Aiden "The Ghost" Volkov adalah definisi dari kesempurnaan yang mematikan. Sebagai raja mafia penguasa jalur perdagangan gelap Eropa, ia dikenal dingin, tak tersentuh, dan sangat mencintai keteraturan. Hidupnya adalah tentang strategi, senjata, dan keheningan.
Namun, tatanan hidup Aiden hancur berantakan saat ia bertemu dengan Ziva, seorang gadis Indonesia yang tinggal di luar negeri dan bekerja sebagai kurir makanan paruh waktu. Pertemuan mereka dimulai dengan bencana: Ziva secara tidak sengaja menabrak konvoi mobil baja Aiden dengan skuter bututnya, lalu malah memarahi Aiden karena "merusak spion estetiknya".
Ziva bukan cewek tangguh yang jago bela diri; dia hanyalah gadis dengan tingkat keberuntungan negatif dan mulut yang tidak punya rem. Di saat musuh-musuh Aiden menggunakan peluru, Ziva menggunakan ketidaksengajaan—seperti menjatuhkan vas kuno seharga jutaan dollar tepat di kepala pembunuh bayaran yang sedang mengincar Aiden.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Air Mata Ziva dan Kemarahan Aiden
Malam di Milan seharusnya menjadi waktu untuk merayakan kemenangan setelah insiden di gudang pendingin. Namun, suasana di Mansion Volkov justru terasa seperti badai yang tertahan di balik cakrawala. Aiden Volkov duduk di ruang kerjanya, menatap monitor yang menampilkan rekaman interogasi Valerio. Namun, fokusnya terpecah. Di kepalanya, ia masih melihat bayangan Ziva yang gemetar di atas peti kayu, menangisi permen jahe sementara nyawanya berada di ujung tanduk.
Aiden menyadari satu hal yang menyakitkan: semakin dekat Ziva dengannya, semakin besar target yang terlukis di punggung gadis itu.
Pintu ruang kerja terbuka pelan. Ziva masuk tanpa suara cemprengnya yang biasa. Ia tidak membawa baki makanan atau bando telinga kucing. Ia hanya mengenakan kaos kebesaran dan celana jogger, wajahnya tampak kuyu dengan mata yang sedikit sembab.
"Bang Don... boleh gue ngomong sebentar?" suara Ziva kecil, nyaris tenggelam dalam keheningan ruangan.
Aiden memutar kursinya. "Masuklah, Ziva. Ada apa? Kau masih memikirkan kejadian di gudang?"
Ziva duduk di sofa kulit yang terlalu besar untuk tubuh kecilnya. Ia menunduk, memainkan jemarinya. "Gue... gue rasa gue nggak cocok di sini, Bang. Tadi pas gue narik pelatuk pistol bunga matahari itu, tangan gue nggak berhenti gemeter. Gue takut banget. Bukan takut mati buat diri gue sendiri, tapi gue takut kalau gue gagal, lu yang bakal mati gara-gara gue."
Aiden terdiam. Ia bisa merasakan beban yang menekan pundak Ziva. "Kau menyelamatkanku, Ziva. Itu sudah lebih dari cukup."
"Tapi sampai kapan, Bang?" Ziva mendongak, dan Aiden bisa melihat air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Tadi itu orang-orang jahat yang badannya gede-gede. Besok siapa lagi? Gue cuma kurir seblak yang kesasar jadi asisten mafia. Gue nggak punya mental baja kayak lu atau Bang Marco. Gue... gue pengen pulang, Bang. Gue kangen rumah yang nggak ada suara tembakannya."
Kata-kata itu menghantam Aiden lebih keras daripada peluru kaliber mana pun. Pulang. Sebuah kata sederhana yang bagi Aiden berarti kehilangan satu-satunya cahaya dalam kegelapan hidupnya.
"Kau ingin meninggalkanku?" tanya Aiden, suaranya mendadak menjadi sangat dingin, sebuah mekanisme pertahanan diri yang otomatis muncul saat ia merasa terancam secara emosional.
Ziva mulai menangis. Air matanya jatuh membasahi pipinya yang kemerahan. "Bukan gitu, Bang... gue sayang sama lu. Tapi gue takut. Gue nggak kuat ngelihat darah terus-menerus. Gue nggak kuat setiap kali lu pergi, gue harus mikir apa lu bakal balik dalam keadaan utuh atau tinggal nama."
Aiden berdiri dengan kasar, membuat kursinya terdorong ke belakang. Kemarahan mulai membakar dadanya—bukan marah pada Ziva, tapi marah pada dirinya sendiri, pada dunianya, dan pada takdir yang membuatnya tidak bisa memberikan kedamaian bagi wanita yang ia cintai.
"Kau pikir aku ingin hidup seperti ini?!" suara Aiden meninggi, menggema di ruangan luas itu. "Kau pikir aku suka melihatmu gemetar ketakutan di depanku? Aku mencoba melindungimu, Ziva! Aku memberikanmu segalanya agar kau aman!"
"Tapi gue nggak ngerasa aman kalau hati gue selalu was-was, Bang!" teriak Ziva balik, suaranya pecah karena isak tangis. "Uang banyak, mansion mewah, asisten banyak... itu semua nggak ada gunanya kalau setiap malem gue harus denger suara pistol lu di bawah bantal!"
Aiden melangkah mendekati meja kerjanya dan dalam satu gerakan penuh amarah, ia menyapu semua barang di atasnya. Gelas kristal, tumpukan dokumen, hingga lampu meja antik jatuh berantakan dan hancur di lantai.
PRANG!
Ziva tersentak, menutup telinganya dengan kedua tangan. Ia belum pernah melihat Aiden semarah ini. Biasanya kemarahan Aiden adalah api yang membeku—diam namun mematikan. Tapi kali ini, Aiden adalah gunung berapi yang meletus.
"Kau ingin pergi?! Silakan!" Aiden menunjuk ke arah pintu dengan tangan yang bergetar. "Pergilah kembali ke kehidupanmu yang membosankan! Kembali jadi kurir yang tidak punya perlindungan! Tapi jangan salahkan aku jika musuh-musuhku menemukanmu di sana dan menghancurkanmu hanya untuk membalas dendam padaku!"
Aiden meninju dinding kayu di sampingnya hingga retak. "Aku sudah memberikan segalanya untuk menjagamu tetap hidup, Zivanna! Aku bahkan rela merusak tatonya demi pita pink konyolmu itu agar kau merasa nyaman di sini! Dan sekarang kau bilang kau ingin pergi?!"
Ziva berdiri, tubuhnya gemetar hebat. Ia menatap Aiden dengan tatapan yang penuh luka. "Lu nggak ngerti, Bang... lu nggak pernah ngerti rasanya jadi orang biasa yang masuk ke dunia monster kayak lu. Lu cuma mentingin ego lu buat milikin gue, tapi lu nggak pernah mikirin gimana hancurnya mental gue setiap hari."
Ziva berbalik dan lari keluar dari ruangan itu sambil terisak keras. Suara langkah kakinya yang menjauh terdengar pilu di koridor yang sunyi.
Aiden berdiri terpaku di tengah ruangannya yang berantakan. Napasnya memburu. Tangannya yang meninju dinding mulai mengeluarkan darah, namun ia tidak merasakannya. Yang ia rasakan hanyalah kehampaan yang luar biasa besar di dadanya.
Ia melihat ke lantai, di antara pecahan kristal, terlihat sebuah boneka beruang kecil—gantungan kunci pistol Ziva yang terlepas saat insiden di gudang tadi siang. Aiden mengambil boneka itu dengan tangan yang gemetar.
"Tuan..." Marco muncul di pintu dengan wajah cemas. Ia melihat kekacauan di ruangan itu dan menyadari bahwa badai terbesar baru saja terjadi.
"Siapkan jet pribadi," ucap Aiden tanpa menoleh. Suaranya kini datar, tanpa emosi, kembali menjadi Sang Raja Dingin yang tidak tersentuh. "Bawa dia kembali ke Indonesia besok pagi. Berikan dia uang yang cukup untuk membeli seluruh kecamatan tempat tinggalnya. Pastikan dia tidak pernah kekurangan seumur hidupnya."
"Tuan, apakah Anda yakin? Nona Ziva hanya sedang ketakutan, dia—"
"LAKUKAN SAJA, MARCO!" bentak Aiden. "Dia benar. Aku adalah monster. Dan monster tidak seharusnya menyimpan bunga matahari di sarangnya."
Aiden berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah kota Milan. Ia meremas boneka beruang kecil itu di tangannya. Di bawah cahaya bulan, ia tampak seperti pria paling berkuasa di dunia, namun di dalam hatinya, ia merasa seperti pria paling kalah yang pernah ada.
Ziva berada di kamarnya, mengemasi barang-barangnya ke dalam tas ransel lusuhnya. Ia tidak mengambil satu pun perhiasan atau baju mahal yang dibelikan Aiden. Ia hanya membawa baju-baju lamanya, sandal Swallow yang tinggal sebelah, dan ulekan batu kesayangannya.
Ia duduk di tepi tempat tidur, memeluk lututnya. Ruangan yang biasanya terasa hangat dan penuh tawa itu kini terasa asing dan dingin. Ia teringat bagaimana Aiden selalu masuk ke kamar ini hanya untuk memprotes bau terasi, atau bagaimana Aiden diam-diam meletakkan cokelat di meja riasnya.
"Gue sayang lu, Bang Don... tapi gue nggak mau jadi kelemahan lu," bisik Ziva pada kegelapan.
Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk pelan. Itu bukan Aiden. Itu Marco.
"Nona Ziva... jet sudah siap untuk besok pagi jam 6. Tuan Volkov meminta saya menyerahkan ini," Marco memberikan sebuah amplop hitam tebal dan sebuah kotak kayu kecil.
Ziva membuka kotak itu. Di dalamnya ada sebuah pistol bunga matahari miliknya, namun pegangannya kini terbuat dari emas murni dengan ukiran nama Ziva di sana. Dan di bawahnya, ada sebuah kunci kecil.
"Itu kunci brankas rahasia di Jakarta. Tuan sudah menyiapkan segalanya untuk Anda di sana," ucap Marco sedih. "Tuan tidak akan menemui Anda untuk berpamitan. Beliau merasa... kehadirannya hanya akan menyakiti Anda lebih dalam."
Ziva memeluk kotak itu erat-erat. Air matanya kembali jatuh, kali ini lebih deras. Keheningan di mansion malam itu terasa lebih menyakitkan daripada suara tembakan mana pun.
Pukul 05.30 pagi. Mobil limusin hitam sudah menunggu di depan lobi utama. Ziva berjalan keluar dengan langkah berat. Ia menoleh ke arah balkon lantai dua, berharap melihat sosok pria jangkung dengan kemeja hitam yang selalu menatapnya dengan tajam. Namun, balkon itu kosong. Tirai ruang kerja Aiden tertutup rapat.
Ziva masuk ke dalam mobil. Saat mobil mulai bergerak meninggalkan gerbang mansion yang megah, Ziva melihat dari kaca spion. Di kejauhan, di atap mansion—tempat ia memergoki Luca tempo hari—berdiri sesosok pria. Aiden Volkov berdiri di sana, sendirian, menatap kepergian mobil itu dengan tangan bersedekap di dada.
Aiden tidak melambai. Ia hanya berdiri mematung seperti monumen kesedihan.
Ziva menutup wajahnya dengan tangan dan menangis sejadi-jadinya di kursi belakang. Ia pergi membawa kemerdekaannya, namun ia meninggalkan separuh jiwanya di Milan.
Sementara itu, di atas atap, Aiden merasakan angin pagi yang menusuk kulitnya. Ia membuka telapak tangannya. Boneka beruang kecil milik Ziva jatuh dari genggamannya, meluncur jatuh ke halaman bawah—sama seperti harapannya akan kebahagiaan yang kini jatuh hancur.
"Selamat tinggal, Bunga Matahariku," bisik Aiden.
Kemarahan Aiden kini telah menguap, berganti dengan kedinginan yang jauh lebih parah dari sebelumnya. Di dunia bawah tanah Milan, kabar menyebar dengan cepat: Raja Naga Hitam telah kembali ke wujud aslinya yang kejam, tanpa ada lagi gadis semprul yang bisa menghalangi senjatanya. Namun, mereka tidak tahu bahwa di balik tatapan matanya yang mematikan, ada seorang pria yang setiap malam merindukan aroma terasi dan suara tawa yang tidak akan pernah ia dengar lagi.
Satu air mata, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, jatuh di pipi Aiden Volkov tepat saat matahari Milan mulai terbit—pahit, asin, dan penuh dengan penyesalan yang tak berujung.