Semalaman suara gaduh di atas genteng itu membuat bulu kuduk merinding.
Entah apa yang tengah ribut di atas genteng sana. Karena, tak terlihat wujudnya.
Karena gangguan itu, akhirnya yang punya rumah membiarkan rumahnya kosong. Namun, Bu Heni tidak membiarkannya kosong begitu saja. Dia menawarkan rumah itu untuk di kontrakan dengan harga yang sangat murah.
Setiap Orang yang menempati rumah itu selalu merasakan hal-hal yang aneh dan tidak masuk akal. Seperti munculnya bayangan hitam yang tinggi besar di ujung teras.
Terror bercak darah di sekeliling rumah membuat bulu kuduk merinding. Apalagi tengah malamnya muncul Makhluk aneh yang menyeramkan. Pundak terasa di tindih balok es yang super dinginpun di rasakan oleh Bunga, orang yang kesekian yang menempati rumah itu.
Bunga dan Angga tetap mencoba untuk bertahan, hingga akhirnya mereka kalah dan mundur dari rumah itu. Setelah Bunga melihat Makhluk aneh yang berwujud ular berkepala manusia yang berambut panjang serta memakai mahkota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosa_Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lepas dari penampakkan
"Sudahlah… Jangn banyak berpikir lagi, segera bereskan barang-barang kalian." Ujar bu Heni, setelahnya mereka selesai Shalat Maghrib berjamaah.
"Kami harus bayar berapa perbulannya?... " Angga memberanikan diri untuk menanyakan harga Kontrakannya.
" Sudahlah… Jangan memikirkan biaya Kontrakannya, tempati saja. Biar tidak kosong, mubazir." Sahut pak Rusdi menimpali ucapan Isterinya.
" Kami tidak bisa menerimanya." Ucap Bunga, dia merasa malu bila harus numpang gratisan.
" Sekarang begini saja, anggap kami sebagai kedua orangtuamu. Dan.. Ini anggap sebagai rumah kalian. Bila ada Pekerjaan, ya kita kerjakan bareng-bareng. Bagaimana?..." Pak Rusdi menawarkan.
" Baiklah kalau begitu, kami mau bereskan dulu barang-barang kami." Akhirnya Bunga dan Angga setuju.
Tak banyak barang-barang mereka, hanya memerlukan waktu sebentar saja, semua barang-barangnya sudah berpindah tempat, dan sudah tertata rapi di salah satu kamar di rumahnya bu Heni.
Bu Heni menempatkan mereka di vapiliun samping. Jadi, keluar masuk kamar itu, mereka tidak perlu masuk ke rumah bu Heni dulu.
Begitu juga dengan kamar mandi, sudah tersedia di sana.
Kamarnya cukup besar, berukuran lima kali tiga meter. Cukup untuk mereka tempati berdua.
Rumah yang mereka tempati dulu, kini sudah kosong lagi.
Plang pengumumanpun sudah di tempelkan kembali.
Bunga dan Angga merasa nyaman tinggal di vapiliun rumahnya bu Heni.
Keduanya terhindar dari terror makhluk halus yang tak kasat mata itu lagi.
Satu bulan sudah, rumah itu kosong.
Suatu hari ada Keluarga keci,l dengan satu orang anak perempuan seumuran tujuh tahunan tengah mencari rumah kontrakan.
Dan, keluarga kecil itu sampailah di depan rumah kontrakannya bu Heni.
Pasangan suami-istri itu, sepertinya merasa cocok dengan keadaan rumah itu.
" Kami merasa cocok dengan rumah ini, bu. Tapi, kami ingin melihat-lihat ke dalamnya, boleh kan Bu?..." Tanya Yang Laki-laki.
" Tentu saja boleh, Silahkan-Silahkan." Bu Heni merasa senang.
Bu Heni segera memberikan kunci rumah itu, dan merekapun memasuki
rumah itu.
"Cuma… Perlu saya sampaikan, kadang-kadang di rumah ini suka ada penampakan makhluk yang tak kasat mata. Bagaimana?..." Bu Heni tidak menutup-nutupi keadaan yang sebenarnya.
" Aah.. Ibu, itu mah kecil bagi kami." Sahut yang perempuan.
Ada kesan sombong dalam nada bicaranya.
" Kami sudah terbiasa dengan hal seperti itu, kami jamin tidak akan ada yang berani menampakkan wujudnya kepada kami." Sahut yang perempuan.
" Baiklah kalau begitu, saya percaya. Semoga saja benar." Sahut bu Heni lagi.
" Kapan mau di tempatinnya?..." Bu Heni bertanya memastikan.
" Hari ini juga, bu." Ucap Isterinya.
" Ooh.. Baiklah. Eum… Kita belum kenalan rupanya. Saya bu Heni… " Memperkenalkan diri.
" Iya bu, saking senangnya melihat-lihat keadaan rumah ini. Saya Hendra, ini isteri saya Ani. Dan ini putri kami Anida." Ujarnya memperkenalkan dirinya, juga anak dan isterinya.
" Selamat datang di rumah ini, semoga kalian merasa betah dan nyaman tinggal di sini. Kalau begitu, saya tinggal dulu. Assalamualaikum."
Ujar bu Heni, sambil berlalu dari tempat itu.
" Pak.. Sepertinya asyik juga rumah ini ada tantangannya. Apalagi, kata mbak-mbak yang punya warung di depan itu, katanya… Ada mustika merah delimanya." Bisik Ani kepada suaminya.
"Iya… Mana murah lagi, Siapa tahu mustika merah delima itu menjadi milik kita." Ucap Hendra Begitu bersemangat.
" Saya yakin, pasti kita bisa menaklukkan makhluk halus itu." Ani sangat percaya diri sekali ucapannya.
"Setahu saya, yang namanya mustika merah delima itu, adalah suatu pusaka yang sangat ampuh dan punya kesaktian untuk berbagai masalah kehidupan. Saya yakin pasti saya bisa memilikinya." Ucap Hendra pula, dia mulai berangan-angan.
" Makanya, cepatlah kita bersihkan rumah ini, lalu kita segera angkut barang-barang kita di kontrakan yang lama, aku sudah tidak sabar ingin segera memiliki mustika merah delima itu, aku ingin segera jadi orang yang kaya raya. Ayo, pah!" Ani sepertinya sudah merasa tidak sabar ingin memiliki pusaka yang bernama mustika merah delima itu.
" Tentu saja Isteriku… Ayo! Aku yang ngepel lantainya, kamu nyapu ya!..." Hendra segera beranjak ke kamar mandi hendak mengambil ember dan air untuk ngepel rumah.
Sedangkan Ani, segera menyapu lantai rumah itu.
Wajahnya begitu sumringah, cerah. Dia sudah membayangkan tentang mustika merah delima itu.
Sore harinya, Keluarga Hendra sudah pindah dan menempati rumah itu. Keduanya nampak sangat bahagia.
Angan dan harapan nampak jelas terlihat di wajah suami isteri itu.
" Malam ini adalah malam pertama kita tidur di rumah yang kata orang-orang, angker dan banyak penunggu nya itu,ya mah ya…" Hendra membuka percakapan dengan isterinya.
Waktu itu, mereka tengah menonton TV sambil menunggu ngantuk.
" Iya pah, aku jadi merasa penasaran dengan perkataan orang-orang itu. Aku ingin segera melihat penampakkan makhluk aneh itu. Akan aku tanyakan tentang mustika merah delima itu, kalau dia menampakkan wujudnya kepadaku." Ujar Ani yang terdengar seperti yang menantang.
" Ha… Ha… Ha… Kamu ini!... Sebelum sama kamu, pasti aku dulu yang akan menginterogasinya." Sahut Hendra sambil tertawa terbahak-bahak, seakan-akan dia itu sudah merasa sakti.
" Kalau begitu, kita berdua saja yang menghakiminya. Jangan kasih ampun! Biar dia tahu rasa, belum tahu dia, siapa kita sebenarnya." Ani berceloteh lagi.
Dia rebahkan tubuhnya di atas karpet yang tergelar di sana.
Jarum jam menunjukkan ke angka sepuluh. Anida, anak mereka telah lelap sejak ba'da Isya tadi. Mungkin kelelahan karena Pindahanan.
Rasa kantukpun mulai merayapi kelopak matanya Hendra, yang tengah menyenderkan tubuhnya ke dinding rumah itu.
" Kamu sudah ngantuk?... Ayo! Kita pindah saja tidurnya." Ani segera mengajak Suaminya untuk pindah ke kamar.
" Huuaah… Emh…" Hendra menguap malas.
" Ayo pak!..." Ajaknya lagi, sambil berlalu menuju ke kamarnya. Lalu, dia merebahkan tubuhnya di samping putri kecilnya.
Setengah terhunyung karena menahan rasa kantuknya, Hendrapun mengikuti Isterinya. Tak berapa lama, merekapun terlelap di buai mimpi masing-masing.
Lelap tertidur dengan pulas tanpa adanya gangguan apapun juga.
Hingga di keesokkan harinya, mereka terbangun oleh gema Adzan Subuh yang berkumandang dari Masjid yang terletak di tengah kampung itu.
" Pah… Bangun!... Sudah Adzan Subuh." Ani membangunkan Hendra.
" Sebentar lagi mah… Masih berat kelopak mataku." Sahutnya, sambil menarik selimutnya kembali hingga menutupi seluruh tubuhnya.
" Kamu tidur, ya sudah… Aku juga mau tidur lagi aja, sebentar lagi ah… Lumayan." Ucapnya, diapun lalu menirukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh suaminya.
Menutupi seluruh tubuhnya dengan memakai selimut.
Merekapun tertidur lagi, dan mendengkur kembali.
Merekapun terlelap hingga matahari telah bersinar terang.
Sinarnya masuk melalui ventilasi rumahnya.
" Uuuaaah… Jam berapa ini?..." Ucap Ani sambil menyingkirkan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
" Haaah?... Jam delapan?..." Ani tersentak dan berteriak, setelah dia melihat jarum jam yang menunjuk ke angka delapan lebih sepuluh menit.
Sudah sangat siang sekali, sudah bukan pagi lagi.
" Pah… Bangun pah!... Jam delapan, hampir setengah sembilan!... Anida, ayo bangun nak, sudah siang." Ani sibuk membamgunkan anak dan suaminya.
" Huuaaah… Jam delapan…" Ucap Hendra dengan malasnya.
" Iya jam delapan! Ayo Bangun! sudah siang! Ayo, jangan tidur lagi! " Ani segera bergegas ke kamar mandi, untuk kemudian menyalakan kompor hendak menanak nasi.
" Untung… Hari ini Anakku sudah izin untuk tidak masuk Sekolah, karena mau pindahan dulu, kalau tidak, aah… Celaka ini." Gumamnya.
Hendra dan Anidapun segera keluar dari Kamarnya.
" Ayo! Cepat mandi dulu, Sebentar lagi nasi mateng, kita makan.. Nih… Mamah masak sayur kesukaan kita semua…Cumi kuah asam pedas. Untung di kulkas masih ada bahan makanan, jadi tidak repot-repot mencari warung dulu, mana belum tahu lagi tempatnya." Ani bergumam sendiri sambil menyelesaikan pekerjaannya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, makanan sudah siap semuanya, Hendra dan Anidapun sudah mandi.
Kini, mereka tinggal menyantap makanan yang sudah tersaji.
" Alhamdulillah… Enak sekali masakan mamah, sampai kenyang ini perut, penuh terisi." Ucap Hendra memuji masakan yang di buat oleh isterinya.
"Siapa dulu dong… Mamah Ani!..." Sahutnya sambil bertingkah lucu.
Mereka tertawa ceria.
" Eeh… Pah?... Kamu semalam melihat penampakkan apa?... Atau… Mimpi apa?... Ada tidak makhluk yang mendatangimu?..." Ani bertanya sombong lagi.
" Tidak ada apa-apa… Aku malah enak tidur. Kamu sendiri?..." Sahutnya balik bertanya.
" Apa… Cerita mereka itu bohong?... Buktinya?... Tidak ada apapun yang menampakkan wujudnya pada kita. Aku kan ingin memilik mustika merah delima itu." Ani mulai menyombongkan dirinya lagi.
" Namti kan malam Jum'at, coba kita pancing dengan bakar kemenyan. Kita kan sudah terbiasa membakar kemenyan setiap malam Jum'at dan malam selasa." Ucap Hendra mengingatkan kepada Isterinya.
" Aku tidak lupa akan hal itu, lagipula ritual itu sudah di lakukan oleh keluarga kita secara turun temurun, mana mungkin aku lupa." Ani menyahutnya dengan bangga.
Merekapun seakan tak sabar untuk menunggu waktu Maghrib tiba.
Bukan untuk shalat Maghrib, tetapi untuk membakar kemenyan.
salam dari "Ternyata aku keturunan RPD" mampir kak
"Tak mungkin... Semua rompi kan di jepit, Enggak mungkin fi terbangkan angin.
itu ☝️☝️ ga mungkin di terbangkan angin 🤔🤔