Area dewasa❗
Demi menyelamatkan ayah angkatnya yang sakit keras, Zivanna Mahavira terpaksa menggantikan saudara kembarnya, Zivarra, yang kabur sebelum pernikahannya dengan anak sulung keluarga Sadewantara, Keenan Sadewantara.
Tanpa sepengetahuan Zivanna, Keenan ternyata sudah mengetahui sejak awal bahwa wanita yang menikah dengannya bukanlah Zivarra.
Mereka akan menjalani pernikahan selama enam bulan, sesuai kontrak yang diberikan Keenan di awal pernikahan. Selama itu, Zivanna harus mempertahankan kebohongannya demi keluarga dan ayah angkatnya.
Semakin lama hidup bersama, keduanya justru saling jatuh hati.
Sampai pada bulan kelima, semuanya berubah ketika Zivanna menolak hubungan suami istri dan akhirnya meminta maaf atas kebohongannya.
“Kamu pikir aku baru tahu siapa kamu? Aku sudah tahu sejak awal, Zivanna,” ucap Keenan dengan senyum miring.
Mata Zivanna langsung membesar. “A-apa?”
Keenan mengangkat dagu Zivanna. “Kalau kamu ingin aku maafkan, lakukanlah dengan tubuhmu.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batas kesabaran Keenan (18+)
Harap bijak dalam membaca 🔞
...-------...
“Mas boleh aku masuk?” tanya Zivanna dari luar ruang kerja Keenan.
“Masuk saja!”
Zivanna membuka pintu ruang kerja Keenan dan masuk sambil membawa sebuah nampan.
“Aku nggak jadi buat kopi yang kamu minta. Aku buat teh chamomile pakai madu saja,” ucap Zivanna sambil tersenyum.
Kening Keenan sedikit berkerut. “Kenapa?”
“Aku pikir kamu lagi susah tidur. Kalau minum kopi terus nanti malah makin susah tidurnya,” jawab Zivanna. Ia masih mengira Keenan bersikap dingin karena insomnia pria itu kambuh.
Keenan hanya menatap Zivanna dengan tatapan yang sulit diartikan.
Ia tidak berniat melepaskan wanita itu. Namun setiap kali mengingat kemungkinan Zivanna akan pergi, rasa kesal dan marah kembali memenuhi dadanya.
Apa yang harus ia lakukan jika Zivanna terus membuatnya terbiasa dengan perhatian dan kehadirannya, lalu meninggalkannya begitu saja?
Keenan merasa seperti orang bodoh. Ia berusaha bersikap dingin kepada Zivanna, tetapi di saat yang sama ia justru semakin tidak ingin kehilangan wanita itu.
Kesadaran itu membuat rahangnya mengeras. Keenan menggeram pelan sambil terus menatap Zivanna yang berdiri di hadapannya.
Keenan menarik tangan Zivanna hingga wanita itu tersentak. Nampan dan cangkir yang dibawanya terlepas dari genggaman, lalu jatuh ke lantai dan pecah.
PRANG!
“Aahhh!” pekik Zivanna.
Tubuh Zivanna didudukkan di kursi kerja Keenan dengan sedikit kasar hingga membuatnya meringis.
“Apa yang kamu lakukan, Mas?!” tanya Zivanna kesal.
“Katakan sejujurnya, apa yang ada di dalam kamarmu itu?” tanya Keenan. Pria itu sedikit menunduk, menatap tajam Zivanna.
Kedua tangan Keenan mencengkeram pegangan kursi di sisi kanan dan kiri tubuh wanita itu, mengurung Zivanna sehingga tidak memiliki ruang untuk menghindar.
“M-maksudmu apa?” tanya Zivanna bingung.
“Kamu sudah membereskan semua pakaianmu seolah-olah akan pergi besok. Jawab aku! Jangan pernah menganggap ini sebagai lelucon!” sentak Keenan.
Zivanna langsung terpaku. Ia tentu terkejut karena Keenan ternyata sudah mengetahui bahwa dirinya telah membereskan semua pakaian.
“Kontraknya sudah hampir selesai... Jadi aku harus pergi dari sini. Ini bukan rumahku, melainkan rumah saudariku,” ucap Zivanna terbata-bata sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia takut melihat raut wajah Keenan saat ini.
Mendengar itu, rahang Keenan semakin mengeras. Cengkeramannya pada pegangan kursi semakin kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Keenan meraih dagu Zivanna dengan kasar agar wanita itu melihat ke arahnya.
“Benar, ini semua tentang kontrak bodoh itu. Tapi tahukah kamu? Kontrak itu sudah tidak berarti bagiku. Itu hanya urusan antara kamu dan keluarga Samuel saja!” ujar Keenan.
“Apa maksudmu?”
“Kamu kira aku juga tidak tahu tentang perjanjian bodoh antara kamu dan keluarga Samuel?”
“I-itu...”
“Apa, hm?” Keenan memajukan wajahnya hingga sangat dekat dengan wajah Zivanna. Wanita itu langsung mengalihkan pandangannya, tetapi Keenan kembali mengarahkan dagunya dengan kasar agar menatap ke arahnya.
“Lihat aku! Jangan alihkan pandanganmu!” sentak Keenan.
Jangan tanya bagaimana keadaan Zivanna sekarang. Tubuhnya bergetar ketakutan. Apalagi Keenan terus mengintimidasinya seperti ini. Sepertinya semua rahasianya sudah diketahui oleh pria itu.
“Aku tidak peduli dengan perjanjianmu dengan keluarga Samuel. Bahkan kontrak perjanjian kita sudah kubakar. Jadi, kamulah istriku yang sebenarnya,” lanjut Keenan.
Mata Zivanna langsung melebar. Jauh di dalam hatinya, ia senang mendengar ucapan itu. Namun kenyataan kembali menamparnya. Di surat pernikahan mereka, nama yang tercantum sebagai istri Keenan adalah Zivarra bukanlah dirinya.
“Istrimu itu Zivarra, Keenan!”
Keenan perlahan berdiri. “Hah... kamu benar...” ujarnya.
Keenan menarik tangan Zivanna, lalu duduk di kursi kerja. Dalam satu gerakan, ia menarik tubuh Zivanna hingga wanita itu terduduk di pangkuannya. Tangan kiri Keenan bertumpu di atas kepala Zivanna.
“Tapi bawa Zivarra ke depanku sekarang,” bisik Keenan.
Tangan Keenan yang berada di atas kepala Zivanna tiba-tiba menarik rambut wanita itu hingga kepalanya mendongak.
“Arrgh!” teriak Zivanna.
“Sebelum itu terjadi, kamu tetaplah istriku, Zivarra palsu,” ucap Keenan sambil menggigit telinga Zivanna.
“Jika kamu berani kabur sebelum Zivarra ditemukan, aku berjanji semua orang yang berhubungan denganmu akan membayar semua kerugian yang kutanggung. Ingat itu baik-baik,” sambung Keenan.
Air mata Zivanna mulai menggenang di pelupuk matanya.
Setelah mengatakan itu, Keenan langsung mendorong Zivanna hingga tubuh wanita itu terjatuh ke lantai. Lutut Zivanna membentur lantai cukup keras hingga berdenyut nyeri.
Ucapan Keenan terus terngiang-ngiang di benak Zivanna. Sekarang ia harus bagaimana?
Zivanna tersentak kaget tatkala Keenan menyodorkan kejantanannya yang sudah berdiri tegak di hadapannya.
“Jangan pernah memikirkan hal lain di depanku!” ujar Keenan yang kini duduk di sofa tak jauh dari meja kerja, tidak jauh dari tempat Zivanna terjatuh setelah didorongnya.
“Sekarang jilat itu!” perintahnya.
Zivanna langsung menggeleng. Semenjak mereka berhubungan badan, tidak pernah sekalipun Keenan menyuruhnya melakukan hal seperti itu.
“Aku nggak mau!” tolak Zivanna.
“Kamu harus memenuhi semua tugasmu sebagai istri!” sentak Keenan sambil menarik rambut Zivanna agar semakin dekat dengan miliknya.
“Ughh... Keenan, kita bisa berbicara baik-baik saja?” pinta Zivanna memohon. Kepalanya terasa sakit dan berdenyut.
Keenan tersenyum menyeringai. “Bicara baik-baik saja? Bicara baik-baik, katamu?”
Keenan menunduk mendekati telinga Zivanna. “Aku sudah pernah mencobanya, tetapi gagal,” bisiknya.
“Kamu telah menipuku bahkan setelah aku percaya padamu. Kenapa kamu harus begitu perhatian dan membuatku percaya kalau kamu akan tetap berada di sisiku?” bentak Keenan.
“Kenapa kamu membuatku terbiasa bergantung pada kehadiranmu kalau pada akhirnya kamu tetap memilih pergi?!” sambungnya hingga urat-urat di lehernya tampak menonjol.
Zivanna tertegun. Saat itulah ia baru menyadari bahwa semua perhatian yang diberikannya ternyata telah membuat Keenan berharap.
Selama ini, Zivanna hanya berpikir bahwa kepergiannya akan menyakitinya sendiri. Ia tidak pernah membayangkan bahwa Keenan juga akan terluka sedalam ini.
Baru saat itulah Zivanna benar-benar memahami alasan di balik semua tindakannya selama ini. Tanpa ia sadari, ia telah jatuh cinta pada kehangatan dalam setiap sentuhan Keenan, terutama saat pria itu menghapus air matanya.
Itulah alasan ia terus bersikap perhatian kepada Keenan hingga sekarang. Namun ia tidak bisa mengatakan semua itu. Zivanna merasa dirinya tidak memiliki hak untuk mengungkapkan perasaannya.
Bagaimanapun juga... ia bukan Zivarra. Dalam hati, Zivanna hanya bisa meminta maaf karena telah bersikap egois.
“Jawab aku!” desak Keenan.
“Ya, aku memang perhatian padamu dan membuatmu percaya seolah-olah aku memiliki perasaan padamu karena semua ini tentang kontrak itu. Aku hanya menjalankan bagianku dalam kontrak...” bohong Zivanna.
Keenan terkekeh sinis. “Baiklah. Berarti sandiwaramu benar-benar berhasil... Bahkan hanya dengan melihat ujung jarimu saja, aku sudah kehilangan akal,” ujarnya sambil melepaskan dasi dari lehernya.
“Perhatikan baik-baik seberapa jauh kamu berhasil membuatku kehilangan kendali,” lanjut Keenan.
“K-kamu mau apa?” tanya Zivanna. Tatapannya tertuju pada dasi di tangan Keenan. Entah apa yang akan dilakukan pria itu, tetapi itu sudah cukup membuatnya ketakutan.
😩😩😩
takut bgt nanti kasih hukuman ke Zivanna😅 karena gk jujur
Ahhh sudah lah😭😭😭 salah paham trss,onengnya si Keenan jg..gengsi betul g'di ungkapin Secra jelas lantang dan menggema??
biar mantul sampai ke Hatinya si ZiiVanna.
duh si keenan, bikin deg deg ser kalo udah mode singa😫😫
di bilang suami sodara, la ngapa lu kasih ke zivana, dia aja udah di obok-obok ama keenan, ya kali gk tidur bareng. Dikira mainan rumah-rumahan, ini kan rumah tangga beneran, walo awalnya kontrak. tapi udah di itu....
dih Grace, gue iket lu ntar😫😫