Di tengah gemerlap Jakarta yang kontras, Nara Indira (25) menjalani kehidupan ganda yang berbahaya. Di bawah cahaya aula megah, ia adalah penari tradisional yang agung, namun di kegelapan Club Black Rose, ia bertransformasi menjadi penari erotis demi membiayai pengobatan kanker darah ibunya. Nara adalah wanita yang dingin, efisien, dan sangat menjaga harga dirinya di tengah profesi yang dianggap nista oleh dunia.
Takdir mempertemukannya dengan Bagaskara, CEO muda dari Prawijaya Group yang baru saja melangsungkan pertunangan bisnis dengan Sinta Mahadewi. Pertemuan tak sengaja di klub malam memicu obsesi gelap dalam diri Bagaskara. Terpesona oleh misteri dan ketegasan Nara, Bagaskara menawarkan harta demi satu malam bersama, sebuah tawaran yang ditolak mentah-mentah oleh Nara meski ia sedang terhimpit kebutuhan medis yang mendesak.
Konflik memuncak saat rahasia Nara mulai terancam dan Sinta menyadari perhatian tunangannya terbagi. Di antara perbedaan status sosial yang jurang dan tekanan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lemari Kertas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggung Megah dan Kabar dari Seberang
Gedung serbaguna mewah itu disulap menjadi galeri seni hidup yang memukau. Langit-langit tinggi berhiaskan lampu gantung kristal yang memantulkan cahaya keemasan ke setiap sudut ruangan.
Malam ini bukan sekadar pesta ulang tahun pernikahan ke-30 Bapak Ardiansyah, seorang pejabat tinggi negara, melainkan sebuah panggung unjuk gigi bagi kelas atas. Aroma bunga lili segar dan wangi hidangan fine dining memenuhi udara, bercampur dengan denting gelas sampanye yang sesekali berdenting pelan.
Di balik tirai beludru merah di sisi panggung, Nara Indira berdiri mematung. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena demam panggung yang biasa, melainkan karena berat beban yang ia bawa di pundaknya. Namun, begitu musik gamelan kontemporer mulai mengalun, Nara bertransformasi.
Ia melangkah keluar dengan keanggunan seorang dewi. Malam ini, ia mengenakan kebaya modern berwarna hitam legam dengan aksen merah darah yang membingkai lekuk tubuhnya dengan sempurna. Bordiran emas halus di sepanjang kerah tinggi kebaya itu memberikan kesan magis.
Rambut hitamnya yang biasa terurai kini disanggul rapi dengan tusuk konde perak berbentuk sayap phoenix. Riasan wajahnya tegas, bibir merah menyala dan garis mata cat-eye yang tajam, membuatnya tampak seperti prajurit wanita dari legenda lama.
Di salah satu meja bundar terdepan, Bagaskara Prawijaya duduk membeku. Di sampingnya, Sinta Mahadewi tampak anggun dengan gaun berwarna soft pink, namun Bagaskara sama sekali tidak melirik tunangannya. Matanya terkunci pada sosok di atas panggung.
"Dia luar biasa," bisik Pak Ardiansyah yang duduk di sebelah Bagaskara. "Penari ini punya jiwa yang berbeda. Tidak hanya sekadar teknik, tapi ada rasa sakit dan kekuatan dalam setiap gerakannya. Kau setuju, Bagas?"
Bagaskara hanya mengangguk samar, tenggorokannya mendadak kering.
"Ya, dia, memiliki kontrol yang luar biasa."
Nara berputar, selendang merahnya melayang di udara bagaikan lidah api. Matanya menyapu penonton hingga akhirnya beradu dengan mata tajam Bagaskara. Ada sepersekian detik di mana dunia seolah berhenti. Nara tidak memalingkan wajah, ia justru menatap balik pria itu dengan intensitas yang lebih kuat, sambil terus meliuk mengikuti irama gendang yang semakin cepat. Ia seolah berkata melalui tariannya, lihat aku, tapi kau takkan pernah memilikiku.
Sinta, yang sedari tadi sibuk mengobrol dengan rekan-rekan sosialitanya, mulai menyadari ketegangan di udara. Ia melirik Bagaskara dan menemukan tunangannya itu seperti sedang terhipnotis.
"Bagas, kau dengar tidak?" Sinta menyentuh lengan Bagaskara dengan kuku-kuku cantiknya yang dicat senada dengan gaunnya. "Tadi Clarissa bilang, liburan ke Maldives bulan depan akan sangat menyenangkan. Kita harus ikut."
Bagaskara berdehem, sedikit tersentak. "Ah, ya. Kita lihat jadwal kantorku nanti, Sinta."
"Tapi, Bagas, lihatlah penari itu," Sinta menunjuk ke arah panggung dengan kipasnya, suaranya mengandung nada merendahkan yang halus. "Cantik, memang. Tapi bukankah gerakannya terlalu berani untuk acara seperti ini? Agak sedikit berlebihan menurutku."
Salah satu teman Sinta, seorang anak konglomerat bernama Vivian, justru menyahut, "Oh, ayolah Sinta. Dia itu seni murni. Lihat cara dia membawa dirinya. Sangat eksotis. Pantas saja Pak Ardiansyah membayar mahal untuk mendatangkannya ke sini."
Sinta memaksakan senyum elegan, meski hatinya mulai terbakar rasa kesal yang tak beralasan. Ia benci bagaimana semua orang di meja itu, termasuk tunangannya sendiri, memberikan atensi penuh pada seorang "buruh seni" yang menurutnya tidak selevel dengan mereka.
Setelah pertunjukan berakhir dan sambutan meriah memenuhi ruangan, Nara segera menuju ke area belakang. Ia butuh membasuh wajahnya yang mulai terasa berat oleh kosmetik. Di toilet wanita yang luas dan berlapis marmer itu, Nara berdiri di depan wastafel, mengalirkan air ke tangannya yang gemetar.
Pintu toilet terbuka. Langkah sepatu hak tinggi yang tajam terdengar mendekat. Sinta Mahadewi muncul di pantulan cermin, berdiri di wastafel sebelah Nara sambil mengeluarkan lipstik dari tas clutch mahalnya.
Suasana menjadi dingin seketika. Sinta tidak langsung bicara, ia memulas bibirnya dengan teliti sebelum akhirnya menoleh ke arah Nara dengan tatapan yang sangat menghina.
"Tarian yang bagus," ujar Sinta sinis. "Aku penasaran, apakah kau juga menggunakan tubuhmu dengan cara yang sama untuk menjerat pria-pria kaya di ruangan ini? Atau mungkin, hanya pria-pria tertentu yang kau incar?"
Nara berhenti mengeringkan tangannya. Ia tidak menoleh. Ia hanya menatap Sinta melalui pantulan cermin, matanya tenang namun sedalam sumur tua.
"Saya di sini untuk bekerja, Nona Sinta Mahadewi," jawab Nara datar. "Saya menjual bakat saya pada penyelenggara acara. Saya tidak memiliki niat untuk menjerat siapa pun."
Sinta tertawa pendek, sebuah tawa yang dibuat-buat.
"Bekerja? Wanita sepertimu selalu punya alasan seperti itu. Aku melihat bagaimana kau menatap tunanganku di panggung tadi. Kau pikir aku buta? Wanita kelas bawah sepertimu biasanya sangat ahli dalam memainkan peran sebagai korban untuk menarik simpati pria yang punya kuasa."
Nara akhirnya berbalik, menghadap Sinta sepenuhnya. Meskipun ia lebih pendek beberapa sentimeter karena Sinta menggunakan hak tinggi yang lebih runcing, wibawa Nara justru terasa lebih mendominasi.
"Jika pria-pria itu tertarik pada saya, saya tidak bisa mencegahnya. Itu bukan kendali saya," ucap Nara pelan, namun suaranya menggantung di udara dengan ketegasan yang mutlak. "Tapi perlu Anda ketahui satu hal, Nona. Saya terlalu sibuk mengurus hidup saya sendiri yang berat untuk sekadar tertarik pada hidup orang lain. Termasuk tunangan Anda."
Wajah Sinta memerah. "Beraninya kau!"
"Permisi," potong Nara halus. Ia melangkah melewati Sinta tanpa memberi kesempatan bagi wanita itu untuk membalas. Sinta hanya bisa menghentakkan kakinya dengan kesal, menatap punggung Nara dengan dendam yang mulai mengakar.
Nara kembali ke aula utama, mencoba mencari sudut yang sepi untuk sekadar mengambil potongan buah dari meja prasmanan. Perutnya terasa mual karena gugup dan lapar. Saat ia menusuk sepotong melon, ia merasakan kehadiran seseorang di belakangnya.
"Kau sangat keras kepala, Nara."
Suara berat itu. Nara tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Bagaskara berdiri tepat di sampingnya, memegang gelas sampanye yang masih penuh.
"Anda masih di sini, Tuan?" Nara bertanya tanpa nada, matanya menatap lurus ke arah panggung yang kini kosong.
"Aku tidak akan pergi sebelum aku mendapatkan jawaban yang memuaskan," Bagaskara berbisik, suaranya penuh dengan otoritas yang gelap. "Tarianmu tadi, itu provokasi, bukan? Kau ingin menunjukkan padaku apa yang tidak bisa kumiliki."
Nara menoleh, menatap mata tajam pria itu.
"Anda terlalu percaya diri. Tarian saya adalah untuk martabat saya, bukan untuk ego Anda."
Bagaskara mendekat, hingga aroma maskulinnya kembali memenuhi indra penciuman Nara.
"Kita lihat saja. Aku adalah orang yang selalu mendapatkan apa yang kuinginkan, Nara. Suatu saat nanti, kau sendiri yang akan datang mengetuk pintuku."
Nara hendak membalas saat tiba-tiba ponsel di dalam tas kecilnya bergetar hebat. Ia merogohnya dengan tergesa. Sebuah nomor dari rumah sakit.
"Halo?" suara Nara bergetar.
"Halo, dengan keluarga Ibu Rahayu? Ini dari Rumah Sakit. Kondisi Ibu Rahayu menurun drastis, beliau tidak sadarkan diri dan sekarang berada dalam kondisi kritis. Kami mohon pihak keluarga segera datang ke ruang ICU."
Dunia Nara seolah runtuh. Gelas plastik kecil yang ia pegang jatuh ke lantai. Wajahnya yang tadi tegas mendadak pucat pasi, lebih putih dari marmer di bawah kakinya.
"Ibu..." bisik Nara lirih.
Tanpa memedulikan Bagaskara yang menatapnya dengan kening berkerut penuh tanda tanya, Nara berbalik dan berlari sekencang mungkin menuju pintu keluar. Ia tidak peduli pada kebaya mahalnya, tidak peduli pada mata-mata yang menatapnya heran. Di kepalanya hanya ada satu nama, satu nyawa yang menjadi alasan dunianya tetap berputar.
Bagaskara berdiri terpaku, menatap sosok Nara yang menghilang di balik pintu besar. Rasa penasaran di hatinya kini bercampur dengan sesuatu yang ia sendiri belum bisa definisikan. Sesuatu yang menyerupai rasa gelisah.
Cerita nya gak terlalu ngawang, khas Dan gak mudah ditebak next chapter nya. meskipun genre sama tapi aku selalu menemukan yg berbeda Dan itu bikin aku selalu nunggu Update nya.
semangattt, aku selalu nunggu...
Jatuh hati sama Nara, stay strong and be yourself♥️😊