NovelToon NovelToon
Cinta Posesif Arlan

Cinta Posesif Arlan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Dark Romance / Posesif
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Voyager

"Jangan pernah berpikir untuk melangkah keluar dari bayanganku, Mika. Karena sedetik saja kamu menghilang, aku akan pastikan dunia ini mencarimu dengan cara yang tidak akan pernah kamu lupakan."

Mikaela siswi SMA cantik dari keluarga yang biasa. Suatu malam mengubah segalanya. Menyaksikan dan bertemu dengan Arlan Gavriel—pria berkuasa di Kota Glazy, menghabisi nyawa seseorang dan membuatnya menjadi tawanan yang harus dimiliki Arlan sepenuhnya. Terjebak dalam keadaan yang tidak menguntungkan, perlahan ada rasa tumbuh di benak Mika setelah mengetahui sisi lain dari Arlan. Arlan adalah monster berdarah dingin, tapi juga penyelamat bagi Mika.

Ada apa dengan Mika dan Arlan? Kenapa Arlan membuatnya sebagai Tawanan? Apakah hanya karena melihat kejadian malam itu? Atau ada sesuatu yang harus Mika bayar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Voyager, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Samuel dan Arlan

Untuk pertama kalinya, Arlan merasa dadanya ikut terhimpit—perasaan asing. Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruang perawatan.

“Apa lagi yang kamu lakukan?” tanyanya dengan nada menahan emosi.

“Ah, sudahlah. Jangan banyak tanya! Gimana keadaannya?” balas Arlan ketus.

“Dia baik-baik aja. Jadi, jangan khawatir.”

“Aku nggak khawatir,” sahut Arlan cepat. “Tapi kalau sampai terjadi apa-apa di dalam mobilku, bisa-bisa aku yang disalahin!”

Dokter itu menatapnya tajam.

“Tuan Arlan, sudahlah. Buat apa sih ganggu orang? Dia masih anak SMA. Masa tega?”

Arlan menyipitkan mata, lalu melipat kedua tangan di dadanya.

“Heh, kamu itu cuma dokter keluarga, bukan penasihat apalagi saudaraku. Ngapain ikut ngurus urusanku?” tegasnya.

Dokter itu menghela napas panjang.

Memang benar, ia hanyalah dokter kepercayaan keluarga Arlan—tidak memiliki ikatan darah atau hubungan pribadi apa pun. Namun, selama bertahun-tahun, dialah saksi dari setiap keputusan yang Arlan buat, entah itu benar atau justru menghancurkan orang lain.

Arlan melangkah masuk ke ruang IGD. Melihat kondisi Mika yang sudah sedikit membaik, pria itu justru melontarkan kata-kata kasar.

“Cewek penyakitan.”

Mika langsung membuang muka. Ia memilih diam, enggan menjawab ataupun berdebat.

Tak lama kemudian, dokter masuk dan menyampaikan hasil pemeriksaan.

“Mika perlu dirawat beberapa hari.”

“Dok, nggak perlu,” tolak Mika cepat. “Aku baik-baik aja.”

“Lebih baik dirawat,” jelas dokter tenang. “Asma kamu sudah cukup parah. Ditambah lagi, kamu butuh penanganan psikiater buat ngeredain anxiety kamu.”

“Em–” Suara Mika terpotong. Ia melirik Arlan sekilas—tatapan pria itu seperti ingin menelannya hidup-hidup.

“A-anu, Dok … kayaknya rawat jalan aja gimana? Kalau dirawat, aku nggak ada biaya,” ucapnya pelan.

Dokter itu menghela napas pendek sambil mengusap dagunya.

“Seharusnya, orang yang bertanggung jawab atas kondisi ini yang ngatur semua biayanya,” katanya, setengah menyindir, sambil melirik ke arah Arlan.

“Iya, gimana ya, Dok,” sambung Mika cepat, nadanya dibuat-buat. “Orangnya aja nggak peduli, malah ngatain aku penyakitan.”

Arlan menyadari ucapan itu jelas tertuju padanya. Rahangnya mengeras, napasnya berat—seperti harimau yang ditahan sebelum menerkam.

“Udah, rawat dia sampai sembuh!” katanya tegas.

Ucapan itu bagai petir menyambar.

Dokter yang sudah lama mengenal Arlan langsung melongo, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Sementara Mika menaikkan alisnya sedikit, ekspresinya campur aduk antara terkejut dan curiga.

“Pasti cowok iblis ini lagi ngerencanain sesuatu,” batin Mika sambil menyeringai tipis di ujung bibirnya.

“Mika, kamu belum hubungi keluarga?” tanya dokter.

“Em, mungkin nanti,” jawabnya sambil melirik ke arah Arlan.

Dokter itu memegang pundak Mika.

“Baiklah, cepat hubungi keluargamu. Mungkin mereka sedang khawatir.”

Mika hanya mengangguk pelan.

Dokter pun keluar dari ruangan, disusul Arlan beberapa menit kemudian.

“Hm, apa mereka khawatir? Kurasa nggak,” gumam Mika.

Ia menghela napas panjang, melamuni setiap situasi yang sedang ia alami. Tak lama kemudian, Mika dipindahkan ke ruang rawat yang lain. 

Namun, kamar itu bukan kamar biasa. Melainkan kamar VIP yang diminta langsung oleh Arlan.

“Sus, ini yakin kamar rawatku? Nggak salah kamar?” tanya Mika ragu.

“Benar, Nona. Ini pilihan dari Tuan Arlan,” jawab suster itu ramah.

“Haa, Tuan? Apa rumah sakit ini punya dia juga?” batin Mika. “Terima kasih, Sus!” ucap Mika ketika suster cantik itu akhirnya pergi meninggalkan ruangan.

Bip! Bip!

Ponselnya berdering.

Klik!

“Mika, kamu ini ke mana?!” bentak Barra di ujung telepon.

Belum sempat Mika menjawab, Barra kembali membentak.

“Kamu ini kerja atau jualan? Udah nggak ada harga diri lagi, kah?”

Mika memutar matanya kesal.

“Heh, aku ini lagi dirawat di rumah sakit!” jawab Mika dengan nada jengkel.

Namun, Barra tidak mudah percaya begitu saja.

“Alah, alasan!”

“Heh, Barra, kalau kamu nggak percaya, datang ke sini! Jangan banyak mulut!”

Bukannya mereda, amarah Barra justru semakin memuncak.

“Kurang ajar! Ya udah, share lokasimu sekarang! Aku mau lihat kamu di rumah sakit atau lagi tidur sama om-om!”

Mendengar itu, Mika meremas ponselnya kuat-kuat. Ingin sekali ia menonjok Barra. Namun, apa daya, saat ini ia tidak bisa berbuat apa pun.

Setelah Mika mengirimkan lokasi terkininya, telepon itu pun terputus.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, Barra, Samuel, dan Jessi datang ke rumah sakit. Jessi adalah saudara tiri Mika yang kedua. Ia baru saja pulang dari luar negeri untuk mengikuti akademi lukis. Ironisnya, biaya pendidikan itu berasal dari kerja keras Mika.

Begitu masuk ke kamar, Samuel langsung mendekat ke ranjang.

“Kamu ini bikin susah orang tua aja!” hardiknya sambil menoyol kepala Mika dengan kasar.

Mika hanya menahan napas. Ia sudah terlalu lelah untuk melawan.

Jessi berjalan mengelilingi kamar rawat itu, matanya menyapu setiap sudut ruangan.

“Yah … ini bukan kamar biasa,” katanya sambil menyipitkan mata. “VIP lagi. Pasti ada orang kaya yang biayain dia.”

Barra langsung menoleh tajam ke arah Mika.

“Siapa orangnya?” tanyanya curiga.

Tak ada jawaban. Barra melangkah lebih dekat, wajahnya hampir menyentuh wajah Mika.

“Heh! Siapa orangnya?! Dia ganti rugi nggak?!”

Suara mereka semakin keras, memenuhi kamar yang semula sunyi.

Tok! Tok!

Suara langkah sepatu terdengar dari lorong. Setiap langkahnya seperti memukul lantai rumah sakit. Barra kembali membentak.

“Jawab! Siapa orangnya?!”

Pintu kamar perlahan terbuka.

Cklik.

Sebuah suara dingin terdengar dari balik pintu.

“Aku.”

Ketiga orang itu spontan menoleh.

Deg!

Jantung Samuel seolah berhenti berdetak sesaat.

Di ambang pintu berdiri Arlan, dengan jas hitam rapi dan tatapan yang dingin seperti es. Dua pengawal berdiri di belakangnya. Ruangan yang tadi ribut mendadak sunyi. Wajah Samuel mendadak pucat.

“A—Anda?” ucapnya terbata-bata.

Tangannya bahkan mulai gemetar tanpa ia sadari.

Barra mengerutkan kening, bingung melihat reaksi ayahnya.

Sementara Jessi hanya terdiam, merasakan aura menekan dari pria itu.

Arlan melangkah masuk perlahan.

Setiap langkahnya membuat suasana semakin berat. Matanya tidak melihat Barra atau Jessi. Tatapannya lurus tertuju pada Mika. Namun, suaranya justru diarahkan pada Samuel.

“Kamu,” ucap Arlan dingin. “Kok masih berani muncul di depanku?”

Samuel menelan ludah. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. Di atas ranjang, Mika hanya bisa memandang bingung.

“Sepertinya … mereka saling kenal?” batinnya.

Namun, sesuatu dalam tatapan Arlan membuat dada Mika ikut menegang.

Barra mengernyit heran melihat ayahnya yang tiba-tiba seperti kehilangan keberanian.

“Yah, ini siapa sih?” bisik Barra.

Namun, Samuel tidak menjawab. Wajahnya sudah pucat pasi.

Arlan berhenti tepat beberapa langkah dari ranjang Mika. Ia menyilangkan tangan di dada. Tatapannya tajam seperti sedang menilai sesuatu yang sangat rendah.

“Heh ….” Arlan tersenyum tipis. “Lama nggak ketemu, Samuel.”

Samuel menelan ludah keras.

“Sa-saya tidak menyangka, Anda yang ada di sini.”

Arlan mendengus pelan. “Nggak nyangka?” katanya sinis. “Aku justru heran kamu masih punya muka buat muncul di depanku.”

Barra mulai kesal melihat sikap pria itu.

“Heh, ngomong apa sih kamu sama ayahku?” katanya menantang.

Arlan bahkan tidak menoleh. Seolah suara Barra tidak cukup penting untuk didengar. Barra semakin geram.

“Oi! Aku lagi ngomong sama—”

Belum selesai kalimatnya, salah satu pengawal Arlan melangkah maju. Tatapannya tajam. Barra langsung terdiam. Jessi yang sejak tadi memperhatikan mulai merasa tidak nyaman.

“Yah, sebenarnya ada apa?” bisiknya pelan.

Samuel memejamkan mata sebentar, seolah mencoba menahan sesuatu. Namun, Arlan tidak memberinya waktu.

1
Moon
ak jdi mika langsung ku tonjok itu
Voyager: sabar bro jangan emosi ah, nggak jelas kali kau. ayo serbu yang di sebelah
total 1 replies
Moon
model!????
Moon
entah kenapa Arlan ini aku bingung sama sifatnya. lanjut Thor. apa nanti si Mika ketemu lagi dg Arlan ? soalnya Arlan itu kn sangat berkuasa! eh iya Thor sepertinya belum di Spil perlkerjaab Arlan pngen tau
Moon
hm, knp ya orang kyak Mika gini selalu digituin dlm novel cba Thor karakter Mika jadi tangguh aj gtu biar nggk di tindas orang. sih Kamalia juga cewek lenje 😤😤😤
Moon: haha GG bxa sbr ak. tau NDRI kesabaranku setipis tisu
total 2 replies
cleo lara91
lanjut lg dong kak , seruu😍
Moon
Rekomendasi banget ini cerita. tokoh pria bikin mengubah emosi pembaca, greget, sifatnya bener" bikin geleng kepala. tokoh wanita pun bikin kita iba, apalagi ketika penyakitnya kambuh. oh ya keluarga tokoh wanita ih bikin emosi parah apalagi dengan saudara tiri yang mokondo
Moon
up 5 bab sehari thor
Voyager: busett haha nanti ya. ayo nulis juga
total 1 replies
Voyager
Arlan gila. anak SMA dibuat nggak berkutik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!