NovelToon NovelToon
Siksa Sang Psychopath

Siksa Sang Psychopath

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Contest / Badboy / Pembunuhan / Kriminal / Obsesi / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Romansa / Tamat
Popularitas:227.5k
Nilai: 4.6
Nama Author: wati

Carla, seorang gadis yang memiliki sosok kekasih yang mencintainya dengan abnormal. Rasa cinta yang dimiliki oleh kekasihnya untuk dirinya, seakan merantai hidupnya. Kekangan yang mengerikan menjeratnya pada sebuah lingkaran, tak berujung dan terus berputar. Hatinya milik laki - laki itu, jiwanya, raganya, termasuk nyawanya.

Dirinya akan bertahan, itu pasti. Karna hatinya telah terenggut begitu saja, dan masuk ke dalam hidup kelam lelaki itu. Namun jika jiwanya terus terkikis, maka satu hal yang akan ia lakukan.

Pergi.

"Aku nyerah, mari kita akhiri sampai disini Steve."

Percaya atau tidak, bibirnya sungguh kelu untuk mengatakan itu. Tubuhnya gemetar, karena cinta yang ia impikan selama ini ternyata semenyakitkan itu.

"Ahkk.." teriak Carla kala tangan kokoh itu menekan luka di dahinya sambil tersenyum smirk.

Carla tersenyum kecut.

"Mati atau tetap bersamaku?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kau bisa, lalu kenapa aku tidak?

"Le-lepas!"

"Lepaskan aku bastard!!"

Teriakan itu menggema di lorong sempit gelap dan pengap. Keisya mengusap air matanya kasar, dan menyentak tangan Alden dengan kuat hingga terlepas.

PLAK

PLAK

Malang, gadis itu tersungkur dilantai yang dingin dengan sudut bibir yang terluka. Dengan ringannya tangan kokoh lelaki itu menampar kedua pipinya secara bergantian. Alden berjongkok dan menatap Keisya dengan iba, kemudian menunjukkan smirk nya.

"Ck. Bagaimana? Sakit tidak?" tanyanya lembut sembari memainkan ujung helaian rambut gadis itu. "Heh, tamparan pertama untuk kau yang telah berani melanggar aturanku. Dan yang kedua, untuk mulutmu yang telah lancang itu."

Alden mengusap sudut bibir Keisya yang berdarah dengan ibu jarinya, kemudian membawanya kemulutnya lalu berkata,"Manis, semanis orangnya.."

"Cuih..menjijikkan!" geram Keisya sambil meludah kesamping. Rasanya ia begitu membenci lelaki dihadapannya ini. Dirinya merasa tidak lebih dari seekor binatang yang diperlakukan tidak hormat seperti ini. Alden tidak menanggapi, lelaki itu sedari tadi hanya tidak bisa berhenti tersenyum. Keisya mengusap sudut bibirnya kasar, dan segera berdiri untuk pergi dari sana. Namun hal yang tidak pernah ia duga sama sekali lelaki itu dengan kejamnnya menarik kakinya hingga ia kembali tersungkur dengan mengenaskan.

Bruk!

"Aww..." pekik Keisya nyaring, rasanya seluruh tubuhnya remuk karena menghantam lantai itu dengan keras.

"Larilah sayang...jika kau bisa, aku tidak akan mengejarmu lagi. Bukankah ini kesempatan bagus?"

Keisya bergeming, rasanya ia tidak sudi mengeluarkan air matanya dihadapan lelaki itu. Namun air matanya luruh begitu saja, bagaimana tidak? Saat batin serta fisikmu disiksa secara bersamaan. Gadis itu hanya merintih ketika punggungnya yang ditekan kuat oleh lelaki itu dan rambutnya yang ditarik keatas.

"Hiks..hiks..sa-sakit..le-lepaskan aku." Sebenarnya ia benci memohon pada lelaki itu, namun sekarang tidak ada pilihan lain selain memohon. Tubuhnya terasa mati rasa, dan kepalanya yang pening serta darah yang keluar dari hidungnya. Miris. Apakah cinta seperti ini.

"Hm, memohonlah. Aku suka."

"Tadi kau sangat berani sayang, lalu sekarang? Ck." ujar Alden dan memangdang remeh pada gadis yang terus berusaha meronta itu. "Memohonlah lagi sayang..aku akan melepaskanmu.." bisiknya sambil menempelkan pipinya ada pipi Keisya.

"Ja-jangan menyentuhku. K-kau menjijikkan!" teriak Keisya lantang, dan terus berusaha menghindar kala lelaki itu menciumi pelipisnya.

"Aku menjijikkan? Hm..terserah kau mau berkata apa sayang.."

"Jika aku membunuhmu, apa kita bisa seperti ini selamanya? Aku tidak masalah mendampingimu yang tidak bernyawa, asalkan kau selamanya bersamaku."

Keisya membelalakkan matanya terkejut, begitu besar obsesi lelaki ini hingga memikirkan rencana konyol seperti itu. Gadis itu memejamkan matanya sejenak kemudian berusaha tenang, ia tidak boleh gegabah lelaki gila ini bisa saja membunuhnya sekarang juga. Dan ia tau, itu bukan sekedar ancaman.

"A-Alden..lepaskan aku, dan aku tidak akan lari lagi."

"Katakan sekali lagi."

"Lepaskan, aku tidak akan lari."

"Apa taruhanmu?"

"Nyawa."

Alden tertawa keras, lalu membalik tubuh Keisya dan memangkunya dengan lembut. Sementara gadis itu merutuki dirinya sendiri. Kenapa ia harus mengatakan akan mempertaruhkan nyawa?

"Hei hidungmu berdarah..apa sangat sakit?" tanya Alden dengan lembut yang membuat Keisya meringis. Bukan, bukan karna rasa sakitnya tapi perubahan sikap lelaki itu. Apakah dia seorang bipolar?

"Ti-tidak apa-apa, aku baik-baik saja." jawab Keisya dan berusaha mengambil sapu tangan dari tangan Alden, namun ditepis lelaki itu.

Keisya mengangguk pasrah, ketika melihat tatapan datar Alden kembali muncul. Satu yang ia pahami sekarang, dirinya tidak mau mati konyol di lorong yang sempit ini.

"Sudah, ayo kita ke UKS."

"Ti-tidak, aku tidak mau. Aku baik-baik saja, lagipula aku ada kelas sekarang dan pasti sudah dimulai." Ujar Keisya yang sudah berada dalam gendongan lelaki itu mencegah Alden untuk membawanya ke UKS. Lalipula ia tidak mau bersama laki-laki itu lebih lama lagi. Alden tidak berkata apapun, bahkan lelaki itu terlihat tersenyum. Jauh dari ekspetasi yang sudah Keisya bayangkan.

Alden menurunkan Keisya dari gendongangannya, dan tanpa diduga gadis itu kembali tersungkur dan memekik kesakitan. Jangankan berjalan, rasanya berdiri saja ia tidak mampu.

"Itu yang kau sebut baik-baik saja?" Smirk Alden menatap datar Keisya.

***

Tik Tok Tik Tok

Detik demi detik telah berlalu, terlihat seorang gadis dibangku pojokan sana tidak henti-hentinya menatap jam di pergelangan tangannya. Hari sudah siang, dan bahkan pelajaran kedua telah dimulai. Entah dimana gadis itu berada, siapa lagi kalau bukan sahabatnya?

"Huh!" Carla menghela nafas lelah, kemudian meraih botol air ditasnya. Dari pagi rasanya ia ingin minum terus, dan tenggorokannya selalu terasa kering. Apalagi hatinya? Jangan ditanya, Carla tertawa hambar. Baguslah mungkin lelaki itu telah bosan dengannya. Sedetik kemudian Carla meremas kedua tangannya sendiri, meluapkan segala kekesalannya.

"Tega sekali.." lirihnya pelan sambil terisak. Tega sekali Steve berbuat seperti itu padanya. Dimana sekarang janji laki-laki itu padanya? Nyatanya semua omong kosong. Carla menendang-nendang meja dengan kesal. Untung saja kelas kosong, karena semuanya sedang menuju perpustakaan dan meninggalkan dirinya seorang diri.

"Jangan menendang meja, nanti kaki indahmu sakit bagaimana?"

Carla mendongak, menatap lelaki jangkung berkacamata itu. "Kau? A-apa yang kau lakukan disini?"

"Menemuimu!" ujarnya dengan senyum manis, lalu meraih kursi disebelah Carla dan duduk tanpa diminta.

Carla gelagapan, berani sekali lelaki ini. Meskipun ia melihat Steve bersama wanita lain tadi pagi, namun berdekatan dengan lelaki lain membuatnya enggan. Karena trauma itu pasti ada. Bagaimana jika Steve muncul dan menciptakan keributan disini?

"U-ntuk apa kau menemuiku?"

"Tidak ada, tadi aku melihatmu sendiri disini. Jadi mau aku temani?

"Hah? Ti-tidak usah. Memangnya kau tidak ada kelas?" tanya Carla, semoga saja lelaki ini pergi dengan ia yang bertanya begitu.

"Tidak, biasalah jam kosong."

Carla bergeming, sudahlah. Tidak mungkin juga Steve datang, dia pasti sedang sibuk dengan wanita itu.

"Oh iya apa kita sudah berkenalan?" tanya lelaki itu semangat.

"Entahlah. Lagipula kau tidak takut dekat denganku?" jawab Carla, yang juga diiringi pertanyaan.

"Hahahah, untuk apa takut berdekatan dengan seorang bidadari."

"Jangan gitu. Jika kau terus bicara begitu aku tidak menjamin nya-"

"Oh iya mari kita berkenalan, namaku Edgar." Potong lelaki itu cepat dan dengan cepat mengulurkan tangannya. Carla menghela nafas kemudian tersenyum, "Namaku--"

"Bagus. Sambutlah uluran tangan itu dan aku akan dengan senang hati memotong tanganmu baby!"

Suara serak itu menggema di kelas yang sunyi itu, dan dengan cepat Carla beranjak dan segera menjauhi Edgar.

...TBC...

1
Dina Nurazizah
plisss up lagiii
Ref Nita Pilii
Luar biasa
Dina Nurazizah
kenapa banyak teka teki 😭😭😭
Eci Rahmayati
Luar biasa
Denzo_sian_alfoenzo
stlh bc ni novel branda q langsung d penuhi dgn novel2 yg gk jls ngegantung smau 👊🤯
Denzo_sian_alfoenzo
stlh bc ni novel branda q langsung d penuhi dgn novel2 yg gk jls ngegantung smau 👊🤯
Denzo_sian_alfoenzo
kagak ada yg bnr, ni orng psyco mn smua novel nya kagak ada yg selesai asw 🤯
Denzo_sian_alfoenzo
q kira clara bkln bnuh diri trnyt tdk 😧
Denzo_sian_alfoenzo
knp klo psycopatnya bnyk jd b aja ni cerita 🤧pdhl aq dh berhrp banyak nih
Denzo_sian_alfoenzo
astaga 🤯
Denzo_sian_alfoenzo
hrs ya jdul novel ni bkn siksaan psyco tp dunia zombi
Denzo_sian_alfoenzo
jgn2 carla hanya bahan buat bls dendam
Denzo_sian_alfoenzo
aduhhhh ni pasti moyang nya kopat
Denzo_sian_alfoenzo
smpe sni aq msh ragu jgn smpe dh seru gni mlh happyend benci aq tuh 😣
Denzo_sian_alfoenzo
gk bs ber kata2 🥵🥵🥵🥵
Denzo_sian_alfoenzo
hubungan mreka bagian obat ,pait tp menyembuhkan 🤧
Denzo_sian_alfoenzo
psyco emng gk btuh dokter 🤣
Denzo_sian_alfoenzo
aq berharap kebucinan tdk segera dtg btw knp gk ada asal usul ato apa gtu cerita ini kek ujug2 dh smpe pertengahan awlnya gk ada
Denzo_sian_alfoenzo
aq suka apa aq termasuk psyco 🤧
Denzo_sian_alfoenzo
aq suka 👍👍👍👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!