Menikah bukan berarti jodoh sudah bermuara pada tempatnya. Terkadang Tuhan hanya mempertemukan, namun tidak menyatukan.
Senja adalah perempuan korban dari perjodohan kedua orangtuanya, niat hati untuk mengabulkan keinginan orang tuanya, membuat Senja harus menelan pahit sekelumit kisahnya sendiri.
Seperti apa kehidupan Senja setelah menikah????
Akankah ia temukan kebahagiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AYSEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu masih milikku
AWAN
Ia mengerjapkan mata, ketika mendengar deru mesin motor yang memekakkan telinga dari luar rumah, suasana rumah yang semula sepi dan damai pun kini terdengar sedikit lebih berisik, terutama dari arah dapur rumah Senja.
Ia menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, lalu melirik jam tangan, "Astaga?! gue ketiduran lama banget," Ia berdiri melipat selimut kemudian mengendap-endap berjalan masuk keruang tengah.
"Bapak sudah bangun?" tanya Bu Ina mengejutkan Awan.
"I-iya, Bu," Awan mengusap tengkuk lehernya yang sebenarnya nya tak gatal, Ia hanya merasa canggung dan malu karena tertidur terlalu lama.
"Ayo, kita makan siang dulu," ajak Bu Ina.
Awan menggeleng, "Sebaiknya, Saya pulang saja, Bu." ucapnya.
"Sudah mau masuk waktu Dzuhur, sebaiknya Sholat dulu, terus makan, baru pulang." saran Bu Ina.
Awan pun menuruti dan mengekori Bu Ina menuju ruang makan, Awan terperangah melihat perempuan yang semalam Ia temukan tergeletak tak sadarkan diri ditrotoar dengan wajah pucat pasi, tengah berdiri disamping meja makan dengan penampilan bak gadis rumahan tapi pesonanya begitu menyilaukan mata.
Shit! Sejak kapan Daster jadi seductive clothes!
Aura nya begitu damai dan sedap dipandang mata.
"Pak?!" Seru Senja memanggil Awan yang diam membatu diambang pintu. "Kamar mandi dibelakang," ucap Senja menunjuk pintu menuju ruangan belakang.
"Iya, Nja." Awan pun berlalu kekamar mandi.
Selanjutnya, Ibu dan anak perempuan itu melaksanakan sholat Dzuhur bersama dan menyantap makan siang yang sudah Senja dan Bu Ina siapkan.
Selesai makan, kemudian Awan berpamitan untuk pulang kerumahnya. Sebagai ungkapan terimakasih, Bu Ina membawakan Awan, Ayam panggang utuh untuk dibawa bersamanya.
"Pak..." Senja berlari kecil mengejar Awan yang sudah berdiri disamping mobil.
"Kenapa, Nja?!"
"Itu, e... Mengenai biaya rumah sakit, saya minta nomor rekening Bapak, saya mau transfer uangnya."
Awan tersenyum afiliasi, "Nggak perlu, Nja..."
"Loh kok gitu, Pak?!"
"Nggak apa, aku ikhlas, anggap saja itu bayaran buat jagain Biru kemarin," ucap Awan menaikan sebelah alisnya.
Senja mengkerutkan kening, "Banyak banget bayarannya, padahal jagain Birunya cuma sebentar, Bisa kaya aku kalau sering jagain Biru." jawaban polos Senja membuat Awan tertawa terbahak.
Awan mengangguk, "Boleh... Boleh... Tapi selesaikan dulu urusanmu,"
"Urusan apa?"
Awan menaikan dagu, menunjuk sebuah mobil hatchback berwarna abu-abu yang terparkir dibelakang mobilnya.
Dewo!
"Aku pulang, ya... Jaga diri baik-baik, jangan sampai kejadian semalam terulang kembali" pesan Awan, kemudian masuk kedalam mobilnya dan pergi meninggalkan halaman Rumahnya.
...----------------...
DEWO
Setelah Senja pergi dari rumah Mama Sinta, Dewo langsung menyambar kunci mobil diatas nakas, Sebenarnya Ia ingin mengejar Senja yang berlari, padahal diluar sedang hujan.
Namun langkahnya terhenti, ketika Luna berdiri menghadangnya, dan dengan cepat merebut kunci mobil dari tangan Dewo.
Perempuan yang tengah mengandung benih Dewo di rahimnya itu, tidak mengizinkan Dewo mengejar Senja.
"Lepas!!! Kembalikan kuncinya!" bentak Dewo.
"Tidak! sebelum kamu bertanggungjawab menikahi aku!" jawab Luna tak kalah kencang.
Dengan kasar Dewo menarik paksa lengan Luna yang menggenggam kunci mobil, hingga tubuhnya terhuyung kedepan dan jatuh tersungkur.
Papa Anto yang menyaksikan drama dari pasangan tidak sah dari sudut pandang manapun itu pun geram melihatnya, "Dewo!! Sudah gila kamu!"
Ia mendekati Dewo dan membantu Luna untuk berdiri kembali, "Apa yang dikatakan perempuan ini benar, kamu harus bertanggung jawab sebelum kehamilan nya membesar,"
"Pah!!"
"Papah!!"
Ibu dan anak yang berada di ruangan yang berbeda itu, berseru setelah mendengar penuturan Papa Anto.
"Dewo nggak mau, Pah! Dewo gak mau nikah sama perempuan ular seperti dia!"
"Itu salah kamu sendiri!! Jika tidak ingin mendapatkan masalah harusnya jangan bermain api!!" Sentak Papa Anto.
"Tidak ada jalan keluar lagi! Mau tidak mau kalian harus segera menikah sebelum perut Luna membesar!"
"Besok Papa siapkan semua keperluan untuk kalian menikah, kalian hanya perlu menikah secara agama dulu, untuk selanjutnya... Kita bahas setelah kalian menikah nanti," ujar Papa Anto kemudian pergi ke ruang kerjanya.
"Arrggghhhh!!! Sial sial sial!"
Dewo mondar mandir diruang tamu dengan kedua tangan yang menarik-narik rambutnya sendiri, menatap benci kearah Luna yang duduk santai di Sofa.
"Kata Bude, kamu tidur dikamar tamu," ucap Tika datar dengan tatapan tidak suka kepada Luna.
Kemudian Tika berjalan menuju kamar tamu, dengan diikuti Luna dibelakangnya. Dewo pun kembali kekamar Mama Sinta.
"Bagaimana ini, Mah... Dewo nggak mau menikah sama Luna, Dewo mau kembali sama Senja," Lama Dewo bersimpuh sembari memeluk kaki Mama Sinta hingga tertidur.
Keesokan harinya, ketika Dewo bangun tidur, diruang tamu sudah ada beberapa orang dari kantor daerah dan pejabat komplek setempat yang akan menjadi saksi dan membantu persiapan pernikahan Dewo dan Luna.
"Kamu menikah setelah Maghrib nanti," ucap Papa tak acuh
Ia teringat dengan jadwal persidangannya yang akan digelar siang ini, artinya masih ada sedikit waktu untuk hadir ke-persidangan.
Datang bukan berarti Dewo sudah setuju dengan gugatan cerai yang Senja layangan ke PA. Hanya saja, Dewo merasa dengan Ia datang ke pengadilan, Ia pasti akan bertemu dengan Senja dan membujuk istrinya itu untuk menarik kembali gugatannya.
Dewo menghampiri kedua orangtuanya yang sedang berbincang serius di dalam kamar, "Pah, Mah... Dewo mau keluar sebentar,"
"Mau kemana kamu?!! Mau jadi pengecut yang lagi-lagi lari dari tanggungjawab?!" cibir Papa Anto.
Dewo menggeleng, "Enggak, Pah! Dewo mau ke pengadilan, hari ini sidang pertama,"
Tidak ada jawaban dari kedua orangtuanya, Dewo pun pergi meninggalkan rumah orangtuanya, menuju rumahnya sendiri untuk bersiap sebelum akhirnya pergi ke Pengadilan Agama.
Hingga tiba waktu sidang digelar, tidak ada tanda-tandanya Senja akan hadir.
Hakim menjelaskan agenda pada persidangan pertama pemeriksaan gugatan perceraian adalah perdamaian. Di sini, hakim tidak langsung memutus cerai kedua belah pihak dan akan hakim berusaha mendamaikan kedua belah pihak, Namun karena ketidak hadiran dari Pihak penggugat, makan Sidang akan dilanjutkan ke sesi kedua.
Setelah selesai, Dewo mencoba menghubungi nomor Senja, namun ponselnya masih saja tidak aktif sejak semalam.
"Please, Nja..." Dewo memukul kemudi mobil saat lagi-lagi ponsel Senja tidak bisa dihubungi.
Entah apa yang Dewo lakukan, semua pikirannya hanya tertuju pada Senja. Tanpa disadari, mobilnya kini telah berhenti tepat didepan rumah Senja.
Matanya memanas demi melihat perempuan yang sedari tadi memenuhi pikirannya, sedang berbincang dengan pria lain, tangannya mencengkram kuat kemudi mobil tatkala melihat pria itu melemparkan senyuman manisnya kepada Senja.
Damned! Bukankah dia pria semalam?!
Tak berselang lama, pria itu melirik mobil Dewo diikuti mata Senja yang menoleh kearah mobil Dewo.
"Kamu masih milikku, Nja!"
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai readers terkasih 😘 maapkeun Emak yang lagi jarang up story' and piknik keliling ke novel karya hebat author lain... Biasalah! Cuaca lagi agak ekstrim ya... Bentar ujan bentar panas, bikin galau jemuran 🤪 sama bikin penyakit juga.. 🤧🤧🤧😷😷😷😷. belum sempat revisi juga, jadi kalo banyak typo mah harap maklummmmmm yaaaaaa
Jangan lupa, tetep like, coment and vote yaackkk 😅😅😅
Buat Reader's juga stay healthy yaa... Laaffffyuuuuu 😍😍😍😍
lu yg tinggalkan anak dan suami lu demi karir modelmu.
egois lu Jihan dan gak tahu malu.
Setuju banget mak, mencintai orang yg Sama dg waktu yg lama dan harus setiap hari tanpa lelah Dan bosan.
Mantap mak pesannya. Angkàt topi untukmu.
Alamak.......mantap banget kata²nya Thor.
"I know... Tapi, jika suatu saat kamu merasa ingin memulai kembali berpetualang, aku ingin kamu tahu, ada aku dan Biru yang siap menemanimu untuk kembali berpetualang, mencari seperti apa rupa kebahagiaan dan membangun tempat untuk kata Pulang,"
Bukan kata dan rayuan gombal tapi juatru kata² oenuh makna ini yg bikin hati aq juga ikut meleyot Bang Awan.