Di Klan Ryu yang telah runtuh, Ryu Seol hanyalah pemuda tujuh belas tahun dengan meridian qi rusak—sampah yang dihina sepupunya sendiri di depan seluruh keluarga. Setiap hari adalah penghinaan, hingga suatu malam ia menemukan sebuah gua terlarang di balik air terjun.
Di dalamnya menanti Gu, rubah berekor sembilan yang jiwanya terperangkap selama ribuan tahun. Dengan sarkasme tajam dan kekuatan iblis kuno, Gu menawarkan perjanjian: memperbaiki meridian Seol, mengajarkan teknik terlarang Pedang Bayangan, dan membawanya melompat dari nol menjadi pendekar dalam hitungan bulan—dengan satu syarat: suatu hari Seol harus membebaskannya.
Dari buangan klan kecil, Seol melangkah ke Sekte Pedang Surgawi, melewati ujian maut Gua Iblis, dan bertemu Seol Hwa—murid senior dingin yang perlahan mencair, serta Baek Ho—sahabat setia dari Sekte Tulang Besi. Namun kekuatannya yang tumbuh terlalu cepat menarik perhatian musuh lama: Ryu Cheonmyeong, yang kini bergabung dengan Kultus Da
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Latihan Rahasia
Malam ketiga sejak penemuan gua itu, Seol kembali menyelinap keluar dari gubuk reyot yang disebut rumah.
Desa Cheonho telah tenggelam dalam tidur. Lampu-lampu minyak padam satu per satu, menyisakan kegelapan yang hanya diterangi bulan sabit tipis di langit. Seol bergerak dengan langkah pelan, menghindari jalan utama, memilih jalur setapak di antara pepohonan yang jarang dilalui. Ia telah mempelajari rute ini selama dua malam terakhir—setiap batu yang longgar, setiap dahan yang mudah patah, setiap tempat di mana bayangan paling pekat.
Tapi malam ini berbeda.
Gu telah memerintahkan: “Jangan kembali ke gua. Terlalu berisiko. Jika mereka mulai curiga, mereka akan mengawasi tempat itu. Kita akan berlatih di hutan belakang, di mana tidak ada yang akan mencari.”
Seol tidak membantah. Ia percaya pada Gu—atau setidaknya, ia ingin percaya. Tidak ada yang pernah menawarkan harapan padanya selain iblis rubah tua yang terperangkap dalam batu hitam itu.
---
Hutan Belakang
Hutan di belakang Klan Ryu adalah tempat yang tidak pernah berani dimasuki siapa pun setelah matahari terbenam. Pepohonan tua dengan akar menjulur seperti cakar raksasa menciptakan kanopi yang menghalangi hampir seluruh cahaya bulan. Di sini, kegelapan bukan sekadar ketiadaan cahaya—ia adalah entitas yang hidup, yang bernapas, yang mengawasi.
Seol berdiri di sebuah tempat terbuka kecil yang ia temukan setelah setengah jam berjalan menyusuri sungai kecil. Tanah di sini gundul, hanya ditutupi lumut lembut yang terasa dingin di telapak kaki. Di sekelilingnya, pohon-pohon cemara menjulang seperti penjaga diam yang menyaksikan ritual kuno.
“Tempat ini cukup baik,” suara Gu bergema di kepalanya. “Qi di sini lebih padat daripada di desa. Mungkin karena aliran sungai bawah tanah.”
Seol mengangguk, meski ia tidak merasakan apa-apa. Baginya, hutan ini hanya gelap dan dingin.
“Sekarang, dengarkan baik-baik,” lanjut Gu, nada sinisnya menghilang digantikan oleh ketegasan seorang guru sejati. “Apa yang akan kau pelajari malam ini adalah fondasi dari segalanya. Jika kau gagal di sini, semua yang akan datang juga akan gagal. Jika kau berhasil…” Ia berhenti sejenak. “Maka kau akan menjadi pendekar sejati untuk pertama kalinya dalam hidupmu.”
Seol menarik napas dalam-dalam. Udara malam dingin menyusup ke paru-parunya.
“Apa yang harus kulakukan?”
“Duduk bersila. Telapak tangan menghadap ke atas di atas lutut. Tutup matamu.”
Seol menuruti. Lumut di bawahnya terasa dingin menembus celana tipisnya, tetapi ia tidak bergerak.
“Klan Ryu mengajarkan teknik Hwanin yang mereka klaim sebagai warisan leluhur,” kata Gu dengan nada mencibir. “Teknik itu mengajarkanmu untuk menarik qi dari lingkungan melalui pernapasan, lalu menyimpannya di dalam danau nadi. Metode yang lambat, primitif, dan membuang-buang setengah dari qi yang kau serap.”
Seol mendengar kebencian dalam suara Gu. Bukan kebencian pada Klan Ryu, tetapi pada teknik itu sendiri—seperti seorang seniman yang melihat karyanya dirusak oleh tangan-tangan amatir.
“Aku akan mengajarkanmu yang asli. Yang diajarkan padaku oleh para dewa sebelum manusia lupa dari mana mereka berasal.”
Suara Gu berubah. Menjadi lebih dalam, lebih tua, seperti gemuruh gunung berapi yang tidur.
“Seni Qi Sejati: Metode Pusaran Naga.”
Nama itu sendiri terasa berat di udara. Seol merasakan bulu kuduknya berdiri.
“Bayangkan,” kata Gu, “bahwa tubuhmu bukanlah kolam, tetapi pusaran air. Pusaran tidak menyimpan air; ia mengalirkan air. Semakin cepat ia berputar, semakin banyak air yang tertarik ke dalamnya, dan semakin kuat arusnya. Apakah kau mengerti?”
Seol mengerutkan kening. “Jadi… aku tidak menyimpan qi, tetapi membuatnya terus bergerak?”
“Tepat sekali. Akhirnya ada yang mengerti.” Gu terdengar puas. “Qi yang bergerak adalah qi yang hidup. Qi yang diam adalah qi yang mati. Para pendekar idiot itu menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mengisi kolam mereka, hanya untuk menggunakannya dalam tiga jurus dan kehabisan tenaga. Dengan metode pusaran, selama kau masih bernapas, kau akan selalu memiliki qi.”
Seol membayangkan pusaran air yang ia lihat di sungai saat banjir. Bagaimana air berputar dengan liar, menarik segala sesuatu di sekitarnya ke dalam pusat yang tak terlihat.
“Mulai,” perintah Gu. “Tarik napas, tapi jangan melalui hidung. Bayangkan kau menarik udara dari seluruh pori-porimu. Rasakan tekanan di dada, di perut, di punggung. Jangan tahan, biarkan ia berputar.”
Seol melakukannya.
Atau setidaknya, ia mencoba.
Detik pertama, ia hanya merasakan dingin. Detik kedua, ia merasakan frustrasi karena tidak ada yang terjadi. Detik ketiga, ia mulai memaksakan napasnya, mencoba menciptakan sesuatu yang bahkan tidak ia mengerti bentuknya.
“Salah,” tegur Gu tajam. “Kau memaksa. Aku sudah bilang, jangan memaksa. Qi bukan budak. Ia adalah bagian dari alam. Kau tidak bisa memerintahnya; kau hanya bisa mengundangnya.”
Seol menggertakkan gigi. Ia mencoba lagi. Kali ini ia berusaha rileks, membiarkan napasnya mengalir alami.
Tetap tidak ada yang terjadi.
“Bayangkan sesuatu yang berputar,” kata Gu, nadanya sedikit melunak. “Apa yang paling kau sukai? Sungai? Angin puyuh? Roda gerinda?”
Seol berpikir. Ia teringat sesuatu—saat kecil, sebelum ayahnya meninggal, mereka sering duduk di tepi sungai di belakang desa. Ayahnya mengajarinya membuat perahu kertas dan melepaskannya ke air. Ia selalu kagum melihat bagaimana perahu itu berputar-putar di pusaran kecil sebelum akhirnya hanyut terbawa arus.
Pusaran. Pusaran kecil di sungai.
Ia membayangkannya. Di pusat dadanya, ia membayangkan sebuah titik—kecil, redup, hampir tidak ada—di mana air mulai bergerak. Perlahan. Berputar. Menciptakan tarikan lembut.
Dan kemudian…
Sensasi itu datang.
Bukan seperti kemarin di gua, ketika ia hanya merasakan tetesan hangat. Kali ini berbeda. Kali ini ia merasakan tarikan. Seperti ada sesuatu di pusat dadanya yang mulai memanggil, menarik sesuatu dari sekelilingnya ke dalam dirinya.
Udara di sekitarnya terasa… berubah. Tidak dingin, tidak hangat. Berat. Seperti ada beban tak terlihat yang mulai bergerak menuju tubuhnya.
“Itu… itu dia,” bisik Gu, dan untuk pertama kalinya, nada dalam suaranya bukan sinis, bukan sarkastik—tetapi kagum. “Kau melakukannya.”
Seol tidak bisa menjawab. Karena pada saat yang sama, rasa sakit datang.
---
Neraka dalam Tubuh
Seperti ribuan jarum menusuk dari dalam.
Seol menggigit bibirnya hingga berdarah. Tangannya gemetar hebat. Pusaran yang baru saja ia ciptakan mulai berputar lebih cepat—terlalu cepat. Qi yang tertarik ke dalam tubuhnya bukan aliran hangat seperti yang ia bayangkan, tetapi banjir dingin yang menghantam dinding meridiannya yang masih rapuh.
“Tahan!” perintah Gu, suaranya tegang. “Jangan lepaskan! Kau harus mengendalikan pusarannya, jangan biarkan ia mengendalikanmu!”
Seol ingin berteriak. Rasanya seperti ada yang merobek-robek ototnya dari dalam, melilit tulang-tulangnya dengan kawat berduri, menenggelamkannya dalam air es sambil membakarnya hidup-hidup.
Ia membayangkan pusaran di sungai. Tapi pusaran itu tidak lagi kecil dan tenang. Pusaran itu menjadi seperti pusaran air bah—liar, tak terkendali, menghancurkan segala sesuatu yang ada di jalannya.
“Kau kehilangan kendali,” kata Gu, nada panik mulai terdengar—sesuatu yang tidak pernah Seol duga akan didengar dari makhluk setua itu. “Lepaskan! Lepaskan pusarannya sekarang!”
Tapi Seol tidak bisa.
Pusaran itu telah menjadi monster. Ia tidak lagi mengendalikannya; pusaran itulah yang mengendalikannya. Qi dingin mengalir deras di dalam meridiannya yang rapuh, dan ia bisa mendengar—mendengar retakan-retakan kecil seperti es yang pecah di dalam tubuhnya.
Meridiannya retak.
“Seol!” Gu berteriak. Nama itu keluar dari mulutnya untuk pertama kalinya—bukan “bocah” atau “anak nakal”, tetapi namanya. “Dengarkan aku! Kau harus menghentikan ini atau kau akan mati!”
Mataku. Mati.
Kata itu membekas di benaknya. Tapi anehnya, yang muncul bukan rasa takut. Yang muncul adalah ingatan.
Ingatan tentang Cheonmyeong yang menjentikkan jari ke dahinya. Tentang tetua yang menggelengkan kepala. Tentang ibunya yang menangis diam-diam di malam hari, berpikir ia tidak mendengar.
Aku tidak akan mati di sini. Aku tidak akan mati sebagai sampah.
Dengan kekuatan terakhir yang ia miliki—bukan kekuatan qi, tetapi kekuatan kemauan—ia membayangkan pusaran itu berhenti.
Ia membayangkan sungai yang tenang. Air yang berhenti berputar. Pusaran yang perlahan melebar, kehilangan momentum, akhirnya lenyap menjadi air biasa.
Rasa sakitnya mereda. Perlahan. Seperti gelombang yang surut kembali ke laut.
Seol membuka matanya. Ia tidak sadar bahwa ia telah jatuh terlentang di atas lumut, tubuhnya basah oleh keringat dingin, bibirnya berlumuran darah karena gigitannya sendiri.
“Kau… kau benar-benar bodoh,” kata Gu, suaranya serak. Tapi ada sesuatu di balik kekasaran itu—sesuatu yang mirip dengan kelegaan. “Aku bilang pelan-pelan. Pelan-pelan! Tapi kau langsung membuat pusaran sebesar itu di percobaan pertama? Apa kau ingin bunuh diri?”
Seol tertawa kecil. Suaranya parau, seperti orang yang baru saja berteriak selama berjam-jam.
“Aku… tidak tahu kalau itu akan sebesar itu.”
“Karena kau tidak mendengarkan!” Gu menghela napas panjang. “Tapi… setidaknya kau selamat. Dan kau berhasil menciptakan pusaran. Itu lebih dari yang bisa dilakukan kebanyakan orang dalam sebulan.”
Seol mencoba duduk. Tangannya gemetar hebat. Setiap otot di tubuhnya terasa seperti habis dipukul bertubi-tubi.
“Meridianku… apa rusak?”
“Ada beberapa retakan kecil,” kata Gu setelah hening sejenak. “Tapi tidak parah. Dengan ramuan Pemulih Nadi nanti, semua akan pulih. Untuk sementara, jangan coba-coba membuat pusaran lagi. Kita akan fokus pada yang lebih kecil dulu.”
Seol mengangguk. Ia melihat tangannya sendiri di bawah cahaya bulan yang samar. Tangannya masih gemetar, tetapi ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Qi.
Bukan hanya merasakannya—ia memilikinya. Di dalam tubuhnya, meski hanya sedikit, ada aliran qi yang berputar pelan. Bukan pusaran raksasa yang menghancurkan, tetapi pusaran kecil—stabil, terkendali, seperti pusaran perahu kertas di sungai.
Ia tersenyum. Untuk kedua kalinya dalam hidupnya, senyum itu tulus.
“Aku merasakannya, Gu,” bisiknya. “Qi. Aku benar-benar merasakannya.”
Gu tidak menjawab. Tapi Seol tahu makhluk itu mendengarnya.
Dan di dalam batu Giwa yang jauh di dalam gua, Gu—rubah berekor sembilan yang telah hidup ribuan tahun—tersenyum untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama.
---
Bayangan di Antara Pepohonan
Kira-kira seratus tombak dari tempat Seol berlatih, seorang pria berseragam hitam bersembunyi di balik batang pohon cemara tua.
Ia adalah Moojin, salah satu mata-mata pribadi Ryu Cheonmyeong. Selama tiga malam terakhir, ia telah mengikuti Seol dari kejauhan. Malam pertama, ia hanya melihat pemuda itu masuk ke gua dan keluar saat fajar. Malam kedua, sama. Tapi malam ini, Seol tidak menuju gua. Ia masuk ke hutan belakang.
Dan Moojin menyaksikan semuanya.
Ia melihat Seol duduk bersila di tengah tempat terbuka. Ia melihat tubuh pemuda itu tiba-tiba tegang, lalu gemetar hebat. Ia melihat Seol jatuh terlentang, terlihat seperti kesurupan atau terserang penyakit.
Tapi kemudian ia merasakan sesuatu yang membuat jantungnya berhenti sejenak.
Qi.
Bukan qi biasa—tapi getaran qi yang kuat, yang berasal dari tubuh pemuda yang seharusnya tidak memiliki qi sama sekali. Getaran itu hanya berlangsung beberapa detik, tetapi bagi Moojin yang telah menjadi pendekar bayangan selama dua puluh tahun, itu cukup.
Dia memiliki qi. Setelah tujuh belas tahun dianggap sampah, tiba-tiba dia memiliki qi.
Moojin menggenggam gagang pedang pendek di pinggangnya. Instingnya berkata untuk membunuh sekarang juga—itu adalah perintah Cheonmyeong jika ada yang mencurigakan terjadi. Tapi ia menahan diri.
Belum. Tuan Cheonmyeong ingin tahu apa yang ia temukan.
Ia melirik ke arah Seol sekali lagi. Pemuda itu sekarang sedang duduk, tampak kelelahan tetapi… ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang belum pernah Moojin lihat pada siapa pun yang ia anggap lemah.
Api.
Moojin melangkah mundur perlahan, menghilang di antara pepohonan dengan gerakan yang tidak bersuara. Ia harus melapor. Segera.
Saat ia berbalik, ia secara tidak sengaja menginjak setangkai ranting kering.
Crak.
Suara kecil itu mungkin tidak berarti bagi kebanyakan orang. Tapi di dalam hutan yang sunyi, suara itu bergema seperti tembakan.
Moojin melihat Seol menoleh.
Mata mereka tidak bertemu—Moojin terlalu terlatih untuk tertangkap basah. Tapi ia tahu Seol menyadari ada sesuatu di luar sana. Ia melihat tubuh pemuda itu menegang, matanya menyipit ke arah kegelapan.
Dia merasakanku?
Mustahil. Seol bahkan tidak memiliki qi kemarin. Tidak mungkin indranya sudah setajam itu.
Tapi Moojin tidak mengambil risiko. Ia melesat pergi, meninggalkan hutan dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh pemula mana pun.
Ia tidak tahu bahwa saat ia pergi, Seol masih menatap ke arah pepohonan tempat ia bersembunyi. Dan di dalam hati Seol, suara Gu bergumam:
“Kau merasakannya juga?”
“Ya,” bisik Seol, jantungnya berdegup kencang. “Seseorang mengawasi kita.”
“Dia sudah pergi. Tapi dia akan kembali.” Suara Gu dingin. “Kau punya musuh di dalam klan sendiri. Seseorang yang tidak ingin kau menjadi kuat.”
Seol mengepalkan tangannya. Kelelahan di tubuhnya seolah lenyap, digantikan oleh adrenalin dan kemarahan yang membara.
“Cheonmyeong.”
“Mungkin. Atau mungkin orang lain. Tapi yang jelas, waktu kita lebih sempit dari yang kukira.” Gu menghela napas. “Kita harus mempercepat latihan. Dan kau harus lebih berhati-hati.”
Seol mengangguk. Ia berdiri, kakinya masih sedikit gemetar, tetapi pikirannya jernih.
“Aku akan berhati-hati. Tapi aku tidak akan berhenti.”
“Aku tahu.” Suara Gu terdengar hampir bangga. “Itu sebabnya aku memilihmu.”
---
Kembali ke Kediaman Utama
Moojin berlutut di hadapan Cheonmyeong. Udara di ruangan itu dingin—bukan karena suhu, tetapi karena aura yang terpancar dari pemuda yang duduk di depannya.
“Lapor,” perintah Cheonmyeong tanpa membuka mata. Ia sedang bersila, mengatur pernapasannya setelah latihan.
“Tuan, Ryu Seol tidak pergi ke gua malam ini. Ia pergi ke hutan belakang.”
Cheonmyeong membuka matanya perlahan. “Hutan belakang?”
“Ya, Tuan. Di sana ia melakukan sesuatu yang… tidak biasa.”
“Jelaskan.”
Moojin menarik napas. “Ia duduk bersila, seperti sedang berlatih. Lalu tubuhnya gemetar hebat. Dan saat itu, Tuan…” Ia ragu sejenak. “Saya merasakan qi. Getaran qi yang kuat. Dari tubuhnya.”
Cheonmyeong terdiam. Matanya yang tajam menatap Moojin dengan intensitas yang membuat mata-mata itu hampir ingin mundur.
“Qi? Dari Ryu Seol?” Suara Cheonmyeong datar, tetapi ada nada yang tidak bisa disembunyikan—ketidakpercayaan yang bercampur kekhawatiran. “Kau yakin?”
“Saya bersumpah demi pedang saya, Tuan. Getaran itu hanya berlangsung beberapa detik, tapi tidak mungkin salah. Saya sudah dua puluh tahun di dunia persilatan.”
Cheonmyeong berdiri. Ia berjalan ke jendela, memandang ke arah timur—ke arah hutan belakang.
“Dia menemukan sesuatu di gua itu,” gumamnya. “Sesuatu yang memberinya kekuatan.”
Ia berbalik. “Moojin, mulai malam ini, kau akan mengawasinya setiap saat. Jangan biarkan ia tahu. Laporkan semua gerakannya, sekecil apa pun. Dan jika ia mulai berkembang terlalu cepat…”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tapi Moojin mengerti.
“Baik, Tuan.”
Moojin menghilang. Cheonmyeong kembali menatap ke luar jendela. Bulan sabit tipis menggantung di langit, cahayanya pucat dan dingin.
“Ryu Seol,” bisiknya. “Apa yang kau cari? Dan apa yang kau temukan?”
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ryu Cheonmyeong—jenius yang tak terkalahkan—merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Bukan cemas. Bukan khawatir.
Tapi rasa penasaran yang tajam, menusuk, seperti duri di tenggorokan.
Dan di dalam hutan belakang, di tengah kegelapan yang dingin, Seol yang baru saja berjalan keluar dari hutan berhenti sejenak. Ia menatap ke arah kediaman utama yang samar terlihat di kejauhan.
“Aku tahu kau mengawasiku, Cheonmyeong,” bisiknya.
Matanya, yang selama ini selalu tertunduk, sekarang menatap lurus ke depan.
“Tunggu saja. Aku akan menunjukkan padamu apa artinya sampah.”
---