NovelToon NovelToon
JALAN PENDEKAR NAGA

JALAN PENDEKAR NAGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hamtaro Dasha

Seri Kedua dari Lahirnya Pendekar Naga!

___
Kemunculan Pendekar Naga telah mengguncang keseimbangan dunia—membangunkan makhluk kuno dan menarik perhatian kekuatan yang telah lama menunggu dalam bayang-bayang.

Dunia berubah.

Sekte-sekte hancur tanpa sisa. Jejak kehancuran menyebar tanpa arah… dan pelakunya adalah sosok yang tidak pernah dibayangkan oleh Wei Zhang Zihan.

Chu Kai.

Sebagai Pendekar Suci, Wei Zhang Zihan tidak punya pilihan selain menelusuri jejak itu—mengungkap kebenaran yang tersembunyi, dan menghadapi satu kenyataan yang tidak ingin ia percayai:

Mungkin, orang yang harus ia hentikan… adalah orang yang seharusnya menjadi pelindung dunia.

Pendekar Naga itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hamtaro Dasha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4 - Pertemuan [1]

Wei Zhang Zihan tertegun. Sama sekali tidak bisa mempercayai apa yang ia lihat barusan. Sosok di hadapannya itu... benar-benar adalah Chu Kai.

"Bagaimana mungkin..."

"Ukh!"

Tubuh Wei Zhang Zihan tersentak. Rintihan lemah itu menariknya kembali ke kenyataan. Dia segera membantu Zhui Ying, mengalirkan energi spiritualnya dan berusaha menutup luka gadis itu yang kian memburuk.

Hanya saja, luka Zhui Ying terlalu parah. Darah tidak berhenti mengalir dari kedua tangan dan kakinya yang hancur. Bahkan meski mengerahkan energi spiritual dalam jumlah besar—Wei Zhang Zihan tidak mampu menghentikan pendarahan gadis ini.

"A-aku..." Zhui Ying memuntahkan darah. Bibirnya bergetar, seolah ingin mengatakan sesuatu, namun kata-kata itu tidak sempat terucap lebih jauh.

Napasnya semakin berat, pandangannya kehilangan fokus… hingga akhirnya redup.

Telapak tangan Wei Zhang Zihan membeku. Energi spiritualnya berhenti mengalir, tampak menggantung sia-sia di udara.

Mata pemuda itu perlahan melebar.

Gadis yang berusaha ia selamatkan... telah benar-benar tiada.

!

Wei Zhang Zihan tidak bergerak. Waktu seolah membeku di sekelilingnya.

Angin tetap berhembus, membawa bau darah dan debu, namun semuanya terasa jauh—seolah terpisah dari kesadarannya.

Matanya perlahan beralih. Dari wajah pucat dan dingin Zhui Ying... menuju kehancuran di sekitarnya.

Tanah retak, pohon-pohon tumbang. Sisa benturan energi spiritual masih berdenyut samar di udara, sementara beberapa puing masih terbakar.

Di antara semua itu—bayangan kabut hitam kembali muncul dalam benaknya, dan sosok Chu Kai yang diselimuti oleh kabut tersebut.

Denyut nyeri menjalar di dada Wei Zhang Zihan, seolah sesuatu meremas jantungnya tanpa ampun.

"...Tidak mungkin."

Suara itu nyaris tak terdengar, lebih seperti bisikan yang hilang tertelan angin.

Wei Zhang Zihan ingin menyangkalnya. Menganggap semua yang dilihatnya hanyalah ilusi, atau jebakan yang diciptakan musuh. Namun kenyataan justru menghantam tepat di depan matanya.

Kecewa.

Marah.

Sedih.

Dan rasa bersalah yang menyesakkan.

Semuanya bercampur menjadi satu, berputar liar dalam dadanya seperti badai tanpa arah.

Tenggorokan Wei Zhang Zihan terasa kering. Setiap tarikan napas seperti menggores dari dalam. Dia menunduk perlahan. Tatapannya kembali jatuh pada Zhui Ying.

Untuk beberapa saat... dia hanya menatap tubuh yang telah dingin itu. Lalu, dengan gerakan kaku, Wei Zhang Zihan mencoba mengangkatnya.

Setidaknya, ia tidak ingin membiarkan Zhui Ying terbaring begitu saja di tempat yang dingin dan hancur ini.

Namun tepat saat tangannya menyentuh pedang patah di sisi tubuh Zhui Ying—sebuah cahaya tiba-tiba muncul.

!!

Wei Zhang Zihan tersentak.

Cahaya putih lembut memancar dari bilah pedang yang retak itu. Awalnya redup, namun perlahan semakin terang, berdenyut pelan seperti jantung yang hidup kembali.

Titik-titik cahaya mulai terlepas, melayang, dan berkumpul di udara. Dalam hitungan napas, cahaya itu mengembun pada satu titik, memadat sebelum akhirnya membentuk siluet seorang wanita.

Sosoknya perlahan menjadi jelas.

Wei Zhang Zihan terkejut melihat sosok yang berdiri di hadapannya. Wanita itu mengenakan pakaian merah yang berkibar pelan meski tidak ada angin yang menyentuhnya.

Rambutnya panjang, jatuh seperti aliran darah yang tenang. Aura yang dipancarkan olehnya jelas bukan milik sesuatu yang hidup.

Wei Zhang Zihan membeku beberapa saat sebelum pupil matanya menyusut.

"Kau...?"

Dia mengenali wanita ini. Sosok tersebut pernah dilihatnya saat penjelajahan makam kuno di masa lalu.

"Haaah... benar ini kau." wanita tersebut menarik napas panjang, mengusap dadanya pelan, seolah merasa lega. "Kupikir aku tidak akan menemukan seseorang yang kukenal di tempat ini. Untung saja aku mengenali energi spiritualmu."

Wei Zhang Zihan berdiri, menatap sosok tersebut dengan saksama sebelum membuka suara. "Bukankah kau... roh pedang Chu Kai?"

"I-iya... sepertinya. Tapi itu dulu."

Wanita yang berdiri di hadapan Wei Zhang Zihan tidak lain adalah Wei Shezi—Roh Kuno berwujud Ular Kalajengking yang menjadi Roh Pedang Pendekar Naga milik Chu Kai.

Wei Shezi menggaruk pipinya yang tidak gatal sebelum menyilangkan tangan. Dia menghela napas panjang, lalu berkata, "Sebaiknya kau jangan terlalu mengingat masa lalu. Aku khawatir pertemuan pertama kita tidak menyenangkan. Tapi... aku ingat energi spiritualmu. Karena itu aku berani muncul seperti ini."

"Apa... yang terjadi padanya?" suara Wei Zhang Zihan rendah. Dibandingkan identitas sosok di hadapannya, dia jauh lebih peduli pada keadaan Chu Kai.

Kehadiran Roh Pedang Pendekar Naga yang justru menghuni pusaka seorang kultivator biasa—jelas memiliki alasan kuat di dalamnya.

Wei Shezi menatap sekeliling sebelum menggeleng pelan. "Tidak di sini. Sebaiknya aku jelaskan di tempat lain. Aku pinjam pedangmu dulu."

Wei Shezi bahkan tidak menunggu respons. Tubuhnya kembali menjadi butiran cahaya, melesat ke arah sarung pedang pemuda itu, lalu menghilang.

*

*

Butuh waktu lama bagi Wei Zhang Zihan untuk memakamkan para anggota Sekte Long Yu yang telah tiada, termasuk jasad Zhui Ying.

Dia menahan diri. Bahkan memutuskan pergi dari wilayah aliran hitam, dan baru berhenti ketika menemukan anak sungai yang jernih.

Matahari bersinar terik di atas kepalanya saat Wei Zhang Zihan beristirahat sejenak, membersihkan tubuh dan pakaiannya yang kotor. Sosok Wei Shezi baru muncul saat ia meletakkan pedangnya di atas batu di pinggir sungai.

"Haaah... tubuh yang bagus..." suara Wei Shezi pelan, namun matanya tampak kosong sesaat sebelum kembali berkilat tipis. Dia menopang dagunya dengan kedua tangan, memperhatikan tubuh bagian atas Wei Zhang Zihan.

Wei Shezi menunggu sampai Wei Zhang Zihan selesai membersihkan diri. Dia tersenyum kecil saat pemuda itu merapikan pakaiannya, sementara Wei Zhang Zihan sendiri tetap berekspresi tenang—nyaris dingin.

"Sekarang, bisakah kau menjelaskannya?" Wei Zhang Zihan akhirnya buka suara saat mengambil pedangnya. "Apa yang terjadi pada Kai?"

Wei Shezi berkedip. Senyumnya perlahan memudar, wajahnya menjadi pucat.

"Itu..."

Dia memperbaiki posisi duduknya dan menatap aliran sungai. Wei Zhang Zihan berdiri di sampingnya, diam mendengarkan.

"Aku dan Kai pergi ke Hutan Móguǐ. Tujuannya agar dia bisa mengendalikan kekuatan dari Teknik Pernapasannya. Dia bertarung sengit dengan penghuni hutan itu. Aku... tidak bisa membantu sama sekali."

Wei Shezi menarik napas perlahan. Bayangan samar melintas di benaknya. Keningnya mengerut, tangannya sempat bergetar sebelum akhirnya terkepal.

"Saat itu... Chu Kai benar-benar seperti orang lain." Wei Shezi merinding. "Di-dia berubah! Dan itu sangat menakutkan."

Wanita berpakaian merah itu mengusap-usap lengannya sebelum akhirnya menoleh. Tatapan matanya menunjukkan reaksi cemas dan ketakutan saat melihat Wei Zhang Zihan.

"Pedang Pendekar Naga yang dipakai Chu Kai... tiba-tiba saja memiliki ingatan sendiri dan membuatku terlempar keluar di dalamnya." wajah Wei Shezi pucat. "Ada roh lain yang menghuni pedang itu. Meski dia tampan tapi sangat mengerikan! Oh! Astaga... Aku benar-benar tidak mau mengingatnya."

"Aku sudah banyak membunuh. Sejujurnya aku juga bukan termasuk orang yang baik," Wei Shezi melanjutkan. "A-aku juga suka bertindak kejam—tapi roh asli yang menghuni Pedang Pendekar Naga itu... dia lebih buruk dari monster. Haah... Tidak! Dia... Dia Iblis. Aku tidak berani."

Wei Shezi menutup wajahnya dan menggeleng beberapa kali. Dia menepuk-nepuk pipinya dan merasa sangat frustrasi. "Aaah~ tapi dia sangat tampan dan punya aura yang menawan. Bagaimana aku harus bersikap?"

Wei Shezi menengadah, menatap langit biru di atas sana sebelum menarik napas. "Ini sulit untuk bisa kuterima dan membuatku gelisah. Dia seperti... seperti roh suci—tapi juga sangat mengerikan. Aku benar-benar bingung menjelaskannya."

"Situasi ini tidak pernah kualami sebelumnya." Wei Shezi kembali mengusap-usap lengannya. "Roh itu memiliki keindahan yang mengerikan. Aku takut, tapi juga mengaguminya. Apa aku... secara tidak sadar menyukai tipe yang seperti itu?"

Wei Zhang Zihan memperhatikan Wei Shezi dengan saksama. Roh pedang di sampingnya ini benar-benar memiliki sifat yang aneh, tapi hanya sosok ini yang tahu tentang perubahan Chu Kai.

"Jadi maksudmu... Kai dalam pengaruh roh asli dari Pedang Pendekar Naga?" Wei Zhang Zihan bertanya.

"Uhm. Itu benar." Wei Shezi mengangguk, "Tapi... sedikit berbeda juga."

Wei Shezi menggeleng pelan. "Aku tidak tahu pastinya... tapi dengarkan ini baik-baik."

Dia menatap Wei Zhang Zihan, tatapannya sedikit meredup saat mulai menjelaskan. "Kai bermaksud melemahkan kekuatan Sekte Bulan Mati. Dan sebagai langkah pertama... dia menyerang sekte-sekte yang beraliansi dengan mereka."

Wei Shezi menarik napas pelan. "Sejak aku terlempar keluar dari Pedang Pendekar Naga... aku hanya bisa mengawasinya dari jauh, bahkan tidak berani untuk ikut campur."

"Melemahkan kekuatan Sekte Bulan Mati..." suara Wei Zhang Zihan rendah, tertahan. "Dengan membantai para kultivator?"

"Bukankah itu hal yang wajar?" Wei Shezi mengangkat satu alis, ekspresinya datar dan tanpa ragu ia berkata. "Jika ingin menjatuhkan musuh yang kuat... pengorbanan seperti itu tidak bisa dihindari."

"Kau..."

Genggaman tangan Wei Zhang Zihan mengencang. Aura di sekitarnya menurun dingin. Suaranya berubah tajam, "Entah itu aliran hitam atau putih... nyawa manusia tetaplah berharga."

Tatapan Wei Zhang Zihan menekan. "Bagaimana mungkin Kai memiliki pemikiran seperti itu?"

"Kau tidak mengerti." Wei Shezi menggeleng. Kali ini suaranya lebih rendah. "Kai tidak sepenuhnya sadar."

Wei Shezi terdiam sejenak, seolah mengingat sesuatu yang tidak nyaman. "Ada satu waktu... roh itu tiba-tiba menghilang dan pada saat itu—Chu Kai kembali sadar. Dia mengenaliku."

Wei Shezi menatap ke arah aliran air, suaranya melemah. "Dia yang memintaku mencarimu. Tapi... Haah... pergerakanku terbatas. Aku tidak bisa bertahan lama di luar pusaka, dan tidak semua senjata bisa kutempati. Gadis kecil itu... juga tidak pernah memasuki wilayah aliran putih."

Wei Shezi menunduk, jemarinya sedikit mengepal. "Kekuatan jiwaku terus terkuras selama dua tahun ini dan aku hanya bisa menunggu. Tapi syukurlah karena kau datang tepat waktu."

Wei Zhang Zihan tidak membalas. Dia ingin menyangkalnya, namun kata-kata itu tertahan di tenggorokannya.

Kedatangannya... justru terlalu terlambat.

Jika saja ia datang lebih cepat—mungkin tidak akan ada begitu banyak nyawa yang terbuang sia-sia.

Tatapan Wei Zhang Zihan perlahan meredup.

Sekarang, bahkan dia tidak tahu harus melakukan apa dengan semua kenyataan ini.

Chu Kai...

Nama itu terasa berat di dalam benaknya.

Pendekar Naga yang seharusnya melindungi dunia—justru berubah menjadi sosok berbahaya yang hanya tahu menumpahkan darah.

******

1
uh uh
up mna
uh uh
woy Sialan apa apan up satu
uh uh
sialan GK ad up
ind@h
/Coffee/ meluncur..
ind@h
👣👣👣👣
ind@h
hahhh..langsung merasa aman dari suaminya..
ind@h
kangen narsismu yang mulia...
uh uh
mana up sialan
uh uh
un mna
uh uh
up mna
uh uh
mna up sialan
uh uh
mna up
uh uh
up mana sialan👺
uh uh
mana up
enda harahap
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Indah Hidayat
roh pedangnya cantik
Alw
orang tidak waras itu kembali
Nanik S
Kong Yang akhirnya bisa melihat ibunya
Nanik S
Ibunya mengenali Aura dari Anaknya
Nanik S
Keren dan keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!