Lima tahun Riana menyerahkan hatinya untuk satu nama yaitu Irwan. Lima tahun pula ia percaya bahwa dirinya adalah satu-satunya.
Sampai sebuah kenyataan menamparnya dan menghancurkan segalanya.Ternyata selama ini Riana bukan kekasih Irwan tapi ia hanya... selingkuhan.
Riana ingin memutuskan untuk pergi. Ia muak. Tapi Irwan menolak melepasnya. "Kamu sudah terlalu dalam di hidupku" katanya, dengan nada yang membuat Riana takut sekaligus lemah.
Di tengah luka dan ancaman itu, hanya ada satu orang yang selalu ada dua lah Arif. Sahabat yang selalu menemaninya, yang hapal caranya menangis dalam diam. Arif yang ternyata sudah lama menyimpan rasa, tapi memilih pergi demi kebahagiaan Riana.
Kini Riana harus memilih. Bertahan dalam cinta yang memenjarakan, atau berani bebas meski harus kehilangan semuanya? Dan sanggupkah Arif tetap diam saat wanita yang ia cinta sedang tenggelam?
Lima tahun cinta, ternyata hanya lima tahun kebohongan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rika nopiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam Riana cemas sambil mondar mandir di teras rumahnya karna Irwan tak kunjung datang.
Acara ulang tahun sahabatnya Arif akan di gelar malam ini di sebuah hotel,bunyi pesan dari tadi terus berbunyi Melly bolak balik mengingatkan agar Riana segera datang ke tempat acara.
Sudah setengah jam Riana menunggu acaranya pasti sudah di mulai berulang kali Riana mencoba menghubungi Irwan tapi belum ada jawaban darinya,padahal dari sore Riana sudah mewanti-wanti agar Irwan datang tepat waktu.
Sebuah mobil sedan putih tiba-tiba muncul di halaman,Riana bernafas lega sepertinya Irwan sudah datang namun ia kaget saat mengetahui yang keluar dari mobil adalah Arif.
Riana memandang Arif dengan tatapan binggung bagaimana mungkin dia ada di sini seharusnya dia ada di tengah-tengah acara pestanya ,Riana tak habis pikir hingga tak bisa berkata-kata mulutnya terkunci rapat.
"Elo kenapa benggong?" Arif segera membuka pintu penumpang dan menggiring Riana untuk masuk ke dalam mobil dan langsung menutup pintunya kembali setelah memastikan Riana duduk dengan nyaman lalu melajukan mobilnya menuju tempat pesta.
"Rif,kok elo malah ke sini?gimana sama pesta elo?" Riana bertanya setelah kesadarannya kembali.
"Elo pikir gue bisa mulai pesta tanpa elo?ini hari spesial gue Ri jadi elo juga harus ada di sana karna elo juga special buat gue" senyum tersungging di bibir Arif begitupun dengan Riana ia merasa tidak enak hati,ia benar-benar beruntung memiliki sahabat seperti Arif.
"Sorry gue tadi nungguin Irwan jemput tapi dia ga dateng-dateng di telfon juga susah" Riana memberi alasan
"Ya udah elo chat dia suruh langsung ke tempat acara aja" saran Arif "Kenapa sih dia tuh selalu ngaret kalo urusan anter jemput elo?" gerutu Arif,Riana hanya membisu tak bisa menjawab.
Saat mereka sampai di tempat acara,semua mata tertuju pada mereka bagaimana tidak penampilan keduanya tampak mempesona Riana yang tampil dengan menggunakan dress selutut berwarna coklat muda serta rambut yang di biarkan tergerai dan riasan tipis di wajahnya yang menampilkan kecantikan alaminya begitupun Arif yang tampak gagah dengan setelan jas dengan warna yang kebetulan senada dengan dress Riana.Mereka tampak seperti sepasang kekasih.
Riana tampak tak nyaman diperhatikan banyak orang seperti itu spontan Arif menggenggam tangan Riana dan berkata
"Jangan takut ada gue" Arif menenangkan Riana dan mereka pun berjalan ke atas panggung di sana sudah ada Melly dan Ido yang menunggu mereka.
Tanpa menunggu lama pesta pun di mulai dari acara tiup lilin hingga jamuan makan malam.Para tamu yang kebanyakan kolega ayah Arif terlihat menikmati acara malam itu.
Arif memilih duduk bersama sahabatnya dan sesekali menyapa tamu undangan yang hadir.
"Rif selamat ulang tahun ya!ini kado dari gue" Riana menyerahkan kotak yang dari tadi ia pegang.Arif langsung membongkar isi kotak itu. senyumnya mengembang saat melihat hadiah dari Riana ia langsung melepas jam tangan yang ia pakai dan memakai jam tangan pemberian dari Riana sambil memamerkannya pada Melly dan Ido.
"Sombong amat!hadiah dari gue ga di buka sekalian?" Melly menyodorkan hadiahnya.
"Nanti aja di rumah makasih ya" Arif menerima kadonya dan meminta pelayan untuk menyimpannya di mobil.
"Rif,itu siapa?cantik banget!temen loe bukan?" Ido menunjuk pada seorang wanita yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Ga tau gue,mungkin anaknya temen bokap gue" ucap Arif acuh.
"Pengen kenalan bro,tapi ga berani gue keliatan levelnya tinggi!" Ido menciut nyalinya.
"Usaha aja dulu" Riana memberi semangat dan akhirnya Ido memberanikan diri mendekati gadis itu,sedangkan teman-temannya hanya memperhatikan dari tempat mereka duduk.
Perhatian mereka teralihkan ketika Irwan datang mengecup kening Riana dan duduk bergabung bersama mereka.
"Sorry,gue telat" ucap Irwan,teman -teman Riana tak terlalu menanggapinya.
"Sayang,kamu kok susah di telpon sih?untung tadi Arif jemput dulu ke rumah" Riana mencebik sedikit manja.
"Maaf ya tadi mobil aku mogok sayang,handphonenya juga aku silent. Barusan juga aku pake taksi ke sininya.Thanks ya Rif udah jemput Riana" ucap Irwan dan Arif hanya tersenyum miring sambil memalingkan wajahnya.
Tiba-tiba Ido datang bersama gadis yang berhasil ia ajak kenalan.Gadis itu tinggi kulitnya putih wajahnya cantik sepertinya ada keturunan darah timur tengah,beruntung Ido bisa berkenalan dengannya.
"Kenalin temen-temen aku,ini yang lagi ulang tahun namanya Arif di sebelahnya,Riana Irwan dan Melly,guys ini kenalin Almeera" ucap Ido dengan bangga.
"Panggil Ara aja" ucapnya lalu bersalaman dengan mereka satu persatu dan duduk bergabung dalam satu meja sambil menikmati makanan mereka.
Rupanya Ara gadis yang pintar bergaul ia bisa dengan mudah berbaur dengan Riana dan temen-temennya.
"Enak deh ngobrol sama elo Ra!Oh ya elo sendirian aja ke sininya?" tanya Riana.
"Gue dateng sendiri,ngewakilin bokap yang ga bisa dateng.Untung gue bisa kenal sama kalian kalo ga kan gue ga punya temen ngobrol" jawab Ara tersenyum manis.
"Oh ya wan,si Ara ini kuliahnya juga di Bunga Bangsa loh sama kayak elo" ucap Ido semua nampak terkejut dan memandang Irwan.
"Oh ya,kamu kenal sama Ara sayang?" Riana menyenggol bahu Irwan yang kini sedang bersitatap dengan Ara.
"Ga" jawabnya pendek sambil memalingkan wajah.Entah mengapa Riana merasa Irwan tidak begitu nyaman dengan kehadiran Ara bisa di lihat dari raut wajahnya yang terlihat kesal sejak tadi.
"Rasanya gue ga asing sama muka loe,mungkin kita pernah papasan di kampus ya?" tanya Ara namun Irwan hanya diam.
"Irwan ini cowo elo kan Riana?berapa lama pacarannya?keliatan kalian cocok banget.Gue iri sama elo" ucap Ara sambil menyesap minumannya.
"5 tahun,kita udah pacaran 5 tahun" jawab Riana sambil melirik ke arah Irwan yang masih memasang wajah masam.
"Kamu kenapa sih jutek gitu mukanya?" Riana setengah berbisik namun Irwan hanya diam sambil terus memperhatikan Ara dengan tatapan tajamnya.
"Pulang yuk Ri udah malem" Irwan tiba-tiba mengajak pulang saat mereka masih asik mengobrol.
"Eh nanti dulu,makannya juga belum selesai kamu aneh banget sih" Riana kesal.
"Kamu habisin makannya,aku tunggu di depan" ucap Irwan ketus melenggang pergi tanpa berpamitan.
"Sorry ya,kayaknya Irwan lagi gak enak badan.Rif gue balik duluan ya!?.Maaf ga bisa nemenin ampe beres acaranya" Arif tersenyum menenangkan.
"Ga apa-apa Ri.thanks ya hadiahnya" Arif melambai pada Riana yang pergi meninggalkan ruangan.
"Kayaknya gue juga harus pulang nih,besok ada kuliah pagi soalnya.Happy birthday sekali lagi ya Arif" ucap Ara sambil berpamitan.
Ara bergegas menuju parkiran dan melajukan mobilnya namun saat ia hendak keluar ia melihat Riana dan Irwan masih menunggu taksi.Ara berhenti di depan mereka dan membuka kaca mobilnya agar lebih mudah berbicara.
"Ri,gue anterin pulang yuk!kalo nunggu taksi kayaknya bakal lama.Udah malem juga" ajak Ara namun Riana ragu, ia melirik pada Irwan yang masih tak bergeming.
"Ayolah kita kan udah jadi temen.Elo ga boleh nolak,gue maksa nih" Ara meyakinkan Riana.
"Ga ngerepotin?" tanya Riana.
"Ga lah,ayo masuk" Ara mempersilahkan Riana dan Irwan masuk,walau awalnya Irwan menolak namun setelah dibujuk akhirnya ia mau pulang menumpang mobil Ara.
.
.
.
.
Thank you