di bawah meja, Annisa dan Abbas mereka saling melirik, sebuah komunikasi tanpa kata yang penuh ketegangan....

...Annisa segera menundukkan kepala, berpura-pura sibuk dengan ikannya agar Stella tidak menangkap kilat kecemasan di matanya....

..."Nggak, Sayang," sahut Abbas cepat, mencoba tertawa kecil untuk mencairkan suasana....

..."Aku cuma mengantarkan Annisa sampai ke pool travel atau terminal terdekat dari arah tujuanku, setelah itu aku ke luar kota sendiri untuk urusan kantor. Kasihan kalau dia harus bawa dokumen penting sendirian pakai bus umum dari sini."...

...Annisa pun menimpali dengan suara lembut yang dibuat-buat sedih....

..."Iya, Mbak Stella. Soalnya ijazah itu penting sekali untuk kelengkapan administrasi saya di kantor nanti. Saya tidak enak kalau harus merepotkan Mas Abbas, tapi Mas Abbas yang menawarkan bantuan."...

...Stella menatap suaminya lama, mencari kejujuran di balik mata pria yang sudah lima tahun menemaninya itu. Namun, keramahan Abbas yang tampak tulus akhirnya meruntuhkan kecurigaannya....

...Stella menganggukkan kepalanya perlahan. "Ya sudah kalau begitu. Hati-hati di jalan ya, Mas. Dan kamu, Nisa, segera kembali kalau urusannya sudah selesai. Jangan sampai bolos kerja terlalu lama, nanti Vira bisa menegurmu."...

..."Baik, Mbak," jawab Annisa dengan senyum manis yang menyembunyikan rencana besar di baliknya....

...Makan malam itu berakhir dengan kesepakatan yang tenang, tanpa Stella sadari bahwa "perjalanan luar kota" itu hanyalah awal dari kebohongan lain yang jauh lebih berani....

...Di balik semuanya, Abbas sudah merencanakan waktu berdua yang lebih intim dengan Annisa, jauh dari pengawasan mata sang istri sah....

1
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo aku mampir kak👋
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
cinta semu
beruntung Stella punya teman yg cerdas ...😎
cinta semu
smg aja Stella instingnya tajam ...
tiara
wah wah ternyata sudah setahun toh mereka menikah siri,tunggu saja kalau stella tau rasain kalian
tiara
wah ga beres Si Abbas nih, sepertinya, ga tau diri tuh orang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!