Aku adalah Raka. Seorang Pebisnis yang telah mapan sebelum usia kepala tiga. Aku mempunyai kekasih seorang janda beranak satu, hubunganku di tentang oleh mama dengan alasan perbedaan pandangan adat dan statusnya.
Aku dijodohkan dengan seorang wanita yang sama sekali tidak aku kenal. Akankah mama berhasil menjdohkanku atau mama akan luluh dengan pilihanku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Maaf Yang Tak Sampai
"Belum selesai dengan masa lalu abang?"
Mata Laras tampak berkaca. Ia menyunggingkan senyum hambar. Aku berjalan mendekatinya. Ia menyeret langkahnya mendekati Kania. Untuk pertama kalinya Laras memusuhiku.
Aku berniat meraih lengannya, tapi Kania dengan sigap mencegah tanganku.
"Kania kecewa sama abang!"
Ia menatap Ningsih lalu membawa perempuan itu meninggalkan aku dan Dimas. Makan malam romantis yang aku persiapkan, akhirnya aku sendiri yang menghancurkan.
Aku terhenyak lemas di kursi. Tak ada yang spesial hanya dekoran meja yang epik yang tersisa.
Tiba-tiba ponsel bergetar, aku sangat berharap itu Laras atau Kania. Tapi notif di ponsel sebuah pesan singkat dari Ningsih.
Bagaimana, Raka? Aku menang.
"Brengsek!" Gerahamku saling beradu mengeluarkan bunyi silu yang menyakitkan. Rahangku mengeras. Ningsih memang bulshit!
Beberapa pasang mata menoleh ku, tapi aku benar-benar tak peduli. Dimas hanya karung di sampingku tanpa berani berkata separah katapun.
"Mas, bayar tagihannya. Antar saya pulang!"
Lelaki itu hanya mengangguk.
Kami meninggalkan ruang kafe setelah Dimas selesai membayar tagihan. Sepanjang perjalanan pulang hanya kebisuan yang menemani. Tak ada suara tak ada musik, hanya suara bising jalanan. Ningsih benar-benar sudah merencanakan dengan matang aksinya. Sekalipun itu tantangannya adalah nyawanya sendiri. Dan foto itu?
Yah, pasti Rena mengambilnya dari belakang atas interupsi Ningsih.
Huftt!? Aku terlalu polos dan baik hati. Ku pijit keningku yang mulai terasa nyut-nyutan.
"Pak Sudah sampai,"
Dimas membuka suara. Bahkan aku tak sadar kalau kami sudah ada di halaman rumah mewah ku. Apa yang harus aku jelaskan kepada Laras nanti.
"Bapak tidak mau masuk?"
Sekali lagi Dimas menegur. Aku tersentak. Tak aku gubris pertanyaannya. Hanya langsung keluar, membanting pintu mobil dan berlalu.
Di depan pintu aku disambut Bik Iyem bukan Laras seperti biasanya.
"Baru pulang Nak Raka? Masuk!"
Suara bik Iyem penuh kekhawatiran. Mungkin dia tahu kalau kami sedang tidak baik-baik saja.
"Mana Laras sama Kania bik?"
Bik Iyem, menggaruk-garuk kepalanya. Lalu melihatku dengan wajah ketakutan. Ia seperti ragu-ragu untuk menjawab.
"Anu.. Anu nak Raka. Nak Laras tadi ke kamar Kania, sepertinya udah tidur di sana."
Ku gantung jas yng kubawa ke bahu.
"Brengsek!" Umpatku berkali-kali.
Wanita itu itu terperanjat dengan wajah cemas.
Ku hempaskan tubuhku ke sofa ruang tamu. Bagaimana menjelaskan pada Laras kalau dia saja tidur di kamar Kania. Ia benar-benar menghindariku.
Lagi-lagi ponselku berdering. Ningsih lagi, wanita pembawa sial.
Ku rijek berkali-kali panggilan masuk, tapi wanita gila itu terus spam pangilan.
"Puas! Apa maumu lagi?" Erangku setengah berteriak. Aku benar-benar gila oleh kelakuan Ningsih.
"Nggak banyak, Raka. Aku hanya ingin posisiku kemarin kamu kembalikan. Jangan buang aku seenaknya Raka. Aku sudah payah untuk. Mendapatkannya. Cukup kau campakkan aku dari hidupmu, tapi jangan buang aku dari pekerjaanku."
Kepalan tanganku mendarat di sofa. Mataku nanar, pipiku memanas, dadaku mendidih.
"Kalau kamu tidak bersedia. Aku akan mengganggu rumah tanggamu terus. Ini baru permulaan, Raka!"
Ia berbicara cukup tenang, tapi aku tahu itu adalah senjata mematikan untukku. Ini ancaman liciknya.
"Kamu pikirkan baik-baik, Raka. Aku tahu kamu dan Laras sedang tidak baik-baik saja. Rumahku selalu terbuka untuk menyambut kedatanganmu."
Dengan cepat tombol off kepencet. Semakin lama mendengar ucapa Ningsih, hanya akan menambah dilihat darahku.
Kulonggarkan ikatan dasi yang mencekik leher. Di ruangan yang penuh AC ini, rasanya badanku panas terbakar.
"Nak Raka, mau bibik buatin kopi?"
Bik Iyem tiba-tiba saja ada di belakangku. Mungkin saja dari tadi dia sudah melihat tindak tandukku.
Kutarik napas dalam-dalam, agar nada bicara ku tak membuat bik Iyem tersinggung.
"Nggak usah bik, aku mau ke kamar Kania dulu."
Wanita tua itu hanya mengangguk pelan. Tak lagi berani bertanya lebih jauh.
Ponsel yang tadi ku banting ke sofa, aku raih kembali. Ingatanku sekarang ke Dimas. Dimas harus mengatur kembali, Ningsih akan ditarik ke kantor ke posisinya semula. Agar tidak membuat onar seperti permintaannya. Dan semoga saja itu benar-benar dilakukannya.
"Halo Pak Raka, ada apa Pak?" Suara Dimas terdengar panik.
"Maaf mengganggumu malam-malam. Besok siapkan lagi surat untuk menarik Ningsih ke bagian kantor."
"Lah, kenapa Pak? Bukannya..?"
"Sudah nggak usah banyak tanya, lakukan saja sesuai perintahku!"
"Baik Pak,"
Aku mulai uring-uringan. Bagaimana caranya membujuk Laras yang ada di kamar Kania. Itu sama saja aku harus berhadapan dengan dua mahkluk ajaib sekaligus.
Kunaiki anak tangga satu persatu dengan pikiran penuh beban. Meluluhkan satu orang saja susah, sementara ini dua yang harus aku hadapi sekaligus. Jangan sampai Kania ngadu ke mama, urusannya akan makin panjang.
"Ada apa?"
Huft, jantung aku hampir copot. Aku hampir menabrak Kania di ujung tangga paling atas. Jalan tak lihat ke depan, hanya menekur dengan pikiran yang kusut.
"Dek, tolong abang kali ini?" Ku pasang muka paling menyedihkan. Kania menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Abang lelaki brengsek, tahu nggak?"
Ucapannya nyelekit.
"Abang bisa jelaskan, Kania. Yang Nia lihat tidak seperti yang Ningsih bilang."
Aku berusaha meraih tangan Kania. Tapi ia menghindar.
"Kenapa abang masih peduli sama betina landak itu?"
"Dia ngancam mau bunuh diri dek, asistennya cuma kenal abang. Makanya pas kejadian abang yang ditelpon."
"Abang kan punya banyak karyawan, kenapa nggak suruh mereka aja yang bawa!"
Kania benar-benar nggak bisa diajak kerja sama. Aku menarik napas kasar, lalu menghembuskan dengan cepat.
"Tolonglah Kania, abang panik. Abang menolong karena rasa kemanusiaan. Bagaimanapun dia pernah jadi orang yang abang sayang."
"Oh, orang yang abang sayang ya? Kok Kania geli sekali dengarnya bang."
Kania tersenyum menyeringai. Tidak ada rasa kasihan sedikitpun dimatanya untukku.
"Berkali-kali Kania telpon abang, kenapa nggak abang angkat? Cuma sekali Ningsih telpon abang langsung berlari menyelamatkannya. Istimewa sekali dia bang?"
Astaghfirullah, bagaimana cara aku menjelaskan pada Kania. Oh, Tuhan. Adikku tidak melihat penderitaanku sama sekali.
"Kania, abang sekarang minta tolong. Please!! Bantu abang bujuk kak Laras?"
Harga diriku sudah benar-benar tak ada, serinya aku memohon pada Kania. Tapi Kania tetap tak goyah.
"Abang sendiri yang rencanain kejutan makan malam untuk kak Laras. Abang sendiri juga yang hancurin hanya demi masa lalu abang yang tak seberapa."
"Please Kania bantu abang??" Rengekku penuh harap.
"Bisa nggak, Abang musnahin aja tu pelakor?"
Huftt, ngomong sama Kania. Sama aja dengan ngomong dengan mama. Membuat kepalaku makin sakit.
Aku menerobos ingin masuk ke kamarnya, tapi langkah ia cegat dengan cepat.
"Eit, abang mau kemana?"
"Mau ketemu istri abang!"
"Nggak bisa, kak Laras udah tidur dari tadi. Ia habis menangis, biarkan dia istirahat dengan tenang. Abang balik aja ke kamar abang, buat pengakuan dosa disana."
Uuh, rasanya pengen sekali aku tonjok mulutnya Kania. Untung saja aku ingat dia adik perempuanku satu-satunya.