NovelToon NovelToon
Disakiti Tunangan Dicintai Mafia Posesif

Disakiti Tunangan Dicintai Mafia Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Dark Romance
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: zenun smith

Livia Alessandra adalah tunangan yang sempurna, namun bagi Axel Killian, Livia hanyalah tameng untuk mendapatkan warisan kakeknya. Setiap kali Livia membutuhkan Axel, laki-laki itu selalu menghilang demi Elena. Alasan Axel selalu sama, yaitu Elena fisiknya lemah karena sakit.

Hingga pada akhirnya Livia memilih pergi dan menghilang dari Axel setelah puncaknya ia ditinggal Axel saat fitting baju pengantin. Dan saat itu Livia sudah tahu tentang hubungan Axel dan Elena dibelakangnya. Ternyata Elena bukan sahabat perempuan Axel, tapi mantan pacarnya.

Diambang kehancuran hati, semesta tidak membiarkan Livia jatuh. Ia diselamatkan oleh Morenzo, pemimpin mafia brutal yang diam-diam telah mengamatinya dengan obsesi gila sejak lama.

Livia kini bangkit kembali bukan sebagai pengemis cinta. Saat Axel mulai memohon kesempatan kedua karena sadar Elena hanyalah parasit, Livia hanya tersenyum dingin dibalik pelukan posesif Morenzo.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memilih Untuk Pergi

Apa yang sekiranya Livia lihat dan dengar hingga ia muak?

Sudut pandang Livia tertuju pada sofa di tengah ruangan. Di sana, Elena duduk bersandar dengan sebuah selimut menutupi kakinya. Wajahnya yang cantik tampak sedikit pucat, mungkin karena bedak yang diaplikasikan dengan sengaja, tapi mata Elena berkilat sehat. Axel berada di sampingnya, sedang memegang mangkuk berisi bubur hangat yang memang sudah ada disana. Livia mendengar bahwa bubur tersebut pemberian tetangga sebelah.

Dengan penuh ketelatenan yang belum pernah ia tunjukkan pada Livia, Axel menyuapi Elena sesendok demi sesendok.

"Ayo, El. Sedikit lagi. Kau harus makan supaya bisa minum obat," bujuk Axel dengan nada suara yang sangat lembut.

Elena menelan bubur itu pelan-pelan, lalu berujar, "Maafkan aku, Xel. Aku benar-benar merasa tidak enak. Aku tahu ini hari pentingmu dengan Livia. Dia pasti sangat marah, kan? Pasti sulit bagimu menghadapinya."

Axel meletakkan sendoknya, wajahnya berubah masam saat nama Livia disebut.

"Dia memang berlebihan soal persiapan pernikahan kami. Ia sudah marah-marah di butik tadi. Hanya karena masalah fitting gaun, dia menganggapku tidak peduli. Padahal ini masalah nyawa, masalah urgensi. Dia tidak punya rasa pengertian sedikitpun. Terkadang aku merasa dia lebih mencintai pesta pernikahannya daripada mencintai aku calon suaminya."

Elena menunduk, memainkan ujung selimutnya dengan ekspresi yang seolah-olah membela. "Jangan menyalahkannya, Axel. Wajar jika Livia ingin diprioritaskan. Meskipun... ya, aku memang takut sekali tadi. Aku sendirian, dan kau adalah satu-satunya orang yang terlintas di pikiranku. Tapi tetap saja, aku merasa jahat sudah mengganggumu," ucap Elena.

​Axel mengusap rambut Elena dengan lembut. "Kau tidak jahat, El. Yang tidak punya empati itu Livia. Harusnya dia mengerti, kau di sini tidak punya siapa-siapa selain aku."

Dialog palsu itu bekerja dengan sangat sempurna. Livia melihat mata Axel yang memancarkan kekaguman luar biasa pada Elena. Bagi Axel, Elena adalah malaikat yang penuh empati bahkan saat disakiti, sementara Livia adalah tunangan egois yang hanya mementingkan diri sendiri.

Elena tahu Livia berada di sana, ia menangkap pantulan bayangan Livia di kaca pajangan, maka ia memutuskan untuk menyiram bensin ke api yang sudah menyala.

"Xel," panggil Elena tiba-tiba, "Entah kenapa, sesak ini masih terasa di dadaku. Tapi aku teringat sesuatu. Kau ingat kalung yang dipakai Livia saat acara gala yayasan bulan lalu? Kalung zamrud dengan ukiran kuno itu? Melihatnya saja membuatku merasa tenang, seolah ada energi yang menyejukkan. Bisakah kau meminjamkannya padaku sebentar saja? Mungkin jika aku memegangnya, aku bisa merasa mendingan dan kau bisa segera kembali pada Livia."

Livia tersentak di tempatnya berdiri. Kalung itu bukan sembarang perhiasan. Itu adalah zamrud warisan turun-temurun dari nenek buyutnya, benda keramat yang hanya boleh dipakai oleh wanita keluarga mereka di hari-hari sakral. Axel tahu sejarah itu. Ia tahu betapa Livia menjaga kalung itu lebih dari nyawanya sendiri.

"Tentu, El. Kalau itu bisa membuatmu tenang, aku akan memintanya pada Livia nanti. Dia pasti akan meminjamkannya."

Livia berdehem. Suara Livia yang dingin mengagetkan Axel. Ia masuk menghampiri keberadaan Axel dan Elena.

Axel tersentak berdiri, wajahnya menunjukkan keterkejutan.

"Livia?! Kau menguntitku? Kau benar-benar tidak punya pekerjaan lain selain berbuat kekanakan seperti ini?"

"Kekanakan? Kau meninggalkan tunanganmu di butik untuk menyuapi mantan pacarmu yang sekarat namun sanggup minum wine di meja itu, dan kau menyebutku kekanakan?" Livia menunjuk botol wine yang terbuka di dekat Elena.

"Cukup, Livia! Jangan bahas yang lain. Ada apa kamu mengikutiku sampai kesini?"

"Aku hanya ingin melihat nyawa mana yang sedang kau selamatkan, Axel," jawab Livia dengan tatapan tajam pada Elena.

​"Jangan mulai lagi, Livia. Kau benar-benar tidak berbelas kasih!" Nada bicara Axel mulai meninggi. "Elena sedang kesulitan bernapas dan kau datang hanya untuk marah-marah? Kau sangat kekanakan! Lebih baik kau pulang sekarang daripada kau hanya membuat keributan yang tidak perlu."

​Livia menarik napas dalam-dalam, menatap Axel yang kini tampak seperti orang asing. "Aku memberimu pilihan terakhir, Axel. Mau pulang bersamaku sekarang? Atau kau tetap di sini?"

"Iya, aku pulang. Tapi tidak sekarang. Aku harus memastikan Elena benar-benar stabil. Kau pulanglah duluan."

​"Meskipun jika aku bilang ini kesempatan terakhirmu?" tanya Livia dengan nada datar yang mengerikan.

Axel memutar bola matanya dengan bosan. Ia sudah terbiasa dengan ancaman-ancaman kecil Livia saat mereka bertengkar. Axel mendengus.

"Iya, aku akan pulang, tapi nanti. Aku akan memastikan Elena tertidur dulu, baru aku menyusul. Kau pulanglah duluan, tenangkan dirimu yang sedang emosional itu. Jangan bersikap seperti anak kecil yang harus diseret-seret!" Axel mengibaskan tangannya, mengusir Livia.

Livia menghela napas. Sebuah kelegaan aneh merayapi dirinya. "Baiklah kalau begitu, aku pergi."

​Livia berbalik dan melangkah pergi. Axel tidak mengejarnya segera. Di matanya, Livia hanyalah tunangan yang sedang ngambek dan nanti juga akan luluh sendiri. Elena dengan nada pura-pura khawatir, membujuk Axel. "Axel, kejarlah dia. Bagaimanapun ini hari penting kalian. Maaf sudah membuatmu susah.

"Tidak, El. Kau tidak salah. Kau tidak perlu minta maaf pada orang yang tidak punya empati sedikitpun terhadap orang sakit. Dia harus belajar bahwa dunia tidak berputar di sekelilingnya saja."

Livia melangkah keluar. Langkahnya tidak terburu-buru. Ia tidak berlari sambil menangis. Ia berjalan dengan martabat yang baru saja ia temukan kembali.

Di belakangnya, ia masih mendengar suara Elena yang pura-pura membujuk Axel untuk mengejarnya, namun Axel tetap bersikeras tinggal. Tiba-tiba...

"Livia, berhenti!"

​Langkah kaki Livia terhenti tepat di depan pintu lift. Ia tidak menoleh. Axel berjalan cepat dan berdiri di hadapan tunangannya itu. Ia memegang kedua pundak Livia, menatap lekat-lekat manik mata Livia dengan ekspresi yang dibuat selembut mungkin.

​"Maaf," seru Axel dengan nada jauh lebih rendah dari perseteruan tadi.

​Dahi Livia mengernyit. Apakah pria ini akhirnya sadar?

​"Maaf sudah membuat dirimu kesal. Aku tahu hari ini melelahkan," lanjut Axel. "Begini saja, kita akan menikah setelah ini tanpa perlu ribet dengan fitting gaun dan segala macamnya. Semuanya akan kupersiapkan sesuai dengan seleramu tanpa kau harus capek-capek ikut. Kalau bisa, kita langsung datang ke catatan sipil saja besok untuk mendaftar nikah secara resmi. Soal pesta besar, nanti kita susul belakangan. Bagaimana?"

​Livia hanya diam menyimak, menunggu inti dari perubahan sikap Axel yang mendadak ini.

​"Livia, sekarang aku pinjam kalungmu ya. Sebentar saja, nanti aku kembalikan malam ini juga. Atau kalau kau mau, aku belikan yang lebih bagus, lebih mahal daripada milikmu?" Axel bertanya dengan nada seolah itu adalah hal yang sepele.

Ternyata dia ingin mengambil kalungku untuk jalaang itu. Axel benar-benar gila.

​Livia merasakan dadanya seperti dihantam. Kemarahan yang tadi terpendam meledak di dalam kepalanya. "Kalau kau bisa membeli yang lebih bagus, kenapa kau menginginkan kalungku untuk diberikan padanya, Axel?!"

​Axel berdehem, tampak sedikit gugup namun tetap pada pendiriannya. "Elena merasa baikan kondisinya setelah melihat kalung zamrud itu saat kau memakainya di acara ulang tahun perusahaan kemarin. Dia ingin memegang sebentar, katanya indah dan menenangkan. Hanya untuk membantunya mengatur napas, Livia. Nanti dikembalikan. Masa kau se-pelit itu pada orang sakit?"

Axel tahu kalung itu adalah warisan turun-temurun keluarganya. Dia tahu betapa sakralnya benda itu, dan dia ingin meminjamkannya pada mantan pacarnya berkedok teman yang sedang bersandiwara?

​"Kau benar-benar tidak punya hati, Axel. Kalung itu tidak akan pernah kuberikan padanya."

​"Kau benar-benar tidak berbelas kasih! Hanya karena sepotong perhiasan kau tega membiarkan temanmu menderita!" Axel membentak lagi, kembali ke sifat aslinya yang egois.

"Dia bukan temanku, Axel. Bukankah dia itu temanmu?!" Seringai Livia.

​Livia tidak ingin membuang energi lagi. Tanpa permisi, ia melewati Axel dan masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka. Axel hanya menatapnya dengan geram. Keras kepala sekali dia. Lebih baik aku pakai cara lain nanti. Paling-paling besok dia juga sudah memohon maaf padaku, batin Axel penuh percaya diri.

​Di dalam lift, tangan Livia bergerak cepat. Ia mengeluarkan ponselnya. Hal pertama yang ia lakukan adalah memblokir nomor Axel. Tidak berhenti sampai di situ. Biasanya dia akan membuka blokiran itu setelah beberapa jam. Tapi kali ini, tangannya menekan opsi "Hapus Kontak".

​Ia menghapus nama Axel dari hidupnya, sebagaimana ia menghapus semua harapan tentang pernikahan mereka. Livia melangkah keluar dari gedung apartemen itu menuju mobilnya.

Aku akan pergi dari hidupmu, Axel! Aku bisa meskipun tanpamu.

Bersambung.

1
Ariany Sudjana
kirain beneran akan mulai dari nol, ternyata masih minta bantuan si pelacur murahan itu 😂😂 kamu yakin si pelacur murahan itu akan membantu kamu, setelah tahu kamu jatuh miskin Axel?
🦋⃞⃟𝓬🧸༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
poin apaan ini? semuanya hanya menguntungkan sepihak /Facepalm//Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
itu bukan ancaman. tapi bukti jika kamu telah di buang
🦋⃞⃟𝓬🧸༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
emang kamu pikir, kamu sepenting itu bagi livia /Proud//Proud/
🦋⃞⃟𝓬🧸༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
ingin apa hayooo /Chuckle//Chuckle/
🦋⃞⃟𝓬🧸༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
aku tahu, moren pasti berharap jika livia mengobatinya dengan kembali menciumnya kan 🤭🤭
🦋⃞⃟𝓬🧸༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
hooh, kayaknya percuma juga bicara di tempat lain. karena pada kenyataannya udara dan tembok pun, bisa menjadi mata-mata untuk moren
🦋⃞⃟𝓬🧸༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
langsung dapat yang lebih baik, walaupun di perkirakan akan sangat amat posesif 🤭
🦋⃞⃟𝓬🧸༺⬙⃟⛅MULIANA ѕ⍣⃝✰
wajarkan takut dan berpikir macam-macam /Facepalm/
Tevina Anggita
fiksssss udahh kecintaan bgtt inii pasutri baruu😍😍😍🤭
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aslinya mah kau mau jejingkrakan kan
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
kyk film kartun dng 🤣🤣
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
untung bukan tuk tik tak tik tuk
〈⎳ FT. Zira
sling serang mereka/Facepalm/
〈⎳ FT. Zira
said NOooo...
Ariany Sudjana
wah habis kamu Axel 😄
Tevina Anggita
lanjuttt🤣🤣💪
Zenun: siyaaap
total 1 replies
aleena
Saya Baru tau mallah
jika melompT di pagi hari bisa menggugurlan kecebong 🤣🤣🤣🤭🤭
Zenun: Gatau tuh Livia dapet referensi darimana. Makanya Morenzo mengumpat sambil ketawa
total 1 replies
Tevina Anggita
lanjutt💪
〈⎳ FT. Zira
sekerang jijik,, sebelumnya ngejar🤧
Zenun: udah anu dia
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!