Penyesalan selalu akan datang di akhir. Seperti yang sekarang aku rasakan. Awal nya setelah istri ku meninggal aku belum benar benar kehilangan nya. Bahkan saat dia meninggal dunia aku masih bisa tertawa dan merasa bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10.
Ivan terus menyeret tubuh ringkih istrinya dengan kasar.
Bahkan saking kasarnya, setelah Renata masuk ke dalam rumah. Kaos usang yang menempel di tubuhnya itu terlihat robek.
Membuat tubuh Renata jatuh tersungkur. Membuat bagian tubuh atasnya pun terpampang nyata, bahkan kaca mata dada usang Renata sampai kelihatan.
Dagu Renata menghantam ke keramik lantai, membuat dagunya itu berdarah. Bukan hanya darah dari dagunya, tapi hidungnya juga mengeluarkan darah. Tapi Ivan tentu saja tidak memperdulikan darah yang keluar dari wajah istrinya itu.
Renata terlihat mengigit bibir bawahnya, guna menahan rasa sakit yang sekarang ini sedang dia rasakan.
Pandangan mata Ivan malah fokus ke bagian belahan dada istrinya. Emang tubuh Renata begitu kurus, tapi karena Renata menyusui dadanya tentu saja lebih besar jika di bandingkan dengan orang yang tidak menyusui.
Glek
Ivan menelan ludahnya yang kelu. Kala bagian sensitif tubuh bawahnya itu tegak berdiri. Setelah bertahun tahun, hanya menganggap Renata istrinya itu sebagai angin lalu. Baru kali ini Ivan memperhatikan tubuh istrinya itu dengan seksama.
Ntah apa yang ada di dalam otak Ivan, melihat baju istrinya yang robek itu. Hasrat Ivan malah terlihat menggebu gebu.
Renata menangis sesenggukan, sembari menyeka darah dengan sapu tangan milik Marcell, yang tadi di berikan kepadanya.
Tangisan anak balita Renata terdengar menggema di seluruh rumah, dengan wajah jengkel Ivan pun berjalan masuk ke dalam kamarnya. Untuk menggendong anaknya yang sedang menangis itu dan membawanya keluar dari dalam kamar, karena Ivan tahu anaknya itu kehausan.
"Udah gak usah dilap lap terus, buruan itu susui anakmu, kasihan dari tadi dia haus. Ibunya sendiri bukanya selesai bersih bersih rumah itu mandi, lalu merawat anaknya. Malah enak enakan berduaan dengan laki laki lain," sindir Ivan dengan nada marah kepada istrinya.
Ivan juga menyerahkan anaknya ke pada istrinya itu dengan kasar.
Renata yang masih duduk di lantai, memilih untuk langsung memberikan asi pada anaknya itu. Apa lagi, dadanya memang sudah terasa penuh dan juga sesak.
Ivan duduk di atas sofa, terus memperhatikan dada istrinya. Bahkan pandangan mata Ivan, bukan hanya terfokus pada bagian dada saja, pandangannya juga mengarah ke bagian wajah Renata yang sudah lebih dari 2 tahun, belum pernah dia lihat dengan seksama. Atau pun dia perhatikan.
Wajah Renata masih sama, begitu cantik. Dengan hidung kecil, pipi bulat dan juga mata sipitnya.
Ivan tanpa sadar, melengkungkan seulas senyum saat melihat ke wajah istrinya yang masih cantik dan juga tidak berubah.
"Sayang, kok kamu malah bobok sih! Mandi dulu, ayo bangun sayang. Reyhan, jangan tidur dulu!" Renata terlihat menepuk nepuk pipi putranya itu dengan sangat lembut. Tapi putranya terlihat masih menyedot air ASI nya dengan mata yang terpejam.
"Renata, biarkan saja anak mu itu tidur! Nanti kalau bangun baru dimandikan," ucap Ivan dengan sebuah senyuman miring.
"Ta - tapi mas. Kalau gak di mandiin sekarang, nanti kesiangan. Ini sudah jam 9 lebih loh mas! Apa lagi, Reyhan itu kalau tidur, pasti lebih dari 2 jam." Kilah Renata.
"Dasar istri pembangkang. Di bilangin suami, tinggal nurut saja. Susahnya itu apa sih?" Ivan terlihat marah, berucap dengan nada meninggi.
Hembusan nafas kasar tampak keluar dari hidung Renata.
"Ba - baik mas, maafkan aku. Tolong jangan marah, aku tidak akan membangunkan Reyhan," ucap Renata dengan nada takut. Dia terlihat
"Ya," ucap ivan singkat.
Dengan wajah menahan takut, dan juga jantung yang tidak aman. Renata sesekali melirik ke arah suaminya yang terus memandangnya tanpa berkedip.
'apakah ada yang salah denganku, kok tumben mas Ivan mau melihatku. Apa mungkin dia kasihan padaku, saat aku tersungkur dan mengeluarkan darah. Tapi ... kalau dia peduli, kenapa dia tidak menolongku.' Batin Renata.
Tak berselang lama, akhirnya Reyhan benar benar tertidur pulas.
Renata berusaha sekuat tenaga untuk bangun sembari menggendong anak gembulnya. Tapi karena tenaganya sudah di forsir untuk bersih bersih rumah.
Apalagi makanan yang masuk dan juga tenaga yang dia keluarkan tidak seimbang. Membuat Renata sekarang ini sama sekali tidak bertenaga.
"Biarkan aku saja yang menggendongnya dan membawanya ke kamar," pinta Ivan, dengan lembut Ivan mengambil Reyhan dari pangkuannya.
"Ma - makasih banyak mas," ucap Renata tulus.
Deg
Hati Renata begitu bahagia, melihat perlakuan manis yang di berikan oleh suaminya.
"Hmm." Ivan hanya menjawab ucapan terima kasih istrinya itu dengan deheman saja, walaupun begitu. Renata sangat bahagia, bahkan Renata sekarang ini melupakan semua rasa sakit yang ada di tubuhnya.
Renata memandang punggung suaminya yang mulai menjauh dengan lengkungan senyum.
'Ya Tuhan, apakah aku bermimpi? Mas Ivan sedari tadi memandangku. Terus mas Ivan sangat pengertian padaku yang kesulitan untuk bangun,' batin Renata, sesekali menepuk nepuk pipinya.
Karena perutnya itu terus berbunyi. Renata memilih segera bangun dari duduknya, lalu dia berjalan ke arah dapur. Untuk sekedar mengisi perutnya yang kosong dengan roti gandum yang masih ada di dapur.
Baru 2 gigit roti yang masuk ke dalam mulutnya, tiba tiba sebuah tangan melingkar ke bagian perutnya.
Ternyata Ivan lah yang menggalungkan tangannya sekarang ini tepat di perut istrinya.
Ivan mengendus endus ceruk leher milik istrinya itu.
"Renata, ayo layani aku. Sekian lama tidak aku tidak pernah merasakan tubuh mu, aku seakan rindu dengan aroma milikmu yang khas itu," ucap Ivan dengan nada yang terdengar menggetarkan jiwa.
"Ma - mas, tapi biarkan aku menghabiskan roti ini dulu. Perutku sangat lapar," ucap Renata dengan nada takut.
Memang hal ini sangat ditunggu dan juga di inginkan oleh Renata.
Tapi sekarang perutnya ntah kenapa sakitnya tidak tertahankan.
"Nanti saja makannya, layani aku dulu." Pinta Ivan. Dia terus saja mencium punggung istrinya itu.
Renata menggigit bibir bawahnya, saat suaminya itu menaikkan rok yang dia kenakan. Lalu melepas celana dalam milik istrinya itu dalam keadaan berdiri.
Tanpa pemanasan terlebih dahulu, atau pun memberi pelumas. Ivan langsung memasukkan milik ya ke dalam goa kupu kupu milik istrinya.
Mata Renata membelalak sempurna di ikuti dengan air mata yang terus mengalir dari kedua pelupuk matanya.
"Perih ... mas Ivan tolong berhenti. Ini perih sekali ..." erang Renata dengan suara parau, Renata terlihat begitu kesakitan dan juga tersiksa.
Selama 2 tahun lebih, goa kupu kupunya itu tidak pernah di pakai, membuat goa kupu kupu itu menjadi sempit, apalagi tanpa adanya pemanasan.
Mungkin sekarang ini goa kupu kupu milik Renata lecet.
Ivan bermain dengan berada di belakang tubuh istrinya yang sedang berdiri.
Ivan memaju mundurkan miliknya dengan sangat kasar. Bahkan darah terlihat menetes di dari bagian goa kupu kupu milik Renata.
Renata menjatuhkan potongan roti terakhirnya.
Hanya suara erangan, tangisan Renata yang sekarang ini terdengar. Ivan sama sekali tidak memperdulikan akan hal itu.
Kapan sihh moment pintarnya si Renata sbg wanita 👍😂
gimana kalau nanti karma nya dia juga merasakan sakit yg sama kaya istrinya, kanker prostat 😏😆
bukan nya menjalani hidup kali ke 2 Renata seperti harapannya dokter Leon?! 😁😁
dasar suami lucknut 😡😡