NovelToon NovelToon
Warisan Mutiara Surgawi

Warisan Mutiara Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Ruang Ajaib
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Setelah hidup selama 500 tahun penuh pengkhianatan, kesengsaraan, dan perjuangan, Tian Hao akhirnya kembali ke masa lalu.

Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, ia memperoleh Warisan Mutiara Surgawi yang mempercepat jalur kultivasinya.

"Kali ini... aku akan mencapai keabadian."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Semu

​"Tidak ada," jawab Tian Hao singkat. Suaranya datar, tanpa intonasi kemarahan maupun kehangatan.

​"Lalu kenapa kau begitu dingin?" Mei melangkah mendekat, suaranya hampir menyerupai tangisan. "Dulu kau selalu tersenyum padaku. Sekarang, kau menatapku seolah aku adalah orang asing yang lewat di depan pintumu."

​Tian Hao perlahan membuka matanya. Ia menoleh, menatap adiknya dengan tatapan yang kosong. Tidak ada kebencian di sana, namun juga tidak ada kasih sayang. Hanya ada kekosongan yang jujur.

​"Mei," ucap Tian Hao pelan, "Jangan mencari makna pada sesuatu yang tidak memilikinya. Kau datang karena merasa bersalah, dan kau ingin aku tersenyum agar rasa bersalahmu hilang. Itu bukan tentang aku. Itu tentang ketenangan batinmu sendiri."

​Tian Mei terpaku. Kata-kata itu sederhana, namun membedah motif di balik tindakannya dengan ketajaman yang kejam. Sebelum ia bisa membalas, Tian Hao sudah kembali memejamkan mata.

​"Pergilah. Fokuslah pada duniamu yang terang. Jangan mencoba membawa lentera ke dalam gua yang memang ingin tetap gelap."

​Setelah langkah kaki Tian Mei menghilang dari kejauhan, Tian Hao bangkit berdiri. Ia melangkah keluar ke teras paviliunnya, menatap matahari sore yang mulai tenggelam di cakrawala, mengubah warna langit menjadi jingga kemerahan seperti darah yang memudar.

​Ia berdiri diam, membiarkan angin sore menerpa wajahnya. Di pergelangan tangannya, Bai Kecil melingkar dengan tenang, seolah ikut menikmati pemandangan tersebut.

​"Semuanya sama saja," gumam Tian Hao pada dirinya sendiri.

​Baginya, segala bentuk emosi manusia entah itu cinta, benci, kesetiaan hanyalah reaksi sementara yang diciptakan untuk memberi ilusi bahwa hidup ini memiliki tujuan.

Di kehidupan sebelumnya, ia telah melihat bagaimana cinta yang paling agung sekalipun bisa berubah menjadi pengkhianatan yang paling menjijikkan saat kepentingan pribadi dipertaruhkan.

​"Cinta hanya akan ada saat rasa itu memberikan keuntungan emosional bagi pelakunya," batinnya. "Dan ketika rasa itu tidak lagi memberikan kepuasan? Maka ia akan hilang, seperti asap yang ditiup badai. Jadi, buat apa aku terikat pada sesuatu yang begitu rapuh?"

​Tian Hao tidak merasa sedih karena kesendiriannya. Baginya, nihilisme bukan berarti putus asa; nihilisme adalah kebebasan mutlak.

Karena ia percaya bahwa tidak ada yang benar-benar berarti, maka ia tidak terikat oleh moralitas semu atau ekspektasi orang lain. Ia bebas untuk melakukan apa pun demi mencapai tujuannya tanpa beban nurani.

​"Dunia ini adalah panggung sandiwara yang kosong," ucapnya lagi, matanya mencerminkan cahaya matahari yang sekarat. "Orang-orang seperti Tian Mei, ayahku, atau bahkan Xiao Liu Xuan, mereka semua sibuk mengejar bayangan yang mereka sebut makna. Mereka membangun istana di atas pasir, lupa bahwa ombak waktu akan menyapu semuanya tanpa sisa."

​Ia menggenggam Mutiara Surgawi di dalam sakunya. Baginya, satu-satunya hal yang nyata adalah kekuatan yang ia genggam. Kekuatan yang memungkinkan ia untuk melampaui siklus kelahiran dan kematian yang tidak masuk akal ini.

​Di kejauhan, dari balkon lantai atas paviliun utama, Xiao Liu Xuan memperhatikan sosok Tian Hao yang berdiri sendirian. Pangeran itu memegang cangkir tehnya, namun ia tidak meminumnya.

​"Berdiri di sana seperti orang yang sudah mati, namun memiliki aura yang menelan cahaya," bisik Xiao Liu Xuan dengan senyum licik. "Kau benar-benar teka-teki yang indah, Tian Hao. Kau bilang cinta itu sia-sia? Mari kita lihat, sejauh mana kau bisa bertahan tanpa siapa pun di sisimu saat aku mulai meruntuhkan duniamu."

​Tian Hao seolah merasakan tatapan itu. Tanpa berbalik, ia menarik napas dalam-dalam.

​"Matahari akan selalu terbenam," bisik Tian Hao. "Dan di dalam kegelapan yang akan datang, aku adalah satu-satunya orang yang sudah terbiasa untuk melihat tanpa cahaya."

1
aldo
lanjut thor seru sekali 🙏🙏
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
tes ..🤔
aldo
lanjut thor seru sekali 🙏🙏🙏🙏
Leon: /Bye-Bye/
total 1 replies
saniscara patriawuha.
sat set sat set...
Leon: 🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
saniscara patriawuha.
sikattttt...
Leon: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
saniscara patriawuha.
gassddddd....
saniscara patriawuha.
kasihhh fahammm duluu lahhhh.....
saniscara patriawuha.
biasanya langsung masuk ke dentiannya untuk membantu kultivasinya...
Leon: Hehe, memang di dunia Tianxu sistem kultivasi nya begitu bang/Shy/
total 1 replies
saniscara patriawuha.
gassssdd....
Leon: 🥲🙂🙂🙂🙂
total 1 replies
saniscara patriawuha.
lanjuttttkeunnnnn
saniscara patriawuha.
gasssss...
saniscara patriawuha.
tapi bisakah nanti mang MC kembali lagi ke masa depan untuk membalaskan dendamnya....
y@y@
👍🏿⭐👍🏻⭐👍🏿
aldo
lanjut thor
Leon: siaapp. jangan lupa kasih bintang 5 ya🙏🙏🙏
total 1 replies
y@y@
👍🏿🌟👍🏼🌟👍🏿
y@y@
🌟👍🏿👍🏼👍🏿🌟
Leon
ngopi lur/Coffee/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!