"I am cursed with an undying soul... forced to return, again and again. And in every life, in every death, it is always you my heart remembers."
"Aku dikutuk dengan jiwa yang tak bisa mati... dipaksa untuk kembali, lagi dan lagi. Dan di setiap kehidupan, di setiap kematian, hanya kamu yang selalu diingat hatiku."
"I cannot follow you beyond death, I cannot chase you through eternity... so I will stay here, loving you with an undying heart in every lifetime I'm given-until time finally takes me away from you."
"Aku tak bisa mengikutimu melewati kematian, tak bisa mengejarmu dalam keabadian... jadi aku akan tetap di sini, mencintaimu dengan hati yang tak pernah mati di setiap kehidupan yang diberikan padaku-sampai waktu akhirnya merenggutku darimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yersya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Di tengah hiruk-pikuk perkembangan infrastruktur Indonesia, hanya ada satu nama konglomerasi yang gaungnya mampu menggetarkan roda perekonomian nasional: Nusantara Jaya Group. Didirikan dan dipimpin langsung oleh sosok veteran bisnis ternama, Soedirgo Nusantara, grup raksasa ini memegang kendali atas tiga sektor vital yang menjadi urat nadi pergerakan negeri.
Pertama, PT Nusantara Konstruksi Tama. Bintang utama di industri pembangunan. Mulai dari proyek strategis nasional, jalan tol lintas pulau, gedung pencakar langit di ibu kota, hingga pelabuhan modern—hampir seluruh bentang beton megah di Indonesia menyisipkan jejak tangan dingin kakeknya.
Kedua, PT Nusantara Trans Logistik. Raja di sektor transportasi dan armada penerbit arus barang. Menguasai jalur darat, laut, hingga kargo udara, perusahaan ini memastikan pergerakan logistik dan mobilitas masyarakat di seluruh penjuru kepulauan berjalan tanpa henti.
Dan ketiga, PT Nusantara Otomotif Indonesia. Raksasa otomotif yang memegang lisensi perakitan, distribusi kendaraan komersial, hingga mulai memelopori pengembangan ekosistem kendaraan listrik (EV) lokal untuk masa depan transportasi Indonesia.
Arisya Nusantara adalah cucu kesayangan dari sang pendiri grup raksasa tersebut. Begitu dimanja dan dilindungi, fakta itu justru menjadi pedang bermata dua: sejak kecil Arisya kerap menjadi incaran pihak-pihak berbahaya. Kakeknya yang tak tega melihat sang cucu terbelenggu rasa takut, akhirnya mengambil keputusan ekstrem—menyembunyikan identitas Arisya dari publik, membentuk citranya sebagai remaja biasa dari keluarga yang hanya sekadar 'sedikit berada'.
Setidaknya, itulah penjelasan panjang lebar yang mengalir dari bibir Arisya saat kami duduk kembali di sofa.
Tugas asliku sederhana namun berat: menjadi temannya di luar agar ia terlihat seperti remaja biasa, sembari menjalankan peran ganda sebagai sekretaris dan pengawal pribadi yang siap mempertaruhkan nyawa demi keselamatannya.
"Ngomong-ngomong..." Aku menyipitkan mata, menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh menit. "Bukankah kau bilang kau telat tadi?"
Arisya terdiam. Mata hazelnya kedip-kedip cepat, memproses pertanyaanku.
"Oh... iya. Kau benar!" serunya kaget.
Seketika ia bangkit dari sofa dan berlari kencang menuju kamarnya dengan langkah panik.
“Apa dia itu bodoh?!” cibir Sena dari dalam alam bawah sadarku, mendengkus tak percaya.
Sepertinya begitu, batinku, menghembuskan napas pelan.
Beberapa menit kemudian, Arisya kembali keluar sebentar dari kamarnya, melemparkan satu set pakaian formal ke pangkuanku—setelan jas hitam terpotong rapi lengkap dengan kemeja putih dan celana bahan panjang.
"Kau juga bersiaplah!" serunya sebelum menghilang lagi di balik pintu kamarnya.
Pukul 10.30 WIB
Pintu kamar utama terbuka. Arisya melangkah keluar dengan penataan diri yang sempurna. Rambut cokelat gelapnya yang tadi berantakan kini terurai indah bergelombang, wajah cantiknya dipoles riasan tipis yang elegan, dan sebuah gaun kasual berkelas membungkus tubuhnya.
Sementara itu, aku sudah berdiri menunggunya di dekat pintu keluar. Rambut panjangku terikat rapi ke belakang, membiarkan garis rahangku yang tegas membingkai setelan jas pria yang melekat pas di tubuhku.
Arisya menghentikan langkahnya, menatapku dari atas sampai bawah. "Wow... bahkan dengan pakaian pria pun, kau terlihat sangat keren, Luna."
Aku menarik kerah jas hitamku yang terasa sedikit kaku, menunduk menatap celana bahan yang membalut kakiku. "Sudah lama aku tidak berpakaian rapi seperti ini. Entah kenapa rasanya aneh dan asing."
"Sangat cocok kok," puji Arisya tulus dengan senyuman hangat. "Ayo, kita pergi."
Kami berjalan melintasi lorong dan masuk ke dalam lift pribadi yang bergerak turun dengan cepat menuju ground floor.
"Ngomong-ngomong, kita sebenarnya mau pergi ke mana?" tanyaku, memecah keheningan di dalam lift yang berdinding cermin.
"Aku harus menghadiri pertemuan dengan rekan bisnis," jawab Arisya santai, merapikan ujung gaunnya.
Aku menoleh, dahiku berkerut tipis. "Rekan bisnis? Bukankah kau bilang keberadaanmu disembunyikan?"
"Aku hanya menyembunyikan fakta kalau aku adalah cucu dari presiden Nusantara Jaya Group," Arisya menatap pantulan dirinya di cermin lift. "Saat ini di mata publik, aku hanyalah seorang remaja kaya biasa yang sedang mencoba membangun bisnis sendiri."
"Jadi hal ini sangat rahasia, ya?"
"Ya. Sangat rahasia."
Aku menyipitkan mata, menatapnya lekat. "Lalu kenapa kau memberitahukannya padaku seolah ini bukan hal besar?"
Arisya mengalihkan pandangannya dari cermin, menatapku lurus dengan seulas senyum tipis di bibirnya. "Itu bukanlah karena aku sudah memercayaimu sepenuhnya atau semacamnya, Luna. Ini semacam taruhan."
"Taruhan?"
"Ya," bisik Arisya lembut, tepat saat denting lift berbunyi menandakan kami telah sampai di lantai dasar. "Aku tahu kau adalah tipe orang yang sangat loyal pada seseorang yang kau anggap berharga. Jadi aku ingin bertaruh... dengan mencoba menjadi salah satu dari orang berharga itu."
Aku hanya diam, tidak menanggapi perkataannya. Ada sengatan hangat yang asing di dadaku, namun aku memilih membekukannya di balik raut wajahku yang datar.
Begitu melangkah keluar dari area lobi utama gedung apartemen, sebuah mobil sedan mewah Rolls-Royce berwarna hitam mengilat sudah terparkir elegan di tepi jalan. Seorang pria paruh baya bersetelan rapi membukakan pintu belakang untuk kami. Kami berdua naik dan duduk di kursi penumpang yang empuk berbalut kulit mahal, lalu mobil pun melaju mulus membelah jalanan kota.
"Tepatnya apa yang harus kulakukan nanti saat pertemuan?" tanyaku, memecah kesunyian di dalam kabin mobil yang kedap suara.
"Kau hanya perlu diam berdiri di dekatku, membentengiku jika ada bahaya," jawab Arisya sembari memperhatikan dokumen di dalam tabletnya. "Ah, mungkin aku juga akan sering meminta tolong padamu. Jadi..."
Kalimat Arisya terhenti sejenak.
Secara mendadak, gestur tubuhnya yang santai menghilang. Matanya menyipit tajam, dan aura kekanak-kanakan yang tadi ia tunjukkan di apartemen mendadak lebur, berganti menjadi aura kepemimpinan yang dingin dan amat berwibawa.
"...Aku tidak masalah kalau kau bersikap sembarangan atau acuh tak acuh ketika kita hanya berdua," lanjut Arisya, suaranya kini bergetar penuh penekanan yang tegas. "Tapi, jaga sikapmu ketika kita berada di depan umum. Terutama di tengah acara penting dan di hadapan orang-orang berpengaruh."
Aku terdiam sejenak. Tertegun oleh transformasi karakternya yang begitu drastis hanya dalam hitungan detik. Sosok di sampingku ini bukanlah lagi gadis linglung yang memecahkan piring di dapur tadi pagi, melainkan seorang pewaris darah dingin Nusantara.
Aku perlahan memejamkan mata, menghembuskan napas panjang.
Gadis ini telah memberiku kesempatan kedua untuk menghirup udara bebas dan lepas dari jeratan kegelapan penjara. Aku tidak boleh membuatnya malu di depan orang lain.
Saat mataku kembali terbuka, seluruh keraguan dan kebingungan di dalam diriku menguap. Refleks gestur profesional yang sering kupelajari dari film-film aksi dalam ingatanku seketika mengambil alih postur tubuhku. Punggungku menegak lurus, pandanganku mengunci lurus penuh kedisiplinan.
"...Baik!" ujarku mantap dan penuh penekanan, menyuarakan kesiapan mutlak.
Melihat reaksiku yang begitu cepat beradaptasi, ketegangan di wajah Arisya seketika mencair. Mulutnya ternganga tipis karena terkejut, sebelum akhirnya bibirnya melukiskan sebuah senyuman memikat—sebuah senyuman tulus yang membuat paras cantiknya memancar jauh lebih mempesona di balik temaram kaca mobil.