NovelToon NovelToon
INVINCIBLE DIVINE EMPEROR NINE HEAVENS HAREM

INVINCIBLE DIVINE EMPEROR NINE HEAVENS HAREM

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Harem / Kultivasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Noxalisz

Di dunia kultivasi yang luas, Xiao Chen adalah anomali—diturunkan dari langit dengan ketampanan dan kekuatan absolut tanpa batas. Dibesarkan di Hutan Sunyi oleh Qing Yan, ia tumbuh tanpa memahami asal-usulnya. Saat berusia 15 tahun, ia memulai perjalanan menjelajahi dunia, mengungkap misteri dirinya, menghadapi berbagai faksi, serta membangun hubungan dengan wanita dan kekuatan yang mengguncang tiga alam.

bonus langsung 10 episode pertama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noxalisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gurun Pasir Hitam

Peta dari Cermin Bintang menunjukkan jalan ke selatan—jauh ke selatan, melewati padang rumput hijau yang perlahan berubah menjadi tanah kering, lalu gurun tandus. Lima hari perjalanan dari Kuil Seribu Bintang.

Rombongan sekarang berjumlah sembilan: Xiao Chen, Wei Ling, Lin Yao, Xu Mei, Liu Ruyan, Wei Zhen, Feng Mo, Zhang Yuan, dan tiga penjaga batu yang berjalan di belakang seperti pengawal abadi. Liu Ruyan yang baru bergabung masih menyesuaikan diri dengan dinamika kelompok yang sudah terbentuk.

"Kau tidak perlu membawa semua gulungan itu," kata Xu Mei pada Liu Ruyan saat mereka berkemas di pagi hari. "Perjalanan ke gurun akan panas dan melelahkan."

"Aku sudah hidup tiga ribu tahun, Xu Mei. Aku tahu cara berkemas." Liu Ruyan memasukkan gulungan terakhir ke dalam cincin penyimpanannya. "Lagipula, beberapa catatan ini mungkin berguna jika kita menemukan reruntuhan lain."

"Aku hanya mengingatkan."

"Aku menghargainya." Liu Ruyan menatap Xu Mei sejenak. "Kau sudah lama mengenalnya?"

"Siapa? Xiao Chen?"

"Ya."

Xu Mei memikirkan jawabannya. "Beberapa bulan. Tapi rasanya lebih lama."

"Karena setiap hari bersamanya terasa seperti... peristiwa."

Xu Mei tersenyum tipis. "Kau merasakannya juga."

"Aku tidak mungkin tidak merasakannya." Liu Ruyan menatap ke arah Xiao Chen yang sedang membantu Wei Ling menaiki kudanya—gerakannya lembut, tangannya memegang pinggang Wei Ling lebih lama dari yang diperlukan untuk sekadar membantu. "Dia membuat semuanya terasa... penting."

"Itu kata yang tepat. Penting."

Mereka bertukar pandang. Dua wanita karier yang telah mengabdikan hidup mereka untuk Paviliun Harta Surgawi, sekarang terikat pada pria yang sama.

"Aneh, ya," kata Xu Mei.

"Sangat."

Perjalanan ke selatan membawa mereka melewati Desa Pasir Putih—sebuah pemukiman kecil terakhir sebelum gurun. Penduduk desa, yang sebagian besar adalah petani dan pemburu, belum pernah melihat rombongan seperti ini. Tiga penjaga batu raksasa berjalan di belakang, dan seorang pemuda berambut putih keperakan menunggang kuda di depan.

Begitu Xiao Chen memasuki desa, kehidupan di sana berhenti.

Seorang perempuan penjual buah—mungkin tiga puluh tahun, cantik dengan kulit cokelat dan rambut hitam dikepang—menjatuhkan keranjang jeruknya. Buah-buah itu menggelinding ke jalan, tapi dia tidak memperhatikan. Matanya terpaku pada Xiao Chen.

"A... apa yang kulihat..." bisiknya.

Suaminya, seorang pria berotot yang sedang memperbaiki pagar, menegang. Tapi saat dia melihat istrinya menatap Xiao Chen, alih-alih marah, dia malah menatap Xiao Chen juga—lalu menghela napas panjang. "Ya, aku juga akan menatapnya kalau jadi kau."

Di depan sebuah rumah kecil, seorang gadis remaja—mungkin enam belas tahun, rambut hitam panjang, mata cokelat besar—berdiri terpaku. Pipinya merah padam. Tangannya mencengkeram gagang sapu begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Ibu...," bisiknya pada wanita di sebelahnya. "Siapa dia?"

"Aku tidak tahu, sayang."

"Aku ingin tahu."

"Kita semua ingin tahu."

Xiao Chen turun dari kudanya di depan sumur desa. Dia mengisi kendi air, gerakannya tenang dan efisien. Saat dia meneguk air, setetes air mengalir dari sudut bibirnya, menyusuri lehernya, dan menghilang di balik kerah jubahnya.

Penjual buah itu masih berdiri terpaku di antara jeruk-jeruknya yang berserakan. Gadis remaja itu sekarang bersandar pada sapunya, lututnya lemas. Bahkan wanita-wanita tua yang sedang duduk di beranda—nenek-nenek berusia ratusan tahun yang kultivasinya cukup untuk membuat mereka tetap muda—berhenti mengobrol dan menatap dengan mata berbinar.

"Dia bisa menjadi cucuku," bisik salah satu nenek.

"Tapi dia terlihat seperti dewa," jawab yang lain.

"Nenek, kau sudah bilang tidak akan tertarik pada pria lagi."

"Ini pengecualian."

Lin Yao, yang menyaksikan semua ini, menarik kudanya ke samping Wei Ling. "Setiap desa sama."

"Aku sudah berhenti menghitung," jawab Wei Ling.

"Setidaknya kali ini tidak ada yang pingsan."

Tepat saat dia mengatakannya, si gadis remaja dengan sapu akhirnya pingsan. Sapunya jatuh dengan bunyi keras, dan ibunya buru-buru menangkapnya sebelum kepalanya menghantam tanah.

"Kau baru saja mengatakan itu," desis Wei Ling.

"Aku tahu. Ini salahku."

Xiao Chen selesai minum, mengembalikan kendi ke sumur, dan menoleh ke arah gadis yang pingsan. "Dia baik-baik saja?"

"Hanya... kaget," jawab ibunya, suaranya bergetar. "Dia belum pernah melihat... seseorang sepertimu."

Xiao Chen berjalan mendekat, berlutut di samping gadis itu, dan menyentuh dahinya dengan lembut. Satu detik kemudian, gadis itu membuka matanya. Dia melihat Xiao Chen dari jarak beberapa sentimeter, dan wajahnya langsung berubah menjadi merah padam.

"Aku... apa aku di surga?"

"Belum," jawab Xiao Chen, senyum nakalnya muncul. "Kau masih di desamu."

"Oh." Gadis itu berkedip beberapa kali. "Kalau begitu... surga ada di desaku?"

Ibunya menghela napas panjang. "Maafkan dia, Tuan. Dia terlalu banyak membaca novel roman."

Mereka melanjutkan perjalanan setelah mengisi perbekalan. Gurun Pasir Hitam terbentang di depan—namanya sesuai dengan pemandangannya. Pasir di sini berwarna hitam pekat, seperti bubuk arang raksasa yang membentang sejauh mata memandang. Matahari memantul di atasnya, menciptakan fatamorgana yang menari-nari di cakrawala.

"Mengapa pasirnya hitam?" tanya Zhang Yuan, menyentuh pasir dengan ujung kakinya.

"Energi kuno," jawab Liu Ruyan. "Menurut catatan Paviliun, gurun ini dulu adalah tempat pertempuran besar antara dua faksi kultivator. Energi dari pertempuran itu meresap ke tanah dan mengubah warna pasirnya."

"Pertempuran apa?"

"Itu yang tidak diketahui. Catatannya sudah hilang."

Xiao Chen menatap ke kejauhan. Di tengah gurun, samar-samar terlihat siluet sebuah menara—tinggi, menjulang, hitam seperti pasir di bawahnya. "Itu menara yang kulihat di Cermin Bintang."

"Mari kita bergerak. Kita harus mencapai menara itu sebelum malam—gurun ini katanya menjadi sangat dingin setelah matahari terbenam."

Mereka bergerak ke dalam gurun. Kuda-kuda spiritual melangkah dengan hati-hati di atas pasir hitam, meninggalkan jejak yang segera terhapus oleh angin. Para penjaga batu berjalan di belakang, kaki batu mereka menciptakan bunyi berderak yang konstan.

Semakin dalam mereka masuk, semakin aneh suasananya. Udara menjadi berat. Energi kuno yang Liu Ruyan sebutkan terasa di kulit seperti listrik statis. Dan di langit, awan-awan mulai berkumpul—bukan awan hujan, tapi awan hitam yang berputar perlahan di atas menara.

"Ada sesuatu di menara itu," kata Xiao Chen. "Aku bisa merasakannya."

"Kain emas?" tanya Wei Ling.

"Mungkin. Atau sesuatu yang lain."

Menjelang senja, mereka mencapai kaki menara.

Bangunan itu lebih besar dari yang terlihat dari kejauhan—tingginya setidaknya dua ratus meter, terbuat dari batu hitam yang sama dengan pasir di sekitarnya. Tidak ada jendela. Tidak ada pintu. Hanya permukaan batu yang halus dengan ukiran-ukiran kuno yang sudah aus dimakan waktu.

"Bagaimana kita masuk?" tanya Feng Mo, menyentuh permukaan batu. "Tidak ada celah."

Xiao Chen mengeluarkan kain emasnya—sekarang sudah tiga potong, membentuk lebih dari setengah kain utuh. Begitu kain itu terkena udara gurun, ukiran di dinding menara langsung menyala. Cahaya keemasan mengalir melalui garis-garis ukiran seperti darah melalui pembuluh nadi.

Tanah di bawah mereka bergetar. Sebuah pintu—sebelumnya tidak terlihat—muncul di permukaan batu, bergeser terbuka dengan suara gemuruh.

"Tentu saja," gumam Zhang Yuan. "Kunci segala sesuatu adalah kain itu."

"Kau baru sadar sekarang?" tanya Lin Yao.

"Aku sadar. Aku hanya tidak suka."

Satu per satu, mereka memasuki menara. Begitu semuanya masuk, pintu di belakang mereka tertutup. Tapi kegelapan tidak bertahan lama—di sepanjang dinding, kristal-kristal kecil mulai bersinar, menerangi lorong melingkar yang menanjak ke atas.

"Tangga," kata Xu Mei. "Menuju ke puncak."

Mereka mulai mendaki. Lorong itu sempit, hanya cukup untuk dua orang berjalan berdampingan. Para penjaga batu menunggu di luar—terlalu besar untuk masuk.

Setelah mendaki selama hampir satu jam, mereka tiba di sebuah ruangan di tengah menara. Berbeda dari lorong sempit sebelumnya, ruangan ini luas—berbentuk lingkaran dengan langit-langit tinggi yang menghilang ke dalam kegelapan. Di tengah ruangan, melayang di udara, sebuah bola energi hitam berputar perlahan.

Dan di dalam bola itu... sepotong kain emas.

"Potongan keempat," bisik Xiao Chen.

Tapi begitu dia melangkah maju, bola hitam itu berdenyut. Dari dalam kegelapannya, sesuatu mulai terbentuk—sosok-sosok hitam, semu, berjumlah lima. Mereka tidak memiliki wajah, hanya siluet manusia dengan mata merah menyala.

"Penjaga," kata Liu Ruyan, suaranya tegang. "Ini berbeda dari penjaga batu. Ini adalah... jiwa yang terperangkap."

"Bisakah kau mengatasinya?" tanya Xu Mei pada Xiao Chen.

Xiao Chen menatap kelima sosok itu. Mereka tidak seperti monster non-humanoid—mereka adalah humanoid, mungkin sisa-sisa kultivator yang terperangkap di sini. Tapi dia bisa merasakan sesuatu dari mereka. Bukan permusuhan. Melainkan... kelelahan. Kesedihan. Mereka tidak ingin bertarung. Mereka ingin... dibebaskan.

"Aku tidak akan menyerang kalian," kata Xiao Chen, suaranya tenang. "Aku di sini untuk mengambil kain itu. Jika kalian menghalangi, aku tidak punya pilihan."

Kelima sosok itu tidak bergerak. Tapi mata merah mereka berkedip.

Lalu, perlahan-lahan, mereka menghilang—satu per satu, seperti asap yang tertiup angin. Bola energi hitam di tengah ruangan berdenyut sekali lagi, lalu terbuka, melepaskan potongan kain emas keempat ke tangan Xiao Chen.

Begitu kain itu menyatu dengan tiga lainnya, cahaya keemasan memenuhi ruangan. Lebih terang dari sebelumnya. Lebih kuat. Dan gambar-gambar baru membanjiri pikiran Xiao Chen.

Kota di langit. Istana-istana mengambang. Sosok-sosok berjubah putih membungkuk padanya. Tahta kosong.

Tapi kali ini lebih jelas. Dia bisa mendengar suara—ribuan suara memanggilnya dengan satu gelar: "Yang Mulia."

Dan kemudian, suara lain. Suara yang dia kenali—suaranya sendiri, tapi berbeda. Lebih tua. Lebih agung.

"Aku akan kembali."

Gambar-gambar itu menghilang. Xiao Chen membuka matanya. Dia tidak sadar bahwa dia telah menutupnya.

"Apa yang terjadi?" tanya Wei Ling cemas.

"Aku ingat sesuatu," jawab Xiao Chen pelan. "Bukan semuanya. Tapi... cukup untuk tahu bahwa aku benar-benar berasal dari Alam Dewa." Dia menatap keempat potong kain yang sekarang membentuk lebih dari setengah kain utuh. "Dan aku adalah... seseorang yang penting di sana."

"Seberapa penting?" tanya Lin Yao.

"Cukup untuk memiliki tahta. Cukup untuk dipanggil 'Yang Mulia'."

Keheningan turun. Lalu Liu Ruyan bersuara, suaranya pelan. "Jadi kita sedang bepergian dengan seorang raja dewa."

"Mantan raja dewa, sepertinya. Tahtaku kosong. Kota itu hancur. Dan aku... jatuh."

"Itu menjelaskan banyak hal," kata Xu Mei.

"Tapi tidak semuanya," tambah Xiao Chen. "Aku masih belum tahu kenapa itu terjadi. Atau siapa yang melakukannya." Dia menatap kain emas di tangannya. "Tapi aku akan menemukannya."

1
TGT
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!