Ibarat air susu dibalas dengan air tuba. Itulah yang Mauli dapatkan. Niat hati ingin membantu sahabatnya Naila, Mauli justru mengalami akibatnya.
Mauli yang sudah menjalani hidup berumah tangga selama 7 tahun harus kehilangan suaminya karena Akmal mencintai Naila sahabatnya.
Awalnya Mauli dan Akmal ingin menyelamatkan Naila yang selalu mengalami kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Akan tetapi seiring berjalannya waktu kebaikan dan perhatian Akmal kepada Naila berubah menjadi cinta.
Begitupun sebaliknya, Naila yang selama ini selalu merasakan kesedihan dan kepahitan dalam hidupnya justru menjadi angin segar karena kehadiran Akmal.
Bagaimana kehidupan rumah tangga Mauli dan Akmal selanjutnya?
Bagaimana pula persahabatan antara Mauli dan Naila?
Yuk ikuti kisah mereka selengkapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ERNI HANDAYANI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya tidak mewakili NovelToon itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erni Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan nenek
Dalam lamunannya tiba-tiba terdengar suara bel.
"Ada tamu siapa ya?" Gumam Naila.
Ketika Naila membuka pintu, Naila terkejut dengan kedatangan Abraham dan ibunya Mauli beserta rombongan wanita yang menyerukan, "wanita perebut suami orang harus di usir!"
"Abraham untuk apa kamu kesini?" Pekik Naila.
"Heh kamu wanita perebut suami orang tidak pantas ada di sini!" Teriak ibu Hana.
Naila yang mendengar kata-kata itu seketika terdiam dan menangis.
"Aku tidak pernah bermaksud merebut Akmal." Lirih Naila.
"Ah bohong, wanita ini adalah wanita yang sangat beruntung. Dia di beri kehidupan, keluarga dan semuanya tapi apa balasannya? Dia malah merebut suami anakku!" Geram ibunya Mauli.
"Aku tidak pernah ingin menyakiti Mauli." Bela Naila dengan mata yang berkaca-kaca.
"Dia itu memang seperti itu seret saja dia." Teriak Abraham yang langsung maju ke depan seolah memojokan Naila.
Tanpa aba-aba, semua rombongan wanita itu menyiram Naila dengan lumpur. Alhasil seluruh tubuh Naila pun dipenuhi dengan lumpur. Dengan terisak Naila tidak bisa berbuat apa-apa.
Abraham yang menyaksikan itu semua malah semakin memperburuk keadaan Naila. "Akmal kamu dimana? Aku sangat membutuhkanmu." Gumam batin Naila dengan mata yang berkaca-kaca. Dan tak lama bulir air matanya pun keluar.
Setelah puas menyiksa dan memaki Naila semua rombongan ibu-ibu tadi membubarkan diri. Termasuk Abraham setelah semua pulang Abraham melecehkan Naila. "Kamu ini memang wanita murahan." Bisik Abraham ke dalam telinga Naila. Setelah puas akhirnya Abraham pergi meninggalkan Naila.
Setelah semua pergi Naila berlari ke dalam rumah. Naila menangis di bawah ranjang tak henti-henti. Naila memikirkan apa yang diucapkan oleh ibu Mauli tadi, bahwa dirinya memang wanita murahan. Dia perebut suami orang. Jalinan cinta yang ia jalani bersama Akmal sangatlah tidak pantas.
Sementara di tempat lain Akmal masih sedang berbincang dengan ibu Lastri. Karena untuk kedua kalinya nenek Anju pingsan, kini Mauli memanggil dokter ahli jantung. Sesaat setelah dihubungi akhirnya dokter itu datang.
Mauli pergi keluar kamar meninggalkan nenek Anju karena akan diperiksa. Namun saat akan diperiksa. Nenek Anju malah tertawa lepas. "Dokter sini, aku hanya pura-pura sakit." Bisik nenek Anju pada dokter yang akan memeriksanya.
"Apa? Nenek ini ada-ada saja. Tapi untuk apa nenek melakukan ini semua?" Tanya dokter itu dengan menautkan kedua halisnya.
"Aku ingin menyelamatkan pernikahan cucuku. Aku tidak mau jika mereka sampai berpisah. Karna aku sangat menyanyangi mereka berdua." Lirih nenek Anju.
"Jadi apa kamu bisa membantuku?" Tanya nenek Anju ragu.
"Iya nek, aku mengerti sekarang. Apapun yang nenek bilang akan aku lakukan." Jawab dokter itu yang seakan mulai mengerti dengan permintaan nenek Anju.
Setelah beberapa menit akhirnya dokter itu keluar kamar.
"Kondisi pasien baik. Tapi seharusnya kalian tidak membicarakan tentang perpisahan. Karena jika beliau merasa stress maka akibatnya akan fatal." Jelas dokter itu.
Mendengar hal itu semua keluarga mengangguk. Akmal dan Mauli saling pandang memikirkan kata-kata dokter tadi. Sedangkan bu Lastri mencoba memberikan masukan untuk Akmal dan Mauli.
"Akmal, Mauli, ibu ingin berbicara dengan kalian." Ajak bu Lastri yang mengajak Akmal dan Mauli ke ruang tamu.
Akmal dan Mauli pun mengekor di belakang bu Lastri.
"Bagaimana ini, apa kalian bisa menunda perpisahan kalian. Hanya untuk satu bulan saja." Jelas bu Lastri yang langsung menyampaikan inti pembicaraannya.
"Aku setuju bu, aku rasa itu lebih baik." Timpal Akmal yang langsung menyetujui ide bu Lastri.
"Tapi bu, aku.." Lirih Mauli.
"Tapi kenapa sayang? Ini hanya untuk satu bulan." Jawab bu Lastri yang mencoba memberi pengertian.
"Bagaimana aku bisa berpura-pura bahagia bersama Akmal. Sedangkan sekarang dalam hatinya semua perasaan Akmal hanya untuk Naila." Gumam batin Mauli.
"Mauli, apa kamu keberatan? Plis aku mohon, jika bukan untukku setidaknya ini semua demi nenek. " Tanya Akmal yang menautkan kedua halisnya karena melihat Mauli yang sejak tadi melamun dan berusaha membujuk Mauli.
"Mmmhh, tidak. Aku juga setuju." Tanpa banyak kata-kata Mauli pun langsung menyetujuinya.
Setelah semua sepakat akhirnya mereka bertiga mendatangi nenek Anju ke dalam kamar.
"Bagaimana kabar ibu?" Tanya bu Lastri yang langsung menghampiri nenek Anju.
"Aku sudah lebih baik. Oiya sini Akmal, Mauli." Jawab nenek Anju.
"Iya nek.." Jawab Akmal dan Mauli kompak.
"Nenek ingin berbicara dengan kalian berdua." Lirih nenek Anju.
"Baiklah kalau begitu aku akan membuat makanan dulu untuk ibu." Timpal bu Lastri.
"Akmal, Mauli nenek tidak mau jika kalian sampai berpisah. Nenek mohon, mungkin ini permintaan nenek yang terakhir. Tolong pikirkan kembali keputusan kalian." Lirih nenek Anju dengan mata yang berkaca-kaca.
"Iya nek, kami tidak akan melakukan itu lagi." Jelas Akmal.
"Kamu sudah memaafkan Akmal kan Mauli?" Tanya nenek Anju.
"Bagaimana aku bisa memaafkan orang yang sudah menghancurkan hatiku nek. Padahal aku sangat mencintai dan menyanyanginya." Gumam batin Mauli.
"Mauli." Panggil nenek Anju.
"Iya nek, aku sudah memaafkannya." Jelas Mauli.
Permintaan nenek kali ini merupakan permintaan nenek yang kedua, karena sebelumnya nenek juga meminta hal yang sama. Namun Mauli tidak ingin melakukannya, karena ia tetap bersikukuh pada pendiriannya untuk segera berpisah dari Akmal.
Dalam waktu beberapa bulan terakhir, Akmal dan Mauli masih menjalani hari-hari seperti biasanya. Hanya saja hati Mauli masih belum bisa memaafkan Akmal seutuhnya. Mauli masih merasakan kesakitan.
"Kamu bisa menemui Naila kapan pun kamu mau. Aku tidak akan menghalangimu. Dan aku takaan berbicara pada nenek." Jelas Mauli yang membuka pembicaraan saat di dalam kamar dengan mata yang berkaca-kaca namun Mauli segera pergi ke dalam kamar mandi untuk menyembunyikan kesedihannya.
"Baiklah Mauli terima kasih." Jawab Akmal.
Mauli terisak saat dalam kamar mandi. Sebenarnya Mauli tidak pernah ingin Akmal kembali pada Naila. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menyembunyikan kesedihannya.
Setelah Mauli keluar dari kamar mandi. Akmal memberikan kunci kliniknya pada Mauli.
"Mauli ini, aku tidak pantas mendapatkan ini. Maafkan aku karena aku sudah menghancurkan semuanya. Aku sudah menghancurkan mimpi-mimpi kita. Maafkan aku yang tidak bisa memenuhi janjiku." Ucap Akmal yang langsung memberikan kunci kliniknya yang sejak kemarin-kemarin ingin ia kembalikan.
"Sudahlah untuk apa kamu terus meminta maaf. Semua sudah terjadi. Dan aku juga sudah sakit hati. Ibarat pecahan kaca, mungkin serpihan kaca itu tidak akan pernah bisa disatukan." Lirih Mauli dengan mata yang berkaca-kaca. Dan untuk kesekian kalinya air matanya terus berderai tak terbendung lagi.
"Mauli maafkan aku." Akmal mencoba meminta maaf lagi dan menyentuh Mauli.
"Stop! Jangan sentuh aku!" Pekik Mauli.