Saat mantan suami istri di pertemukan kembali setelah sekian lama, dengan banyak perubahan dari masing-masing. Apa kedua orang itu masih bermusuhan? Atau malah saling jatuh cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ekstra Part 5
Vote sebelum membaca 😘
.
.
Arabelle tak bisa fokus dengan makanannya karena melihat gelagat yang aneh dari Arion dan Finn, suami dan putranya dari awal makan malam terus diam tak membuka suara sama sekali. Yang paling jelas itu Finn, wajah cemberut dan dinginnya belum pernah Ara lihat.
"Ekhem!"
Deheman kerasnya ternyata berhasil juga membuat kedua orang itu menatapnya, Arabelle tersenyum lebar pada mereka. "Karena besok hari libur, bagaimana kalau kita jalan-jalan?"
"Ya!"
"Tidak!"
Arion dan Finn langsung menatap satu sama lain, mata tajam mereka membuat Ara yang melihatnya meneguk ludah kasar, oh astaga sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka?
Tapi Ara tidak mau melihat aura permusuhan mereka, maka wanita itu menatap lembut putranya yang duduk di depannya.
"Sayang, kamu pasti bosan di rumah terus, jadi ayo besok jalan-jalan."
Finn menggeleng pelan, saat menatap Mamanya tatapan tajam itu menghilang. "Finn tidak bosan, aku lebih suka dirumah."
"Ayolah sayang, mumpung Papa juga lagi gak sibuk jadi bisa berlibur bersama."
Tapi Finn masih menggeleng membuat Ara cemberut, tangannya terulur mengusap perutnya yang membuncit, kandungannya sudah memasuki usia empat bulan. Lalu sebuah ide terpikirkan membuat Ara kembali menatap Finn yang ternyata akan pergi ke kamarnya.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau ikut, besok biar Mama telphone Lilia untuk temani kamu di sini."
Finn membelakan matanya mendengar itu, anak itu kembali duduk di kursi makannya. Menatap sang Ibu yang sedang tersenyum aneh, namun Ia tahu apa rencana Ara. Ia melirik Arion yang ternyata sedang memperhatikannya, segera saja Finn kembali menatap Ara karena gugup.
"Mama jangan gitu dong, akukan gak suka sama Lilia."
"Haha makanya kamu ikut aja, lagi pula ini permintaan adik kamu yang ke dua loh!"
"Benerankan?"
"Iya, Mama ngidam pengen jalan-jalan ke Ancol."
Finn berpikir, apakah Ia ikut saja ya? Jujur Ia tak mau ikut karena akan menghabiskan waktu bersama Papanya itu. Finn masih sebal pada Arion, ya karena masalah tadi siang. Itu bukanlah masalah kecil, tapi mampu membuatnya sakit hati. Finn merasa tidak rela Papanya itu dekat dengan wanita lain, bermesraan dibelakang Mamanya.
Apa Finn cerita pada Mamanya? Tidak.
Ia ingin menjaga hati Arabelle, tidak ingin membuat Mamanya itu sedih, apalagi sekarang sedang hamil.
"Bagaimana sayang? Kamu ikutkan? Memangnya kamu gak kasihan sama dede bayi?"
Dan saat Finn mengangguk pelan membuat Arabelle terpekik senang, wanita itu berdiri dari duduknya lalu mengecup puncak kepala putranya gemas. "Makasih ya sayang, Mama senang banget."
"Iya."
Arion yang dari tadi hanya terdiam tersenyum tipis, hatinya menghangat melihat itu. Pria itu sebenarnya sedang bersedih karena putranya seperti marah padanya, Finn bahkan terus menatapnya tajam dan tak tersenyum. Rasanya Arion kapok dekat lagi dengan wanita lain, Finn sangat mengerikan.
Lalu entah kenapa saat makan malam tadi Arabelle mengusulkan untuk jalan-jalan sekeluarga besok. Apa istrinya itu tahu hubungannya dengan Finn sedang tidak baik? Jikapun betul, maka hebat sekali feeling wanita itu. Arion memang belum menceritakan apa permasalahannya sampai membuat Finn mendiamkannya, tapi Ia janji akan cerita pada Ara sebelum tidur. Sudah cukup Finn yang Ia buat sakit hati, dan Arion tak mau membuat istri tercintanyapun sakit hati karena salah paham.
Melihat Finn yang sudah naik ke lantai dua untuk ke kamar membuat Arion menghembuskan nafasnya berat, astaga aura Finn sangat mengerikan membuatnya sulit bernafas. Putranya masih kecil saja sudah sedewasa itu, tak terbayang bagaimana setelah besar nanti.
"Jadi kalian kenapa?" Tanya Ara setelah duduk didepan suaminya.
"Em dia sepertinya marah karena melihatku tadi siang di mall."
"Memangnya masalah apa sampai Finn marah?"
Arion belum berani membuka suara, Ia menggenggam kedua tangan Ara yang ada diatas meja makan. Rasanya Ia gugup dan tak sanggup untuk menjelaskannya, tapi kalau tidak dijelaskan kesalahpahaman ini bisa semakin parah.
"Janji gak akan marah?"
"Tergantung masalahnya."
"Ya sudah lain kali saja deh!"
"Hh dasar, yaya baiklah aku tidak akan marah!"
"Hehe makasih sayang."
Arion menghembuskan nafasnya berat, mencoba menguatkan hatinya lalu menatap ke balik mata hitam cantik itu.
"Aku gak akan mungkin bohong sama kamu, jadi aku mohon untuk percaya. Dengarkan ini baik-baik dan jangan dulu potong pembicaraan. Tadi siang aku tak sengaja bertemu dengan Finn di mall, dan sepertinya dia salah paham karena melihat aku sedang berdua bersama wanita lain. Dia Mira, sekertaris aku. Bukan tanpa sebab kita ke sana, aku cuma anterin dia beli buku untuk kado ponakannya. Finn pasti berpikiran yang aneh-aneh antara aku dengan Mira, dan ya itu yang membuat dia marah."
Arabelle tak tahu harus bagaimana, perasaannya campur aduk. Saat mengobrol Ia memang tak melihat Arion berbohong, pria itu bahkan mengatakannya tanpa jeda. Tapi tak bisa berbohong kalau hatinya sedikit sakit karena ternyata Arion berduaan bersama Mira, apalagi sampai menemani belanja ke mall.
"Kalau kamu ingin tanya kenapa aku antar dia? Itu karena kami memang baru pulang meeting di perusahaan klien dan sekalian saja. Tapi sumpah aku gak punya perasaan apapun sama Mira, dia cuma aku anggap asisten kerja saja."
Genggaman tangan mereka lalu terlepas membuat Arion takut, pria itu duduk tak tenang sambil terus menatap istrinya. Jantungnya dari tadi berdetak tak karuan, takut terjadi sesuatu.
"Sayang ma-"
"Aku maafin kamu kok, lagi pula aku tahu kamu gak mungkin ngelakuin hal kaya gitu dan ngecewain aku dan anak-anak. Sekarang kamu harus adalah mendapat maaf dari Finn, kembali buat dia percaya sama kamu."
Arion segera berdiri, memeluk istrinya erat sambil mengucapkan terima kasih dengan penuh cinta, bahkan sesekali Ia mengecup puncak kepala Ara. Bersyukur sekali Arion memiliki istri pengertian seperti Arabelle, itulah yang membuat Ia mencintai keluarganya.
"Terima kasih sayang, aku janji akan memperbaiki semua kesalahn itu, dan membuat Finn seperti dulu lagi."
Arabelle mengangguk lalu ikut berdiri. "Sudah tidak ada lagi yang disembunyiinkan?"
"Em sayang sebenarnya aku dan Mira juga sempat.. Makan siang bersama."
Senyuman dibibir Ara pudar, matanya menatap tajam Arion yang terlihat ketakutan. Tapi wanita itu menarik salah satu sudut bibirnya, dan menepuk-nepuk dada Arion. "Malam ini kamu tidur diluar, jangan masuk kamar!"
***
Suara orang duduk di sebelahnya membuat Finn menoleh, tapi anak itu langsung berdecak saat tahu siapa orangnya dan kembali menatap ke depan. Permainan-permainan itu lebih menarik dari pada pria dewasa di sampingnya ini.
"Mau permen kapas?"
Finn tak menjawab, bibirnya semakin mengerucut dengan nafas yang tersedat. Rasa marah, benci dan kecewa Ia rasakan bercampur menjadi satu, dan pastinya untuk pria di sampingnya ini. Melihat sikap santai Arion malah membuat Finn semakin muak, Papanya itu bahkan seperti sudah melupakan kejadian kemarin.
"Bagaimana kalau kita naik roller coaster? Pasti akan seru, kamu juga sudah tinggi jadi mungkin bisa naik bersama."
Arion menghembuskan nafasnya berat melihat Finn yang tak menghiraukannya, anak itu terus diam dengan wajah tertekuk. Ia mengerti putranya itu pasti sangat kesal dan marah, tapi semua itu salah paham. Ini membuat Arion sedih, karena sebelumnya Finn belum pernah begini. Ngambeknya anak laki-laki ternyata lebih parah!
"Maafin Papa, Papa tahu kamu pasti marahkan melihat itu. Rasanya sedih karena membuat putra kebanggaan Papa kecewa dan sedih, tapi Papa mohon jangan hilangkan kepercayaan kamu sama Papa."
Walaupun Finn tak menatap Arion, tapi anak itu memasang telinganya dengan baik mendengarkan Papanya.
"Papa sama Mira itu tidak ada hubungan apapun, dia hanya rekan kerja saja dan-"
"Tapi dia suka sama Papa!" Ketus Finn cepat.
Arion tersenyum kecil mendengar itu, akhirnya Finn membuka suara juga. Tangannya gatal sekali ingin mengusap kepala anak itu, tapi takut malah ditolak.
"Dari mana kamu tahu dia suka sama Papa?"
"Aku tahu saja!"
"Oke Papa juga memang tahu Mira suka sama Papa, tapi dengar nak, Papa sama sekali tidak tertarik sama dia. Mama kamu lebih cantik dan sempurna, dan Papa gak akan mungkin ngecewain kalian."
"Soal kemarin di mall, itu karena Papa sedang mengantarnya membeli kado untuk keponakannya, sekalin baru pulang dari kantor klien." Tanpa bisa ditahan Arion akhirnya mengusap rambut Finn. "Saat kamu menatap Papa kemarin, itu membuat Papa sedih dan hancur. Papa tahu kamu sedih karena gak terima, tapi kamu juga harus mendengar cerita sebenarnya. Maafin Papa, tolong jangan marah lagi hm?"
Melihat bahu putranya yang terisak membuat Arion segera membawa Finn kepelukannya, mengecup kepala anak itu sayang sambil mengusap punggungnya. "Finn anak baik kebanggaan Papa, terima kasih sudah menjadi putra Papa yang kuat. Kamu maafin Papakan?"
Finn mengangguk dipelukan Arion, tangan mungilnya memeluk erat pinggang Papanya. Biasanya Finn selalu menjadi anak yang so kuat didepan semua orang, tapi sekarang Ia tak bisa menyembunyikan semua itu. Hatinya melemah dan air mata tak bisa Ia tahan. Ternyata semua itu salah paham, Finn memang sempat sedih dan sakit hati, tapi Ia juga percaya pada Papanya. Arion bukan pria pembohong, selama ini Papanya itu selalu baik dan menyayangi Ia, Mama dan adiknya.
"Hayoo kalian lagi apa?"
Mendengar suara Arabelle membuat Finn melepaskan pelukannya, segera anak itu menghapus air matanya karena tak mau dilihat Ara, tapi sepertinya wanita itu mengetahuinya.
"Anak Mama menangis?" Ara mendekat, mengusap wajah putranya pelan. "Siapa yang bikin kamu nangis? Bilang sama Mama!"
"Gak kok Ma."
"Hm Mama tahu, pasti Papakan yang bikin kamu nangis?"
"Gak Ma."
Tiba-tiba Ara menjewer telinga Arion sampai membuat suaminya itu berteriak kesakitan. "Kenapa kamu beraninya sama anak kecil hah? Bikin ulah apa sampai dia nangis?!"
"Aww sayang ampun!"
Angel yang berada di kereta dorong tertawa sambil bertepuk tangan melihat itu, bayi itu memang tak mengerti sama sekali tapi merasa lucu. Sedang Finn meringis melihatnya, Ia jadi merasa kasihan pada Arion.
"Ma udah kasihan Papa."
Arabelle lalu melepas jeweran itu sambil mendengus sebal, Ia lalu tersenyum pada Finn dan Angel. Sebenarnya Ara hanya bercanda saja pada Arion, Ia ingin melihat apa anak dan suaminya itu sudah berbaikan belum, dan sepertinya sudah. Syukurlah, akhirnya kesalahpahaman ini dapat di selesaikan dengan baik.
"Ayo kita beli eskrim saja!" Ajak Ara. Satu tangannya mendorong kereta bayi Angel, dan satunya lagi menarik tangan Finn pergi dari sana.
Arion yang melihat itu malah tersenyum lebar, keluarganya sudah seperti dulu lagi. Ia sangat senang karena masalah ini selesai juga. Tak akan pernah lagi Arion membuat kecewa mereka, Ia akan menjaga keluarganya dengan baik. Cinta, kasih sayang dan hidupnya Arion berikan untuk kebahagian mereka.
"Hei tunggu Papah!"
***
Finn dan Lilia 😘👆
***
Chapter terakhir untuk cerita Mantan Suami Istri, terima kasih semuanya
sudah membaca sampai sejauh ini. Sampai jumpa dicerita saya yang lain, mampir ya seru2, dijamin kalian suka.
Jangan lupa follow aku ya ❤
hanya org bodoh yg mengagungkan cinta sampai mati, krn bertepuk tangan tdk bisa dilakukan sendirian
.