NovelToon NovelToon
Suamiku Tak Terlihat

Suamiku Tak Terlihat

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri / Horor / Sudah Terbit / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Evhae Naffae

Apa jadinya kalau suamimu tak terlihat orang sekitar dan hanya kamu yang bisa berinteraksi dengannya? Sehingga banyak beranggapan kalau kamu itu gila, seperti pasangan Vanesa dan Rikuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evhae Naffae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Season 2 (Part 8)

Suamiku Tak Terlihat (Season 2)

Part 8

Vanesa menggeliat di tempat tidurnya dan melihat empat dayang-dayang memasuki ruangan kamar sambil membawa nampan makanan.

“Putri Vane, kami membawakan makan malam,” ucap seorang Dayang-dayang sambil meletakan nampan makanan di atas meja.

Vanesa duduk di tempat tidur dan menatap makanan yang terhidang di atas meja. Ada beberapa buah telur penyu rebus, udang dan kepiting direbus juga, serta buah jeruk dan pepaya. Vanesa menelan air liur, namun ia mengurungkan niat untuk memakannya terlebih dahulu.

“Ayo dimakan, Putri Vane! Sebentar lagi pesta minum-minum akan dimulai, Paduka Raja pasti akan ke sini untuk minta ditemani minum. Maka sebelum itu, Putri harus makan dulu,” ujar Sang Dayang lagi.

“Iya, nanti akan kumakan, sekarang masih kenyang,” jawab Vanesa pelan sambil turun dari tempat tidur.

“Ya sudah. Kami keluar dulu, Putri.” Ketiga dayang-dayang melangkah menuju pintu kecuali Dayang Sari, ia masih berdiri di samping lalu memberikan sesuatu ke tangan Vanesa. Lalu berlari mengikuti dayang lainnya keluar dari kamar.

Segera dikuncinya pintu kamar dan kembali duduk di pinggir ranjang dan membuka genggaman tangan. Ternyata Dayang Sari memberikan sebuah surat padanya.

[Putri, nanti tengah malam aku akan menunggumu di bawah jendela kamar, jangan makan makanan apapun yang diberikan sebab semuanya mengandung ramuan khusus yang aku juga tidak tahu apa khasiatnya.]

Vanesa menghela napas panjang, ternyata kecurigaannya selama ini benar. Bisa jadi makanan itu mengandung obat tidur atau sejenisnya. Ia segera menyembunyikan surat dari Dayang sari, lalu menyembunyikan juga makanan-makanan itu ke bawah tempat tidurnya. Kemudian berbaring lagi di tempat tidur, ia akan pura-pura sakit jika Raja Macan mengajaknya ke alun-alun istana untuk pesta minum-minum nanti.

Beberapa saat kemudian, terdengar bunyi ketukan pintu lalu suara pintu terbuka. Vanesa pura-pura memejamkan mata dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal.

“Putri Vane, ada Paduka Raja Macan,” ucap seorang dayang sambil menggoyang bahunya.

Vanesa membuka mata dan mendapati Raja Macan sudah duduk di pinggir tempat tidur sambil menatapnya dengan senyum semringah.

“Duhai Adinda Putri Vane, mengapa kau belum bersiap-siap? Apa kau sedang sakit?” Raja Macan terlihat khawatir sambil menyentuh dahi Vanesa.

“Eh .... “ Vanesa kaget mendapati tangan berbulu dengan kuku yang runcing itu menyentuh dahi dan berlanjut membelai pipi mulusnya.

Vanesa menarik tubuhnya dengan risi, apalagi dengan jarak yang sangat dekat dengan siluman macan itu. Jantungnya berdebar kencang dengan tubuh panas dingin karena menahan takut.

“Jangan takut, Sayang, wahai Putri Vane calon permaisuriku. Besok kita akan segera manikah, jadi kau harus terbiasa dengan sentuhan-sentuhan ini,” ujar Raja Macan sambil meraih tangan Vanesa sambil menatapnya tajam.

Vanesa hanya meringis, tak berani berkata apa pun. Raja Macan tiba-tiba mendekatkan wajah kepadanya, hendak memagut bibir mungil milik anak manusia yang membuatnya tak dapat menahan hasrat kelelakian yang sudah berada di ubun-ubun.

Akan tetapi, Vanesa yang memang memiliki alergi terhadap bulu-buluan mendadak ingin bersin ketika bibir Sang Raja hanya berjarak satu senti dari bibirnya.

“Hacciiii!!!” Sontak wajah Raja terkena percikan bersin Vanesa.

“Aihhhh .... “ Raja Macan mengusap wajahnya dengan kecewa.

“Ma ... maaf, Pa ...Paduka Raja, haccciii, haccciii, hacciiii .... “ ujar Vanesa sambil bersin berkali-kali.

“Tidak apa-apa, Sayang.” Raja Macan menatap prihatin Vanesa yang sekarang bersin-bersin terus dengan hidung meler. “Apa kau sakit, Putri Vane?”

“Sepertinya demikian, Paduka. Hamba memang merasa kurang enak badan sejak dari tadi siang,” jawab Vanesa lemah.

“Apa perlu aku panggilkan tabit istana untukmu, Sayang? Apalagi besok sudah pesta pernikahan kita, aku tak mau terjadi apa pun padamu.”

“Tidak usah, Raja. Hamba akan tiduran saja, nanti besok pasti sudah akan sembuh,” jawab Vanesa sambil merebahkan diri di tempat tidur.

Raja Macan beranjak dari tempat tidur lalu menyelimuti kembali tubuh Vanesa.

“Ya sudah, Adinda Putri Vane istirahat saja. Nanti akan kusuruh dayang mengantarkan obat ke sini!” Raja Macan tersenyum lalu melangkah keluar dari kamar Vanesa.

Vanesa bernapas lega, sebab sudah terhindar dari Raja Macan yang hendak menghisap manis bibirnya. Ia sangat bersyukur akan penyakit alergi yang dideritanya begitu menolong di saat genting begini.

Sedangkan di luar kamar Vanesa, Ratu Soraya sudah menanti Raja Macan dan langsung menggandeng tangannya sambil bergelayut manja.

“Mana Putri Vane, Kanda?” tanyanya sambil tersenyum licik.

“Putri Vane sedang sakit,” jawab Raja dengan kecewa.

“Ohhhh .... “ Ratu Soraya semakin menyunggingkan senyum puas, sebab ramuan berhaya yang dicampurnya ke makanan Putri Vane telah bereaksi. “Ya sudah, biarkan Dinda yang menemani Kanda di pesta minum-minum itu!”

Raja Macan menghela napas jengah lalu melangkah menuju alun-alun. Akan tetapi, ketika mereka melewati kamar calon pengantin yang sudah disiapkn khusus untuk malam pengantin Raja Macan dan Putri Vane nanti, Ratu Soraya malah menghentikan langkahnya.

“Kanda, bolehkah kita mampir sebentar di kamar ini? Dinda sangat ingin melihatnya, boleh ya, Kanda Sayang?” pinta Ratu Soraya masih bergelayut manja di lengan Raja.

Belum sempat Raja Macan menjawab, Ratu Soraya telah menariknya masuk ke dalam kamar yang sudah didekorasi dengan indahnya.

“Waww, sangat indah, Kanda .... “ ucap Ratu Soraya sambil membaringkan tubuhnya di ranjang yang sudah di penuhi kelopak bunga mawar.

Raja Macan melirik kesal kelakuan Permaisuri pertamanya itu, yang telah memberantakkan ranjang pengantin untuk dirinya dan Putri Vane.

“Dinda, ayo kita segera ke alun-alun! Pesta sudah dimulai,” ajak Raja Macan yang sudah melangkah menuju pintu.

Ratu Soraya berlari menuju pintu dan segera menguncinya, lalu menatap Raja Macan dengan tatapan menggoda.

“Sudahlah, Dinda! Kita bisa melakukannya di sana, tapi jangan di sini!” bujuk Raja Macan sambil berusaha melepaskan tangan Ratu Soraya yang sudah melingkar di lehernya.

Akan tetapi, Ratu Soraya malah menarik Raja Macan naik ke ranjang lalu menimpa tubuhnya. Kemudian meraih tiga botol ramuan yang ada di atas nakas, lalu meminumkannya ke mulut Sang Raja.

“Uhuk, Dinda ... uhukkk, agghh .... “ rintih Raja karena dipaksa meminum tiga botol ramuan persiapan malam pengantinya bersama Putri Vane esok malam.

Raja Macan mendorong tubuh Ratu Soraya hingga jatuh terlentang ke pinggir ranjang.

“Soraya, apa yang kau lakukan?!” jerit Raja Macan dengan kesal sambil menatap Ratu Soraya yang malah menatapnya genit.

Tiba-tiba, Raja Macan merasakan ada energi aneh yang menjalar di setiap aliran darahnya. Ia terdiam sesaat, lalu kejang-kejang seperti tersengat aliran listrik. Tiba-tiba, getaran dahsyat terjadi pada senjata pamungkasnya.

Melihat kejadian itu, Ratu Soraya mendekat dan segera membuka pakaian sang Raja lalu mendorongnya ke tempat tidur. Pertempuran sengit pun terjadi dan tak dapat dihindari.

******

Sedangkan di kamarnya, Vanesa sedang menunggu aba-aba dari Dayang sari. Ia sudah mondar-mandir di tepi jendela tapi yang ditunggu belum juga muncul. Alunan suara musik dari alun-alun istana sudah terdengar ke mana-mana, riuh rendah suara tawa juga sampai terdengar ke telinga anak manusia yang sudah bersiap dengan setelan penyamarannya itu.

Karena gusar menunggu Dayang Sari yang tak kian muncul, Vanesa ingin membuka sedikit jendela untuk melihat situasi di luaran sana.

‘Brakkk’ jendela terbuka.

“Aduhhh!!!” Terdengar suara Dayang Sari dari balik jendela sambil memegangi kepalanya.

“Maaf, Dayang, aku tak tahu jika dirimu sudah ada di bawah jendela,” ujar Vanesa sambil menahan tawa melihat sang dayang meringis kesakitan.

“Ayo, Putri, buruan keluar.” Dayang Sari mengulurkan tangannya ke atas.

“Apa situasi sudah aman, Dayang? Sedang pesta ada di alun-alun, bagaimana kita bisa menuju ke belakang istana?” Vanesa mengerutkan dahi.

“Putri Vane tenang saja, para keluarga kerajaan dan prajurit sudah hampir teler!” jawab Dayang Sari sambil mengacungkan jempolnya.

“Terus Raja ada di mana?”

“Nah, itu dia ... Raja tak terlihat di alun-alun. Hamba juga tak tahu beliau ada di mana?” Dayang Sari menggaruk kepalanya.

Vanesa mengerutkan dahi, lalu berbalik ke arah tempat tidur. Disusunnya dua buah guling lalu menyelimutinya, ia tersenyum puas. Lalu membuka knop kunci, kemudian naik ke jendela dan segera melompat turun.

‘Bruggg’

“Awwww, hikksss .... “ Dayang Sari terbaring di tanah dan ditimpa tubuh Vanesa.

“Maaf, Dayang, heeee .... “ Vanesa nyengir lalu turun dari atas tubuh Dayang kemudian membantunya bangun.

“Putri Vane ini gak bilang-bilang sih mau lompatnya?”

“Maaf, Dayang .... “ jawab Vanesa pelan lalu bergegas merapatkan kembali jendela, agar tak ada yang tahu akan kepergiannya.

Dayang Sari menarik tangan Vanesa lalu mengajaknya mengendap-endap melewati alun-alun istana tempat berlangsungnya pesta. Semua ada di sana, baik semua keluarga kerajaan maupun tamu-tamu undangan. Ada yang sudah teler tak berdaya, ada yang sedang berebutan menikmati tubuh seorang yang berpakaian Dayang, ada yang berebutan untuk dipuaskan oleh seorang pangeran dan ada yang hanya bermain sendirian. Sungguh pemandangan yang miris di mata manusia seperti Vanesa.

“Dayang, aku takut .... “ Vanesa meremas jemarinya yang terasa dingin karena tontonan yang bikin mual dan jantungan itu.

“Kita tunggu sebentar di sini, taklama lagi semuanya bakal teler kok,” jawab Dayang Sari yakin.

Setelah situasi sedikit aman, Vanesa dan Dayang Sari mulai mengendap-endap lagi melewati para tubuh yang sudah tumbang itu.

Tiba-tiba, Vanesa merasa pergelangan kakinya ditangkap seseorang dari arah bawah.

“Aghh .... “ jeritannya tertahan oleh tangan Dayang Sari yang membekap mulutnya.

“Sttt!!!” Dayang Sari melepaskan tangan seorang prajurid yang sudah teler namun sedang meracau tak karuan.

Dayang Sari menarik tangan Vanesa dan bersembunyi di samping bilik milik para dayang, dan taklama lagi mereka akan sampai di dapur kerajaan yang di belakangnya ada sebuah pintu yang akan membawa mereka menuju halaman belakang istana di mana jurang curam itu berada.

“Agghhh, Kanda!!! Aduh, aduh, owww ... owww .... ” Terdengar suara rintihan Ratu Soraya dari kamar pengantin di ujung sana.

“Ngaunggg, miawww ... ngauuuunggg!!!” Suara Raja Macan terdengar bingas.

Dayang Sari mencolek punggung Vanesa dan menunjuk arah suara, lalu meringis ngeri.

“Sepertinya Ratu Soraya dan Raja Macan sedang mencoba kamar pengantin, pantas saja mereka tak terlihat di alun-alun,” bisik Dayang Sari sambil cekikikan.

Bersamaan dengan itu, dari arah gerbang istana terdengar suara pertempuran. Sontak, para prajurit yang teler di alun-alun pada kleyengan mengambil senjata masing-masing dan berlari sempoyongan menuju pintu gerbang.

“Ada penyusup, ada penyusup!!!” teriak prajurit sambil membunyikan pentongan tanda bahaya.

Vanesa dan Dayang Sari saling pandang lalu melanjutkan berlari sambil mengendap-endap menuju dapur istana.

Sedangkan sang penyusup yang ternyata adalah Rikuh itu telah berhasil membunuh beberapa prajurit Kerajaan Macan dan kini ia telah berhasil memasuki istana.

Dengan berbekal pedang samurai yang panjang Rikuh terus menghajar para prajurit yang menghalanginya untuk masuk, ia bahkan tak segan-segan memenggal kepala para macan itu. Apalagi keadaan para prajurit yang sedang dalam keadaan teler, maka ia lebih leluasa dalam menghajarnya.

Kini Rikuh telah sampai di alun-alun tempat pesta berlangsung, sambil membuka setiap kamar yang dilalui ia serukan nama ‘Vanesa’ sang istri tercinta.

‘Brakkk’ kamar pengantin yang sedang terjadi pergulatan sepasang suami istri itu ditendang oleh Rikuh.

Raja Macan menoleh ke arah pintu dan mendapati musuh bebuyutannya sedang berdiri menantang sambil menghunus pedang yang sudah berdarah-darah. Didorongnya Ratu Soraya yang masih asyik menunggangi dirinya dengan gaya berputar-putar itu.

“Agghhh, Kanda .... “ rengek Ratu Soraya manja dan tak menyadari akan kegaduhan di luar kamarnya.

Raja Macan meraih pakaiannya lalu memakainya dengan sarabutan, kemudian keluar dari kamar meninggalkan Ratu Soraya yang masih belum mencapai klimaks. Ia sangat terkejut melihat seisi istana yang sudah porak poranda dengan mayat para prajuritnya yang berhambur darah. Ia mengepalkan tangan, lalu siap menyerang Rikuh, si orang limunan yang memang pernah membuat masalah dengannya beberapa tahun silam.

“Hey, beraninya kau menyusup ke istanaku dan membunuh para prajurit!” hardik Raja Macan sambil menyerang Rikuh dengan pedangnya.

“Kembalikan istriku yang telah diculik oleh bangsa Macan!” balas Rikuh sengit sambil menangkas setiap hentaman pedang dari Raja Macan.

“Bangsaku tak pernah menculik bangsamu! Jangan asal tuduh, ya! Dasar bedebah!” Pedang mengenai lengan Rikuh, darah hitam mengalir segar.

“Kau jangan menyangkal, aku bisa mencium bau istriku di sini. Cepat kembalikan dia, jika kau masih menyayangi kepalamu!” Rikuh membalas menyerang Raja Macan dan berhasil melukai punggungnya.

Pertempuran semakin sengit. Para panglima perang yang tadi teler di alun-alun, kini sudah terbangun dan siap membantu sang Raja untuk melumpuhkan Rikuh.

Rikuh yang dikeroyok para bangsa Macan kewalahan juga, hingga sekujur tubuhnya sudah penuh dengan luka.

*******

Sedangkan di belakang istana, Vanesa dan Dayang Sari baru saja menemukan jurang yang seperti dalam mimpinya. Mereka tersenyum senang, tanpa menghiraukan bunyi pertempuran di dalam istana.

“Apa ini jurangnya, Putri?” tanya Dayang Sari sambil mengerutkan dahi, sedang yang terlihat di bawah sana hanya gelap saja.

"Iya, sepertinya memang ini. Di bawah sana akan ada sungai yang akan membawa kita ke lautan, lautan alam manusia," jawab Vanesa sambil celingukan, takut ada prajurit yang menemukan mereka.

"Jadi, kita harus melompat nih?" Dayang Sari meringis ngeri.

Vanesa mengangguk mantap.

"Tapi, kita barengan ya, Putri, melompatnya!"

"Iya, ayo pegang tanganku!" Vanesa meraih tangan Dayang Sari dan menggenggamnya.

"Putri, kalo ternyata aku mati setiba di bawah sana ... Putri tinggalkan saja aku!"

" Eh, Dayang, gak usah ngelantur deh! Ayo!"

Di saat Vanesa sudah siap terjun, terdengar suara yang tak asing di telinganya memanggil namanya dengan lantang.

"Vanesaaaa!!!!" Suara itu terdengar dari dalam istana.

Vanesa menoleh ke belakang, dan celingukan. Ia yakin itu suara Rikuh, tapi mengapa suaranya seperti ada di sini?

Belum selesai Vanesa menganalisa suara yang didengarnya, Dayang Sari sudah terlebih dahulu menarik tangannya dan mereka terjun bersama.

Bersambung ....

( Kalau suka dengan cerita ini, jangan lupa like, koment dan votenya, ya, gaes 😁

Salam kechup manja dariku, Author amatiran modal halu wae 😘 )

1
Waryuti Yuti
kok minum nya darah ya kaya vampir
Waryuti Yuti
waduh, jangan2 suami bangsa genderuwo hiii serem
Eko Priyosantoso
kapan cerita ini ending ?
Nabila Aulia
hmm
aurora ara
alurnya menggantung, trus kelanjutan ya bagaimana?, pembaca jadi bingung endingnya kurang pas/Frown/
Eko Priyosantoso: Ya emang nggantung karena blm ending.
total 1 replies
Anik Chiffon
kenapa rikuh gk pernah dibuat ngikuti rahma lg,biar terkuak tentang fiolisa,kasihan kalau jd anak raja iblis,mending ikut opa rukuh aja..
aurora ara
Keren bnget, ak suka /Smile/
Anik Chiffon
nggantung..
duoNaNa
merinding mlh 😬😬😬
Cornelia Damayanti Sakti
bangsa gaib malah lebih setia dri manusia,eh manusia kelakuan Kya siluman macan g setia
Imberl~
Maaf thor menurut aku cerita nya terlalu di paksain, harus ada intro nya dlu sih kenapa si vanessa bisa gini , jadi kesannya alurnya maksa bgt gtu hehehe 🙏🙏
Mmh Neng Tea
semoga rikuh ketemu sama vania dan anak nya rahma
Mmh Neng Tea
qirey kenapa ga di temuin sama ibu nya vanesa
Mmh Neng Tea
cerita nya ko rahma doang yg lain donk thoor anak nya si rikuh yg pertama ceritain juga biar nyampur yg lain nya
Mmh Neng Tea
kasihan si riuh nya dan anak nya ga mendapat kn kebahagiaan
Mmh Neng Tea
lebih baik sama rikuh .kn awal nya sama rikuh udah di satuin aja sama sumi dan anak nya tapi rikuh nya menjelma kaya awal seperti manusia
Auliarosyida
alur ceritanya bagus. cuma jadi kepanjanngan akhirnya ngak berujung. author kemmana saja kau
Auliarosyida
komen paling akhir 27-5-2023😂
segitu lamanya ngegantung pecintamu thooorrr
Auliarosyida
ngak salah nyebutin usian vanesa. awal! ketemu ustad fajar sudah 40 tahun. eh sekarang anak2 udah pada kuliah vanesa usia 43
Auliarosyida
visualnya thooo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!